NovelToon NovelToon
Tuhan, Dia Titipan Sahabatku

Tuhan, Dia Titipan Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Persahabatan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nufierose

“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”

Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.

Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.

Bayu Putra!

Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?

“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”

Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.

“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?

Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.

Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.

“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”

Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.

“Mah!”

“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”

Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?

Tidak!!

Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA DAN RAHASIA DI BALIK LAYAR

Setiap bait ucapan dari Bunda, wanita yang seharusnya menjadi ibu mertuanya itu, terus terngiang-ngiang di telinga Vina bagai kaset rusak. Ia dipaksa sadar bahwa Arka sama sekali tidak bersalah, pria itu juga tidak pernah meminta berada di posisi sesulit ini.

Kini Vina baru saja menyadari sebuah kenyataan pahit. Arka datang jauh-jauh dari Italia hanya demi menghadiri pernikahannya dengan Bayu.

Seluruh waktu dan tenaga ia korbankan untuk pulang ke Indonesia, tapi skenario takdir berubah dalam sekejap mata. Bukan menjadi saksi yang duduk di kursi undangan, justru dialah yang berakhir di pelaminan sebagai pengantin pria.

Kaget? Sudah pasti!

Andai Arka egois, ia bisa saja menolak mentah-mentah tawaran itu dan pergi, membiarkan semuanya runtuh sesuai semestinya—yaitu pernikahan yang dibatalkan. Tapi Arka justru kembali memilih jalan pengorbanan, ia merelakan dirinya menjadi pengganti demi sebuah kehormatan keluarga.

Kecewa?

Ya!

Mungkin hanya Arka yang benar-benar bisa merasakan kepedihan itu, meski ia tak pernah membiarkan satu tetes kekecewaan pun tumpah ke permukaan. Justru, lelaki tampan itu malah sibuk menjadi tabib, berusaha menyembuhkan hati Vina yang masih bersimbah luka duka.

Vina kembali terhanyut dalam renungan panjangnya saat melangkah di pinggir jalan. Ia bahkan tak lagi mengindahkan suara klakson motor yang terus menjerit di belakangnya.

“Vina, awas!”

Bugh!

Tubuh Vina terpental. Gadis itu memejamkan mata erat, merasakan sensasi melayang seolah berada di awan-awan, namun sedetik kemudian sayup-sayup ia mendengar suara bariton yang begitu lembut merayap masuk ke dalam telinganya.

“Vie... kamu tidak apa-apa?” Si pemilik nama perlahan membuka mata dan langsung mendapati seorang pria yang kini berada di bawah tubuhnya. Arka sosok yang sejak tadi memenuhi rongga pikirannya.

“Kha?”

“Kamu gak apa-apa, Vie?”

Arka mengulang kembali pertanyaannya dengan nada cemas, namun tak lama kemudian ia menyadari sesuatu.

Cairan kental hangat berwarna merah mulai merembes dari kepala belakang Arka.

Ya!

Pria itu mengalami pendarahan. Kepala belakangnya terbentur batu yang cukup besar dengan dentuman yang sangat kuat.

Tapi anehnya, Arka tidak merintih kesakitan sedikit pun.

“Vie? Mana yang sakit?”

Gadis itu masih membatu, matanya terpaku melihat darah di kepala Arka mengalir deras ke bawah hingga menetes di punggung tangannya sendiri.

"Arka, kamu berdarah..." suara Vina bergetar hebat.

Arka tersentak pelan. Ia melihat tangan Vina yang sudah terlumuri darah segar miliknya.

“Bangunlah..”

Arka menarik lembut tangan istri barunya ini untuk berdiri. Sejak tadi memang Arka panik mencari keberadaan Vina. Satpam di depan kompleks memberitahunya jika Vina sudah pulang menggunakan Ojek Online, tapi kenapa ia belum juga sampai ke rumah? Dan benar dugaan Arka, istrinya itu mampir ke rumah mendiang Bayu.

“Vina tadi ke sini, Nak. Tapi sudah pulang lima menit yang lalu,” begitu kata Sari tadi.

Arka sempat limbung mendengar itu. Rumah Vina dan Bayu berhadapan, dan bagaimana bisa ia tidak menyadari Vina pergi? Arka terus berlari menyusuri jalanan, bahkan si tampan itu mengelilingi kompleks perumahan dengan napas tersengal.

