Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Audit Sang Ratu
Ruang kerja utama keluarga von Raven adalah sebuah tempat di mana waktu seolah berhenti berputar. Dinding-dindingnya dilapisi kayu ek kuno yang telah menyerap aroma cerutu, tinta, dan rahasia selama ratusan tahun. Cahaya di ruangan ini hanya berasal dari perapian yang menyala biru statis dan satu lampu meja perak yang menyinari tumpukan dokumen di atas meja mahoni raksasa.
Aira duduk di kursi kulit besar—takhta yang biasanya diduduki Dante saat ia mengendalikan seluruh aset keluarga. Aira menyandarkan punggungnya, menyilangkan kakinya yang jenjang, membiarkan belahan gaun tidur sutranya tersingkap hingga memperlihatkan paha porselennya yang berkilat tertimpa cahaya api. Di jemarinya, ia memutar-mutar sebuah pena bulu emas dengan smirk yang tak pernah luntur.
Tok. Tok.
"Masuk," perintah Aira. Suaranya rendah, namun memiliki resonansi yang sanggup menggetarkan kesunyian ruangan.
Pintu terbuka. Dante melangkah masuk. Sosok yang biasanya selalu sempurna itu kini tampak hancur secara mental. Kemeja putihnya sedikit kusut, dan matanya yang biru es kini kemerahan karena amarah dan kecemburuan yang ia pendam sejak aula tadi. Ia membawa setumpuk besar buku besar (ledger) keuangan. Dengan gerakan yang kasar, ia membanting buku-buku itu di atas meja tepat di depan Aira.
BRAK!
"Ini semua laporan yang Anda minta, Nyonya," ujar Dante, suaranya parau dan berat. "Setiap koin yang masuk dan keluar, setiap transaksi gelap untuk menyuap pejabat istana, hingga dana taktis untuk 'pembersihan' musuh-musuhmu. Semuanya ada di sana."
Aira tidak segera menyentuh buku itu. Ia justru menatap Dante dengan tatapan yang sangat meremehkan, seolah-olah pria di depannya hanyalah serangga yang sedang mencoba menggertak majikannya.
"Kau membantingnya di depanku, Dante?" tanya Aira dengan nada yang sangat tenang, namun mengandung ancaman murni yang sanggup merobek kulit. "Apakah kau sedang mencoba mengintimidasi aku dengan suara tumpukan kertas? Ataukah kau sedang menunjukkan bahwa otot-ototmu mulai kehilangan fungsinya karena terlalu banyak cemburu?"
Dante terdiam, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. "Saya hanya lelah, Nyonya. Kepergian Anda ke hutan semalam membuat banyak urusan tertunda."
"Bohong," desis Aira. Ia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja hingga ia berdiri tepat di depan Dante. Aira jauh lebih pendek, namun auranya yang dominan membuat Dante seolah menciut.
Aira mengangkat tangannya, jemarinya yang dingin menelusuri garis leher kemeja Dante, lalu perlahan merayap naik ke rahang pria itu. Dante gemetar di bawah sentuhannya. Ketegangan yang menyiksa merayap di antara mereka.
"Kau tidak lelah karena pekerjaan, Dante. Kau lelah karena kau menyadari bahwa kau tidak bisa lagi memegang kendali atasku," bisik Aira. Tiba-tiba, ia menarik kerah kemeja Dante dengan sentakan kasar, memaksa pria itu untuk menundukkan wajahnya.
Itu adalah sisi kejamnya. "Kau menyembunyikan laporan keuangan ini selama bertahun-tahun karena kau ingin aku tetap bergantung padamu, bukan? Kau ingin aku menjadi boneka cantik yang hanya tahu cara menghabiskan uang, sementara kau yang memegang tali kekuasaannya."
Dante mencengkeram pinggang Aira dengan satu tangan yang gemetar, menariknya mendekat hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak sedikit pun. "Saya melakukannya untuk melindungi keluarga ini! Saya melakukan segalanya agar Anda tetap berada di takhta ini, Isabella!"
Aira tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kekejaman yang manis. Ia tidak mencoba melepaskan diri. Sebaliknya, ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Dante, membisikkan sesuatu yang menghancurkan logika pria itu.
"Melindungiku? Atau melindungi posisimu?" Aira menarik diri sedikit, memberikan sentuhan lembut di pipi Dante yang tegang. "Kau tahu, Zane memberikan apa yang tidak bisa kau berikan. Dia memberikan kejujuran di tengah kegelapan hutan. Sedangkan kau? Kau adalah labirin kebohongan yang membosankan."
