NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Istri Muda Keras Kepala

Dua jam.

Bayangkan.

Dua jam setelah membuka mata, dan Kharisma masih tak bergerak dari tempatnya.

Kharisma tau bahwa Prabujangga itu senang sekali memerintah, kadangkala tak masuk logika pula. Seperti sekarang ini, contohnya.

Bagaimana mungkin Kharisma disuruh untuk tetap berada di atas ranjang sampai Prabujangga mengizinkannya untuk bangkit?

Apa tidak sakit-sakit pula sekujur tubuhnya yang mungil itu?

Kharisma menatap langit-langit kamar dengan bibir mengerucut, pipinya sesekali mengembung karena bosan. Bergerak tak bisa, tak bergerak mati kebosanan.

Namun di saat-saat seperti ini pula, ia lebih banyak berpikir. Otaknya lebih banyak memiliki waktu untuk mencerna hal-hal yang ia abaikan.

Yang paling utama adalah alasan pernikahannya dan Prabujangga.

Kharisma tentu tidak lupa saat-saat ia menangis dan di dorong di anak tangga oleh suaminya. Lalu malam harinya, rasa sakit yang tak bisa digambarkan lagi-lagi suaminya berikan di meja rias. Hingga pula kemarin malam di kamar mandi.

Pemikiran itu membuat Kharisma segera menyadari area sensitifnya yang masih saja berdenyut nyeri.

Kharisma tidak mengerti, apakah yang sebenarnya Prabujangga mau darinya. Kenapa Prabujangga menikahinya.

Di saat bersamaan, tiba-tiba suara derit pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Kharisma. Dia perlahan-lahan mendudukkan diri, membiarkan selimut melorot hingga ke pinggangnya.

"Meara?" Kharisma tersenyum melihat siapa yang datang.

Itu kepala asisten rumah tangga Mansion Wimana. Wanita dengan seragam pelayan rapi dan rambutnya yang digulung sebagai ciri khas.

"Selamat pagi, Non," Meara menyapa dengan hangat, masuk bersama nampan berisi mangkuk dan segelas air putih.

Kharisma mengangguk, sedikit mengintip isi mangkuk di atas nampan. "Apa itu?" tanyanya penasaran.

"Sup bening, Non," jawab Meara, lantas meletakkan nampan di atas lemari di samping tempat tidur. "Pak Prabu yang menyuruh saya untuk membuatnya. Katanya untuk Non Kharisma."

Entah kenapa, pengakuan Meara itu mampu mengundang senyum kecil di wajah Kharisma.

Perempuan itu manggut-manggut. "Terimakasih, ya. Apa Mas Prabu memberikan pesan lain juga?"

Pertanyaan Kharisma membuat Meara berpikir sejenak sebelum menggeleng. "Tidak ada—"

"Ah, yang benar?" Kharisma memotong cemberut. "Mungkin Mas Prabu mengatakan sesuatu, tapi kamu lupa."

Meara berdiri ragu-ragu di tempatnya, matanya melirik ke atas dan menunjukkan reaksi khas seseorang yang tengah berpikir keras. Bahkan dahi wanita itu nyaris menyatu karena berusaha mengingat-ingat pesan sang majikan yang mungkin dilupakannya.

Tapi Meara yakin dia tidak melewatkan apapun.

"Benar, Non." Meara mengangguk yakin, memandangi Kharisma dengan penasaran. "Memangnya... pesan yang Non Kharisma maksud itu pesan yang bagaimana, ya?"

Kekecewaan langsung menghinggapi Kharisma. Harapan bahwa mungkin saja Meara membawa perintah dari Prabujangga tentang izin meninggalkan tempat tidur langsung sirna.

Kharisma menggeleng lesu, bahunya terkulai. "Tidak apa-apa, lupakan saja."

Kharisma selanjutnya meraih sebal nampan di atas lemari kecil di samping tempat tidur. Di tengah-tengah kekesalannya, ia tak bisa mengesampingkan perutnya yang mulai keroncongan.

Kharisma meraih sendok dengan gerakan malas, mencelupkan nasi ke dalam kuah bening lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Prilaku itu tentu saja tidak luput dari perhatian Meara yang keheranan. Tak ingin banyak menganggu, Meara pada akhirnya menunduk sopan dan akhirnya berpamitan untuk pergi.

