NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!

SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA

Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?

Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.

Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?

Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAKAN SIANG

Keesokan harinya, di Gedung Grup Adiyaksa, tepat pada jam makan siang.

Raka berjalan santai melewati meja kerja Wahyu, lalu sengaja bersandar di kursi asistennya itu.

"Di kawasan Senopati ada restoran steak baru buka tuh. Katanya sih mereka pakai daging Wagyu grade M12 asli lho~" pancing Raka.

Wahyu tetap menunduk sibuk dengan pekerjaannya, sama sekali tidak menggubris.

Raka yang pantang menyerah akhirnya bertanya lagi, "Ada minat nemenin bos lu ini makan siang bareng nggak?"

Wahyu akhirnya mendongak, menatapnya dengan wajah datar bin serius. "Bos, lu tuh harusnya ngajak cewek cakep, bukan gua."

Raka menepuk pelan pundak Wahyu, mencoba mencairkan suasana. "Masih ngambek lu sama kejadian kemarin? Gua ngajak makan tuh sekalian mau minta maaf tau."

Mendengar kalimat manis itu keluar dari mulut seorang Raka, Wahyu malah merinding. Suasananya mendadak jadi canggung dan absurd.

"Gua ini cowok tulen alias straight ya, Bos!" Setelah melongo beberapa saat, cuma kalimat itu yang berhasil keluar dari mulut Wahyu.

"Pfft!" Raka nyaris ngakak menyemburkan air liurnya. "Ya gua juga kagak bilang lu belok, oneng!"

"Cuma makan siang doang elah! Ini tuh acara socializing normal antar sesama bro!" Raka terus menegaskan, sampai akhirnya Wahyu dengan setengah hati mengiyakan ajakan tersebut.

Kawasan Senopati. Belum masuk ke dalam saja, dari fasad restorannya sudah kelihatan sangat high-end dan mewah.

Sebelum berangkat, Wahyu sempat mengecek ulasan di aplikasi Zomato. Ternyata ini adalah restoran steak kelas atas dengan rata-rata tagihan menembus Rp 32.500.000 per orang!

"Selamat siang, Kak. Apakah sebelumnya sudah melakukan reservasi?" tanya waitress di pintu masuk.

"Loh, emangnya kalau nggak reservasi nggak boleh masuk?" Raka keheranan. Bukannya ini restoran baru buka? Masa antreannya separah itu?

Pelayan itu membalas dengan nada sok sopan, "Iya, Kak. Soalnya waiting list pengunjung kami sedang penuh-penuhnya."

Raka tidak terima. "Ah, kalian pasti lagi pakai trik hunger marketing doang kan? Jelas-jelas gua lihat di dalam masih banyak meja kosong tuh!"

Melihat itu, Wahyu langsung berbisik pelan, "Bos, udahlah nggak usah dipaksa. Kita ganti tempat makan aja di sekitar sini."

Wahyu tidak mau bikin keributan. Ini sudah mendekati peak hour makan siang, orang yang datang makin ramai. Kalau sampai ribut, nanti malah memancing tontonan gratis dan bikin malu.

Tapi Raka keras kepala. Pokoknya dia harus makan steak di tempat ini hari ini juga.

"Panggilin manajer atau bos lu ke sini. Gua mau ngomong," ucap Raka dengan nada dingin kepada pelayan tersebut.

Sang pelayan malah tersenyum meremehkan dan membalas, "Maaf, Kak. Bos kami itu orang sibuk yang jadwalnya padat merayap. Beliau jarang ada di tempat."

Raka tertawa sinis. Halah, cuma owner restoran viral sok-sokan jadwalnya sepadat presiden? Lebay amat!

Sikap Raka yang kekeuh mogok di depan pintu kalau tidak ditemui bosnya, bikin Wahyu agak salah tingkah.

"Maaf, Kak. Kalau Kakak masih maksa nongkrong di sini dan bikin keributan, saya terpaksa panggil polisi lho," ancam pelayan itu, raut wajahnya mulai terlihat judes.

Raka mengangkat bahu dengan santai. Dia merasa posisinya hanya berdiri di situ, tidak menghalangi jalan orang atau mengganggu operasional sama sekali.

