Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Retakan di Panggung London
Keesokan harinya, Zerya bangun dengan perasaan yang aneh. Sisa kehangatan dari makan malam ilegal semalam di The Shard masih membekas, namun ia segera menepisnya saat melihat berita di ponselnya.
Sebuah artikel tajam dari majalah bisnis terkemuka London, The Financial Sentinel, terpampang di layar.
"Proyek CSR Talandra: Solusi Lingkungan atau Boneka Korporat?"
Judul itu diikuti dengan analisis yang meragukan independensi Zerya. Artikel itu menuduh bahwa data yang dipaparkan Zerya kemarin didramatisir untuk mendongkrak harga saham Talandra, dan bahwa Zerya hanyalah "aset cantik" yang ditempatkan Javian untuk memanipulasi opini publik.
Jantung Zerya berdegup kencang. Ini bukan sabotase biasa. Ini adalah serangan langsung pada kompetensinya—hal yang paling ia pertahankan.
Zerya melangkah ke ruang pertemuan hotel, tempat di mana tim Talandra dan beberapa investor Jerman sedang menunggu.
Atmosfer ruangan itu berat. Javian sudah ada di sana, berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan kota tanpa ekspresi.
Begitu Zerya masuk, pandangan semua orang tertuju padanya.
"Nona Zerya," salah satu investor Jerman berkata dengan nada dingin. "Kami membaca artikel itu. Apakah presentasi Anda kemarin benar-benar berdasarkan data lapangan, atau hanya akting?"
Zerya menatap Javian sekilas. Pria itu masih diam, membiarkannya menangani situasi.
Zerya berjalan ke depan ruangan, berdiri tegak, membiarkan artikel itu terbaca oleh semua orang. Ia tidak terlihat panik.
"Data yang saya paparkan adalah hasil riset tiga bulan," jawab Zerya tenang, suaranya jernih tanpa getaran. "Jika The Financial Sentinel meragukannya, saya tantang mereka untuk datang langsung ke desa nelayan di pesisir itu. Tapi..."
Zerya menatap investor Jerman itu lurus-lurus.
"...saya cukup penasaran, mengapa artikel itu terbit hanya dua jam setelah presentasi saya? Seolah-olah seseorang sudah menyiapkan drafnya sebelum mereka tahu apa yang akan saya katakan."
Hening merayap di ruangan. Analisis Zerya barusan—bahwa ini adalah serangan yang direncanakan—mengalihkan keraguan dari dirinya ke artikel tersebut.
Javian menoleh sedikit, sudut bibirnya sedikit terangkat—sebuah gestur yang terlalu tipis untuk disebut senyuman. Ia melihat bagaimana "senjatanya" baru saja melakukan manuver pertahanan diri yang elegan.
"Terima kasih, Nona Zerya," Javian melangkah ke tengah ruangan, mengambil alih kendali.
"Tim hukum Talandra sedang menyiapkan tuntutan pencemaran nama baik terhadap The Financial Sentinel. Sementara itu, saya akan menyebarkan data mentah presentasi ini kepada seluruh investor hari ini juga. Tidak ada yang perlu disembunyikan."
Javian menatap tajam ke arah investor yang meragukan Zerya tadi, membuat pria itu menunduk.
Setelah pertemuan ditunda, Zerya dan Javian tertinggal di ruangan.
"Itu langkah yang bagus tadi," ucap Javian dingin, sembari merapikan dokumennya.
"Julian Vane?" tanya Zerya pelan.
Javian berhenti sejenak. "Dunia bisnis tidak mengenal teman, Zerya. Julian hanya mencoba menguji pertahanan kita."
Zerya menatap tabletnya, menyadari sesuatu. "Artikel itu... fokus pada hubungan kita. Mereka bilang saya adalah 'tunggangan' Talandra."
Javian berjalan mendekati Zerya. Kali ini, auranya bukan dingin, melainkan intens. "Lalu? Apakah Anda peduli apa kata mereka?"
"Saya peduli pada reputasi proyek ini," jawab Zerya membela diri.
"Reputasi proyek ini aman selama Anda kompeten," Javian menunduk sedikit, menatap mata Zerya intens. "Satu-satunya hal yang bisa menghancurkan proyek ini adalah jika Anda membiarkan keraguan membuat Anda lemah. Jangan biarkan Julian menang dengan membuat Anda merasa takut."
Zerya menatap Javian. Ia tahu ini adalah arahan taktis lainnya, tapi kata-kata Javian barusan—Jangan biarkan Julian menang—terasa seperti ajakan untuk bersekutu.
"Saya tidak takut, Tuan Javian," jawab Zerya tegas.
"Bagus," Javian kembali ke mode dinginnya. "Karena pertarungan sebenarnya baru saja dimulai."