NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Langkahku terasa berat saat menyusuri area parkir basah yang hanya diterangi lampu neon temaram. Aku hanya ingin segera masuk ke dalam mobil, mengunci pintu, dan menangis sepuasnya di perjalanan menuju tempat Danesha. Namun, langkahku terhenti tepat di samping pilar beton sektor B-12.

Sesosok pria bersandar pada kap mobilnya dengan tangan bersedekap. Baskara.

Ia tidak mengenakan jaket hoodie-nya lagi, hanya kemeja kerja yang lengannya sudah digulung hingga siku. Tatapannya lurus menatapku, tajam dan menuntut. Gema konfrontasi di ruangannya tadi pagi seolah belum tuntas membedah lukaku.

"Mau ke mana?" tanyanya dingin, suaranya menggema di keheningan parkiran.

"Aku... aku ada janji dengan Danesha," jawabku pelan, mencoba menghindari kontak mata.

Baskara melangkah maju, memotong jalanku. "Rasya terus bertanya padaku di atas tadi. Dia merasa ada yang tidak beres. Kamu tahu apa yang aku katakan padanya?"

Aku menggeleng lemah.

"Aku bilang kamu hanya sedang sensitif karena sakit," Baskara mendengus sinis, tawanya terdengar sangat perih. "Aku kembali berbohong demi melindungimu, Aruna. Sama seperti yang aku lakukan dua tahun lalu saat aku tahu kamu sedang bersama pria lain tapi aku tetap bilang pada ibumu kalau kamu sedang belajar kelompok."

Kalimat itu menghantamku telak. Rasa malu yang murni membuatku ingin menghilang dari muka bumi. "Bas, kenapa kamu masih melakukan ini? Setelah tahu betapa brengseknya aku... kenapa kamu tidak biarkan saja dia tahu?"

"Karena aku tidak ingin dia terluka!" bentaknya, suaranya meninggi hingga memantul di dinding parkiran. "Dia tidak punya dosa apa pun dalam sejarah busuk kita. Dia mencintaiku dengan tulus, Aruna. Sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan."

Aku terdiam, air mata mulai mengalir lagi. "Aku tahu, Bas. Aku tahu aku tidak pantas. Dan soal hadiah kalung itu... aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kalau hari itu kamu sedang..."

"Berhenti membahas kalung itu!" potongnya cepat. Ia mendekat, aroma parfumnya yang maskulin kini bercampur dengan bau aspal basah. "Penjelasanmu sekarang tidak berguna. Satu tahun aku hidup dalam neraka karena kepergianmu. Sekarang, saat aku sudah mencoba menata hidup dengan orang yang benar-benar menghargaiku, kamu datang lagi dengan wajah memelasmu itu."

Baskara menatapku dengan mata yang memerah, penuh dengan amarah dan sisa-sisa luka. "Pergilah bertemu Danesha. Katakan padanya kalau kamu berhasil menghancurkanku dua kali. Sekali saat kita bersama, dan sekali lagi saat kamu menghilang."

Ia berbalik, masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin dengan kasar. Aku berdiri mematung di sana, menatap lampu belakang mobilnya yang menjauh dengan cepat. Gema suaranya masih tertinggal, mengingatkanku bahwa aku bukan hanya kehilangan cintanya, tapi aku telah membunuh kepercayaan seorang pria yang dulu pernah menjadikanku pusat dunianya.

Aku melangkah masuk ke dalam kafe dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Danesha sudah menungguku di sudut ruangan, wajahnya penuh kecemasan saat melihat mataku yang bengkak. Begitu aku duduk, semua benteng pertahananku runtuh. Aku menceritakan tentang konfrontasi di parkiran tadi, tentang kejujuran Baskara yang menghancurkan hatiku.

"Dia bilang aku menghancurkannya dua kali, Dan," isakku, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. "Sekali saat aku bersamanya, dan sekali lagi saat aku menghilang."

Danesha terdiam, ia hanya menggeser tisu ke arahku. Gema percakapan kami satu tahun lalu mendadak terputar kembali di benakku seperti kaset rusak.

Sore itu, tepat setelah aku melihat Baskara dan Rasya di mall, aku mendatangi rumah Danesha dengan histeris. Aku yang saat itu penuh ego dan rasa cemburu yang buta, langsung mengemasi barang-barangku.

"Dan, aku pergi. Tolong, jangan pernah kasih tahu Baskara di mana aku," kataku saat itu sambil terisak.

"Tapi Na, dia pasti cari kamu. Kalian belum putus secara resmi!" Danesha mencoba menahanku.

"Biar saja! Dia sudah punya orang lain. Aku nggak mau lihat mukanya lagi. Kalau kamu anggap aku sahabat, kamu harus tutup mulut. Anggap saja aku sudah mati buat dia!"

Aku yang memaksanya. Aku yang memberikan beban rahasia itu pada Danesha. Aku yang melarang satu-satunya orang yang bisa memberikan jawaban pada Baskara untuk berbicara. Selama satu tahun, aku membiarkan Baskara hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa, sementara aku bersembunyi di balik tameng rasa sakit hati yang ternyata salah alamat.

"Kamu ingat kan, Dan? Aku yang melarangmu," lirihku. "Aku membiarkan dia mengemis jawaban padamu, sementara aku sibuk merasa jadi korban."

"Iya, Na. Aku ingat betapa berantakannya dia waktu itu," Danesha menghela napas panjang, menatapku dengan tatapan iba. "Dia datang ke rumahku hampir setiap hari selama sebulan penuh. Matanya merah, badannya kurus. Dia cuma mau tahu kamu sehat atau enggak. Tapi aku tetap diam karena janji konyol kita."

Aku meremas ujung meja, rasa perih di dadaku semakin tak tertahankan. Penyesalan ini bukan lagi sekadar gema; ini adalah teriakan yang menyayat jiwa. Aku tidak hanya mengabaikannya selama dua tahun, aku telah mencuri kedamaian hidupnya selama setahun berikutnya.

"Sekarang dia sudah bersama Rasya, Dan. Dan dia mencintainya karena Rasya memberinya apa yang tidak pernah aku kasih: penghargaan," ucapku pahit. "Aku benar-benar monster, ya?"

Danesha tidak menjawab. Keheningan di antara kami seolah mengonfirmasi bahwa ada beberapa luka yang memang tidak bisa sembuh hanya dengan kata maaf, terutama luka yang dipupuk oleh kebohongan dan pelarian selama bertahun-tahun.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!