"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 09: Kemarahan Fiona
Malam ini, di bawah balutan selimut yang tebal berwarna pink muda itu, Deana tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Sejak tadi matanya sudah ia pejamkan, tetapi tetap saja tidak mau terpejam-pejam, membuat Deana kesal sendiri.
Deana menghembuskan napasnya perlahan, ia meraup wajahnya kasar, "Ya Tuhan, tolong jangan sampai aku menikah dengan dia. Bagaimana kalau Mas Arya dan Ibu tahu... pasti mereka akan membenciku." ucapnya pelan, pikirannya melayang jauh ke depan.
Deana kembali menutup kedua kelopak matanya dan berusaha untuk tidur. Memikirkan hal yang tidak ada ujungnya membuat pikirannya terbebani.
***
Pagi hari tiba, Reno menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Rasa lelahnya yang bertubi-tubi itu, sudah berganti ke rasa yang lebih fresh dan segar.
Tok... Tok... Tok.... !!
"Daddy!" seru Vellena dengan nyaring memanggil nama sang Daddy di depan pintu kamarnya.
Reno segera bangkit dari tidurnya dan membuka perlahan pintu kamarnya, "Sayang." sapa Reno lalu mengangkat tubuh Vellena dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Daddy, hari ini aku ingin pergi dengan Oma." ucapnya bercerita.
Reno mengernyit, pasalnya Mommy Ellen belum bercerita padanya, "Pergi? Apa Len tidak les hari ini?" tanya Reno.
Vellena menggeleng, "Tidak Dad. Hari ini Len libur."
"Len ingin pergi ke mana dengan Oma?"
"Ke rumah Bunda." jawabnya.
Reno tersenyum, ia sampai lupa jika kedua orang tuanya sering bermain ke tempat Kakak Zavianya.
"Oh iya, Daddy lupa. Baiklah... Len hati-hati di sana. Daddy tidak ikut karena Daddy harus bekerja. Sini cium dulu!" Reno mencium kedua pipi Vellena dengan sayang. Tidak ada yang bisa menggantikan Vellena dengan hal apapun, Vellena sangat berarti di hidupnya.
Vellena tertawa geli karena tersapu dengan bulu jambul halus milik Reno yang mulai tebal itu, "Hahaha Daddy stop!" Lena mendorong pelan wajah Reno agar menjauh darinya.
Bukan Reno namanya jika tidak usil, ia kembali menghujani banyak ciuman di wajah putrinya. Tawa Lena semakin sumbang, dan Reno menyukainya. Daripada melihat putrinya lemas tak bertenaga karena sakit. Reno sangat tidak suka.
***
Reno sudah rapi dan siap berangkat kerja. Tubuhnya yang tinggi dengan kulit kuning langsat cerah itu sudah wangi dengan bau maskulinnya.
Reno duduk di meja makan, bersiap untuk sarapan. Sudah ada Daddy Samuel dan Mommy Ellen yang sedang bersarapan di sana, mereka juga sudah rapi karena memang akan pergi, seperti yang dikatakan oleh putrinya tadi.
"Tumben perginya pagi-pagi sekali." ucap Reno. Biasanya mereka pergi siang sampai sore, kalau tidak, sore sampai malam.
Mommy Ellen tersenyum, "Kami ingin mempersiapkan acara pernikahanmu. Mommy dan Zavia akan mengukur baju untuk pesta pernikahanmu, iya kan Dad?"
Daddy Samuel mengangguk, ia tidak berkata apapun karena mulutnya terisi penuh dengan sarapannya.
Reno mendengus pelan, padahal ia membujuk Deana saja belum berhasil, ini Mommynya sudah heboh.
"Mom, please... nanti saja. Sekalian ajak Deana juga."
Mommy Ellen mengangguk, "Kapan kamu akan membawanya bertemu dengan Mommy? Bahkan Mommy tidak tahu bentukan Deana seperti apa."
Reno menghela napasnya berat, sangat sulit dijelaskan, "Nanti secepatnya, Reno akan bawa Deana kemari bertemu dengan kalian." balasnya menyimpulkan.
Mommy Ellen dan Daddy Samuel hanya manggut-manggut mendengarnya.
***
Sementara itu di rumah mewah tingkat tiga dengan halaman yang luas itu, tak henti-hentinya Fiona mengeluarkan air matanya, rasanya seperti dijunjung tinggi-tinggi lalu dihempaskan ke dalam dasar lautan yang dalam.
"Bagaimana sih Papi! Fio benci Papi!" ucap Fiona menepis tangan Tuan Juna yang sedang menenangkannya.
"Sudah jangan menangis, nanti Papi katakan pada Samuel. Bagaimana bisa dia mengingkari perjanjian kita." ujar Tuan Juna. Padahal saat itu hanya ucapan gurauan saja saja dengan sahabatnya, tapi ternyata putrinya memang sudah sangat menginginkan hal itu terjadi. Tuan Juna jadi pusing.
Nyonya Silve datang membawakan sepotong roti dan irisan buah strawberry dengan air putih segelas, "Sudahlah, masih banyak laki-laki lain di luaran sana yang baik untukmu Fio. Reno juga berstatus duda anak satu, kamu kan tidak menyukai anak-anak, bagaimana nanti ke depannya jika kamu berumah tangga dengannya." ucap Nyonya Silve lalu duduk di samping Fiona dan mengelus pundaknya.
