NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Gemini berbicara panjang lebar tentang kerja sama, tenggat waktu, dan aturan proyek yang harus mereka patuhi. Suaranya tegas, penuh wibawa—tipikal seorang wanita yang terbiasa mengendalikan situasi.

Namun, tidak satu pun kata itu benar-benar masuk ke dalam benak Amara.

Fokusnya terpecah.

Sejak tadi, ia bisa merasakan tatapan itu—tajam, intens, dan seolah tidak memberi ruang untuk menghindar. Tobias berdiri tepat di depannya, menatap tanpa ragu, tanpa malu. Seakan-akan dunia di sekeliling mereka lenyap, dan hanya Amara yang ada dalam garis pandangnya.

“Aku punya harapan besar untuk proyek ini.”

Suara Gemini akhirnya menembus lamunan Amara.

“Aku harap kalian tidak mengecewakanku.”

Amara mengangguk pelan, sekadar formalitas. Senyum puas pun terbit di wajah Gemini.

“Tobias,” panggilnya, berbalik dan menepuk bahu pria itu dengan hangat. “Aku mempercayakan Nona Miller padamu. Dia masih baru di dunia ini. Bimbing dia.”

Senyum Tobias terukir—tipis, namun sarat makna yang sulit diterjemahkan. Lebih licik daripada tulus.

“Tentu saja, Madam Sinclair.”

Percakapan berakhir. Gemini berlalu, menyatu kembali dengan para tamu elit yang memenuhi ruangan.

Dan seketika, udara di antara mereka berubah.

Berat. Tegang.

Amara tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik, berniat pergi, menjauh dari pria yang kehadirannya saja sudah cukup membuat dadanya sesak.

Namun, langkahnya terhenti.

Tobias lebih cepat.

Tangannya mencengkeram pergelangan Amara, kuat, seolah tak memberi pilihan untuk lepas.

“Apa yang kamu lakukan?” Amara menoleh tajam.

“Mau kabur lagi tanpa sepatah kata?” Nada Tobias rendah, namun cukup untuk membangkitkan kenangan yang tak ingin ia ingat.

“Aku tidak kabur.” Amara menyentakkan tangannya hingga terlepas. “Aku hanya punya hal yang lebih penting daripada mengurusi orang sepertimu.”

Ada jeda sesaat.

Kalimat itu menghantam, namun Tobias hanya tertawa pelan—dingin.

Ia melangkah mendekat, santai, seolah tidak terusik.

“Tidak penting?” ulangnya. “Kita mitra sekarang, Amara. Dan kalau dilihat-lihat… Madam Sinclair lebih percaya padaku.”

Langkahnya berhenti tepat di depan Amara.

“Jadi, siapa yang sebenarnya tidak penting?”

Amara terdiam.

Ia benci karena pria itu benar.

Dan ia lebih benci lagi karena tidak bisa membantahnya.

“Kita akan sering bertemu,” lanjut Tobias pelan. “Jadi, biasakan dirimu.”

Musik berubah. Nada lembut mengalun, mengundang para tamu memenuhi lantai dansa.

Tobias mengulurkan tangan.

“Mulai dari sekarang,” katanya. “Mari belajar bekerja sama.”

Amara menatap tangan itu, lalu wajah Tobias.

“Tidak.”

Jawaban singkat. Tegas.

Namun Tobias hanya mengangkat dagunya sedikit ke arah lain.

“Madam Sinclair sedang melihat.”

Amara menoleh.

Dan benar.

Wanita itu memperhatikan mereka.

Jantung Amara berdegup lebih cepat.

“Kamu tidak mau kehilangan kepercayaannya, kan?” bisik Tobias.

Sial.

Amara menghela napas panjang, menelan egonya.

“Baiklah.”

Ia menerima tangan itu.

Dan dalam satu gerakan halus, Tobias menariknya ke lantai dansa.

“Tangan di bahuku,” perintahnya.

Amara menurut, meski enggan. Tobias melingkarkan lengannya di pinggang Amara, menariknya lebih dekat dari yang seharusnya.

“Aku tahu cara berdansa,” sindir Amara.

“Aku tahu,” balas Tobias tenang. “Tapi aku tidak yakin kamu tidak akan menginjak kakiku.”

Amara menggertakkan gigi.

“Berhenti cemberut,” tambah Tobias santai.

