NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Papa...

“Hana,” suara kakaknya memanggil dari luar. “Buka dulu, yuk.”

Hana mengusap wajahnya cepat-cepat, berusaha menghapus jejak tangis. Ia berdiri, menarik napas, lalu membuka kunci pintu tanpa benar-benar menatap ke depan.

Kakaknya berdiri di sana dengan ekspresi yang sulit ditebak, campuran antara khawatir dan sesuatu yang lebih halus, yang tidak langsung terlihat.

“Makan dulu,” katanya lembut. “Dari tadi kamu belum keluar.”

“Aku nggak lapar.”

“Kamu tadi juga bilang biasa aja waktu berangkat sekolah,” balas kakaknya ringan. “Padahal jelas banget kamu deg-degan.”

Hana terdiam.

“Kamu pikir aku nggak tahu kamu nangis?” lanjutnya pelan.

Nada suaranya tidak menyalahkan, tapi ada sesuatu yang membuat Hana merasa seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.

“Tante Vera itu memang begitu,” kata kakaknya sambil bersandar di ambang pintu.

“Kamu nggak usah masukin ke hati ya, dia ngomong begitu demi kebaikanmu juga."

Hana akhirnya menatapnya. “Tapi dia ngomongnya nggak mikir.”

“Iya, karena dia trauma,” jawab kakaknya cepat. “Dulu dia diceraikan suaminya. Katanya karena sudah nggak menarik lagi. Sejak itu dia sensitif soal penampilan. Jadi kalau lihat orang lain, apalagi cewe, pasti mulutnya ga bisa dikontrol."

Hana mengerutkan kening. “Terus itu salahku karena jerawatan?"

“Bukan salahmu,” jawab kakaknya, lalu tersenyum kecil. “Tapi kamu juga jangan terlalu baper juga. Kamu tahu sendiri kan Tante Vera memang cerewet.”

Hana tidak langsung menjawab.

“Lagipula,” lanjut kakaknya, “dia juga tadi bilang kamu sebenarnya manis kok. Cuma perlu lebih dirawat.”

Hana tidak ingat ada kalimat seperti itu.

“Kapan?”

“Tadi sebelum kamu masuk kamar. Kamu nggak dengar karena sudah keburu marah.”

Nada suaranya terdengar wajar. Terlalu wajar.

“Tante Vera sudah pulang,” tambahnya.

"Nggak ada yang bakal bandingin kamu lagi malam ini.”

Kalimat itu seharusnya melegakan. Tapi entah kenapa, cara kakaknya mengatakannya membuat Hana merasa seperti masalahnya memang sekecil itu—sekadar drama yang dibesar-besarkan.

“Kamu tahu nggak,” kata kakaknya lagi sambil melangkah masuk ke kamar tanpa diminta, “sebenarnya Tante cuma pengin kamu jadi lebih baik. Bukan jahat. Dia cuma blak-blakan.”

“Blak-blakan itu nggak harus nyakitin,” gumam Hana.

Kakaknya tersenyum tipis. “Dunia juga nggak selalu lembut, Han. Kalau kamu terus sensitif begini, capek sendiri.”

Hana menunduk.

“Kamu kan tahu aku jarang dikomentarin begitu,” lanjut kakaknya santai. “Mungkin karena aku memang dari dulu lebih perhatian sama perawatan diri. Bukan berarti kamu nggak bisa.”

Kalimat itu terdengar seperti nasihat.

Tapi terasa seperti perbandingan yang dibungkus rapi.

“Aku juga dulu sempat jerawatan,” katanya lagi. “Tapi aku cari solusi. Nggak cuma ngeluh.”

Hana merasa dadanya kembali mengencang.

“Aku nggak ngeluh.”

“Ya jangan langsung masuk kamar dan kunci diri juga,” jawab kakaknya lembut. “Ibu jadi kepikiran. Kamu tahu kan Ibu sudah cukup capek sejak Papa nggak ada.”