Sementara Kharisma? Dia tetap saja cemberut karena Prabujangga belum juga mengizinkannya bangkit dari tempat tidur.

...***...

"Lho, kenapa begitu? Kenapa dilarang keluar kamar oleh suamimu?"

Kalau tidak ada Mama dan Papa, mungkin tempat paling tepat untuk mengadu di rumah ini adalah Bunda Nada.

Beberapa saat yang lalu, diam-diam Kharisma keluar dari kamarnya setelah sarapan dan menghampiri sang Bunda yang tadinya sibuk memerintahkan beberapa pelayan laki-laki untuk memindahkan beberapa furnitur di ruang tamu.

Sekarang, mereka berdua berakhir duduk berhadapan di sofa sementara pelayan-pelayan itu masih berlalu-lalang di sekitar mereka.

"Tidak tau," jawab Kharisma dengan wajah cemberut dan bahu dikendikkan. "Mas Prabu juga menyita ponselku, Bunda..."

Kharisma menatap Nada dengan mata mengerjap sedih. "Aku mau menghubungi Mama dan Papa, tapi Mas Prabu melarang. Mas Prabu tidak memberi izin."

Nada, yang mendengar suara memelan sang menantu serta nada sedihnya yang mengadu, entah mengapa kesal sendiri pada putranya. Bisa-bisanya Prabujangga membuat istri cantiknya terkulai sedih seperti ini.

Nada pula tidak tau kenapa Prabujangga melarang Kharisma keluar dari kamar dan menyita ponselnya.

"Aduh... Bunda nggak tau kalau ponsel kamu disita sama Prabu." Nada bangkit, menghampiri Kharisma dengan helaan napas panjang mengikuti. "Kalau kamu kangen sama Papa dan Mama, kamu bisa berkunjung ke sana. Nanti Bunda yang bicara dengan suami kamu. Gimana?"

Nada mendaratkan diri di samping Kharisma, tangannya mengelus lembut bahu menantunya sebagai usaha membujuk.

"Kamu bisa berangkat sekarang," imbuh Nada. "Bunda minta supir antarkan, ya?"

Raut wajah Kharisma seketika berubah cerah. Dia bergeser untuk berhadapan dengan Nada sepenuhnya. "Sungguh, Bunda?" tanyanya antusias.

Nada mengangguk, kekehan gemas lepas dari bibirnya melihat respon Kharisma. "Iya, nanti Bunda yang memintakan izin pada suamimu," katanya lembut.

Nada memandangi wajah Kharisma sejenak, tangannya menyelipkan helaian yang lolos di wajah perempuan itu ke belakang telinga. Rasa inginnya memiliki seorang putri mendorong kasih sayangnya pada sang menantu.

"Terimakasih, Bunda." Kharisma menarik sudut bibirnya.

Nada mengangguk. "Sama-sama," balasnya dengan nada manis, seperti sedang bicara pada anak kecil. "Sekarang mending kamu bersiap-siap, bunda suruh supir untuk menunggu."

Tak menunggu waktu lama, Kharisma langsung bangkit dari tempatnya. Jika saja ia bisa berdiri dan bergerak dengan benar, dia pasti sudah melompat-lompat kegirangan sekarang.

Setidaknya ia bisa menginap di rumah Mama dan Papa untuk menghindari Prabujangga malam ini.

...***...

Di setiap rapat penting perusahaan nyaris tak pernah Prabujangga mendengar hasil yang mengecewakan. Di bawah pimpinannya, itu tidak dapat ditoleransi.

Entah karena kualitas tidurnya yang bagus dua hari ini atau mungkin karena hal yang lain, suasana hatinya sepanjang rapat berjalan benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan agaknya para karyawan juga menyadari hal itu.

Dapat dilihat dari cara mereka membuang napas lega tiap kali Prabujangga berkomentar.

Agresi atasan mereka di setiap rapat, hari ini tak begitu terlihat.

Prabujangga dengan langkah tenangnya kembali menuju ruangan. Langkahnya yang terukur menggema di lorong kantor sampai ia mencapai ruangan pribadinya di lantai atas.

Bertepatan di saat itu pula, ponsel di saku jasnya berdering.