Aira mengambil botol tinta di meja dan, tanpa mengalihkan pandangan dari mata Dante, ia menuangkan tinta hitam pekat itu ke atas tumpukan dokumen yang dibawa Dante. Cairan hitam itu meresap, menghancurkan catatan kerja keras Dante selama bertahun-tahun dalam hitungan detik.
"Apa yang Anda lakukan?!" seru Dante, terpukul melihat kehancuran catatannya.
"Aku sedang menghapus masa lalumu, Dante," ujar Aira dingin. "Mulai besok, aku yang akan memverifikasi setiap koin. Dan kau... kau akan melaporkan setiap langkahmu padaku setiap pagi, sambil berlutut di bawah meja ini, persis di tempat ini."
Dante mematung. Matanya berkilat antara amarah dan hasrat yang membara. Penghinaan ini begitu dalam, namun gairah untuk dimiliki oleh sosok Aira yang baru ini jauh lebih kuat. Ia menyadari bahwa ia telah kalah telak.
"Berlutut, Dante. Sekarang," perintah Aira dengan suara yang sangat tenang namun mutlak.
Dante gemetar hebat. Dengan harga diri yang hancur berkeping-keping, ia perlahan turun ke lantai marmer yang dingin. Ia berlutut di depan kursi Aira, menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya.
Aira duduk kembali di kursi besarnya. Ia meletakkan kakinya yang telanjang di atas pundak Dante yang sedang berlutut, menekannya dengan lembut namun dominan. Ia membelai rambut Dante dengan kelembutan yang sangat palsu, menatap ke arah pintu di mana ia tahu Zane sedang mengawasi dari kegelapan koridor.
"Bagus," ujar Aira. "Sekarang, bacakan laporan yang belum terkena tinta itu. Aku ingin tahu berapa banyak koin yang kau curi dari kas keluarga von Raven untuk membangun kesetiaan pribadimu di rumah ini."
Di dalam ruang kerja yang mencekam itu, Dante mulai membacakan angka-angka dengan suara parau.
Dante terengah-engah, bahunya gemetar di bawah tekanan kaki telanjang Aira yang terasa dingin namun membakar harga dirinya. Suara Dante yang biasanya bariton dan stabil kini pecah saat ia membacakan deretan angka dari dokumen yang selamat dari tumpahan tinta. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pengakuan dosa di depan altar pemujaan yang salah.
Aira tidak hanya mendengarkan; ia sesekali menekan bahu Dante lebih keras dengan jemari kakinya, memaksanya untuk tetap menunduk. "Suaramu terlalu kecil, Dante," bisik Aira, suaranya mengandung smirk yang bisa dirasakan meski Dante tidak melihat wajahnya. "Apakah kau malu mengakui bahwa kau telah membiayai jaringan informan pribadimu menggunakan perhiasan ibuku yang kau jual diam-diam lima tahun lalu?"
Dante terdiam, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tidak menyangka Aira—atau siapa pun jiwa yang ada di dalam tubuh itu—bisa melacak transaksi yang ia kubur begitu dalam. "Saya... saya melakukannya untuk kestabilan Manor ini, Nyonya," gumam Dante parau.
Aira tertawa pelan, sebuah tawa yang merdu namun mematikan. Ia menarik kakinya dari bahu Dante, lalu membungkuk, mencengkeram dagu pria itu dan memaksanya mendongak. Mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat intim. Aira bisa melihat pantulan dirinya yang haus akan kekuasaan di bola mata biru es Dante yang kini mulai meredup oleh hasrat yang tersiksa.
"Kestabilanmu, atau ketakutanmu akan kehilangan kendali atas Isabella?" Aira mengusap bibir Dante dengan ibu jarinya yang masih memiliki sisa noda tinta hitam. "Mulai detik ini, kau tidak punya rahasia lagi dariku. Jika kau berbohong satu angka saja, aku akan membiarkan Zane membedah isi perutmu untuk mencari kebenaran yang kau telan."
Aira melepaskan cengkeramannya dan berdiri, berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi. "Bersihkan kekacauan ini, Dante. Dan pastikan saat matahari terbit, kau sudah berada di depan kamarku dengan laporan yang jujur. Jangan membuatku menunggu, karena kau tahu aku mulai kehilangan kesabaran pada anjing yang lamban."
Aira melangkah keluar, meninggalkan Dante yang masih berlutut di tengah kehancuran dokumennya. Di lorong yang gelap, Aira menyadari bahwa ia telah mengubah sang Kepala Pelayan menjadi budak dari rahasianya sendiri. Namun, ia tidak sadar bahwa Kael telah menyaksikan bayangan interogasi itu dari balik jendela, dan kecemburuannya telah berubah menjadi kegilaan yang siap meledak.
Lanjuutt