“Oh, diamlah.”

Musik mengalun, dan mereka mulai bergerak.

Langkah demi langkah.

Selaras.

Sempurna.

Dan itu yang paling membuat Amara kesal.

Tubuh mereka bergerak seperti sudah terlatih bersama sejak lama. Harmoni yang tercipta terasa alami—terlalu alami.

Padahal, selama enam tahun pernikahan mereka… hal seperti ini tidak pernah terjadi.

Tidak pernah ada kedekatan.

Tidak pernah ada kehangatan.

Pernikahan mereka hanyalah formalitas.

Sebuah rahasia.

Sesuatu yang bahkan dunia tidak tahu.

Dan kini, di bawah cahaya lampu kristal, orang-orang memandang mereka dengan kagum—seolah mereka pasangan sempurna.

Ironis.

“Kamu hebat.”

Suara Tobias memecah pikirannya.

Amara menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan.

Ia tidak ingin terjebak lebih jauh.

“Aku tidak menyangka kamu bisa mendapatkan proyek ini,” lanjut Tobias.

Ia memutar tubuh Amara, lalu menurunkannya dalam gerakan elegan.

“Kau meremehkanku,” balas Amara tajam.

Ia kembali ditarik berdiri—lalu tiba-tiba—

Didekap.

Jarak mereka nyaris tak ada.

Dada saling bersentuhan.

Napas saling beradu.

Pandangan Tobias turun ke bibir Amara.

Dan untuk pertama kalinya, Amara merasa… terjebak.

“Katakan padaku,” bisik Tobias, suaranya berubah lebih dalam. “Sisi mana yang kamu maksud?”

Ia mendekat.

“Tentang dirimu yang sebenarnya.”

Wajah Amara memanas.

“Brengsek,” desisnya.

Namun Tobias hanya tersenyum tipis.

Lalu—

Tanpa peringatan—

Ia menciumnya.

Dunia seakan berhenti.

Amara membeku.

Pikirannya kosong.

Detik-detik berlalu tanpa reaksi, hingga sorakan di sekitar mereka menyadarkannya.

Orang-orang bersorak.

Mengira itu adegan romantis.

Mengira itu cinta.

Padahal—

Itu kesalahan.

Dengan cepat, Amara mendorong Tobias.

Plak!

Tamparan keras menggema.

Sunyi.

Seluruh ruangan terdiam.

Tatapan tertuju pada mereka.

Amara berdiri dengan napas memburu, matanya menyala oleh amarah yang tak lagi bisa disembunyikan.

Namun ia menahan diri.

Ia tidak boleh hancur di sini.

Tidak di depan semua orang.

Tanpa sepatah kata lagi, Amara berbalik dan pergi.

Langkahnya cepat, tegas, meninggalkan Tobias yang hanya bisa diam—menatap punggungnya yang semakin menjauh.

“Bodoh…”

Amara menggerutu dalam hati saat berjalan menuju parkiran.

Emosinya mendidih.

Apa yang sebenarnya dipikirkan Tobias?

Berani-beraninya dia—

“Amara!”

Suara itu menghentikannya.

Bethany berlari mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Kamu baik-baik saja?”

Amara memaksakan senyum tipis.

“Aku baik.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu… ia sedikit merasa tenang.

Di dalam mobil, suasana hening.

Hanya suara mesin dan jalanan yang menemani.

“Kamu tahu,” ujar Bethany hati-hati. “Tobias sebenarnya orang baik…”

Amara diam.

“Kalian cocok tadi,” lanjutnya polos. “Apalagi dia baru saja cerai. Mungkin kalian bisa—”

“Tobias itu mantan suamiku.”

Rem diinjak mendadak.

Mobil berhenti.

“Apa?!”

Amara terkekeh pelan.

“Satu-satu, Beth.”

Keheningan kembali turun.

Kali ini lebih dalam.

“Kenapa kalian bercerai?” tanya Bethany pelan.

Amara menatap keluar jendela.

Lampu kota berpendar samar.

“Karena…” ia menarik napas pendek.

“Dia tidak pernah mencintaiku.”

Senyumnya tipis.

Namun matanya… menyimpan luka yang belum benar-benar sembuh.

“Tidak semua hal seindah kelihatannya, Beth.”

Suara Amara nyaris berbisik.

“Dan tidak semua pernikahan… berakhir bahagia.”

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!