"Ada ribut-ribut apa ini?"

Tiba-tiba, seorang pria berpenampilan super modis keluar dari dalam restoran. Tingginya sekitar 187 cm, wajahnya glowing lengkap dengan polesan makeup maskulin yang detail, auranya sangat eksentrik.

Pelayan tadi buru-buru menunduk hormat dan melapor, "Ini lho, Pak Manajer. Dua cowok ini bikin rusuh. Mereka nuduh kita pakai trik marketing murahan dan ngotot nggak mau pergi kalau nggak ketemu sama Bos."

"Oh ya? Menarik banget." Ekspresi si Manajer berubah sinis. Dia menoleh, menatap Raka dan Wahyu dari atas ke bawah seolah sedang mengukur value penampilan mereka.

Raka nyaris ngakak melihat gaya pria itu. Pantesan ini dicap restoran selebgram, manajernya saja dandanannya persis artis TikTok!

"Nggak punya reservasi kan, Mas?" tanya si Manajer dengan dagu terangkat, arogan.

"Kagak ada." Raka menjawab dengan lantang. "Emang kalau nggak ada, nggak boleh masuk?"

Si Manajer tersenyum, tipe senyuman nyinyir yang minta banget ditabok.

"Boleh-boleh aja kok masuk tanpa reservasi... Asal Mas bersedia bayar Fast Track Queue Fee sebesar seratus juta Rupiah~"

Raka tersenyum dingin. Urusan uang sih kecil buatnya, yang penting hari ini perutnya wajib keisi steak premium.

Tanpa banyak bicara, Raka merogoh sakunya, mengeluarkan Black Card limit unlimited miliknya, lalu menjepitnya di antara dua jari dan menyodorkannya tepat di depan muka si Manajer.

Mata Manajer itu seketika melotot mau copot. Kartu hitam level dewa seperti ini cuma bisa dimiliki oleh jajaran konglomerat dengan aset triliunan di seluruh penjuru Jakarta!

Detik itu juga, raut wajah Manajer langsung berubah 180 derajat. Senyumnya melebar menjilat, sambil membungkuk dalam ia mempersilakan, "Mari, Tuan Muda, silakan masuk ke dalam~"

Raka mendengus angkuh lalu melangkah masuk dengan gaya bos besar, sementara Wahyu mengekor rapat di belakangnya.

"Tuan, kalau butuh apa-apa, sampaikan aja langsung ke saya ya! Saya jamin siap sedia melayani Tuan 24 jam!"

Manajer yang tadinya sok eksklusif itu kini wara-wiri melayani meja Raka bagaikan jongos pribadi, senyumnya terus mengembang mencari muka.

Raka cuma bisa tersenyum miris. Orang ini benar-benar tidak perlu berlebihan begitu, toh dari awal Raka juga tidak berniat marah-marah panjang lebar, dia cuma pengen makan siang.

"Pak Manajer, nggak usah repot-repot," tegur Raka dengan nada halus. Padahal, aslinya Raka bermaksud mengusir manajer itu karena risih acara makannya diintilin terus-menerus.

Wahyu beberapa kali menahan tawa. Dia sadar betul kalau sesi makan siang fine dining ini murni cara Raka minta maaf padanya.

Masalahnya, itu kan cuma cekcok kecil antar teman. Raka yang sampai berniat membawanya ke tempat semewah ini malah bikin Wahyu jadi merasa agak bersalah.

"Bos Raka, sorry ya... gara-gara kejadian kemarin gua malah mabok pas jam kerja..."

Raka mengibas-ngibaskan tangannya santai. "Makan aja, makan. Yang lalu nggak usah dibahas lagi, hari ini kita santai aja nikmatin makanan enak."

Sepanjang sesi makan siang tersebut, mereka berdua tak banyak mengobrol.

Karena tak ada perempuan, suasananya malah terasa semakin canggung. Wahyu bahkan berpikir, seandainya Risa ikutan diajak, pasti suasananya jauh lebih natural dan luwes.

Bayangkan saja, dua pria yang hampir setiap hari bertatap muka di kantor, tiba-tiba mojok berdua buat makan siang super eksklusif. Kesannya terlalu dipaksakan!

