NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 9

“Alangkah susah pengen hidup tenang aja, Ndut. Nad-nad cuma butuh hidup tenang, Ndut, nggak pengen yang lain.” 

Suara Nadya terdengar samar dari dalam kamar. Sesekali napas gadis itu tersengal, menandakan betapa sesak dadanya menahan amarah.  

Rizal masih mematung di depan pintu kamar, ia menghela napas berat, pikirannya berkecamuk, bibir laki-laki itu bergumam, namun suaranya hanya tertahan di tenggorokan. 

‘Apa sebenarnya masalah yang sedang kamu pendam, Nad.’ 

Ia kemudian memutuskan mengetuk pintu sambil bertanya dengan suara pelan. “Nad, boleh Abang masuk?” 

Tidak ada jawaban, hanya deheman kecil dari Nadya yang terdengar parau.

Perlahan, Rizal membuka pintu kamar, dahi laki-laki berhidung mancung itu mengernyit, tatapannya sayu, tarikannya napasnya terdengar berat saat melihat Nadya duduk dengan wajah sembab sambil menatap Adam yang tertidur lelap. 

Ia kemudian menghampiri Nadya, entah apa yang mendorongnya, tangan lebarnya meraih kepala Nadya dan menyandarkannya di badannya sambil mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut. 

“Jangan dipikirkan, Nad, Abang percaya kamu gadis baik-baik,” bisiknya, lirih. 

Perlakuan Rizal yang begitu hangat, di tambah terlalu lamanya amarah yang terpendam, membuat air mata yang sejak kemarin Nadya tahan luruh. Gadis itu tersedu seiring sentuhan lembut yang Rizal berikan. 

“Apa salah Nadya, Bang? Dari awal Nadya dateng mereka selalu memojokkan Nadya dengan tuduhan keji itu. Nadya tau dan sadar diri kok tanpa mereka ngomong begitu,” sahut gadis itu, di tengah tangisnya yang terdengar sesak.

“Kamu nggak salah, Nad, mereka aja yang salah paham dengan kehadiran kamu.” Rizal menarik badannya sedikit, menunduk sejenak, satu tangannya masih berada di puncak kepala Ibu susu putra kesayangannya.

Ia kemudian menatap wajah sembab Nadya, juga kaosnya yang sedikit basah oleh air mata. Seringai nakal muncul dari wajah tampan laki-laki itu, usapan lembutnya berubah menjadi sentuhan gemas, dengan sedikit terbahak ia menggoda Nadya yang masih hanyut dalam tangisnya.

“Kamu Nangis? Hah, jadi gadis galak yang berani nonjok lengan Abang setelah Abang selamatkan dari kejaran preman, bisa nangis juga?”

Mendengar ledekan dari Rizal, Nadya cepat-cepat menyeka ujung matanya, tatapannya menajam, dengan gigi yang bergemerutuk. 

“Perlakuan Abang bikin baper.” kilahnya sambil beranjak dari duduknya. 

Rizal terbahak seketika, lalu menunduk mencium pipi gempal sang putra.

“Ikut Abang ke kantor, yok. Sekalian jalan-jalan, kamu kayanya penat itu udah satu minggu lebih di dalem rumah aja,” tawarnya kemudian. 

Nadya menoleh sekilas, wajahnya sedikit menunduk, menutupi matanya yang sembab. “Adam gimana?” 

“Kita bawa, di kantor enak kok, bersih, ada AC nya juga. Sekalian kamu kalo ada yang mau di hubungi, dari awal dateng Abang lihat kamu sibuk cari sinyal tiap sore,” sahut Rizal. 

“Lagian aneh betul, zaman sekarang rumah nggak ada wifi-nya,” celetuk Nadya sambil berjalan menghampiri Adam. 

Rizal tertawa kecil, lalu kembali mengusap gemas puncak kepala Nadya. “Minggu depan Abang pasang, Abang udah panggil tukang wifi-nya, tapi minggu depan mereka baru bisa dateng. Udah gih siap-siap, bawa apa keperluan kamu sama Adam, Abang ganti baju dulu.” 

Nadya tak menjawab, hanya mencebik sambil mengambil tas kecil miliknya, memasukkan beberapa keperluan Adam juga ponselnya yang seminggu ini nyaris tak bernyawa. 

Embun masih menggantung di pucuk dedaunan meski matahari sudah tinggi, semilir angin bergemerisik beradu suara serangga hutan yang berderik. Perlahan mobil yang di kendarai Rizal membelah barisan pohon-pohon sawit yang menjulang tinggi, meninggalkan hiruk-pikuk pemukiman warga dengan segala keriwehannya. 

