Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selepas Batal Tunangan
Bu Ines meraung, sebuah teriakan pilu yang sanggup merobek kesunyian hotel. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, merasakan sesak yang tak terlukiskan. Baginya, penghianatan Aris bukan sekadar kegagalan cinta, melainkan penghinaan besar bagi kehormatan keluarga ini.
Di atas sofa beludru, kelopak mata Devina bergerak perlahan. Dunianya terasa berputar. Hal pertama yang ia dengar adalah rintihan ibunya dan deru napasnya sendiri yang pendek-pendek.
Ingatannya kembali seperti kepingan film horor yang diputar cepat: Wajah Salsabila yang berantakan, buku nikah yang dilemparkan ke lantai, dan yang paling menyakitkan—wajah pucat Aris yang tak mampu membantah satu patah kata pun.
"Mama..." bisik Devina lirih.
Bu Ines segera menghambur ke sisi putrinya, menggenggam tangan Devina yang sedingin es. "Sayang, kamu sudah sadar? Syukurlah... jangan pikirkan pria itu lagi, Dev. Dia sudah pergi, dia pengecut!"
Devina terdiam. Matanya menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Air mata jatuh satu per satu, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya. Ia mengingat setiap janji manis Aris, setiap rencana restoran yang akan mereka bangun bersama, dan setiap ciuman di kening yang kini terasa seperti bekas luka bakar yang meradang.
"Dia... benar-benar sudah punya istri, Ma?" suara Devina terdengar hampa, seolah jiwanya telah tercabut dari raga.
"Dia penipu, Devina! Dia punya istri dan anak di kampung! Dia memanfaatkan namamu untuk menaikkan bisnis dekorasinya yang busuk itu!" Bu Ines kembali meledak, tak mampu menahan lidahnya yang berbisa karena sakit hati.
Devina memejamkan mata rapat-rapat. Rasa malu itu lebih besar daripada rasa sakitnya. Sebagai seorang celebrity chef yang diagungkan, besok wajahnya akan menghiasi seluruh portal berita sebagai "Wanita yang Ditipu Suami Orang". Dunia yang ia bangun dengan kerja keras, runtuh dalam hitungan menit karena seorang pria yang ia percayai sebagai malaikat pelindung.
****
Sementara itu, beberapa kilometer dari hotel, sebuah mobil sedan hitam melaju kesetanan membelah jalanan pinggiran kota yang mulai sepi. Di dalam kemudi, Aris Wicaksana mencengkeram setir dengan buku-buku jari yang memutih. Matanya merah, bukan karena sedih, melainkan karena kegilaan yang dipicu oleh kehancuran impiannya.
Di kursi penumpang, Salsabila terisak hebat. "Aris, pelankan mobilnya! Kamu mau membunuh kita?"
"Diam kamu, Salsa! Diam!" Aris berteriak, suaranya pecah menjadi geraman binatang buas. "Kamu sudah menghancurkan segalanya! Sedikit lagi... sedikit lagi aku akan menjadi bagian dari keluarga itu! Aku akan punya segalanya! Tapi kamu datang seperti pembawa sial!"
"Aku ini istrimu, Aris! Anak kita menunggumu!" Salsa meronta, mencoba meraih lengan Aris.
"Istri yang hanya tahu caranya meminta uang! Kamu bukan siapa-siapa dibanding Devina!" Aris menginjak pedal gas lebih dalam. Jarum spidometer melonjak naik.
Mobil itu berbelok tajam ke arah jalur perbukitan yang sepi, jalanan sempit yang berbatasan langsung dengan jurang curam tanpa pagar pembatas. Ban mobil berdecit hebat saat Aris mengerem mendadak di tepi tebing yang gelap.
****
Aris keluar dari mobil, memutari kap mesin, dan menarik paksa pintu penumpang. Ia menyeret Salsa keluar dengan kasar.
"Turun! Keluar kamu!"
"Aris, apa yang kamu lakukan? Ampun, Aris!" Salsa terjatuh di atas tanah berbatu, lututnya berdarah, namun ia tetap diseret menuju bibir jurang.
Angin malam yang kencang menyambar kerudung Salsa yang sudah berantakan. Di bawah sana, kegelapan jurang seolah menanti mangsa. Aris berdiri di hadapan istrinya, napasnya tersengal, wajahnya yang tampan kini tampak mengerikan di bawah cahaya bulan yang pucat.
"Kamu pikir kamu bisa menghancurkan masa depanku dan tetap hidup tenang?" Aris berbisik, suaranya dingin dan datar, jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi.