Waktu berlalu lumayan cepat. Selesai makan, Raka langsung memanggil Manajer tadi untuk meminta bill.

"Tuan, total tagihannya Rp 188.888.800 ya!" Sang Manajer berlari kecil menghampiri meja mereka, wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan karena mendapat pemasukan fantastis siang itu.

Tanpa repot-repot mengecek tagihan, Raka menyerahkan kartunya sambil menyuruh manajer itu memproses pembayarannya.

"Sudah selesai prosesnya, Tuan. Saldo di kartu Anda saat ini masih tersisa sekitar 970 Miliar Rupiah." Dengan sangat takzim, sang Manajer mengembalikan Black Card tersebut.

Saat hendak beranjak pergi, Raka mendadak berhenti dan menoleh balik, "Oh ya, nama bos yang punya restoran ini siapa?"

Si Manajer langsung kaget, wajahnya memelas ketakutan. "T-Tuan... Tuan nggak berniat ngelaporin atau komplain soal pelayanan saya barusan kan?"

"Nggak sampai segitunya kali," kekeh Raka.

Dia tidak bertanya lebih lanjut, langsung menarik bahu Wahyu, membalikkan badan dan meninggalkan restoran tersebut.

Di perjalanan balik, Raka menyerahkan kunci ke Wahyu, memintanya menyetir.

"Tumben?" Wahyu bingung. Seingatnya, walau hartanya menembus triliunan, Raka itu sangat hobi menyetir mobilnya sendiri dan pantang memakai jasa sopir.

Tanpa disangka Raka malah tersenyum tipis. "Ada sedikit masalah yang harus gua beresin. Lagian... bahaya kan nekat nerima telepon sambil nyetir."

Wahyu tak bisa membalas kata-kata itu.

"Halo, Satria. Coba lu tolong tracking data siapa investor utama di balik restoran baru yang kita bicarain tadi. Iya, restoran steak viral yang ada di Senopati~" Raka menempelkan ponsel di telinganya.

"Oh, Bambang? Si Bam-bam? Oke, sip."

Setelah melempar beberapa instruksi singkat, Raka langsung mematikan sambungan teleponnya.

"Nih, coba lu telepon nomor orang ini," perintah Raka pada Wahyu. Tepat di saat itu, mobil mereka sudah berhenti terparkir di basement gedung kantor.

Walau awalnya agak nge-blank, Wahyu yang patuh akhirnya menghubungi kontak tersebut. Lewat instruksi barusan, dia sebenarnya sudah bisa menebak niat bosnya.

"Halo, selamat siang. Apakah benar ini dengan Bapak Bambang?"

"Iya, betul. Ini dari siapa ya?" Terdengar suara pria paruh baya yang berat dan berminyak dari seberang sambungan. Suara yang sangat asing di telinga Wahyu.

"Saya asisten pribadi dari Bapak Raka Adiyaksa, perwakilan dari Grup Adiyaksa."

"Ohhh! Siap, siap! Paham, Mas. Ada urusan apa ya sampai Pak Raka mencari saya?"

"Beliau baru saja... maksud saya, kami baru saja selesai makan siang di restoran milik Bapak. Sayangnya, pelayanan dari staf Bapak sangat mengecewakan dan terkesan meremehkan."

Wahyu terus berimprovisasi dengan lepas, sambil melirik tipis ke arah wajah Raka.

Mendengar eksekusi dari asistennya, seulas senyum puas mengembang di bibir Raka.

1
Jaka
harus kuat💪💪
Oppie Abdurahman
raka² hanya bisa menghindari masalah, bukannya dihadapin satu² sama fakta yang ada, padahal masalah akan membuatmu semakin kuat mentalnya.
Oppie Abdurahman
yahh plot wist kecelakaan disini
Lilia_safira
aku udah nungguin sampe nge cek berkali kali dan akhirnya 😄😄
Lilia_safira
jadwalin dong update kapan 😄!!
Oppie Abdurahman
akhirnya rilis
Oppie Abdurahman
mungkin bagi pecinta fiksi ini lumayan menarik, tapi tergantung selera juga sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!