"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Mahiya nggak sempat ganti tadi, kini dia kebingungan di kamar luas milik kael, masih memakai kebaya nikahannya.
Mahiya mendesah kesal, nggak mungkin juga kan dia tidur kebayaan, udah kek putri ker*ton. Padahal mah para putri ker*ton juga nggak mungkin kebayaan kalau lagi tidur.
Kael masih di luar, di ruang tamu bareng keluarganya ngobrolin resepsi buat besok malam, mahiya tadi sempat ikut ngobrol bentar, tapi mungkin karena melihatnya nggak nyaman juga kelelahan, ibunya kael memintanya istirahat duluan.
"hhhhhhhh" suara nafas yang dihembuskan mahiya terdengar berat banget, mahiya masih duduk di pinggiran ranjang besar kael itu. Benaknya mengingat semua peristiwa yang terjadi padanya, begitu cepat bagai kilat dan mimpi.
Belum ada sebulan, baru sekitar 3 minggu mahiya mengenal pria bernama kael saka laksana, bisa-bisanya sekarang dia sudah terdampar di ranjang pria itu.
Mahiya meringis jengah, tangannya udah kepengen menggaruk kepalanya, tapi jilbab yang dikenakannya sangat menganggu.
Mahiya hampir berdiri, tetiba pintu kamar terbuka lebar. Kael masuk dengan santai dan tenang, jas yang dipakainya tadi di sampirkan di bahunya.
"kenapa belum tidur, sayang?"
Mahiya merinding lagi, asli jika kata sayang itu keluar dari mulut kael, apalagi kalau hanya ada mereka berdua, mahiya meremang geli, sebadan-badan.
"aku nggak bawa ganti kak, nggak mungkin juga aku tidur kebayaan kek gini"
Kael mengamati mahiya yang duduk canggung di tepian ranjangnya, pria itu seakan memindai tubuh mahiya.
"pergi aja ke walking closet, lihat di sana mana tahu ada yang cocok untukmu"
Mahiya mendelik kaget, apakah pria ini barusan menawarkan pakaiannya untuk mahiya.
"kenapa?, kalau kamu nyaman kebayaan yah silahkan. Di sana banyak kaos yang jarang kupakai, aku jarang pulang kemari"
Habis ngomong gitu, pria itu dengan santainya meninggalkan mahiya, ke kamar mandi.
Mau nggak mau mahiya melangkah ke walking closet milik kael, mencari sesuatu yang bisa dia pakai, ganti kebayanya yang sangat menyebalkan ini.
Mahiya menarik sebuah kaos putih polos, dengan celana sweatpants berwarna hitam yang sudah pasti kedodoran untuknya, mahiya keluar membawa ganti itu, rencananya dia kepengen ganti di kamar mandi sekalian ngebersihiin make up di wajahnya.
Mahiya melangkah ke kamar mandi, setelah memastikan kael sudah di ranjangnya. Pria itu duduk bersandar di kepala ranjang, sambil memainkan ponselnya.
Saat mahiya masuk, ujung mata kael sempat melirik gadis itu.
Kael menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras, seakan ia ingin membuang sesuatu yang menyesakkan dadanya.
Kael tahu, pasti gadis itu saat ini sangat canggung. Menikah dengan pria yang baru di kenal, harus sekamar begini tanpa rasa. Tetiba wajah kael tersenyum, mengingat tadi saat matanya melihat mahiya keluar setelah akad nikah.
Jujur, sebagai pria. Ia mengakui mahiya memang cantik, sangat cantik sebenarnya. Tadi kael sempat merasakan debar yang nggak jelas dihatinya saat gadis itu keluar, duduk di sampingnya dan mencium punggung tangannya.
"click"
Suara pintu kamar mandi yang dibuka, kael menoleh. Ludahnya terasa tercekat di tenggorokan, mahiya keluar dengan kaos dan celananya yang kedodoran, rambutnya yang dicepol, dengan anak rambutnya yang basah.
'sialan, gadis itu cantik sekali'
Kael menelan salivanya susah payah, mahiya yang melangkah perlahan canggung dan gugup, dia masih berdiri dengan tangan yang saling terkait dan meremas.
"aku tidur dimana?"
Suara mahiya yang bergetar gugup, menyadarkan kael, pria itu berdehem.
Kael menepuk sisi kosong disebelahnya, tanpa mengalihkan matanya dari mahiya. Mahiya melotot kaget, kepalanya menggeleng.
