Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Kelumpuhan Rido
Bu Wina dan Embun untuk masuk kedalam Mansion.
Setelah mereka sampai kedalam Mansion, Embun sangat terkejut dengan suasana baru yang dilihatnya, selama ini dia hidup di Desa yang tidak ada banyak Perubahan.
“ini siapa Win?” Tanya Bu Farel ketika dia melihat Embun yang dibawa masuk oleh bu Wina.
“ini ponakan saya dari kampung bu, dia baru saja tamat sekolah menengah, dan kebetulan ART dibutuhkan satu orang lagi kan? Makanya ku bawa sekalian, siapa tau dia bisa membantu” tutur bu wina kepada bu Farel dengan wajah teduhnya.
“Ya oeslah, bu wina langsung melaporkannya kepada Kepala Pelayan atau kepada Nyonya besar” saran bu Farel kepada bu Wina.
“Iya bu, nanti akan saya laporkan” sahut bu Wina.
Setelah mengatakan kata katanya, bu Farel langsung meninggalkan tempat itu, begitu juga dengan bu Wina dia langsung membawa Embun menuju Kamar Pembantu.
Sementara di dalam ruang rawat inap VVIP, Rido sedang duduk didasboard ranjang pasien setelah dia sadar dari pingsannya.
Dokter datang memeriksa keadaan Rido, dia mengeceknya secara detil tanpa ada yang terlewatkan sama sekali.
“Bagaimana keadaanya Dok?” Tanya Tiaras dengan nada khawatirnya.
“Heemm… sepertinya Tuan Muda sudah mulai pulih, tapi,,,” sang Dokter tidak bisa melanjutkan kata katanya dengan cepat, dia ragu ragu mengatakannya dia takut akan mempengaruhi psikologi sang Pasien.
Mendengar sang Dokter berkata dengan terbata bata, Tiaras tentu saja merasa sangat penasaran ingin mendapatkan jawaban yang cepat dari mulut sang dokter.
“Dok.. tapi apa? kenapa kau tidak melanjutkannya?” sanggah Tiaras menatap dokter itu.
“Sebaiknya ibu ikut saya diluar” sahut sang dokter mempersilahkan Tiaras untuk berbicara diluar ruangan itu.
Rido Prasetio tidak berkata apa apa, dia hanya menatap punggung sang ibu dan dokter yang pergi keluar ruangan itu, kemudian dia meminta HPnya kepada Berys. Dengan cepat Berys langsung menyerahkan Handphone miliknya.
“apakah sudah diselidiki penyebab kecelakaan itu” Ucap Rido dengan suara tegasnya.
Mendengar pertanyaan dari Bosnya, Berys langsung menjawabnya dengan sedikit menunduk “Sudah diselidiki Tuan Muda, itu Mobil Tronton pengangkut Kayu Akasia dari belawan, dan sudah ditangkap dia sedang berada di dalam penjara sampai saat inim tinggal menunggu perintah dari tuan muda untuk melakukan perintah selanjutnya”.
Rido mengangkat tangannya keatas langit, kemudian dia berkata “Tidak usah memperpanjang masalah itu, berikan saja dia hukuman sesuai dengan proses hukum kita, karena kecelakaan itu tidaklah sepenuhnya kesalahannya”.
“Baik Tuan Muda” Jawab Berys dengan menganggukkan kepalanya, pertanda dia setuju dengan perkataan dari sang tuan mudanya.
Sementara diluar ruang rawat inap Rido.
“Apa! Tidak mungkin dok, bagaimana masa depan anak saya? Tolong dokter sembuhkan dia” Ucap Tiaras dengan sangat terkejut, setelah dia mendengar perkataan sang dokter barusan.
Dokter menjelaskan kepada Tiaras kalau saat ini kaki Rido mengalami kelumpuhan total, sehingga Rido terpaksa harus berada di atas kursi roda untuk melakukan aktivitasnya, dan kemungkinan hanya tinggal 5% kesempatan kakinya itu mengalami kesembuhan.
“Tolong dokter cari cara jalan keluar, tolong anak saya dok, dia hanya satu satunya anak saya, apalagi perusahaan membutuhkannya” ucap Tiaras dengan nada memohon kepada sang Dokter.
“huffft” sang dokter hanya bisa menghela nafas beratnya, dia menggelengkan kepalanya pertanda dia sudah tidak sanggup lagi. “Kita serahkan saja kepada yang maha kuasa Nyonya, mungkin inilah Takdirnya” tambahnya lagi.
Setelah mengatakan hal itu, sang Dokter langsung pergi meninggalkan tempat itu, dia langsung keruangan operasi lain. Sementara Tiaras hanya duduk dengan lesuh tanpa berkata apa apa lagi.
Setelah merasa dirinya cukup kuat, Tiaras beranjak masuk kedalam ruangan rawat Rido, dia berjalan dengan pelan kearah ranjang Rido. Melihat Ibunya datang kearahnya Rido dengan berat hati ingin menyambut sang ibu.
Rido ingin menggeser bokongnya dari tempat duduk semula, dia menggerakan kakinya untuk berpindah namun dia sama sekali tidak menggerakan kakinya untuk berpindah. Merasakan kakinya tidak bisa dia pindahkan, Rido mengerutkan keningnya dengan rasa penasaran, kemudian dia membuka selimut yang telah menyelimuti kakinya itu.
Rido berusaha untuk menggerakan kakinya, dengan sekuat tenaga dia melakukannya namun hasilnya tetap saja nihil.
“bu! Kenapa kakiku gak bisa bergerak?” tanyanya dengan penuh rasa penasaran, sambil dia menatap sang ibu yang berada di dekatnya.
Mendengar pertanyaan dari sang anak, Tiaras langsung berhambur memeluk anak simata wayangnya itu, sambil dia mengusap punggung Rido dengan penuh kasih sayang.
“Nak! Kamu harus kuat ya, ibu yakin kamu bisa sembuh, kakimu pasti bisa disembuhkan, ibu dan ayah pasti akan mencari dokter terbaik di dunia ini” Ucap Tiaras yang masih memeluk sang anak.
“Apa maksud ibu berkata seperti itu?” Tanya Rido dengan penasaran, dia masih belum mencerna kata kata sang ibu.
Tiaras melepaskan pelukannya dari Rido, kemudian dia duduk dengan benar sambil dia mengusap air matanya, kemudian dia menarik napasnya lebih dalam lagi.
“Begini! Sekarang ini kakimu mengalami kelumpuhan, makanya kamu tidak bisa gerakan” ucap sang ibu dengan tegas, dia harus memberitahukan hal ini untuk kesembuhan sang anak.
Ayoo.. Berikan Vote daj Komentar