"Aris, tolong... demi anak kita..." Salsa memohon sambil memeluk kaki Aris, air matanya bercampur dengan debu tanah.
"Anak itu hanya akan jadi pengingat betapa menjijikkannya hidupku bersamamu!"
Dengan satu sentakan kuat yang penuh kebencian, Aris melepaskan pelukan Salsa dan mendorong tubuh wanita itu sekuat tenaga ke arah kekosongan.
"TIDAAAKKK!"
Jeritan Salsa membelah malam, sesaat kemudian hanya suara gesekan ranting dan hantaman keras di dasar jurang yang terdengar. Setelah itu, hening. Sunyi yang mematikan.
Aris berdiri di tepi jurang, menatap ke bawah dengan mata melotot. Tangannya gemetar, namun bukan karena sesal, melainkan karena adrenalin kejahatan yang mengalir di darahnya. Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut, menyeka keringat di dahi, lalu kembali ke mobil.
Baginya, satu penghalang telah lenyap. Namun ia tidak sadar, bahwa darah yang tumpah malam ini akan menjadi kutukan yang takkan pernah membiarkannya tidur dengan tenang.
****
Lampu studio televisi yang benderang terasa lebih panas dari biasanya, namun Devina Maharani berdiri dengan punggung tegak di balik meja dapur marmer yang mengkilap. Di hadapannya, potongan daging wagyu berkualitas tinggi mendesis saat menyentuh wajan panas, mengeluarkan aroma gurih yang memenuhi ruangan.
Wajahnya nampak tenang, riasan tipis menutupi lingkaran hitam di bawah matanya yang menjadi saksi bisu malam-malam tanpa tidur pasca tragedi pertunangan itu. Tangannya bergerak dengan presisi yang menakutkan—memotong bumbu, mengayunkan pisau, dan mengatur piring dengan estetika yang sempurna. Ia adalah definisi profesionalisme; meski hatinya hancur berkeping-keping, tangannya tidak boleh gemetar saat memegang pisau bedah kulinernya.
"Oke, Chef Devina, kita masuk ke segmen plating. Tiga... dua... satu... Action!" seru sutradara dari balik kamera.
"Kunci dari Pan-Seared Wagyu dengan saus red wine reduction ini adalah keseimbangan," suara Devina mengalir lembut, stabil, seolah tidak pernah terjadi badai dalam hidupnya. "Sama seperti hidup, kadang kita butuh api yang panas untuk menciptakan kematangan yang sempurna."
Ia tersenyum ke arah kamera—senyum yang terlatih, senyum yang mahal. Di luar sana, di jagat maya, namanya sedang menjadi trending topic. Tagar #DevinaArisGagal dan video kericuhan pertunangannya ditonton jutaan kali. Komentar netizen terbelah antara rasa iba yang merendahkan dan hujatan kejam yang menuduhnya sebagai "pelakor" yang tidak tahu status pria yang ia kencani. Devina tahu semua itu ada di sana, di dalam benda pipih di sakunya, namun ia memilih untuk mematikan dunianya dan tenggelam dalam desis minyak panas.
****
Di balik set syuting, di area penonton dan kru, Bu Ines berdiri mengamati putrinya dengan dada sesak. Ia hadir di sana bukan sekadar sebagai ibu, tapi sebagai perisai. Ia tahu betapa rapuhnya Devina di balik topeng profesionalisme itu.
Namun, kedamaian semu itu pecah saat Bu Ines menangkap sesosok bayangan di pintu masuk studio. Seorang pria dengan kemeja flanel dan topi yang ditarik rendah, mencoba menyelinap di antara kerumunan kru.
Darah Bu Ines mendidih seketika. Ia mengenali gestur itu. Ia mengenali aroma parfum yang dulu pernah ia puji sebagai aroma menantu idaman. Itu adalah Aris Wicaksana.
Pria itu nampak gelisah, matanya liar mencari sosok Devina di depan kamera. Ia tidak menyadari bahwa maut dalam wujud seorang ibu paruh baya sedang melangkah ke arahnya dengan kecepatan penuh.
"Mau apa kamu ke sini, Iblis?"
Suara Bu Ines rendah, namun penuh dengan racun yang mematikan. Aris tersentak, ia berbalik dan mendapati wajah Bu Ines hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Bu... Bu Ines. Saya mohon, saya cuma mau bicara sama Devina sebentar saja," bisik Aris dengan suara yang dibuat memelas, seolah dialah korban dalam drama ini.