"tapi kakak bilang kita cuman nikah bohongan, cuman suami istri di atas kertas"
Kael tersenyum, suara gadis itu yang mencicit pelan, sangat lucu. Kemana kecablakan mahiya pergi.
"aku nggak akan menyentuhmu, jangan takut. Saat ini di kamar, hanya ada ranjang ini, nggak mungkin kan salah satu dari kita tidur di lantai?"
Mahiya mengedar tatapannya mengitari seluruh kamar, benar kata kael, tak ada sofa atau tilam tambahan.
"aku bisa tidur di lantai kak, bed cover itu bisa jadi alasku tidur"
Kael mengamati mahiya yang kelihatan sangat canggung, bibirnya tersenyum tipis.
"kamu suka sama aku yah?"
"hah?, apaaa?" seru mahiya kaget, matanya mendelik.
"kalau kamu nggak suka, kenapa juga gugup. Kesinilah mahiya!aku nggak akan ngapa-ngapain kamu"
Mahiya bergerak lambat, jengah banget rasanya. Nggak dituruti ntar tuh cowok mikir mahiya suka lagi ama dia. Dituruti, yah walaupun nggak suka, tapikan mereka beda gender tuh, gimana coba bisa tidur seranjang. Ntar kalau setan lewat, siapa yang tanggung jawab coba, kalau mereka kesambet terus mesra-mesraan.
Mahiya sudah duduk di tepi ranjang, jantungnya mendadak joget-joget nggak karuan. Aroma maskulin dari tubuh kael yang sudah mandi, membuat debar jantung mahiya kek lagi konser lagu rock, membahana.
"tidurlah..!"
Suara kael yang lembut, malah semakin bikin jantung mahiya nggak sadar diri, hampir kolaps. Mahiya menoleh, kael meletakkan bantal guling di antara mereka.
"aku nggak akan menyentuhmu, aku janji"
Melihat mata pria itu, mendengar suaranya yang tenang, akhirnya mahiya meletakkan tubuhnya, telentang dengan kedua tangan di atas dadanya.
"anu...mahiya" panggil kael, menyentakkan mahiya, gadis itu menoleh.
"bisa nggak tidurnya jangan kek gitu,berasa tidur ama mayat jadinya"
Wajah kael bergidik ngeri, jujur mahiya kesal, dipikir dia nyaman apa posisi tidur telentang gitu. Dia gugup tahu, gugup. Dasar cowok nggak peka.
Mahiya memiringkan tubuhnya, tapi gadis itu membelakangi kael, dia takut nggak bisa tidur kalau menghadap ke arah pria itu, ntar pikirannya traveling kemana-kemana, kan nggak lucu kalau mahiya yang agresif duluan.
Nggak butuh waktu lama, mungkin karena mahiya sangat lelah, dia sudah tertidur. Dengkuran halus terdengar, kael sampai mengerutkan keningnya heran.
'gila nih cewek, bisa-bisanya tidur nyantai di samping laki-laki'
Kael melirik mahiya yang ternyata sudah lelap.
'seenggak menarik itukah aku, sampai nih gadis nggak ada gugupnya tidur di sampingku'
Kael menarik tubuhnya kembali duduk, bersandar dibantalan sofa. Tangannya menggulir layar ponselnya, tetiba ponselnya bergetar.
Kael kaget, nama clarissa menghiasi layar ponselnya. Ada debar dan juga kemarahan di dadanya, untuk apa wanita ini meneleponnya.
"hallo.."
Kael menerima panggilan itu, dan bangun perlahan dari ranjang.
["kael.., kamu sudah menikah?, kael bagaimana dengan aku?"]
Kael tak menjawab, hanya helaan nafasnya terdengar kasar. Dia berdiri di depan jendela dan menyibak gordennya, mata kael terlihat marah.
"apa urusannya denganmu?"
["kael, kalau kamu ingin menghukumku, jangan dengan cara seperti ini, kasihan gadis yang kamu nikahi, sayang. Pernikahan itu bukan permainan"]
Kael mendengus kesal, kegeeran amat nih perempuan, siapa juga yang menikahi orang lain karena ingin menghukum dia, dih.
"maaf cla, kalau nggak ada yang penting, kita sudahi saja panggilan ini, istriku memanggilku"
Kael membalikkan tubuhnya, memandangi mahiya yang tertidur nyenyak, senyum pria itu mengembang indah.
["kael, ak—"]
Kael memutuskan panggilannya begitu saja.
Bersambung..