Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 22 — Pria yang Terus Mengikuti
Langit senja mulai berubah gelap ketika Elizabeth berjalan pulang dari rumah Jean. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, sementara lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu di sepanjang trotoar. Langkahnya terdengar ringan namun teratur, seolah ia ingin segera sampai di rumah dan menjauh dari segala hal yang terjadi hari itu.
Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Isaac dan juga pembicaraannya dengan Sullivan sebelumnya. Keduanya sama-sama membuatnya tidak nyaman dengan cara yang berbeda.
Namun begitu ia berbelok ke arah rumahnya berada, langkah Elizabeth perlahan melambat. Seseorang sudah berdiri di dekat rumahnya. Sosok itu terlihat bersandar santai dengan satu kaki menempel pada tembok, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket.
Ketika Elizabeth semakin mendekat, wajah pria itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan. Elizabeth langsung menghela napas panjang dengan kesal.
“Pria aneh ini lagi,” gumamnya pelan.
Begitu melihat Elizabeth, Sullivan mengangkat tangannya sedikit seperti seseorang yang menyapa teman lama. Senyum tipis terukir di wajahnya, senyum yang terasa terlalu santai untuk seseorang yang terus muncul di hidup orang lain tanpa diundang.
“Selamat malam, Elijah. Kenapa kau baru pulang?” sapa Sullivan ramah, seolah-olah ia sudah mengenal perempuan itu sejak lama.
Elizabeth berhenti beberapa langkah darinya. Tatapannya tajam, jelas menunjukkan kejengkelan yang sudah mulai menumpuk.
“Kau lagi? Mau apa kau di sini?” tanya Elizabeth datar. Ia tidak suka jika ada orang yang terus mengikutinya seperti penguntit yang penasaran
Sullivan mengangkat bahu santai. “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tinggal di sini? Wajar saja jika kita sering bertemu, kan? Aku tetanggamu, kau ingat?”
Elizabeth mendengus pelan dan langsung berjalan melewatinya menuju pintu rumah. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara langkah lain terdengar mengikuti di belakangnya. Ia berhenti dan menoleh.
Sullivan benar-benar mengikutinya.
Alis Elizabeth terangkat tinggi. “Apa lagi sekarang?”
Pria itu tidak tampak merasa bersalah sedikit pun. Ia hanya berjalan santai beberapa langkah di belakang Elizabeth, seperti seseorang yang sekadar menikmati waktunya.
“Kau terlihat sangat tidak ramah pada tetanggamu sendiri,” katanya sambil berdecak kecil.
Elizabeth memutar bola matanya dengan jengkel. Kehadiran pria ini benar-benar mengganggu ketenangannya. Namun kali ini, alih-alih mengusirnya seperti yang ia lakukan sebelumnya, Elizabeth justru menahan dirinya. Ia menatap Sullivan sejenak sebelum akhirnya menghela napas pelan.
“Baiklah,” katanya datar. “Jika kau memang ingin sekali bicara denganku, mari kita bicara.”
Sullivan mengangkat alisnya sedikit, tampak tertarik dengan perubahan sikap itu.
Elizabeth menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Kau bilang kau tetanggaku, bukan?”
Sullivan mengangguk ringan.
“Sejak kapan?” tanya Elizabeth.
Pria itu tersenyum kecil, tampak berpikir. “Belum lama.”
Elizabeth memperhatikan wajahnya dengan seksama, mencoba membaca sesuatu dari ekspresinya. “Tapi kau sudah tahu namaku. Dari mana kau tahu namaku? Dan sepertinya kau tahu banyak tentangku.”
Sullivan terlihat berpikir sambil memainkan pandangannya. “Dari mana, ya? Mungkin dari keluargamu?” katanya pelan.
Elizabeth menyipitkan matanya. “Maksudmu? Kael? Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?”
Sullivan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elizabeth selama beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh pelan.
“Aku tahu banyak hal tentangmu, Elijah,” katanya santai.
Kalimat itu membuat Elizabeth langsung terdiam. Untuk sesaat, ekspresinya membeku sebelum akhirnya ia berhasil mengendalikan dirinya kembali.
Ia menatap Sullivan dengan lebih tajam sekarang. “Apa maksudmu?” tanyanya pelan.
Namun Sullivan hanya mengangkat bahu lagi, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan ucapannya.
Elizabeth mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pria itu muncul secara tiba-tiba di samping rumahnya. Ia tahu namanya. Sekarang ia bahkan mengatakan bahwa ia mengetahui banyak hal tentang Elijah.
Sikap Elizabeth langsung berubah lebih waspada. Tatapannya menjadi lebih dingin. Bahunya menegang sedikit, siap jika pria itu mencoba sesuatu yang aneh.
Sullivan tampaknya memperhatikan perubahan itu dengan jelas, dan ia tertawa kecil.
“Kau terlalu tegang,” katanya setengah mengejek. “Kau tahu? Kau tidak perlu selalu bersikap defensif seperti itu. Bersikaplah sewajarnya saja.”
Elizabeth tidak menanggapi. Ia hanya terus menatapnya dengan hati-hati.
Sullivan lalu melangkah sedikit mendekat, namun tetap menjaga jarak yang aman. “Tenang saja,” katanya dengan nada ringan. “Tidak semua pria berpikiran buruk terhadap perempuan.”
Elizabeth mendengus pelan. “Bagaimana kau bisa begitu yakin? Kau pria, kan? Kau seharusnya tahu bagaimana cara pria berpikiran tentang tubuh seorang wanita,” balas Elizabeth dingin dan sarkas.
Sullivan tersenyum miring. “Yah, aku tahu itu. Tapi tidak semua pria tertarik pada lekukan tubuh.”
Elizabeth memiringkan kepalanya sedikit, matanya masih mempelajari pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Ada sesuatu tentang Sullivan yang terasa terlalu santai untuk seseorang yang mengetahui banyak hal tentang dirinya. Dan itu justru membuatnya semakin tidak bisa mempercayai pria di hadapannya sekarang.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Elizabeth akhirnya.
Sullivan tidak langsung menjawab. Ia menatap Elizabeth cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya, tetapi kali ini sorot matanya terlihat lebih serius.
“Untuk sekarang?” katanya pelan. Ia menunjuk pintu rumah Elizabeth dengan dagunya. “Aku hanya ingin memastikan tetanggaku pulang dengan selamat saja. Apakah itu salah?”
Elizabeth memutar bola matanya lagi, jelas tidak percaya.
Namun kali ini ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia membuka pintu rumahnya dan melangkah masuk tanpa menoleh kembali.
Sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya, suara Sullivan terdengar sekali lagi dari luar.
“Selamat malam, Elijah.”
Elizabeth berhenti sejenak di dalam rumah. Tangannya masih berada di gagang pintu. Perlahan, ia menutup pintu itu hingga rapat. Wajahnya berubah serius.
Di luar, Sullivan masih berdiri di bawah lampu jalan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Elizabeth mulai merasa bahwa pria itu mungkin mengetahui jauh lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.
“Pria aneh itu tampaknya mengetahui sesuatu,” monolog Elizabeth.