"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realitas Yang Ingin Disangkal
Rita berdiri kaku di galengan, dengan napas masih terengah, ia membenarkan kunciran rambutnya karena daun jagung yang menjuntai kasar membuat rambutnya berantakan. Dari tempatnya berdiri, ia hanya bisa melihat Raka, mantan suaminya yang berlutut dengan tangan setengah terangkat.
Rita melangkah pelan, menyibak dedaunan Jagung yang tajam, lalu bisa melihat Amira, sahabatnya sejak SMA, berdiri di bibir kebun dengan wajah pucat, sesekali melihat ke jalan Raya di sampingnya, kemudian kembali menatap ke arah Raka.
Rita tidak mengerti. Dari tadi dia cuma dengar sayup-sayup mantan suaminya mengulang kata “maaf”, “salahku”, “bantu kamu”.
“Raka? Amira, apa yang….” tanya Rita pelan, datar, tapi ada retak yang menggantung di ujungnya. Kemudian ia intens menatap ke arah Raka yang hanya berjarak selangkah darinya. “Kenapa kamu terus minta maaf sama Amira?”
Tidak ada yang menjawab. Angin seolah berhenti, karena ikut merasakan ketegangan itu, bahkan suara jalan raya seperti menjauh.
Raka menoleh ke Rita sepersekian detik. Di matanya ada panik, ada hancur, ada permohonan tolong yang tidak bisa ia ucapkan. Ada rasa bersalah yang sulit untuk ia akui.
Amira juga menoleh. Untuk pertama kalinya sejak tadi, tatapannya lepas dari Raka. Bertemu mata dengan Rita, sahabatnya. Di mata Amira ada badai yang sangat terasa, bercampur antara malu, takut ketahuan, lega karena ada orang lain, sekaligus marah karena sekarang Rita ada di sini, menyaksikan semuanya.
Di antara jagung, aspal, dan dua manusia dari masa lalu, waktu menggantung. Tidak ada yang bergerak.
Rita masih berdiri bingung di sisi Raka, ia tidak paham potongan percakapan tadi. Tapi dia mulai memahami ekspresi wajah. Dan wajah Amira sekarang... bukan wajah ceria sahabatnya yang cerewet dan tukang traktir bakso waktu SMA.
Wajah Amira pucat. Bibirnya biru keputihan. Mata itu... mata itu kosong tapi sekaligus penuh kegelapan, seperti sumur yang nggak ada dasarnya. Ketakutan, putus asa jelas terlihat disana. Rita kenal ekspresi itu. Dia pernah lihat di kaca, dua tahun lalu, waktu hidupnya sendiri pun hancur.
Seketika semua logika soal, kenapa Raka minta maaf, jadi nggak penting.
“Amira...” panggil Rita pelan. Dia maju satu langkah.
Amira tersentak. Seperti kucing liar yang disentil. Seluruh tubuhnya menegang, seolah siap lari.
Rita berhenti, dadanya tiba-tiba merasa sesak. “Kenapa dia takut padaku?” pikirnya memperhatikan reaksi Amira.
Rita mencoba lagi. Langkah kedua, lebih hati-hati. Matanya tidak lepas mengamati Amira. Dan di situlah dia lihat. Setiap kali sorot matanya pindah sedikit ke arah Raka, tubuh Amira bergetar. Getaran kecil, tapi nyata, menyiratkan luka yang sangat dalam setiap melihat laki-laki itu.
BLETAK
Satu keping ingatan jatuh di kepala Rita. Cerita Amira, beberapa hari lalu, kisah pahitnya. “Mertuaku, melemparkan ku pada pria hidung belang… aku digagahi… tubuhku….” Amira nggak sanggup melanjutkan kalimatnya waktu itu.
BLETAK
Keping kedua. Pertengkarannya dua tahun silam. “Jadi kamu memilih mengabdi pada wanita jahat itu? Kau memilih menjadi peliharaannya dan meninggalkan kami?!”
Langkah Rita terhenti, lututnya terasa lemah. “Wanita jahat itu, namanya Loretta!”
BLETAK
Keping ketiga. Nolan, pria yang tadi bertamu ke rumahnya, yang menjelaskan tentang Raka, Amira dan potongan kejahatan Loretta.
Mertua jahat.
Bos jahat.
Pelecehan.
Raka.
Garisnya terhubung, lurus dan telanjang.
Hati kecil Rita, yang selalu jujur meski pahit, langsung mengerti. Tapi otaknya—otak seorang mantan istri yang pernah serumah, semeja makan, sekamar tidur dengan laki-laki itu—menolak. Mentah-mentah.
“Tidak… itu tidak mungkin!” pekiknya gusar.
