Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang menyapa
Dua hari setelah kejadian, malam hari terasa lebih dingin dari biasanya di kamar kost Dewi. Ia sudah terlentang di tempat tidur sejak pukul 22.00, namun mata tidak bisa lelap karena pikiran terus terbang ke arah Rini. Akhirnya, setelah beberapa jam berusaha menutup mata, rasa kantuk akhirnya menyerangnya dan ia pun tertidur.
Dalam mimpi, kamar yang semula gelap tiba-tiba menjadi terang dengan cahaya hangat yang tidak berasal dari mana pun. Suara tangisan bayi yang lembut terdengar di dekat telinga Dewi. Ia perlahan membuka mata dan melihat sosok perempuan berdiri tepat di sisi tempat tidurnya—Rini, mengenakan baju putih yang bersih tanpa noda darah sedikit pun, dengan wajah yang damai dan penuh cinta.
Di dalam pelukan kedua tangannya yang lembut, Rini menggendong seorang bayi perempuan dengan wajah kecil yang sangat mirip dengannya. Bayinya mengenakan baju merah muda dengan renda putih, tangannya kecil terus menggoyangkan secara perlahan.
"Dew..." panggil Rini dengan suara yang lembut seperti angin.
Dewi ingin bangkit dari tempat tidur tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca, air mata mengalir di pipinya bahkan dalam mimpi.
"Dew... Dew tolong aku, Dew tolong aku..." ucap Rini dengan suara bergetar, mata nya berkaca-kaca melihat ke arah Dewi.
"Rini.... aku akan membantu kamu, aku janji!" teriak Dewi dalam hati, karena bibirnya tidak bisa bergerak.
Dalam hembusan angin yang semakin kencang, cahaya yang menyinari Rini mulai memudar. Memberikan pandangan terakhir kepada Dewi sebelum perlahan-lahan menghilang bersama bayinya, lenyap seperti kabut yang tersapu angin.
Pada saat itu, Dewi terbangun dengan terkejut, tubuhnya terloncat ke depan dan napasnya tersengal-sengal. Tirai jendela kamar memang terbuka sedikit, dan angin sejuk masih bertiup lembut menyentuh wajahnya. Keringat menetes di dahinya, tapi kata-kata Rini masih jelas terdengar di telinganya—"Dew tolong aku..."
Setelah terbangun dari mimpi itu, Dewi merasa tenggorokannya kering dan badan sedikit gemetar. Ia berdiri perlahan dari tempat tidur dan menuju ke arah kulkas yang terletak di sudut kamar kostnya. Jam menunjukkan pukul 03.17 WIB—malam masih sangat larut, dan hanya suara kipas angin yang terdengar di kamar yang sepi.
Dewi membuka pintu kulkas, mengambil botol air mineral yang dingin, lalu membukanya dengan cepat. Saat dia mengangkat botol ke bibirnya untuk meneguk air, sesuatu yang putih melintas cepat di sudut pandang matanya.
Dia langsung menoleh ke arah sumber gerakan itu—melihat sekelibat sosok berwarna putih yang melintas di belakang tirai jendela yang sedikit terbuka. Bentuknya tipis dan tinggi, seolah ada seseorang berdiri di luar kamar, tapi ketika Dewi berjalan cepat mendekati jendela dan membuka tirai, tidak ada seorang pun yang ada di sana.
"Rini...?" bisik Dewi dengan suara kecil, menatap ruangan kosong di luar jendela. "Apakah itu kamu?"
Tidak ada jawaban yang datang, hanya suara daun kering yang berguling di halaman kost karena hembusan angin. Namun Dewi merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pundaknya sejenak—seolah ada tangan yang menepuknya dengan lembut. Dia menoleh ke belakang dengan terkejut, tapi kamar tetap kosong, hanya cahaya bulan yang menerangi sebagian lantai.
"Rini, kenapa kamu jadi arwah penasaran? Apakah karena kamu ingin menuntut balas?"