Nadya masih duduk diam sambil memangku Adam yang sesekali menggeliat. Mata sendu gadis manis itu sesekali menyapu sekitar, memperhatikan tiap sap pohon sawit yang berdiri tenang. Alis tebal gadis manis itu terangkat sebelah saat mobil mereka mulai memasuki parkiran sebuah bedeng, kurang lebih ada tiga kamar bedeng yang berjejer rapi dengan seluruh bangunannya terbuat dari seng yang di cat putih bersih. 

Nadya menoleh ke arah Rizal sekilas, ada raut tak percaya di tatapannya. “Abang yakin di sini ada sinyal? Di rumah yang jalan lintas kelihatan meski kaya ular raksasa aja nggak ada, apalagi di sini?” 

“Kamu nggak liat ada pemancar menjulang tinggi ke angkasa,” sahut Rizal sambil menunjuk tiang tower yang berada di belakang bangunan itu. 

Nadya mendongak sekilas, bibir mungilnya menggerutu pelan. “Nggak keliatan, bukan nggak liat. Gitu aja galak betul, oy, ngasih pahamnya.” 

Rizal tergelak seketika, satu tangannya mengacak rambut Nadya, gemas. “Ayo turun, sini Adam biar Abang yang gendong.”

Nadya mendengus pelan, matanya memicing, bukan karena marah, tapi lebih kepada ekspresi bercanda. Ia lalu mengikuti Rizal yang sudah lebih dulu turun dari mobil. 

Di pelataran rumah bedeng, seorang laki-laki dengan helm berwarna kuning nampak duduk santai sambil menyesap secangkir kopi hitam. Yasir—salah satu orang kepercayaan Rizal yang bertanggung jawab dan tinggal di bedeng itu bersama beberapa pekerja lainnya. 

“Anah kiddah … mimpi apa ini semalam dapet kunjungan dari bos kecil kita,” sambut Yasir begitu mengetahui kedatangan Rizal dan Adam. Tatapan laki-laki dengan rambut mullet itu lalu tertuju pada Nadya yang berjalan di belakang Rizal. 

“Enahhh … laju cepet betul dapet cewek cantik, Abang satu ini, wah. Kuburan bini masih merah pula tanahnya,” imbuhnya dengan logat khas Sumatera. 

Rizal tersenyum simpul, sambil buru-buru membawa Adam masuk ke kantor pribadinya, disusul Nadya dan Yasir yang turut mengekor di belakang.

“Hidupkan AC dan kipasnya, Sir, kepanasan ngamuk nanti dia,” titah Rizal sambil menimang Adam yang mulai menggeliat gelisah. 

“Sabar boss … sabar,” sahut Yasir yang dengan cepat mengerjakan perintah sang atasan.

Ia kemudian menghampiri Rizal, menatap dengan senyum  hangat, tangannya terulur ingin menyentuh Adam, namun dengan cepat di tahan oleh Rizal. 

“Cuci tangan dulu, alergi pula nanti kulit anakku,” seloroh Rizal. 

“Bersih pula tangan saya ini, Bang,” protes Yasir. “Aguiii … bening betul ponakan saya, nggak rugi ujan-ujan saya petik buah kedondong ampe jatuh nyungsep di selokan,” celotehnya seraya mengenang saat ia membantu Rizal menuruti masa ngidam almarhumah Sukma. 

“Kamu besok kalo udah gede, harus sayang sama Wo kamu ini, kalo nggak ada Wo ngiler betul mulut kamu,” lanjut Yasir sambil terus mengusap pipi Adam. (Wo\=Paman) 

Senyum getir terbit di bibir Rizal, tatapannya menerawang masa silam, namun segera tertepis saat netranya menangkap senyum kecil Nadya yang duduk di sofa sambil menatap ponselnya. 

“Ada sinyalnya, Nad?” tanyanya kemudian, membuat perhatian Yasir turut teralih ke arah Nadya. 

“Ada, tapi nggak terlalu lancar,” jawab Nadya tanpa menoleh ke arah Rizal. 

“Ke kamar Abang aja, Dek, di sana full sinyal, kenceng juga koneksinya,” celetuk Yasir. 

Mendengar celotehan Yasir, tangan lebar Rizal dengan ringan menggeplak tengkuk anak buahnya itu. Mata amber laki-laki itu memicing, dengan gigi bergemeretak. 

“Nggak usah macem-macem kamu, mau tak potong gaji bulan ini.” Ancamnya. 

