NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam semakin larut. Sejak sore tadi kondisi Darrel perlahan mulai membaik. Anak itu yang sebelumnya hanya mengigau, menolak makan, bahkan sulit menelan obat, kini terlihat jauh lebih tenang.

Perawat yang datang untuk mengecek kondisinya pun tersenyum lega.

“Panasnya sudah menurun, Pak. Tapi masih perlu perawatan dan istirahat,” ucap perawat itu lembut.

Nathan mengangguk pelan. “Iya, sus,” jawabnya singkat.

Setelah memastikan infus dan suhu tubuh Darrel stabil, perawat itu pun pamit keluar dari kamar rawat.

Kini hanya tinggal Nathan dan Andin di dalam ruangan itu.

Suasana kembali hening. Nathan berdiri di dekat jendela dengan tangan bersedekap. Pikirannya entah mengembara ke mana. Bayangan kejadian sore tadi kembali berputar di kepalanya.

Tentang tatapan Andin dan keberanian perempuan itu menjawab ucapan ibunya, seolah tidak merasa takut, Nathan menghela napas panjang.

“Ada apa sebenarnya…,” gumamnya lirih.

Ia mengusap wajahnya pelan.

“Gak mungkin Andin berani menimpali ucapan Mami kalau dia memang bersalah…”

Nathan meremas rambutnya yang mulai terasa pening. Semakin ia mencoba mengabaikan pikiran itu, semakin kuat rasa curiga yang muncul di benaknya.

Sementara itu Andin masih duduk di samping ranjang Darrel. Tangannya dengan sabar mengusap pelan rambut anak itu, memastikan tidurnya benar-benar lelap. Wajah kecil itu kini terlihat jauh lebih damai dibandingkan beberapa jam yang lalu.

Setelah memastikan Darrel benar-benar tertidur, Andin tanpa sengaja melirik ke arah Nathan.

Pria itu terlihat begitu gelisah, namun Andin tidak berani bertanya. Bahkan sekadar membuka percakapan pun terasa begitu sulit.

Akhirnya Andin memilih bangkit perlahan dari kursinya. Sejujurnya sejak tadi perutnya sudah keroncongan. Ia belum makan apa pun sejak sore.

Andin mencoba melepaskan tangannya secara perlahan dari genggaman Darrel agar anak itu tidak terbangun, namun baru saja jari-jarinya terlepas sedikit, tiba-tiba Darrel bergumam pelan dalam tidurnya.

“Mbak… jangan pergi…”

Andin terdiam.

Ia menghembuskan napas pelan, bukan karena kesal. Hanya saja rasa lapar di perutnya kini terasa semakin menyiksa.

Ia kembali duduk di kursi itu, membiarkan tangan kecil Darrel tetap menggenggam jarinya.

Andin menatap wajah anak itu dengan tatapan lembut. “Baiklah… Mbak gak pergi,” bisiknya pelan.

Di sudut ruangan Nathan memperhatikan semuanya tanpa berkata apa-apa.

Tatapannya semula hanya tertuju pada Darrel yang tertidur, namun perlahan turun ke arah Andin. Perempuan itu masih duduk di kursi kecil di samping ranjang, sementara satu tangannya terus digenggam oleh Darrel.

Namun sesuatu menarik perhatian Nathan.

Tangan Andin yang lain beberapa kali menekan perutnya sendiri.

Nathan langsung mengerti. Sejak sore tadi ia membawa perempuan itu ke rumah sakit, tapi tidak sekali pun ia menawarinya makan.Tanpa berkata apa-apa, Nathan berbalik dan keluar dari kamar rawat.

Andin yang melihat pria itu pergi begitu saja langsung mengerutkan dahi.

“Dasar… egois,” gumamnya pelan.

Perutnya kembali berbunyi pelan. Rasa lapar kini sudah benar-benar tidak tertahankan. Ia mencoba berdiri, berniat keluar sebentar mencari sesuatu untuk dimakan. Namun baru saja ia bergerak sedikit, tangan Darrel justru menggenggam jarinya lebih erat.

“Sayang… Mbak pergi sebentar ya,” bisik Andin pelan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Genggaman kecil itu semakin kuat, Andin menatap wajah Darrel yang masih tertidur dengan napas pelan.

“Ya Allah… kalau begini kapan bisa makan,” keluhnya lirih.

Belum sempat ia menggerutu lebih jauh, tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka.

Andin menoleh.

Nathan berdiri di sana.

Di tangannya ada sebuah kantong plastik berisi makanan. Pria itu berjalan mendekat lalu meletakkan kantong tersebut di meja kecil di dekat Andin.

“Ini… makan,” ucapnya singkat, dengan nada ketus seperti biasa.

Andin menatap kantong plastik itu sejenak. Entah kenapa dadanya terasa aneh, pria yang sejak tadi bersikap dingin itu ternyata keluar hanya untuk membelikan makanan.

“Makasih,” ucap Andin pelan.

Nathan langsung mengalihkan pandangannya.

“Jangan salah paham," lagi-lagi ia mengingatkan Andin dengan kalimat itu.

Andin menghela napas.

“Aku gak salah paham,” sahutnya tenang.

“Aku melakukan ini hanya demi anakku,” lanjut Nathan datar.

Andin terdiam. Rasanya memang sulit berbicara dengan orang yang masih memendam begitu banyak amarah.

