Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Ide gila Melodi
"Vian nggak mau Kak Davin nikahnya sama orang lain, Kak. Vian cuma mau Kak Mel saja yang nikah sama Kak Davin," ucap Alvian dengan sungguh-sungguh. Dia menatap Melodi dengan serius.
"Kakak mau kan, jadi istrinya Kak Davin? Kak Davin kan, orang yang baik, pasti sangat cocok jadi suaminya Kak Mel. Iya kan, Kak," Bocah lelaki itu berusaha meyakinkan sang kakak, netra kecilnya memancarkan harapan.
"Kak Mel, sebenarnya suka juga kan, sama Kak Davin?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.
Melodi mengembuskan napasnya berkali-kali. Kata-kata sang adik masih terngiang di telinganya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang hanya diterangi oleh cahaya temaram lampu yang bersinar redup.
"Aku kan, perempuan. Masa harus ngomong suka? Kan malu...ya, walaupun sebenarnya aku juga menyukainya." Melodi tampak bimbang. Batinnya dirundung kegalauan.
"Tapi, kalau aku hanya diam saja, gimana bila Dahlia berbuat nekad?" Ada rasa tak terima yang mengikatnya. Ia membolak balik badannya ke kiri dan ke kanan dengan gerakan random.
"Baiklah, sepertinya aku memang harus bicara terus-terang pada Pak Dokter, supaya dia nggak menunggu lama," gumamnya penuh tekad.
Setelahnya Melodi berusaha memejamkan mata dan berdoa semoga esok hari dirinya diberikan muka yang tebal agar terhindar dari rasa malu.
.
Sementara itu, Davin tengah menerima panggilan telepon dari sang mami.
"Adik, kapan balik?" tanya Mami Mia, wanita paruh baya itu sudah sangat merindukan putra bungsunya.
"Bukankah pembagunan rumah untuk para korban bencana sudah selesai? Apa lagi yang Adik tunggu, sih?" lanjutnya bertanya dengan tidak sabar.
"Adik masih menunggu jodoh, Mi. Susah banget menaklukkan hatinya. Bantuin adik dong, Mi?" rengek Davin dalam mode manja.
"Memangnya dia gadis seperti apa, sampai putra mami yang tampan ini galau dibuatnya, heum?" tanya sang mami kepo
Davin menimbang-nimbang antara jujur atau tidak. Namun, kemudian dia memilih untuk jujur sama maminya. Dia mengirim beberapa foto candid Melodi serta video yang diambilnya pada saat gadis itu bertanding voli.
"Sudah adik kirim foto juga videonya, Mi," ucapnya. "Tolong dilihat dan dikomentari. Tapi komentarnya yang baik-baik, aja!" pintanya setengah maksa.
"Wait...mami lihat dulu," kata Mami Mia.
Wanita paruh baya itu segera membuka kiriman foto dan video dari Davin. Netranya langsung terpaku menatap sosok berwajah manis yang sedikit berkeringat terbingkai hijab segitiga warna hitam. "Cantik...wajahnya bersih meski tanpa make up. Dan auranya memancarkan kecantikan yang alami," gumam Mami Mia.
"Dia memang cantik, Mi. Selain itu dia juga gadis yang hebat. Mami pasti suka," sahut Davin.
"Sebentar, mami kan, belum lihat videonya." Selanjutnya Mami Mia menekan tombol play pada video. Dan dirinya seketika dibuat terkagum-kagum dengan aksi Melodi di lapangan. Bagaimana gadis itu melompat dengan sangat lincah dan gesit. Memukul bola ke arah lawan dengan gerakan terukur sehingga menghasilkan poin demi poin.
"Gimana pendapat, Mami?" desak Davin tak sabar.
"Luar biasa...!" gumam Mami Mia. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan meski sang putra tak melihatnya.
"Mami setuju dengan pilihan adik, kan?" tanya Davin memastikan.
"Ya sudah bawa ke sini, kenalkan sama mami," jawab Mami Mia.
"Tapi susah, Mi. Meskipun adik sudah bilang akan membantu pengobatan adiknya, tapi dianya banyak pertimbangan. Dia merasa nggak pantas katanya," ucap Davin dengan nada putus asa.
"Ya paksa dong, Dik. Kalau perlu pakai jurus Kak Niel. Dengan begitu dia nggak akan bisa nolak lagi," jawab Mami Mia enteng. Sepertinya si Mami ini sudah ketularan si Daniel rupanya yang pakai cara ekstrim buat menaklukkan hati Zeya.
"Kalau itu Adik nggak berani, Mi," tolak Davin tegas.
"Selama ini dia punya reputasi yang baik, adik nggak mau merusaknya," imbuhnya beralasan.