Namun kalimat itu justru semakin berdenging di kepalanya “Itu tidak mungkin! Raka memang brengsek, tukang selingkuh, pemalas. Tapi bukan... bukan pemerkosa. Bukan ke Amira, ke sahabatku.”
Lutut Rita goyah, ia terhuyung selangkah ke belakang. Tangan kanannya mencengkeram daun jagung di sampingnya, meremasnya sampai buku-buku jarinya memutih. Bahkan saat daun itu melukai telapaknya, ia tidak merasakannya.
Rita menatap Raka. Laki-laki itu masih bersujud mematung dengan ekspresi wajahnya yang hancur, matanya seolah memohon pada Rita tanpa suara, “Tolong dia.”
Lalu Rita beralih menatap Amira yang sekarang berdiri di batas hidup dan mati, tubuhnya gemetar, karena takut pada laki-laki yang pernah tidur di sebelahnya setiap malam selama bertahun-tahun.
Realitas itu terlalu besar. Terlalu busuk. Terlalu tidak masuk akal.
Rita limbung. Dunia seolah berputar. Suara truk di jalan raya tiba-tiba terdengar lagi, kencang, mengejek.
Dia ingin muntah, lalu pingsan, agar segera bangun dari mimpi buruk ini.
Tapi wajah Amira yang pucat itu... wajah itu nyata. Ketakutan di sana nyata.
Dan untuk pertama kalinya, Rita tahu, kebenaran tidak peduli apakah otaknya sanggup terima atau tidak.
Dia harus memilih. Sekarang. Detik ini.
Antara tidak percaya pada mantan suaminya, atau tidak percaya pada sorot mata sahabatnya.
Waktu seolah membeku di kepala Rita.
Di seberang sana, Amira melihat semuanya. Melihat wajah Rita yang tadinya bingung, sekarang pucat, syok, matanya berkaca-kaca karena kepingan realita sudah nyambung.
Dan saat itulah, sesuatu di dalam Amira pecah.
Bukan takut, bukan marah. Tapi malu. Rasa bersalah yang busuk dan pekat, dicampur trauma yang dari tadi mencengkeram tenggorokannya.
“Rita menyadarinya?”
“Rita tahu sekarang?”
“Tahu kalau aku…”
Lirih, hanya untuk dirinya sendiri, Amira bicara di dalam hati. Suaranya hancur.
“Maafkan aku, Rita.”
“Aku memang sangat kotor.”
“Gara-gara dia, gara-gara mereka waktu itu. Aku nggak pantas lagi menerima uluran tanganmu.”
“Aku... aku nggak pantas lagi jadi sahabatmu.”
Air mata yang dari tadi ditahan, jatuh. Satu tetes dan terasa panas.
Lalu Amira bangkit.
Bukan perlahan. Seketika. Seperti kesurupan.
“Amira, jangan!” Teriakan Rita pecah di udara panas.
Bersamaan dengan itu, deru mesin berat menggelegar dari arah barat. Truk tronton muatan pasir melaju kencang. Sopirnya nggak mungkin lihat ada orang melompat dari bibir kebun.
Amira sudah setengah badan melewati baris jagung terakhir. Kakinya menapak kerikil panas pembatas aspal.
Raka yang dari tadi beku, mendadak hidup. “AMIRA!”
Tubuh Amira condong ke depan. Ke arah jalan. Ke arah kematian yang melaju 80 km/jam.
Angin dari laju truk sudah menerpa rambutnya.
Debu naik.
Dunia Rita runtuh.
Dan layar... menghitam.
...🍂🍂🍂Bersambung🍂🍂🍂...
nice ending
beautiful story
ya.... begitu lah
bales dendam yg terbaik bukan membales apa yg paling dalam
tapi bisa membuktikan kita bisa hidup lebih baik dan bermartabat di mata orang lain
itu adalah bales dendam terbaik
arti nya,apa yg kau lakukan itu bukan hal yg penting buat hidup kita.
tapi ....yg paling terpenting lagi.luka yg telah kita rasakan kita bisa berdamai dengan luka itu
dan memaafkan juga memberikan kesempatan buat diri kita sendiri buat bahagia.
itu si yg paling penting.
terimakasih atas cerita indah nya thor
aku belum pernah Nemu karya yg penuh inspiratif seperti ini.
ya... marilah kita bahagia bersama
dan tumbuh dengan luka yg tidak melukai kita selalu 💪💪😍
jadi siap siaplah kalian yg memang sudah nabung dosa
ni orang mang ga ada obatnya 😔
tiba tiba ada orang yg mengulurkan tangan secara gratis...
hei..hari gini ga ada tu yg namanya makan siang gratis 🥹
saking baiknya ga punya prinsip 🥹🥹🤣
sudah dapat...dia akan tau tempat nya 🥹