NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — Alasan untuk Kembali

“Kau kembali terlalu cepat.”

Wanita itu bahkan tidak terlihat terkejut saat menarik daun pintu kliniknya yang berat. Ia berdiri di ambang pintu dengan lengan bersilang di depan dada, mengenakan apron medis yang kini sudah bersih dari noda darah semalam. Wajahnya terlihat lebih lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang menunjukkan bahwa ia tidak mendapatkan istirahat yang cukup setelah insiden pembersihan sisa-sisa peluru semalam.

Leon berdiri di kegelapan gang, diterangi oleh lampu jalan yang berkedip di ujung blok. Jaket hitamnya sudah diganti dengan yang baru, meskipun modelnya tetap sama, memberikan kesan bahwa ia adalah bayangan yang tidak pernah berubah.

“Aku ingin memastikan jahitannya tidak terbuka,” jawab Leon datar. Suaranya hampir tenggelam oleh suara sirene jauh di luar Distrik 6.

Wanita itu menatap Leon selama beberapa detik, seolah sedang memindai kejujuran di balik tatapan pria itu yang dingin. “Kau bisa menunggu sampai pagi seperti pasien normal lainnya, Kurir. Klinik ini bukan unit gawat darurat dua puluh empat jam.”

“Aku tidak tidur,” sahut Leon singkat.

Wanita itu mendesah panjang, sebuah suara yang menunjukkan kepasrahan daripada kekesalan. Ia membuka pintu lebih lebar, memberikan ruang bagi Leon untuk masuk. “Masuklah. Jangan berdiri di sana terlalu lama, kau mengundang perhatian yang tidak perlu.”

Leon melangkah masuk ke dalam klinik kecil itu. Aroma antiseptik dan cairan pembersih kimia langsung menyambut indra penciumannya, menutupi bau amis darah yang sempat mendominasi ruangan ini beberapa jam yang lalu. Lampu neon putih di langit-langit berdengung pelan, menyinari ruangan dengan cahaya yang terlalu steril dan bersih untuk lingkungan kumuh Distrik 6 yang penuh jelaga.

Wanita itu menunjuk ke arah kursi pemeriksaan baja yang ada di tengah ruangan. “Duduk di sana.”

Leon mengikuti instruksi itu tanpa banyak bicara. Ia duduk dengan kaku, punggungnya tegak, matanya terus memperhatikan gerakan wanita tersebut yang kini sedang mengambil sepasang sarung tangan medis dari kotak plastik di atas meja kerja.

“Kau selalu datang tanpa janji, dan selalu di jam-jam yang tidak masuk akal,” komentar wanita itu sambil memasang sarung tangannya. Bunyi karet yang menempel di kulit terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.

“Aku tidak punya kalender,” balas Leon sambil menatap meja logam di sampingnya yang penuh dengan peralatan medis yang tersusun sangat rapi.

“Buka jaketmu,” perintah wanita itu tanpa menoleh.

Leon membuka ritsleting jaketnya perlahan, lalu mengangkat sedikit kaus hitamnya untuk memperlihatkan perban putih yang melingkari perutnya. Wanita itu mendekat, aroma sabun cair dan obat-obatan menguar dari tubuhnya. Jemarinya yang terbungkus lateks menekan pelan di sekitar pinggiran luka, memeriksa kekakuan otot Leon.

Leon tidak bergerak. Ia bahkan tidak menahan napas saat jari wanita itu menyentuh area yang sensitif.

“Tidak ada tanda-tanda robekan,” kata wanita itu setelah melakukan inspeksi singkat.

“Sudah kubilang,” sahut Leon.

Wanita itu mengangkat alis, menatap Leon dengan pandangan yang tajam. “Aku tidak suka pasien yang merasa lebih pintar dari dokternya. Kau mungkin mahir dalam menembak orang, tapi aku yang tahu kapan benang ini akan menyerah pada gerakan tubuhmu.”

Ia membuka perban lama dengan sangat hati-hati. Kulit di sekitar jahitan masih terlihat kemerahan, namun tanda-tanda infeksi yang ditakutkan Gray tidak terlihat. Luka itu bersih, sebuah bukti dari keahlian tangan yang mengerjakannya semalam.

“Kau beruntung,” gumam wanita itu.

“Aku tidak percaya pada keberuntungan,” Leon berkata datar.

Wanita itu mengambil kapas yang sudah dibasahi antiseptik. “Kalau begitu kau punya tubuh yang sangat keras kepala. Luka ini seharusnya membuat orang normal merangkak, bukan berkendara menembus distrik.”

Ia mulai membersihkan luka itu dengan gerakan lembut namun pasti. Leon memperhatikannya bekerja, mengamati bagaimana fokus wanita itu seolah-olah dunia luar yang kacau tidak lagi ada. Ruangan itu jatuh ke dalam kesunyian selama beberapa saat, hanya menyisakan dengungan lampu neon.

“Kau tinggal di distrik ini?” tanya Leon, memecah keheningan.

Wanita itu tidak mendongak, matanya tetap tertuju pada jahitannya. “Sudah beberapa tahun. Tempat ini cukup tenang jika kau tahu cara menutup mulut.”

“Kau tidak takut berada di sini?” Leon bertanya lagi.

Wanita itu berhenti sejenak, menatap mata Leon sekarang. “Takut pada apa? Pada bayangan?”

