Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 NGANTER TITIPAN
Beberapa detik hening. Di TV, tokoh utamanya lagi pingsan
Ara tiba-tiba ngomong pelan
“Bu… kalau Adis nikah nanti… Ibu gak kangen?”
Ibu tetap lihat layar, tapi suaranya lebih lembut
“Makanya sekarang jangan cuma makan tidur. Biar kalau kamu pergi, Ibu yakin kamu bisa urus diri”
Ara diam
Lalu tiba-tiba…
“Iya deh Bu. Besok Adis bangun jam tujuh”
“Jam lima”
“Jam enam setengah?”
“Jam lima lewat lima”
Ara mendesah panjang
“Ya Allah… Ibu tuh negosiasinya lebih serem dari debt collector”
Ibu ketawa lagi
Beberapa detik kemudian, Ara menatap layar TV yang masih penuh drama
Di TV, tokohnya lagi pingsan. Tapi di ruang tamu itu, suasana mendadak lebih tenang
“Kamu pikir Ibu gak capek?” tanya Ibu pelan
Ara menoleh
“Ibu pikir juga ibu gak capek. Tapi Ibu gak punya pilihan buat rebahan lama-lama”
Ara tertunduk
“Makanya Ibu ngomel bukan karena Ibu gak ngerti kamu capek. Tapi karena Ibu pengen kamu kuat beneran bukan cuma kelihatan kuat”
Ara terdiam
Tiba-tiba nada Ibu kembali normal, setengah galak
“Lagipula kalau kamu nikah sama orang kaya, terus disuruh urus rumah gimana?”
Ara langsung refleks
“Ya Ibu ikut pindah aja!”
“Enak aja! Ibu bukan ART kamu! Lagian nanti kalo Ibu ikut kamu gimana Ayah kamu masa terlantar kaya anak yang kehilangan ibunya”
Ara tertawa lagi
Beberapa menit hening
Lalu Ibu nyeletuk santai
“Tapi kalau ada yang baik, kerja jelas, gak neko-neko… ya dipikirin juga”
Ara langsung menyipit
“Ibu kok kaya ada kandidat?”
Ibu pura-pura fokus TV
“Enggak. Ibu cuma ngomong asal”
Ara menyenggol pelan
“Danu ya?”
Ibu langsung batuk kecil
“Eh… itu anak baik kok”
Ara tersenyum tipis
“Ibu tau darimana?”
“Lah Ibu hidup di kampung. Berita lebih cepat dari internet”
Ara tertawa kecil
Pagi itu, di antara sinetron lebay dan candaan soal nikah kaya raya
Ara sadar satu hal—
Ibu memang cerewet
Ibu memang galak
Tapi setiap omelannya selalu ada rasa takut tersembunyi takut anaknya capek sendirian, takut anaknya salah pilih, takut anaknya pura-pura kuat terlalu lama
Ara bersandar pelan ke bahu Ibu
Ibu pura-pura tidak sadar
“Bu…”
“Apa lagi?”
“Kalau Adis gak nikah-nikah… Ibu jangan jodohin sama Mang Diman ya”
Ibu langsung ketawa keras
“Kalau kamu bangun jam lima besok, Ibu pertimbangkan!”
Ara mendesah
“Ya Allah… negosiasi hidup lebih susah dari sinetron”
Ara mengerutkan dahi, tangannya masih main-main dengan ujung selimut.
“Emang ibu sama ayah mau punya mantu yang istrinya udah dua, terus lagi punya anak tujuh? Ih, Ara mah ogah! Mending cari yang lain!” ucap Ara sambil sedikit manyun.
Ibu Adis cuma tersenyum sambil menepuk bahu Ara ringan.
“Ya enggalah, Ara… ibu mah cuma bercanda,” katanya santai, matanya masih mengikuti layar TV yang penuh drama.
Ara mengangkat alis, setengah yakin setengah nggak.