Nama itu membuat suasana berubah. Papa.

Seperti biasa, setiap kali nama itu muncul, Hana merasa kehilangan sekaligus bersalah.

“Aku cuma…” Hana berhenti. Suaranya melemah. “Aku cuma capek dibandingin terus.”

Kakaknya mendesah pelan. “Hana, dibandingin itu hal biasa. Dari dulu juga kita sering dibandingin sama sepupu-sepupu. Tapi ya sudah. Kamu nggak bisa kontrol omongan orang.”

Ia berjalan mendekat dan merapikan sedikit rambut Hana yang berantakan.

“Kalau kamu terus mikirin jerawatmu, nanti makin stres. Stres bikin tambah parah. Jadi sebenarnya kamu yang bikin diri kamu sendiri tertekan.”

Kalimat itu terdengar seperti logika yang masuk akal. Hana tak mampu membantahnya, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, entah mengapa Hana merasa seperti kesalahannya makin ditegaskan.

“Sudah, ayo makan. Ibu masak sayur kesukaan kamu,” ujar kakaknya lagi dengan nada lebih ringan, seolah percakapan tadi tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Hana mengangguk pelan, pertanda setuju dengan kakaknya.

Saat mereka berjalan keluar kamar, kakaknya menambahkan, “Oh ya, tadi Tante juga bilang kamu itu sebenarnya mirip Papa. Makanya dia komentar terus. Katanya sayang kalau nggak dirawat.”

Kakaknya berhenti di ambang pintu ruang makan ketika menyadari Hana tidak langsung duduk.

“Kok berhenti?” tanyanya pelan.

Hana menatap kursi kosong di hadapannya. Kursi yang biasanya ditempati Papa. Sudah lama kosong, tapi malam ini rasanya lebih terasa.

“Nggak apa-apa,” jawabnya cepat, lalu menarik kursi dan duduk.

Ibunya menyendokkan sayur ke piring Hana tanpa banyak bicara. Gerakannya pelan, seperti hati-hati agar tidak memicu sesuatu lagi.

“Makan yang banyak,” ucap Ibunya lirih. “Kamu keliatan pucat.”

Hana hanya mengangguk.

Kakaknya mengambil air minum, lalu menoleh padanya. “Han, aku ngomong tadi bukan buat nyalahin kamu.”

Hana tidak menatapnya. “Aku tahu.”

“Tapi kamu juga harus ngerti posisi Ibu. Tadi Tante ngomong begitu, Ibu cuma ketawa-ketawa kecil. Itu bukan berarti Ibu setuju. Dia cuma nggak enak.”

“Aku nggak bilang Ibu setuju,” jawab Hana cepat, sedikit lebih tajam dari yang ia maksud.

Ibunya berhenti mengunyah, menatap mereka bergantian. “Sudah, jangan dibahas lagi,” katanya lembut.

"Tante memang dari dulu begitu.”

Kakaknya menghela napas pelan, lalu merendahkan suara. “Aku cuma nggak mau kamu tumbang gara-gara omongan orang. Dunia itu nggak akan berhenti cuma karena kamu sakit hati.”

Hana menahan diri untuk tidak menjawab. Kata-kata itu terdengar seperti peringatan, bukan penghiburan.

“Kalau kamu kuat sedikit, kamu nggak perlu masuk kamar dan nangis,” lanjut kakaknya.

“Aku nggak nangis,” gumam Hana.

Kakaknya mengangkat alis sedikit. “Matamu sembab.”

“Itu bukan berarti aku lemah.”

“Aku nggak bilang kamu lemah,” katanya cepat. “Aku cuma bilang kamu bisa lebih kuat.”

Perbedaan dua kalimat itu tipis. Terlalu tipis.

Hana meletakkan sendoknya. “Kalau aku bilang aku capek dibandingin, itu salah juga?”