“Pada orang-orang yang datang ke tempat ini untuk mencari bantuan medis darurat,” kata Leon.

Wanita itu mengangkat bahu sedikit, lalu kembali bekerja. “Orang sakit tidak terlalu berbahaya bagi mereka yang menyembuhkannya. Mereka terlalu sibuk berusaha untuk tetap hidup.”

“Tidak semua orang hanya sakit,” balas Leon.

Wanita itu mulai mengikat perban baru dengan kencang namun rapi. “Dan tidak semua orang yang berbahaya adalah musuhku.”

Leon memperhatikan wajah wanita itu dari jarak dekat. Ada ketenangan yang tidak biasa, sebuah kedamaian yang seolah-olah dipaksakan oleh keadaan. “Kau cukup tenang untuk seseorang yang bekerja di tengah zona perang.”

Wanita itu melepas sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah medis. “Dan kau cukup pendiam untuk seseorang yang memiliki daftar harga di kepalanya.”

Leon berdiri dari kursi pemeriksaan. Rasa nyeri di perutnya sudah jauh berkurang. Ia mengeluarkan segulung uang dari sakunya dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping tumpukan kain kasa.

Wanita itu mendesah pelan, menatap uang itu dengan pandangan lelah. “Ini terlalu banyak lagi, Kurir.”

“Untuk waktu malam yang kau berikan,” jawab Leon.

Wanita itu mendorong uang itu kembali ke arah Leon dengan ujung jarinya. “Kau sudah membayar biaya operasi darurat semalam. Ini hanya pemeriksaan singkat. Simpan uangmu.”

Leon menatap uang itu sebentar, lalu menatap wanita itu. Ia memasukkan kembali uang tersebut ke dalam saku jaketnya tanpa berdebat. “Kau dokter yang sangat buruk dalam urusan bisnis.”

Wanita itu tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang hampir tidak terlihat jika Leon tidak memperhatikannya dengan seksama. “Aku tidak membuka klinik di gang buntu Distrik 6 untuk menjadi kaya.”

Leon berjalan menuju pintu. Sebelum tangannya menyentuh gagang kayu, wanita itu kembali bersuara.

“Hey.”

Leon berhenti, bahunya menegang sesaat.

“Kau seharusnya tidak terlalu sering kembali ke sini,” kata wanita itu. Ia menunjuk ke arah jendela kecil di samping pintu yang tertutup tirai tipis.

“Kenapa?” tanya Leon sambil menoleh sedikit.

“Distrik ini punya banyak mata yang bersembunyi di balik kegelapan,” wanita itu menjelaskan dengan nada rendah. “Orang-orang akan mulai bertanya-tanya mengapa seorang pria dengan motor hitam sering mengunjungi klinik yang seharusnya sudah tutup.”

Leon melihat ke arah jendela. Lampu jalan di ujung gang masih berkedip pelan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di atas aspal. “Mereka selalu bertanya tentang banyak hal.”

Leon membuka pintu, membiarkan udara malam yang lembap masuk kembali ke dalam ruangan yang hangat. “Tapi tidak semua orang mendapatkan jawaban.”

Wanita itu berdiri di belakang mejanya, sosoknya tampak kecil di antara rak-rak obat yang tinggi. “Tidak semua pertanyaan bisa kau jawab dengan pistol.”

Leon tidak menjawab. Ia melangkah keluar ke gang yang sunyi, meninggalkan kehangatan klinik itu. Motor hitamnya masih terparkir di tempat yang sama, tertutup bayangan gudang. Saat ia mengenakan helm dan mengunci visor-nya, suara Gray muncul kembali di earpiece.

“Kau baru saja keluar dari klinik itu lagi, Leon.”

Leon menyalakan mesin motor, suaranya menggelegar di gang sempit. “Ya.”

“Kau kembali terlalu cepat, polamu mulai terbaca,” Gray berkomentar dengan nada khawatir.

Leon memutar gas sedikit, merasakan getaran mesin di telapak tangannya. “Aku hanya ingin memastikan luka itu tidak akan menghambat gerakanku besok.”

Gray tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu dengan suara statis halus. “Aku memeriksa ulang data tentang klinik itu melalui jalur deep-web dan arsip kota lama.”

Leon mulai menjalankan motornya perlahan keluar dari gang. “Dan?”

“Ada sesuatu yang sangat aneh, Leon,” suara Gray terdengar pelan dan serius. “Klinik itu tidak pernah terdaftar secara resmi dalam sistem medis kota mana pun, bahkan di arsip bangunan tua yang sudah dihapus.”

Leon berhenti sejenak di ujung gang, menatap ke arah pintu klinik yang sudah tertutup rapat kembali melalui spion motornya. “Banyak klinik ilegal di Distrik 6 yang melayani orang-orang tanpa identitas.”

“Benar, itu hal biasa di Valmere,” Gray mengakui. “Namun ada satu detail yang menggangguku.”

“Apa?”

“Dokter yang baru saja menjahit perutmu itu,” Gray menjeda kalimatnya sejenak. “Namanya tidak ada. Wajahnya tidak muncul di database pengenalan wajah warga kota manapun selama dua puluh tahun terakhir. Secara hukum dan administratif, wanita yang baru saja menyentuhmu itu tidak pernah ada.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!