Fiona menepis tangan Maminya, "Mami tidak mengerti perasaanku, aku menyukai Kak Reno sejak lama. Walaupun duda, dia masih muda dan tampan, ditambah kaya raya dengan status CEO di perusahaannya, bagaimana aku tidak tertarik. Pokoknya Papi dan Mami harus mengusahakanku agar bisa dengan Kak Reno!" ucapnya menatap wajah orang tuanya satu persatu.
Tuan Juna menggeleng, "Papi tidak bisa seratus persen akan mengiyakannya, karena Papi juga tidak tahu jika Reno sudah memiliki kekasih dan akan menikah...."
Fiona bersedekap dada, "Papi cabut saja saham kerjasamanya, pasti Om Sam akan berusaha untuk kembali menyatukan Fio dan Kak Reno. Begitu saja Papi tidak paham." ketus Fiona.
Tuan Juna memejamkan matanya. Memang hampir 60% di perusahannya yang sedang berjalan itu, ia mengerjakan bahan baku tekstil milik perusahaan Bulbeurn. Jika diberhentikan, pasti Samuel akan marah besar karena keluar dari surat perjanjian di atas materai mereka bersama.
"Fio...." ucap Tuan Juna lembut.
"Pokoknya Fio gak mau tahu!" potongnya menatap wajah Tuan Juna.
"Kalau Papi dan Mami tidak ingin mengusahakannya, maka Fio akan pergi dari sini dan akan berusaha sendiri!" lanjutnya mengancam.
Tuan Juna melotot, "Tidak, jangan lakukan itu. Iya... Nanti Papi akan bicara pada Samuel." ucapnya mengalah pada putrinya.
Fiona mengangguk, "Kalian keluarlah, aku ingin sendiri." usir Fiona pada kedua orang tuanya. Ia langsung kembali tidur, menutupi dirinya dengan selimut. Ia akan kembali tidur karena semalaman ia hanya menangis memikirkan Reno.
Fiona juga sudah berusaha mencari nama Deana di barisan para model nasional bahkan internasional, tapi nihil, Fiona tidak menemukannya. Fiona sampai pusing karena tidak bisa melihat wajah Deana seperti apa.
***
Hari ini, Deana libur.
Tresha menutup cafenya karena di hotel sedang ada pertemuan besar, jadi pihak hotel meminta agar cafenya di tutup selama dua hari.
"Deana, kamu tidak jalan-jalan dengan Nak Arya? Mumpung libur." ucap Ibu Hesti menyarankan.
Pasalnya ia tidak melihat Arya datang ke rumah, biasanya hampir dua hari sekali, laki-laki itu datang untuk sekedar menanyakan kabar putrinya dan membawakan makanan.
"Maunya sih Bu... Tapi...."
"Tapi apa?"
"Mas Arya lembur tadi malam, mungkin sekarang lagi kecapekan. Nggak mungkin juga Dea memaksanya. Kasihan Bu." balas Deana sambil melanjutkan kegiatan menyapu lantainya.
Arya memang bekerja, tapi pekerjaan Arya hanyalah panggilan. Jadi tidak menentu dan terkadang jika tidak ada pekerjaan, Arya hanya diam di rumah sambil mengurusi usaha ternak ikan lelenya.
"Oh ya." Ibu Hesti mengangguk.
"Kemungkinan hari ini Dea ingin pergi ke salon langganan Dea Bu. Mau potong rambut, sudah mulai berantakan." keluh Deana tersenyum menatap Ibunya.
"Ya sudah hati-hati. Pulangnya Ibu mau nitip buah melon ya? Ibu pengen buat es kuwut. Lumayan nanti besok pagi ada bazar di desa, Ibu mau titip ke Mbak Ijah."
Deana mengangguk, "Kalau begitu Dea juga mau buat kue pizza sama kue sus, Bu. Lumayan. Dea juga libur."
"Iya sayang boleh, nanti Ibu titipkan ke Mbak Ijah."
Deana tersenyum, ia buru-buru menyelesaikan kegiatan menyapunya. Deana memasuki kamarnya untuk mengganti baju dan sedikit memoles wajahnya dengan makeup sebelum pergi keluar rumah.
Deana juga bingung ingin menceritakan keluh kesahnya pada sang Ibu, tapi ia takut... Ia takut, Ibunya membencinya karena tidak bisa menjaga kehormatan sebagai seorang perempuan. Ia juga takut Ibunya marah dan mengusirnya.
Deana sudah siap dengan hijab berwarna khaki yang menutupi kepalanya, wajah ayu-nya tidak bisa tertutup dengan apapun, Deana sangat cantik. Ia memiliki kulit putih dan bersih, matanya yang besar dengan bulu mata yang lentik, serta hidung mancung dan bibir tipisnya, membuatnya terlihat seperti seseorang dari kalangan yang tinggi.
"Bu, Dea berangkat dulu." Deana mencium tangan Ibu Hesti dengan takzim, "Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, hati-hati sayang, jangan ngebut. Kalau Ibu tidak ada di rumah, berarti Ibu ada di rumah Mbak Ijah, mau bantu Mbak Ijah buat kue lapis legit sama bolu jadul." ucapnya memperingatkan agar Deana tak mencarinya.
"Iya Bu."
-----
Hi guys, tolong absen dong yang sudah baca sampai sini dengan cara like dan komen ya! Terima kasih banyak❤️
Biar Author semangat up bab-nya sampai tamat❤️
-----