NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu berjas dan perang Dingin di teras

Suasana haru di dalam rumah mendadak buyar, digantikan oleh ketegangan baru yang aromanya seperti parfum mahal bercampur bensin. Cowok yang berdiri di depan pagar itu tampak seperti keluar dari sampul majalah bisnis; rambutnya klimis, jam tangannya berkilat, dan senyumnya... nah, senyumnya itu yang bikin Eno Surya pengen lempar pakai sandal jepit.

"Gila, itu bunga mawar atau taman bunga berjalan?" bisik Rhea Amara sambil mengintip dari balik gorden.

Bagas Putra tidak menunggu aba-aba. Dia melangkah keluar ke teras dengan tangan masuk ke saku jaket, diikuti oleh yang lainnya yang membentuk barisan di belakangnya seperti bodyguard dadakan.

"Cari siapa?" tanya Bagas, suaranya rendah dan dingin, lebih dingin dari es batu di kantin fakultas.

Cowok itu sedikit terkejut melihat segerombolan mahasiswa yang wajahnya sudah siap tempur. "Saya Arvin. Saya ke sini untuk menjemput Laras. Papa—maksud saya, Pak Gunawan—bilang Laras sudah setuju untuk makan malam bersama keluarga saya."

Dewi Laras keluar dari balik pintu, matanya masih sedikit merah. "Setuju? Gue bahkan nggak tahu lo siapa."

Arvin tersenyum simpul, tipe senyum yang sangat meremehkan. "Oh, wajar. Kita memang baru akan diperkenalkan secara resmi. Tapi saya rasa, kamu tahu posisi ibumu saat ini, kan? Saya di sini untuk memberikan solusi yang elegan."

"Elegan kata lo?" Gia Kirana maju selangkah, melipat tangannya di dada. "Solusi yang lo tawarin itu namanya pemerasan berbasis pernikahan. Di buku hukum mana pun, itu nggak ada istilah elegannya."

"Gia, bener banget! Nilai A buat lo!" celetuk Eno sambil mengacungkan jempol.

Arvin mengabaikan Gia dan menatap langsung ke arah Bagas yang menghalangi jalannya. "Dan kamu... siapa? Sopir? Atau cuma teman yang kebetulan lewat?"

Bagas tertawa kecil, tipe tawa yang bikin orang yang denger jadi waspada. "Gue orang yang bakal bikin lo balik ke mobil itu dalam hitungan tiga kalau lo nggak segera angkat kaki dari teras ini."

"Satu," Eno mulai menghitung dengan suara lantang.

"Dua," Juna ikut menimpali, meski kakinya sedikit gemetar.

Arvin tampak tidak senang. Dia meletakkan buket bunga mawar itu di atas pagar rumah Laras karena tidak ada yang mau menerimanya. "Laras, pikirkan lagi. Masa depanmu bukan di sini, bukan bersama orang-orang yang cuma bisa makan nasi goreng pinggir jalan. Saya tunggu di Jakarta."

Begitu mobil mewah itu melesat pergi, suasana kembali hening. Bunga mawar yang mahal itu tergeletak begitu saja di pagar, tampak sangat asing di lingkungan rumah Laras yang sederhana.

"Gue benci banget sama gaya ngomongnya," gumam Rhea sambil menendang kerikil.

Laras menatap bunga itu, lalu beralih ke Bagas. "Gas, maaf ya. Gara-gara masalah gue, kalian jadi harus ikut campur urusan kayak gini."

Bagas berbalik, menatap Laras dengan tatapan yang jauh lebih lembut daripada saat dia menatap Arvin tadi. "Ras, lo denger sendiri tadi dia bilang apa kan? Dia cuma nganggep lo sebagai 'solusi'. Kita di sini nganggep lo sebagai bagian dari jiwa kita. Jangan pernah ngerasa nggak enak."

"Tapi gimana soal Ibu?" Laras menoleh ke arah dalam rumah, di mana ibunya masih tampak sangat terpukul.

"Gue punya ide gila!" Eno tiba-tiba berseru. "Gimana kalau kita bikin 'Laras Terlihat Sangat Bahagia' supaya si Arvin itu ngerasa kalah sebelum tanding? Kita tunjukin kalau dunia kita jauh lebih seru daripada Jakarta!"

"Itu bukan solusi buat hutang, No," sahut Juna logis.

"Tapi itu solusi buat mental Laras!" balas Eno mantap.

Malam itu, mereka berenam tidak pulang ke rumah masing-masing. Mereka menginap di rumah Laras—tentu saja cowok-cowoknya tidur di ruang tamu beralaskan tikar—untuk memastikan tidak ada tamu tak diundang lagi.

Di tengah malam, saat yang lain sudah terlelap dengan dengkur halus Eno yang mirip suara traktor, Laras keluar ke teras untuk mencari udara segar. Ternyata di sana sudah ada Bagas yang sedang duduk di kursi rotan, memandangi langit malam.

"Nggak tidur, Gas?" tanya Laras pelan.

"Lagi mikir cara dapetin uang miliaran dalam semalam," jawab Bagas sambil terkekeh pelan. Dia menepuk kursi di sebelahnya. "Sini, duduk."

Laras duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin malam.

"Gas... kalau seandainya gue beneran harus pergi, lo gimana?" tanya Laras tiba-tiba, suaranya sangat kecil.

Bagas terdiam cukup lama. Dia menoleh ke arah Laras, menatapnya dengan intensitas yang membuat Laras sulit bernapas. "Gue bakal ke Jakarta. Gue bakal cari lo, terus gue bawa balik ke kantin buat makan bakso bareng anak-anak. Gue nggak akan biarin lo sendirian di sana, Ras. Janji."

Laras merasa ada air mata yang kembali mendesak keluar, tapi kali ini bukan karena sedih. Di tengah ketidakpastian ini, dia menyadari satu hal: Bagas adalah jangkar yang membuatnya tidak hanyut oleh badai.

Namun, di kegelapan seberang jalan, sebuah kamera paparazzi diam-diam mengambil foto kebersamaan mereka berdua. Plot twist yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Pak Gunawan bukan tipe orang yang bermain bersih, dan dia sudah menyiapkan rencana untuk menghancurkan apa yang paling berharga bagi Laras: persahabatan mereka.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!