Mama. Satu kontak yang bisa ia baca dengan cepat.

"Mas."

Sambutan yang Prabujangga dengar pertama kali adalah suara sang ibu dengan nada tenangnya yang biasa.

"Hm? Apa ada?"

"Kenapa tidak membiarkan istrimu keluar dari kamar?"

Pertanyaan itu menyelidik, namun sang Mama mengemasnya dengan bungkusan ketenangan.

Prabujangga jelas menunjukkan reaksi tak suka atas tuduhan tersebut. Dahinya berkerut dalam, jelas langsung beranggapan bahwa Kharisma yang mengadukan hal ini.

"Kharisma yang mengatakan ini?"

"Jawab saja, Mas. Kenapa?"

Nada mulai mendesak.

"Karena dia sakit." Jawaban Prabujangga ditemukan dengan spontan. "Saya hanya tidak mau semakin parah—"

"Sakit apa? Jangan berbohong dengan Mama, Prabu."

Prabujangga melengos ketika Mamanya yang keras kepala memotong ucapannya.

"Mama melihat Kharisma baik-baik saja. Mama kasihan melihat dia seperti itu. kamu tidak biarkan keluar kamar, dan kamu sita juga ponselnya. Biar apa seperti itu?"

Air muka Prabujangga yang awalnya tenang dalam sekejap berubah keras. Ucapan Mamanya yang mengomel namun tidak meninggikan Nada memang biasa diterimanya.

Tapi kali ini, melibatkan orang baru di hidupnya.

Kharisma. Istrinya.

Yang jelas menjadi dalang dibalik pengaduan ini.

"Jangan seperti itu pada istri sendiri, Mas. Mama tidak suka."

"Saya hanya ingin dia fokus menjalankan kewajibannya sebagai istri saya, itulah alasan mengapa ponselnya saya sita. Hanya untuk sementara, rencananya," Prabujangga membalas, berusaha mempertahankan ketenangannya yang kian retak dimakan waktu. "Saya tidak membiarkannya keluar kamar juga karena dia sedang sakit. Sakit yang Mama tau bagaimana rasanya pada awal-awal pernikahan."

Dongkol rasanya jika Prabujangga harus menjelaskan semua ini.

Tak lama, suara kekehan lembut Nada terdengar. Berbeda sekali dengan intonasi menyelidik yang digunakannya beberapa saat yang lalu.

"Jadi begitu, Kharisma tidak mengatakan itu pada Mama."

"Tentu saja, dia memang berniat menyudutkan saya," balas Prabujangga terlewat cepat.

"Iya, iya, jangan kesal seperti itu. Kharisma kan masih muda, masih baru juga menjadi istri kamu, Mas. Harus mengerti dengan istri sendiri," Lanjut Nada menceramahi. "Tadi dia bilang rindu dengan orang tuanya, jadi Mama meminta supir untuk mengantarkan."

Diam merayapi Prabujangga. "Apa?"

"Mama meminta supir untuk mengantarkannya ke Mansion Respati."

Ternyata Prabujangga tidak salah dengar.

"Tanpa izin pada saya?" Nada Prabujangga naik satu oktaf. Marah. Kesal. Dan... panik.

Pikiran Prabujangga segera tertuju pada malam awal pernikahannya, pada pengakuannya yang penuh penekanan di anak tangga Mansion Wimana. Bahwa dia tidak mencintai Kharisma. Bahwa dia menikahi perempuan itu karena terpaksa.

Setelah itu, Kharisma ingin menghubungi orang tuanya. Alasan mengapa ponselnya Prabujangga sita.

Setelah membatasi hubungan dengan penyitaan ponsel, sekarang Mamanya sendiri justru mengirim perempuan itu kembali ke sana? Bertemu dengan kedua orang tuanya?

Jangan bayangkan betapa geramnya ia sekarang ini.

Tak lagi menunggu jawaban dari sang Mama, Prabujangga langsung mengakhiri sambungan telpon.

Tujuannya berubah, tak lagi kembali pada kursi putar dan meja mahoni penuh tumpukan berkas, melainkan tempat sang istri berada saat ini.

Rumah besar Respati.

Dia akan memberi pelajaran langsung pada si kecil keras kepala itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!