“Jangan bercanda lah, Bu…” gumamnya, sambil menatap Ibu Adis dengan campuran serius dan geli.
Ibu Adis tertawa kecil “Liat deh… anak ibu ini, serius mulu. Padahal cuma bercanda”
Ara menatap Ibu Adis sambil menutup mulut, setengah tertawa setengah panik.
“Ih… takutnya di kabulin Bu! Kan serem…” ucapnya, nada suara campur geli dan waswas.
Ibu Adis menoleh sebentar dari layar TV, matanya berkedip kecil sambil tersenyum.
“Serem apanya, Ara? Ibu cuma becanda kok. Nggak bakal sampai di kabulin!” katanya santai, tapi tetap ada nada nakal di suaranya.
Ara menghela napas, masih gemetar sedikit tapi tak bisa menahan senyum.
“Ya… tapi kalau tiba-tiba iya, kan… bisa-bisa Ara nyesel seumur hidup” gumamnya, setengah bercanda setengah serius.
Ibu Adis tertawa “Lha itu baru Ara takut sama imajinasinya sendiri. Santai aja, nak. Dunia ini nggak se-serem itu apalagi soal jodoh. Yang penting sekarang… fokus perbaiki diri kita dulu terus kita tetap kerja keras jangan sampai kelaparan nanti baru mikirin yang lain”
Ara tersenyum tipis, merasa lega. Tapi di dalam hati, dia tahu… kalau soal calon mantu “serem” itu dia tetap harus waspada sendiri 😆
Siang jam sebelas lebih sinetron sudah masuk episode orang hilang ingatan untuk ketiga kalinya.
Ara dan Ibu masih duduk berdampingan tapi suasana sudah lebih santai Ara sekarang sibuk mengupas mangga sedangkan Ibunya tetap setia pada TV seolah itu kewajiban negara di setiap selesai kegiatan bersih bersih.
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya
Ara melirik ke jendela
“Bu… kayaknya ada yang datang”
Ibu bangkit pelan tapi belum sempat berdiri penuh terdengar suara salam dari luar
“Assalamualaikum”
Ara dan Ibu saling pandang
Itu suara yang familiar untuk mereka berdua
Ara berdiri duluan
“Waalaikumsalam” jawabnya sambil berjalan ke teras
Benar saja
Danu berdiri di depan pagar pakai kaos polos dan celana jeans. Tangannya memegang kantong plastik berukuran sedang.
“Ibu ada” tanyanya sopan
“Ada” jawab Ara berusaha terdengar biasa saja
Ibu muncul di belakang Ara
“Eh Danu masuk masuk”
Danu tersenyum dan melangkah masuk
“Ada titipan dari Mak Eti Bu tadi Santi anaknya Mak Eti gak bisa nganter jadinya Mak Eti minta tolong saya sekalian pas saya lagi beli gorengan juga”
Ara langsung melirik
“Oalah… kirain sengaja”
Danu senyum tipis
“Enggak kebetulan aja”
Ibu menerima kantong plastik itu
Ibu langsung ingat
“Oh iyaaa… Ibu sampai lupa tadi pagi ibu chat pesen buat nanti siang”
Ara melirik pelan mencoba menahan senyum
“Ya ampun makasih ya Nak Repot-repot”
“Enggak repot Bu orang sekalian lewat”
Ibu langsung membuka pintu lebar lebar pagarnya supaya memidahkan untuk Danu masuk sambil bicara
“Udah duduk aja dulu pasti capek”
Danu agak ragu
“Gak apa-apa Bu gak usah”
“Ah duduk bentar aja masa cuma nganter langsung kabur” kata Ibu setengah memaksa tapi tetap ramah
Akhirnya Danu masuk dan duduk di kursi ruang tamu
Danu duduk agak santai tapi tetap sopan
Ibu mulai mode ngobrol khas ibu-ibu kampung
“Bengkel masih ramai?”
