Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Samudera takdir yang tenang (Puncak segala muara)
Malam di ambang kelahiran itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah semesta sedang menahan napas untuk menyambut sebuah jiwa baru. Langit di atas Pesantren Al-Fatih nampak bersih, bertabur jutaan bintang yang berkilauan laksana permata yang tumpah dari singgasana Arsy. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga tanjung dan melati, membelai dinding-dinding kayu Ndalem yang telah menjadi saksi bisu transformasi seorang wanita bernama Zayna Almeera.
Zayna terbangun di sepertiga malam terakhir. Ada sebuah gelombang rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—sebuah kontraksi yang terasa lurus dari tulang belakang hingga menembus ke lubuk hatinya. Ia tidak berteriak. Ia hanya meremas pinggiran kasur putihnya, mencoba mengatur napas sebagaimana Gus Haidar selalu mengajarkannya untuk mengatur emosi.
"Mas..." bisiknya parau.
Haidar, yang rupanya memang tidak benar-benar tidur dan sedang bersila di atas sajadah di pojok kamar, segera bangkit. Wajahnya yang tenang kini sedikit menegang, namun ia tetaplah gunung bagi Zayna. Ia mendekat, merangkul bahu istrinya, dan membisikkan ayat-ayat kursi di telinganya.
"Ini saatnya, Zayna. Tarik napasmu dengan asma-Nya. Jangan takut, Allah bersamamu. Aku bersamamu," ucap Haidar dengan suara yang mantap namun bergetar oleh haru.
Proses itu berlangsung berjam-jam. Di luar kamar, Ayah dan Bunda duduk bersimpuh di ruang tengah, ditemani oleh Kyai Sepuh. Ayah Zayna terus-menerus memutar tasbih, kepalanya menunduk dalam. Ia teringat saat Zayna lahir di sebuah rumah sakit mewah di Jakarta dua puluh tahun silam; saat itu ia merayakannya dengan pesta dan kemewahan. Namun sekarang, ia merayakannya dengan sujud. Ia merasa di sinilah, di rumah kayu yang sederhana ini, kebahagiaan itu terasa nyata dan tidak fana.
Di dalam kamar, perjuangan Zayna mencapai puncaknya. Peluh bercucuran di dahinya, membasahi bantal. Setiap kali rasa sakit itu datang menghujam, Zayna seolah melihat kilasan film masa lalunya: lampu-lampu Jakarta yang menyilaukan, tawa hampa di kelab malam, tangis keputusasaannya di pinggir sungai, hingga keteduhan mata Haidar saat pertama kali mereka bertemu.
"Mas... aku nggak kuat..." rintih Zayna di sela isak tangisnya.
Haidar memegang tangan Zayna dengan sangat erat. Ia membiarkan kuku Zayna mencengkeram lengannya hingga membekas. "Kuat, Zayna. Kamu adalah wanita yang sanggup mengalahkan egomu sendiri, kamu adalah wanita yang sanggup memaafkan Najwa, kamu adalah wanita yang sanggup berdiri di tengah hancurnya aset duniamu. Kelahiran ini hanyalah gerbang terakhir menuju kemerdekaanmu."
Haidar kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Zayna dan mulai melantunkan Surat Ar-Rahman dengan suara yang sangat merdu, suara yang dulu membuat Zayna jatuh cinta pada Al-Qur'an.
"Fabiayyi ala-i rabbikuma tukazziban..."
Mendengar ayat itu, Zayna seolah mendapatkan kekuatan tambahan. Ia mengejan untuk terakhir kalinya dengan sisa-sisa napas yang ia miliki. Dan tepat saat matahari pertama menyeruak dari balik ufuk timur, sebuah tangisan pecah di dalam kamar itu. Suara tangis bayi yang melengking jernih, mengalahkan sunyinya pagi dan membungkam segala keraguan.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah..." Haidar sujud di samping tempat tidur Zayna. Ia menangis. Air matanya jatuh ke atas ubin kayu, bercampur dengan rasa syukur yang tak terhingga.
Bayi itu laki-laki. Kulitnya putih bersih, dengan mata yang kelak akan seteduh ayahnya dan keberanian yang akan sekuat ibunya. Haidar menggendong bayi itu perlahan, lalu mengazankannya di telinga kanan dan meng-igomahkannya di telinga kiri. Suara azan Haidar pagi itu terdengar hingga ke seluruh penjuru pesantren, membuat para santri yang sedang berzikir setelah subuh serentak mengucapkan hamdalah.
"Siapa namanya, Mas?" tanya Zayna yang kini tampak sangat lemas namun wajahnya memancarkan cahaya Tajalli—cahaya kedamaian yang hanya dimiliki oleh seorang ibu.
Haidar mencium dahi bayinya, lalu menyerahkannya ke pelukan Zayna. "Muhammad Haizan Al-Fatih. Agar ia menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, dan menjadi penakluk bagi nafsunya sendiri sebagaimana ibunya telah menaklukkan dunianya."
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan sinarnya berwarna emas tua, Zayna duduk di kursi goyang di teras Ndalem sambil mendekap Al-Fatih kecil dalam balutan kain jarik. Di sampingnya, Haidar duduk sambil membaca kitab, sesekali matanya melirik ke arah anak dan istrinya dengan tatapan cinta yang murni.
Ayah dan Bunda datang membawa nampan berisi teh dan camilan desa. Mereka semua berkumpul di sana. Tidak ada lagi jarak antara si kaya dan si miskin, tidak ada lagi sekat antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang cerah.
"Abah tidak pernah melihat Al-Fatih seindah ini," ucap Kyai Sepuh yang ikut bergabung. "Bukan karena bangunannya yang megah, tapi karena di sini ada jiwa-jiwa yang sudah selesai dengan dunia."
Zayna menatap ke arah pohon tanjung. Bunga-bunganya berguguran ditiup angin sore, menutupi tanah seperti karpet putih yang suci. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia cari: kebahagiaan bukanlah tentang memiliki segalanya, tapi tentang merasa cukup dengan apa yang Allah tetapkan.
"Mas," panggil Zayna lirih.
"Iya, Sayang?"
"Terima kasih sudah tidak pernah melepaskan tanganku saat aku hampir tenggelam di Jakarta."
Haidar menutup kitabnya, lalu menggenggam tangan Zayna. "Aku tidak pernah memegang tanganmu, Zayna. Aku hanya memegang tali doa yang menghubungkan hatimu dengan langit. Selama tali itu tidak putus, kita tidak akan pernah benar-benar tersesat."
Malam mulai turun menyelimuti Pesantren Al-Fatih. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan, memberikan kerlip hangat di antara kegelapan. Zayna menyandarkan kepalanya di bahu Haidar, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama sejalan dengan zikir alam semesta.
Samudera takdirnya kini telah tenang. Tidak ada lagi badai, tidak ada lagi jeram. Yang ada hanyalah aliran cinta yang tenang, luas, dan bermuara pada keridhaan Sang Khaliq. Zayna Almeera telah benar-benar pulang, dan di rumah inilah, ia menemukan surga sebelum surga yang sesungguhnya.
"Pena sejarah di Pesantren Al-Fatih mencatat: Bahwa pada suatu masa, ada seorang pendosa dari kota yang datang dengan luka, namun pulang membawa lentera. Dan di bawah pohon tanjung yang abadi, sebuah keluarga baru saja memulai babak kehidupan yang tidak akan pernah berakhir selama napas dan doa masih menyatu dalam jiwa."
TAMAT
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp