Takdir hanya membawaku jauh dari tanah kelahiranku, bukan jauh dari hidupmu, sudah sejauh ini kenapa aku masih bertemu dengan mu lagi pria Brengkes! Alea Januartha
aku mencari mu 10 tahun lamanya, kamu datang padaku dengan cara seperti ini, kenapa kamu tidak mengakui, kalau itu kamu wanita kribo, kenapa harus ada kepergian untuk kedua kalinya, Jonathan Will
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 3
"Anak ini benar-benar sudah diluar batas, kenapa bisa dia seperti ini, dulu saja saat kita memaksa dia menikah dengan Jesika bahkan dengan mudah dia menuruti" kesal nyonya Jasmin yang sejak tadi juga terus menatap pintu masuk aula itu.
Mamahnya Jesika terus menatap keresahan yang ada di wajah ribet Will itu, "Habis kamu nanti kalau ketahuan Jonathan Jes, kamu tau dia adalah pria berdarah dingin, bahkan hanya dengan kedipan mata dia bisa membuat prusahaan kita gulung tikar, hati-hati lah padanya, bahkan mamah gak yakin nyawa kita selamat kalau berurusan dengannya" bisik mamahnya Jesika yang mulai ketakutan.
"diam lah mah!"
"Sebaiknya pernikahan ini di batalkan pak, karena putra saya sepetinya tidak akan da-"
"Pernikahan ini akan tetap terjadi!" Suara meng gelegar itu terdengar menakutkan di seluruh ruangan yang tiba-tiba hening itu, terlihat Jonathan berdiri dengan wibawanya di sana, berbeda dengan Alea yang sejak tadi seakan tuli dengan suara yang ada.
Semua tamu melihat pria tampan yang kini mulai mendekati tempat yang akan di adakan ucapan sakral itu, Jonathan berhenti di depan Jesika dan mantap wanita itu dengan kobaran api yang siap membakar hangus dirinya, Jesika menelan ludahnya kasar, apa mungkin Jonathan tau dialah di balik semua ini.
Jonathan Kembali melangkah, dia sampai di hadapan penghulu itu, dia langsung saja duduk di sofa yang sudah di siapkan untuknya, "Segera mulai sekarang, agar saya bisa segera pulang!"
Pak penghulu itu tiba-tiba berkeringat, entah kenapa dia merasa takut dengan pria didepannya ini, pak penghulu itu langsung saja memulia ijab Kabul nya, sehingga tidak lama kata sah mulai terdengar disana, Jonathan langsung saja berdiri dan meninggalkan Alea beserta keluarga yang lain, sehingga membuat tuan Robert merasa ingin membunuh anak lelakinya saat itu juga.
"Silahkan nikmati hidangannya," semua tamu mulai menikmati setiap hidangan yang ada, tuan Robert menyusul Jonathan yang sudah tidak terlihat lagi, pria itu tau Dimana Jonathan berada.
"Apa kamu tidak punya sopan santun!" Jonathan menoleh, namun sama sekali dia tidak menghiraukan ucapan ayahnya, dia lebih memilih menikmati sebotol alkohol yang selalu menemani dirinya selama ini.
"Apa kamu tahu, keluarga Januarta masih ada didepan!"
"Jika sudah selesai silahkan papah keluar dari kamar ini" ujar Jonathan dengan dinginnya sehingga membuat tuan Robert naik pitam, namun pria tua itu juga tidak terkejut, karena Jonathan memang seperti ini sejak kembali lagi ke keluarga Will.
Dia tidak tahu apa yang membuat Jonathan berubah seperti ini, Tuan Robert pun keluar dari sana dan kembali berkumpul dengan yang lain di bawah, "bawa gadis ini kerumah utama saja, jangan biarkan dia tinggal di rumah Jonathan dan Jesika" ujar tuan Robert pada Asisten, Bagas.
"Baik tuan besar" bagas pun berbisik dan di angguki oleh tuan Januarta, Januarta berjalan mendekat putrinya, dia menyentuh pundak wanita yang sudah iya anggap putrinya sejak 10 tahun silam, terlihat Alea terus menunduk sejak tadi dengan tangan yang iya remat sejak tadi, sehingga membuat Alea tersadar.
"Ikutlah dengan pak Bagas nak, semoga kamu bahagia, dan maafkan papah yang tidak bisa berbuat apapun lagi" lirih tuan Adria.
"Papah tidak salah, pasti Alea akan bahagia, jaga Alesha dengan baik pah, semoga prusahaan papah segera membaik, seringlah menjenguk Alea pah, agar Alea masih bisa merasakan memiliki sosok seorang papah" ujar Alea, air mata itu tidak bisa terbendung lagi, dengan cepat dia memalingkan wajahnya, agar papah sambungnya tidak melihat air mata itu.
Alea mulai mengikut langkah asisten Bagas, sesekali dia menoleh menatap papahnya, terlihat pria itu berkaca-kaca, entah kenapa dia begitu menyayangi Alea, sayangnya sama besar dengan Alesha, sehingga tidak lama Alea tidak terlihat lagi.
Tuan Januarta pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu dan mengajak istrinya pulang, dia terus terdiam, dia takut putrinya akan dilukai oleh Jonathan, dia tau seperti apa sepak terjang seorang Jonathan will, apa lagi di bawah tanah.
Satu jam berlalu, Alea sampai dirumah besar keluarga Jonathan will, asisten Bagas membukakan pintu, sehingga membuat Alea kaget, dia segera keluar dari mobil itu, dan menatap bangunan yang begitu luar biasa ini, rumah yang seperti ada di setiap dongeng.
"Silahkan masuk, akan ada Nani yang akan membawa anda ke dalam kamar yang sudah di siapkan untuk anda," Alea hanya mengangguk, dia berjalan begitu pelan, sehingga sampai didepan pintu yang menjulang tinggi itu.
Tidak lama pintu terbuka, terlihat beberapa Nani menggunakan seragam menyambut Alea, 14 Nani itu menunduk hormat melihat kedatangan Alea, Alea berusaha melenturkan pipinya agar bisa tersenyum, meski dia menggunakan cadar dan berhijab, namun jika dia tersenyum masih bisa terlihat dari gerakan matanya.
"Selamat datang nona muda kedua, mari saya antar ke kamar anda," salah satu Nani itu memandu Alea untuk membawa wanita itu kedalam kamar yang sudah di siapkan, Alea terus mengikuti langkah Nani itu, sehingga sampai di lantai tiga, di lantai tiga itu hanya ada dua kamar yang begitu megah, dan ada ruangan untuk gym, dilihat dari warna ruangan itu, seperti tempat pria, apa mungkin itu kamar suaminya, begitulah pikir Alea.
"Ini kamar anda nona, dan ini kamar tuan muda, anda di larang masuk kedalam kamar ini tanpa ijin dari tuan muda, Karana nona muda Jesika saja belum pernah memasuki kamar ini, jadi saya harap anda hati-hati nona muda, agar tidak membuat tuan muda pertama marah"
"Seseram apa dia, sampai semua orang seakan takut padanya, bahkan hanya soal kamar saja seakan sebuah kesalahan," batin Alea, dia tidak menghiraukan saat ijab tadi, andai Alea melihat suaminya tadi, mungkin saja Alea akan terkejut, apa mungkin wanita itu sudah lupa suara yang selama ini dia benci.
Alea hanya mengangguk, dia rasanya masih tidak ingin meski hanya sekedar mengeluarkan suaranya saja, Nani itu membuka pinta dan Alea pun masuk, disana sudah siap semua barang yang dibutuhkan Alea, mulai dari baju gamis bercadar, beserta makeup yang sama persis dengan yang iya pakek, apa mungkin papah Adrian yang memberi tahu semua ini.
Dia duduk di sofa yang ada disana, dia membuka ponselnya dan mencari nama viola, namun dia sama sekali tidak menemukan foto keponakannya itu, dia tidak tau nama marga ayahnya sehingga dia kesulitan sendiri mencari keponakan-nya itu, dia meletakkan ponsel itu di atas meja, dan mulai melepas cadar dan jilbabnya, namun sebelum itu dia mengunci pintu kamar itu, agar tidak ada yang masuk.
Dia menatap wajahnya di cermin, wajah yang selama ini iya sembunyikan dari seluruh dunia, iya menggerai rambut panjang hitam itu, "Ayo Sofia semangat, anggap ini hadiah dari semua yang sudah kamu rasakan selama ini" lirihnya.
Sedangkan di kamar hotel keluarga Will, terlihat seorang pria yang menatap wanita berkaca mata dengan tingkah konyolnya saat memasak dulu, pria itu tersenyum samar, "Aku harap kamu akan selalu bahagia gadis urakan dan ceroboh" gumam Jonathan will, Jonathan mengingat saat selalu bertabrakan dengan Sofia di kantor sahabatnya dulu, dan membuat dia selalu kesal, namun siapa sangka, kejadian itu sekarang, menjadi hal yang begitu iya rindukan.