Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Detik Terakhir dan Amanah yang Menghancurkan
"Hana… Arlan… mendekatlah."
Suara itu nyaris menyerupai desiran angin yang paling tipis, begitu rapuh hingga Hana harus menahan napas agar tidak melewatkan setiap ucapannya.
Hana melangkah maju dengan tungkai yang terasa seringan kapas sekaligus seberat timah. Di belakangnya, sang Mama meremas bahu Hana begitu kuat, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menjaga mereka berdua agar tidak tenggelam dalam lautan duka di ruangan itu.
Di atas tempat tidur medis yang dingin, Bu Inggit, wanita yang selama ini menjadi kompas bagi bisnis dan hidup Hana, mengulurkan tangannya yang sepucat porselen. Ia tidak melirik sedikit pun pada kotak beludru berisi sampel hijab terbaru yang didekap Hana.
Dengan gerakan lambat yang menyakitkan, ia meraih jemari Hana, lalu menarik tangan suaminya, Pak Arlan, yang berdiri mematung layaknya monumen kesedihan di sisi lain ranjang.
Di tengah bunyi monitor jantung yang mendesis teratur dan aroma disinfektan yang mencekik, Bu Inggit menyatukan tangan mereka berdua.
"Arlan, jaga Hana. Hana… menikahlah dengan suamiku. Gantikan aku di rumah ini. Ini… satu-satunya permintaanku."
Dunia seolah berhenti berputar. Hana merasakan aliran listrik dingin yang menyengat menjalar dari telapak tangan Pak Arlan, merambat ke nadinya, dan meledak di dadanya.
Ia ingin menarik tangannya. Ia ingin berteriak bahwa wasiat ini adalah kegilaan. Namun, tatapan mata Bu Inggit yang berkaca-kaca, tatapan seorang wanita yang sedang bernegosiasi dengan maut, mengunci lidah Hana rapat-rapat.
"Hana... Arlan... berjanjilah," bisik Bu Inggit untuk terakhir kalinya.
Mata sayu itu perlahan meredup, namun bibirnya masih menyisakan senyum tipis yang penuh beban. Tak lama kemudian, bunyi panjang dari monitor jantung bergema datar, memutus segala harapan yang tersisa di ruangan itu.
Detik itu juga, genggaman tangan Bu Inggit yang tadi begitu erat memegang tangan Hana dan Pak Arlan perlahan melonggar. Jemari yang pucat dan dingin itu kehilangan tenaganya, merosot perlahan, dan akhirnya jatuh terkulai tak berdaya di atas tubuhnya yang kini tak lagi bergerak.
Suara jatuh tangan itu begitu pelan, namun di telinga Hana, bunyinya seperti dentuman keras yang meruntuhkan seluruh dunianya.
"Ibu...?" suara Hana tercekat di tenggorokan.
Hana menatap tangan yang baru saja menyatukannya dengan Pak Arlan. Keheningan yang menyiksa menyergap, sebelum akhirnya tangis Hana pecah sejadi-jadinya. Ia jatuh terduduk di sisi ranjang, membenamkan wajahnya di antara lipatan kain sprei yang dingin. Bahunya terguncang hebat, meratapi kepergian wanita yang amat ia cintai dan segani sekaligus meratapi nasibnya yang kini terkunci oleh wasiat yang mematikan.
Di atas kepala Hana, Pak Arlan masih berdiri mematung. Pria itu tidak bersuara, namun tangannya yang tadi bersentuhan dengan tangan Hana perlahan mengepal kuat, seolah ia pun sedang berperang dengan badai yang baru saja dimulai.
BRAKK!
Pintu kamar itu terbanting keras, menghantam dinding hingga suaranya menggema seperti guntur. Siska, adik kandung Bu Inggit, masuk dengan napas memburu. Matanya merah, bukan karena tangis duka, melainkan karena api amarah yang menyala hebat.
"JADI BENAR DUGAANKU SELAMA INI! KALIAN MEMANG SUDAH TIDAK SABAR!"
Siska melangkah maju, sepatu hak tingginya beradu tajam dengan lantai rumah sakit. Jarinya menunjuk tepat di depan mata Hana yang basah karena tangis.
"Mbak Inggit sedang sekarat, dan kalian malah meresmikan perselingkuhan di depan matanya? Luar biasa!" Siska tertawa sumbang, sebuah tawa yang lebih menyakitkan daripada makian.
"Mahasiswi teladan, teman bisnis yang tulus… ternyata itu hanya topeng untuk mencuri suami orang, Hana!"
"Tante, demi Allah, saya tidak pernah berpikir seburuk itu,"
"Diam kamu, Pelakor!" teriakan Siska menggelegar, memenuhi keheningan duka yang dirasakan.
"Pantas saja kamu selalu punya alasan untuk datang ke rumah Mbak Inggit. Antar hijab, konsultasi bisnis, membantu urus butik… itu semua cuma umpan agar kamu bisa masuk ke tempat tidur Pak Arlan, kan? Kamu sudah merencanakan ini sejak Mbak Inggit mulai sakit!"
Hana menoleh ke arah Pak Arlan. Pria itu adalah sosok yang paling ia hormati di kampus, pria yang selalu punya jawaban untuk setiap teori sulit. Namun kini, pria itu hanya menunduk dalam diam yang mematikan.
Genggamannya pada tangan Hana memang sudah terlepas, namun ia tetap tak bersuara. Keheningan Pak Arlan seperti sembilu yang menyayat hati Hana, lebih perih daripada teriakan Siska.
"Siska, tolong jaga bicaranya!" sang Mama akhirnya bersuara, meskipun suaranya bergetar hebat.
"Hana anak baik-baik. Kami di sini karena kasih sayang pada Mbak Inggit, bukan karena niat busuk."
"Kasih sayang? Atau racun yang sudah perempuan ini bisikkan pada Mbak Inggit yang sedang tidak sadar tipuanya?" Siska menatap rendah pada Mama Hana.
"Ingat ya, kalian berdua. Mbak Inggit mungkin telah pergi hari ini, tapi aku tidak akan membiarkan perempuan murahan ini hidup dengan tenang. Kamu itu sampah, Hana. Pengkhianat berbaju malaikat!"
"Mbak Inggit!" jerit Siska pecah, namun alih-alih merangkul kakaknya, ia justru menatap Hana dengan kebencian yang makin mengakar.
"Lihat apa yang kamu lakukan! Dia pergi dengan membawa aib yang kamu tanamkan!"
Hana tidak mendengar lagi makian itu. Isaknya menelan segalanya. Di sana, di samping raga yang sudah mendingin, Hana tahu bahwa kehidupannya yang damai baru saja ikut terkubur bersama napas terakhir Bu Inggit.