“Bukan salah,” jawab kakaknya, kali ini lebih hati-hati. “Tapi dibandingin itu nggak selalu jahat. Kadang orang cuma pengin kamu berkembang.”

“Dengan bilang aku kusam? Jerawatan? Nggak menarik?” Suara Hana mulai bergetar.

Ibunya menegur pelan, “Hana…”

Kakaknya menatapnya lebih serius sekarang. “Tante ngomongnya memang kasar. Tapi inti pesannya mungkin bukan itu.”

“Intinya apa?” tanya Hana.

“Bahwa kamu punya potensi, tapi kamu kurang merhatiin diri sendiri.”

Hana tertawa kecil, hambar. “Jadi tetap saja masalahnya di aku.”

Kakaknya terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Bukan masalah. Cuma… ruang untuk diperbaiki.”

Kalimat itu terdengar rapi. Terlalu rapi.

Hana kembali makan, lebih untuk mengakhiri percakapan daripada karena lapar.

Beberapa menit kemudian, kakaknya menyenggol pelan lengannya. “Han.”

“Kenapa?"

“Aku serius. Aku sayang kamu. Aku nggak pengin kamu jadi bahan omongan.”

“Dengan bikin aku berubah?”

“Dengan bikin kamu lebih siap,” koreksinya. “Kalau kamu percaya diri, orang nggak akan gampang nyentuh kamu.”

Hana menatap piringnya. “Percaya diri itu bukan saklar yang bisa dinyalain.”

Kakaknya tidak langsung membalas. Lalu ia berkata lebih pelan, “Aku juga dulu nggak langsung pede. Aku belajar.”

“Belajar jadi siapa?”

“Jadi versi terbaik dari aku.”

Hana akhirnya menoleh. “Tapi kalau versi terbaik dari aku itu nggak sama kayak versi terbaik menurut Tante?”

Kakaknya terdiam. Ibunya kembali menunduk, pura-pura sibuk merapikan piring.

“Kamu terlalu mikirin Tante,” jawab kakaknya akhirnya.

“Hidupmu bukan tentang dia.”

“Tapi tiap kali dia datang, rasanya jadi tentang dia.”

Tidak ada yang langsung menyahut. Setelah makan selesai, Hana membantu membawa piring ke dapur. Ibunya menyentuh bahunya sebentar. Sentuhan ringan, tapi hangat.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Ibunya pelan.

Hana menahan napas sejenak. Ia ingin menjawab jujur. Ia ingin bilang tidak.

“Aku cuma capek, Bu,” katanya akhirnya.

Ibunya mengangguk. “Capek itu boleh. Tapi jangan terlalu keras sama diri sendiri.”

Kalimat itu berbeda. Tidak ada syarat di belakangnya. Malam semakin sunyi ketika Hana kembali ke kamar. Lampu meja menyala redup. Ia berdiri lagi di depan cermin, seperti tadi.

Ia memperhatikan detail wajahnya. Bekas kemerahan di pipi. Satu jerawat kecil di dagu. Rambut yang sedikit mengembang.

Ia membayangkan suara Tante Vera. Lalu suara kakaknya.

Lalu, pelan-pelan, suara Papa.

“Kamu mirip Papa,” kata kakaknya tadi.

Hana mencoba mengingat bagaimana papa memandangnya dulu. Tidak pernah ada jeda sebelum pujian. Tidak pernah ada “tapi”.

Dulu Papa hanya berkata, “Anak papa sudah cantik begitu.”

Hana menyentuh pipinya sekali lagi.

“Aku memang bisa usaha,” gumamnya pelan pada bayangan di cermin. “Tapi bukan karena aku kurang.”

Kalimat itu terdengar asing di telinganya sendiri. Ia mematikan lampu, lalu berbaring. Di kegelapan, pikirannya masih ramai. Antara ingin membuktikan sesuatu. Antara ingin berhenti peduli.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!