Seketika, Yasir nyengir kuda, satu tangannya mengusap tengkuknya. “Bercanda, Bang. Pelit betul.”

Ia kemudian menyenggol pelan lengan Rizal, ujung matanya melirik ke arah Nadya sambil mengangguk kecil. “Memang sapa itu, Bang, calon Mamanya bos kecil?” 

Plak

Rizal kembali menampol tengkuk anak buahnya itu. 

“Sembarangan kamu, udah sana ke dapur, bikinkan Abang kopi, kamu mau minum kopi nggak, Nad?” tawarnya pada Nadya yang masih sibuk dengan ponselnya. 

“Boleh,” sahut Nadya pendek, gadis manis itu lalu meletakkan ponselnya di meja, menghampiri Rizal yang masih bergerak pelan—menimang Adam di gendongan.  

“Jangan manis-manis, ya, Bang Yasir kopinya, Abang sudah manis soalnya,” godanya, membuat Yasir kalang kabut—salah tingkah. 

“Mateii lahh makkk … nggak tidur bisa-bisa malam ini saya,” sahut Yasir, di susul tawa renyah Nadya.  

Rizal turut tertawa melihat tingkah Yasir dan Nadya, tatapnya lekat pada wajah manis Nadya. Batin pria yang belum lama menduda itu berbisik lirih disertai raut kagum yang ia sembunyikan di balik tawanya yang sedikit sumbang. 

‘Andai kamu yang adeknya Sukma, Nad.’ 

Bersambung.

1
Ita Nuryani
gak pernah dobel up tor
Anna: Lagi ngerjain 2 judul, Kak, jadi hemat bab biar bisa up setiap hari. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
nenek lampir sewot lihat nad nad dikasi ATM.
Anna: kita bikin makin jantungan. 😄
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
akankah setelah ini trio kwek kwek yg selalu berisik tahu siapa sebenarnya nadia?
Anna: siap, terima kasih sarannya, Kak. 🫶
total 4 replies
SooYuu
ih dikitnya upnya kak, berasa ngedip dah bersambung aja😩
Anna: istigfar.
total 1 replies
SooYuu
suruh isep ppnya😭 eh lah keceplosan😩😩
Anna: Hehh, otewe kata Bang Rizal. 😗
total 1 replies
SooYuu
dih🤣🤣
Anna: ape luu. Kata Dewi🫢
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
kok up nya cuma sedikit. up yg banyak dong kak...kukasi secangkir kopi deh
Anna: inginnya begitu, tapi apalah daya otak tak sampai ... 😖
total 1 replies
Linceu thea
nah zal hayoo ... tanya hasna sana 😂😂😂
Anna: Rizal menggaruk tengkuk yang tak gatal.
total 1 replies
gendhis jawi
hbs ini adam sakit gr2 sufor
Anna: kita bikin panik Bang Rizal.
total 1 replies
Dae_Hwa💎
Jangan sampai mulut ibu, saya bekap pakai kaos partai.
Anna: Yang ada bantengnya, biar sekalian nyruduk.
total 1 replies
SooYuu
kirain glundung dari kasur 🤣
Anna: glundung??? trauma eyy 🫢
total 2 replies
Linceu thea
tenang nad masih ada mas rijal 😂😂😂
Dae_Hwa💎
Selamat untuk karya barunya, Kak Anna 🥰
Semangat 🔥
Anna: Awwww 🫶
total 1 replies
SooYuu
udahlah Has iklhas saja, kali ini pun kau takkan menang. instingku mengatakan demikian🤣
SooYuu
wah, memang abang rizal ini macam buaya2 pada umumnya
SooYuu
iyuh R&H 😭😭
Anna: pake benang emas.catet.
total 1 replies
Linceu thea
ya bersambung ga jadi deh ikut nimpuk pala ma sur nih 😄😄😄
Linceu thea: 😂😂 biar amunisi ny kuat lanjut thor
total 2 replies
Rehan Atar
widih nunggu lagi ..... gasss kenceng nulisnya thor dah nyandu penasaran sama preman2 yg ngejar nadya 😄
Anna: Preman sedang war THR🌴
total 1 replies
nayla tsaqif
Ujian cinta kita katanya,, cinta kamj aja kali naa hasna,, 🤭
Anna: Jatuh cinta memang manis .... apalagi .... 🌴
total 1 replies
Yessi Kalila
pengin coba pindang baung.... kaya apa rasanya y
Anna: nikmat betull, Kak. Apalagi kepalanya behhhh ... mertua betamu juga nggak bakal saya bukain pintu. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!