"Ya sudah. Bagaimana kalau alasan adiknya dapat pengobatan gratis di Jakarta. Mau tak mau dia pasti ikut, tuh. Cocok nggak ide mami?"
"Ok deh, Mi. Nanti adik coba. Wassalamu'alaikum."
Davin menutup panggilan teleponnya. Ada sedikit rasa lega dihatinya. Setidaknya dia sudah mengantongi restu dari kanjeng ratu. Dan itu yang paling penting. Selanjutnya, tinggal bagaimana caranya meyakinkan Melodi.
.
Malam berangsur pergi dan berganti pagi. Suara kokok ayam membangunkan Melodi dari tidurnya. Ia terbangun lalu meregangkan otot-otot tubuhnya agar peredaran darahnya lancar. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama ia keluar dan kembali ke kamar guna menunaikan kewajiban lima waktunya.
Selesai dengan urusannya, Melodi keluar dari kamar menuju pintu dan membukanya. Begitu berada di luar rumah dirinya langsung disambut oleh semilir angin pagi yang segar menerpa kulitnya.
Melodi menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil memejamkan mata menikmati setiap sapuan angin yang lembut menyentuh wajahnya. Setelah puas ia pun menaiki sepedanya bergegas pergi ke tukang sayur yang menggelar dagangannya di lahan kosong dekat sekolahan.
Setiba di sana, tanpa membuang waktu, ia langsung memilih sayuran dan lauk pauk yang diinginkannya. Di saat dirinya sedang memilih, tiba-tiba suara Bu Risma mengagetkannya.
"Eh, Melodi," ujar wanita itu ketus. "Saya itu nggak habis pikir, ya! Nggak tahu diri banget sih, kamu jadi orang!" lanjutnya berseru dengan nada sinis.
Rupanya ucapan Bu Risma mampu menarik perhatian ibu-ibu yang tengah membeli sayuran. Bahkan Dahlia pun juga ada di sana.
"Sadar diri dong, kamu itu siapa, bisa-bisanya menggoda dokter tampan itu," timpal Dahlia menyindir tajam.
"Ooh...kamu pasti rela membuka pahamu supaya bisa hidup enak, iya...? Atau jangan-jangan selama ini kamu kerja juga sambil menggoda majikan demi uang? Ya iyalah gadis sepertimu...." Bu Risma melontarkan tuduhan tanpa dasar, tetapi ucapannya segera terpotong oleh Melodi.
"Cukup, Bu!" Melodi berdiri tegak dengan raut wajah merah padam memendam rasa malu dan amarah yang memuncak.
Ia tersenyum pahit menerima tuduhan dan hinaan yang tak pernah dilakukannya. "Saya nggak nyangka seorang wanita berpendidikan dan terhormat seperti Anda, tapi mulutnya berbau sampah. Menuduh tanpa tahu yang sebenarnya," ucapnya dengan suara bergetar.
Ibu-ibu di sekitarnya mulai berbisik-bisik. Sebagian ada yang berpihak pada Melodi, merasa iba pada gadis malang itu. Namun, tak sedikit pula yang berpihak pada Bu Risma, terpancing gosip yang wanita itu ucapkan.
"Halaaahh, Mel. Buktinya itu Pak Dokter tiap hari ke rumahmu. Ngapain coba dua orang dewasa berduaan pasti..." Salah seorang ibu ikut-ikutan menyahut seolah menyiram bensin di atas bara api. Namun, belum juga selesai kalimatnya -- seseorang memotongnya.
"Maaf, ada apa ini?"
Suara rendah Davin menghentikan ucapan seorang ibu yang berpihak pada Bu Risma. Suasana berubah senyap dalam sekejap.
Davin yang saat itu sedang jogging pagi dan melewati tempat itu. Dia merasa tertarik untuk mendekat ketika mendengar namanya disebut. Dan betapa terkejutnya melihat Melodi seolah diadili oleh mereka.
"Mbak Mel, kamu nggak apa-apa? Apa mereka menyakitimu?" tanya Davin menelisik Melodi dari atas ke bawah.
"Saya nggak pa-pa, Pak Dokter," ucapnya sambil menggelengkan kepala berusaha tegar.
Tiba-tiba terbesit ide gila dalam benaknya. "Pak Dokter... Dengan disaksikan mereka semua yang ada di sini, aku akan menjawab pernyataan Anda beberapa waktu lalu. Aku Melodi Putria bersedia menjadi kekasihmu, bahkan jika harus menikah sekarangpun aku siap."
.
Bagaimana reaksi Davin dan ibu-ibu di sana ya, terutama Bu Risma dan Dahlia?
tidak akan tinggal diam mengenai hal ini.
tak bukan taj mom typo nih
Gagal rencanamu Renata dan semoga Davin melaporkan hal ini ke manajemen rumah sakit, biar Renata kena sanksi dan berharap dikeluarkan