“Iya Bu Alhamdulillah masih”
“Lumayan Anak sekolah lagi banyak servis motor” lanjutnya Danu
Ara duduk di seberang pura-pura main HP padahal kupingnya fokus 100%
Tiba-tiba Ibu nyeletuk
“Belum nikah juga ya”
Ara hampir keselek ludah sendiri
“Bu…”
Danu malah santai
“Belum Bu”
“Kenapa Pilih-pilih?”
Danu tersenyum tipis
“Belum ada yang cocok”
Ibu melirik Ara cepat lalu pura-pura lihat gorengan
“Aneh ya udah kerjanya jelas, mapan masa gak ada yang suka”
Ara langsung potong
“Bu gorengannya dingin nanti”
Ibu nyengir
Beberapa detik hening
Lalu Danu menoleh ke Ara
Ibu berdiri
“Ya sudah Ibu ke dapur dulu buat minuman kalian ngobrol dulu aja”
Ara langsung melotot kecil
“Bu…”
Tapi Ibu sudah pergi
Tinggal mereka berdua
Ara menatap Danu
“Kamu tadi beneran cuma disuruh nganter”
Danu mengangguk
“Iya Santi lagi gak enak badan Mak Eti panik karena Ibu bilang mau buat makan siang”
Ara mengangguk pelan
“Oh…”
Danu melihat ekspresi Ara
Beberapa detik hening
Lalu Danu berdiri setelah Ibu kembali ke dapur
“Ya sudah Bu saya pamit dulu”
“Eh ini minumannya gimana” ucap Ibu sedikit terkejut sambil membawa minuman
“Maaf Bu gak bisa lama ninggalin bengkel soalnya tadi bilangnya mau beli gorengan buat anak-anak bengkel” ucapnya sedikit sungkan
“Oh iya sekali lagi makasih banyak ya Nak”
“Iya Bu”
Ara ikut mengantar sampai pagar
Ara kembali duduk di sofa
Ibu duduk lagi di depan TV setelah mengambil mendoan di dapur dan menyajikannya tapi sekarang senyumnya susah disembunyikan
“Anaknya sopan datang gak lama-lama ngerti diri...bagus jarang anak sekarang kaya gitu. Duh ibu jadi pengin punya mantu kaya gitu”
Ara melirik
“Ibu baru lima menit ngobrol udah bikin CV aja”
“Ibu pengalaman ya dulu itu sebelum Ibu nerima Ayah dulu Ibu banyak yang suka sangkin banyaknya nenek kamu sampai pusing karena setiap libur sekolah rumah nenek penuh dengan jajan karena banyak yang ke rumah” jawab Ibu santai
Ara mengambil satu mendoan menggigit pelan "Halah bilang banyak yang suka tapi kenapa pilihnya ayah yang dulu gak punya apa apa dibandingkan mantan mantan Ibu lain yang katanya kaya raya semua"
"Dulu itu Ayah yang gentle ya sampai dulu setiap main kerumah waktu itu cuma Ayah yang kalo main bukannya ngobrol sama Ibu tapi malah asik sendiri sama Kakek kamu main catur.... Ibu malah selalu di kacangin dan dari itu Nenek sama Kakek cuma restuin ibu sama Ayah. Yah... Walaupun waktu itu Ayah dari keluarga yang biasa aja sampai ayah bisa sukses sekarang itu kerja keras dia dari dulu"
Aira sampai terharu kalo denger perjuangan Ayahnya mendapatkan Ibunya yang sulu jadi primadona kampung.
“Bu…”
“Iya”
“Kalau misalnya ya… misalnya… Adis gak nikah sama orang kaya Ibu kecewa gak”
Ibu berhenti mengunyah
“Kaya itu bonus yang penting kamu gak sengsara”
Ara mengangguk pelan
Di TV tokohnya lagi marah-marah karena salah paham Dramatis sekali
Ara bergumam
“Hidup tuh gak sesederhana sinetron ya Bu”
Ibu tertawa kecil