“Terserah kamu deh,” gumamnya lirih.

Namun sayangnya kalimat itu masih sempat tertangkap oleh telinga Nathan.

“Apa kamu bilang?” tanya pria itu sambil menoleh.

Andin langsung menggeleng cepat.

“Gak… gak ada,” sahutnya buru-buru.

“Ya sudah aku mau makan.”

Andin meraih kantong plastik itu diatas meja dengan tangan kirinya. Namun ketika ia mencoba melepaskan tangan kanannya dari genggaman Darrel, tiba-tiba anak itu kembali meracau dalam tidurnya.

“Mbak… jangan pergi…”

Andin tertegun. Ia menoleh ke arah Nathan.

Pria itu juga melihat dengan jelas bagaimana tangan kecil Darrel masih menggenggam tangan Andin dengan kuat.

“Kenapa?” tanya Nathan datar.

“Ini gak mau lepas,” jawab Andin pelan.

Nathan memandang anaknya beberapa detik.

Ia tahu… jika Andin memaksakan tangannya lepas, Darrel bisa saja terbangun. Akhirnya Nathan menghela napas pelan. Pria itu mengambil kotak makanan dari tangan Andin lalu membukanya.

Andin menatapnya bingung.

“Apa yang kamu lakukan?”

Nathan tidak menjawab. Ia mengambil sendok plastik lalu menyendok sedikit makanan.

“Buka mulutmu.”

Andin langsung terbelalak.

“Hah?”

Nathan menatapnya datar.

“Kalau kamu nunggu tangan anakku lepas, kamu bisa kelaparan sampai pagi.”

Andin benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Akan tetapi perutnya yang sudah terlalu lapar akhirnya membuatnya menyerah.

Perlahan ia membuka mulut.

Nathan menyuapinya dengan gerakan kaku, seolah itu hal paling aneh yang pernah ia lakukan. Suasana kamar rawat itu tiba-tiba terasa sangat canggung. Beberapa suapan berlalu dalam diam. Andin bahkan tidak berani menatap wajah Nathan.

Sampai tiba-tiba Nathan berhenti. Tatapannya terarah pada sudut bibir Andin.

Tanpa berkata apa pun, pria itu mengangkat tangannya lalu mengusap sisa nasi yang menempel di sana dengan ibu jarinya.

Gerakan itu sangat singkat, tapi cukup membuat Andin membeku.

Nathan sendiri seolah baru sadar apa yang ia lakukan. Ia langsung menarik tangannya kembali dan mengalihkan pandangan.

Suasana kembali hening. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Nathan bersuara lagi.

Dan kali ini nadanya berbeda, tidak setajam sebelumnya.

“Aku mau tanya sesuatu.”

Andin menoleh pelan.

Tatapan mereka bertemu. Nathan menatapnya dalam-dalam, seolah sedang mencari sesuatu di wajah perempuan itu.

“Sore tadi…” Nathan berhenti sejenak.

“Kenapa kamu berani melawan ibuku?”

Ruangan itu kembali terasa sunyi. Tatapan Nathan kini berubah lebih tajam.

“Kalau memang kamu tidak bersalah…,” lanjutnya pelan, “kenapa dulu kamu pergi tanpa pernah menjelaskan apa pun?”

Andin terdiam, tangannya masih digenggam oleh Darrel. Akan tetapi pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada genggaman anak kecil itu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, masa lalu yang selama ini terkubur mulai mengetuk kembali di antara mereka.

Lalu apakah Andin kuat untuk menjawab pertanyaan itu.

Bersambung ...

1
Soraya
lanjut
Lisa
Lembutkan hatimu Andin..Nathan sekarang sudah berubah..
kaylla salsabella
lanjut
ria rosiana dewi tyastuti
luka andin msh menganga ya.....
kaylla salsabella
syukur
Oma Gavin
sukurin rasakan kamu nathan makanya jgn goblok dipelihara percaya sama fitnah ibu mu makan itu derajat dan nama baik
Bunda Bagaz
bagus tpi syg up ny dikit.
Lisa
Nathan skrg menyesal tp itu tdk dpt mengembalikan nama baiknya Andin..gmn y hubungan mrk selanjutnya
Nar Sih: moga mereka clbk aja kak
total 1 replies
kaylla salsabella
penyesalan mu tiada artinya nathan🤣🤣
Soraya
lanjut thor
Nar Sih
ahir nya semua terungkap kan ,dan ibu mu dalang dri semua mslh mu dgn andin ,semagat nathan💪
Nar Sih
,saat nya ngk bisa ngelak lgi vivian🤣
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
nah lo vivian🤣🤣
Lisa
Good job Nathan..biar kebenaran terungkap..bahwa ibumu yg memfitnah Andin..
Lisa
Pasti wanita itu disuruh oleh ibunya Nathan..ayo Nathan kamu harus bertindak tegas terhadap ibumu..
Oma Gavin
mampusss kamu vivian kali ini kepercayaan nya nathan terhadap diri mu sudah musnah
Mira Hastati
bagus
kaylla salsabella
eh kemana tuh ular betina tadi...... enak aja main pergi
Ayumarhumah: gak pergi cuma mundur
total 1 replies
Oma Gavin
nah diusut juga kejadian pagi ini pasti juga ulah ibumu jgn terus bodoh dikadalin ibumu kamu nathan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!