Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ruangan terasa semakin sempit. Tatapan Olivia tidak lepas dari wajah Juna. Ia menunggu. Kali ini bukan jawaban logis. Bukan kalimat dewasa yang rapi dan terkontrol. Ia ingin reaksi yang jujur.
Juna menarik napas panjang, lalu berjalan mendekat. Jarak mereka kini hanya satu langkah.
“Gue benar-benar nggak tau apa-apa tentang kepergian Olin.”
Suaranya tegas. Tidak tinggi dan juga tidak emosional, justru terlalu stabil.
Olivia menelan ludah. “Tapi rekam medisnya ditutup.”
“Itu bukan kewenangan gue.”
“Lu ada di sana.”
“Gue memang ada di sana,” jawab Juna, nada suaranya mulai lebih dalam. “Gue yang temani dia. Gue yang tanda tangan persetujuan tindakan. Tapi soal administrasi? Itu rumah sakit. Itu keluarga.”
“Keluarga?” Olivia mengulang pelan. “Maksud lu… Oma?”
Juna terdiam sepersekian detik.
“Gue nggak pernah minta berkasnya ditutup,” lanjutnya. “Dan gue nggak pernah tau siapa yang melakukannya.”
Olivia menatapnya tajam. “Lu yakin?”
“Lu pikir gue ngapain? Sembunyiin Olin?” Nada suaranya kini jelas tersinggung. “Olivia, gue hampir gila waktu dia hilang.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa disaring dan itu terdengar nyata.
“Gue cari dia,” lanjut Juna, lebih pelan sekarang. “Gue pakai koneksi bisnis, relasi luar negeri, bahkan orang-orang yang nggak seharusnya gue hubungi. Gue nggak pernah berhenti.”
Olivia terdiam. Ia belum pernah mendengar detail itu.
“Lu nggak tau rasanya bangun tiap hari dan sadar orang yang lu cintai hilang tanpa jejak,” ujar Juna, suaranya merendah. “Jangan paksa gue jadi tersangka dalam kehilangan itu.”
Hening. Olivia merasa dadanya sesak. Ia ingin percaya. Tapi pesan-pesan itu… Video itu… Rekam medis itu…
“Kalau memang lu nggak tahu apa-apa,” bisiknya, “kenapa ada orang yang terus-terusan memperingatkan gue tentang lu?”
Juna menatapnya dalam. “Karena orang itu tau satu hal.”
“Apa?”
“Bahwa kalau lu mulai ragu sama yg gue… rumah ini runtuh.”
Kata-kata itu seperti tamparan halus.
Olivia memalingkan wajah. “Gue cuma mau tau kebenaran.”
“Dan gue juga.” Juna mendekat lagi. “Kalau ada yang main di belakang kita, gue akan cari.”
“Kita?” Olivia mengangkat alis tipis.
“Iya. Kita.” Nada suaranya lebih tegas. “Lu istri gue.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi kali ini bukan sekadar status. Olivia terdiam, pikirannya kacau. Jika Juna benar-benar tidak tau… maka siapa yang menutup rekam medis Olin?
Dan kenapa Oma tidak pernah membicarakannya lagi?
Ruangan itu masih menyisakan sisa ketegangan pagi tadi. Namun Olivia memilih diam.
Ia tidak menunjukkan email itu lagi. Tidak membahas video itu. Tidak menyinggung ruang administrasi rumah sakit dan map bertuliskan nama kakaknya.
Belum. Ia belum cukup yakin dan Olivia memutuskan untuk menyimpannya dari Juna.
Beberapa hari kemudian. Pagi itu Juna sendiri yang mengantar Olivia ke kampus. Mobil meluncur halus membelah jalanan kota yang mulai ramai. Olivia menatap ke luar jendela, pikirannya berputar-putar.
Tiba-tiba Juna berbicara. “Pesan-pesan itu… sejak kapan?”
Olivia menoleh cepat. “Pesan apa?”
“Yang buat lu tanya soal kamar. Soal rumah sakit.” Nada suaranya tenang, tidak menuduh. Hanya ingin tahu.
Olivia terdiam sepersekian detik. Ia ragu. Kalau ia jujur, Juna akan tahu bahwa pesan itu sudah lama datang. Bahwa ada pola. Bahwa ada ancaman tersembunyi. Akhirnya ia memilih jalan paling aman.
“Itu pertama kali,” katanya ringan. “Mungkin cuma iseng dan gue nggak peduli.”
Juna tidak langsung menanggapi. Ia tetap menatap jalan, tapi rahangnya sedikit mengeras.
“Lu yakin?”
“Iya.”
Hening lagi. Juna tidak mendesak. Tidak menanyai lebih jauh. Tidak membongkar kebohongan kecil yang jelas terasa. Namun Olivia tahu—Juna tidak sepenuhnya percaya.
Mobil berhenti di depan gedung kampus. Begitu turun, Olivia langsung disambut suara ceria yang terlalu ceria.
“OLIV!”
Jesica melambaikan tangan dengan senyum lebar.
Olivia mengernyit. “Jes? Ngapain lu di sini?”
Jesica berjalan mendekat dengan langkah cepat. Tawanya terdengar… dibuat-buat.
“Surprise?”
“Surprise apaan?”
Jesica menggaruk tengkuknya kikuk. “Gue pindah.”
“Hah?”
“Ke kampus ini.”
Olivia membeku.
“Dan…” Jesica tersenyum lebar lagi, terlalu lebar, “Kita sekelas.”
Kali ini Olivia benar-benar kaget. “Lu nggak satu kampus sama gue dari awal. Ini udah mau akhir semester satu, Jes! Bisa-bisanya lu pindah sekarang?”
Jesica mengangkat bahu. “Ya bisa lah kalau ada alasan kuat.”
Tatapan mata Jesica berbeda. Di balik riangnya, ada sesuatu yang mendesak ingin disampaikan. Olivia menangkap itu. Ia melirik sekilas ke arah Juna yang masih berdiri di dekat mobil.
“Oke,” katanya cepat. “Gue duluan ya, Kak.”
“Liv—” Juna sempat memanggil.
“Gue balik sendiri nanti!”
Tanpa menunggu jawaban, Olivia kembali mendekat ke mobil sebentar, mengambil tasnya, lalu menarik tangan Jesica menjauh dari lobi.
“Cepet,” bisiknya. “Lu cerita sekarang.”
Mereka berjalan cepat, hampir setengah berlari menuruni tangga menuju koridor samping.
“Lu pindah gara-gara apa?” desak Olivia.
Jesica menoleh ke kanan-kiri memastikan tak ada yang mendengar. “Liv… gue nemu sesuatu soal Kak Olin.”
Langkah Olivia terhenti. “Apa?”
Belum sempat Jesica menjawab—
Brak!
Olivia menabrak seseorang tepat di tikungan koridor. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan, tapi tangan seseorang lebih dulu menangkap lengannya.
“Maaf, gue—”
Kalimat itu terhenti, Olivia mendongak. Wajah itu. Mata itu. Pria yang sama. Pria yang dulu tak sengaja ia tumpahi kopi di hari pertama ia menginjakkan kaki di kampus ini.
Tatapan tajamnya masih sama. Dingin. Mengamati. Seolah pertemuan itu bukan kebetulan. Seolah ia sudah tahu Olivia akan berada di sana. Dan kali ini—Ia tersenyum tipis.