“Itu dia Vina...” Arka sempat tersenyum saat melihat siluet Vina di seberang jalan, tapi senyum itu luruh seketika saat mendapati Vina melamun seraya berjalan tanpa mengamati sekitar.

Sebuah motor melaju sangat cepat ke arahnya. Arka mendelik ngeri, ia berulang kali meneriaki nama Vina, tapi rupanya gadis itu masih terbuai dengan lamunannya sendiri.

Tanpa pikir panjang, Arka berlari sekuat tenaga menyelamatkan Vina. Alhasil, keduanya terjatuh dengan posisi Vina yang mendarat tepat di atas tubuh Arka.

Kini, dengan langkah gontai, Vina menuntun Arka kembali ke rumah mereka.

“Kha, itu pasti sangat sakit..”

Vina mengambil baskom air hangat dan sapu tangan kecil. Dengan tangan gemetar, ia membersihkan sisa-sisa darah di kepala Arka. Luka itu terlihat begitu nyeri hingga Vina ikut merintih merasakannya.

“Kamu kenapa?”

“Hem?”

Vina yang sedang fokus pada luka di kepala Arka langsung menoleh.

Pandangan keduanya bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

“Kenapa apanya, Kha?”

Arka sedikit memiringkan tubuhnya, menatap Vina yang sepertinya masih tidak menyadari betapa fatal letak kecerobohannya tadi.

“Kamu... kenapa kamu melamun di jalanan? Kamu menyeberang tapi pandanganmu kosong begitu.”

Vina mengembalikan sapu tangannya pada baskom air hangat itu. Ia menyadari bahwa ia memang melamun, tapi ia tidak menyangka dampaknya akan seberbahaya ini.

“Kamu tahu kan, kamu bisa saja terluka parah karena kecerobohanmu itu!”

Vina menunduk dalam. Sejak dulu, ia memang selalu takut jika sudah dimarahi oleh Arka. Karena jika dibandingkan dengan Bayu, Arkalah yang lebih sering menasihatinya, bahkan tak jarang Arka mengomel panjang lebar menghadapi kebiasaan Vina yang sering ceroboh.

“Maaf... aku gak sadar.”

Arka mengusap wajahnya gusar; ia benar-benar cemas tadi. Apalagi ketika tahu Vina pulang sendirian, gadis itu pasti akan banyak melamun dan benar saja dugaan itu terjadi.

Beruntung ada Arka yang siaga menolong, jika tidak, mungkin Vina sudah terbaring di rumah sakit sekarang.

“Kamu jadi pulang besok, Kha?”

“Aku sedang bicara padamu, Vie, dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan ini.”

Vina kembali menunduk, ia merasa terpojok. Ya, beginilah Arka ia memang selalu posesif meski dulunya hubungan mereka hanya sebatas sahabat, tapi perhatian Arka memang selalu melebihi siapa pun.

“Lihat aku, Vie..” Arka menarik kedua tangan Vina dengan lembut sehingga otomatis gadis itu langsung mengangkat kepalanya. Lebih dekat kini, keduanya berhadapan muka dengan muka.

“Aku cemas sejak tadi karena kamu tidak mau aku jemput, tapi kenapa tidak langsung pulang? Dan jika memang kamu ingin mampir ke rumah Bunda, kenapa tidak mengabari aku? Baiklah, mungkin setidaknya beritahu Mama, itu jika kamu merasa segan mengirim pesan padaku.”

Vina dirundung rasa bersalah yang hebat. Karena kecerobohannya, Arka harus terluka.

“Maafkan aku, Kha.. aku tahu aku salah.” Arka mengangguk pelan, ia mengusap kepala Vina yang masih menunduk ketakutan.

“Maaf, aku membuatmu takut.”

Kedua mata Vina mulai berkaca-kaca. Kekurangan gadis ini yang paling sulit dihilangkan adalah ia selalu menangis saat seseorang memarahinya. Jangankan dimarahi, nada bicara yang sedikit meninggi saja sudah cukup membuat Vina bersedih.

Itulah yang membuat hubungan asmaranya dengan Bayu dulu sering putus-nyambung dan biasanya sesaat setelah putus, Arkalah yang menjadi penengah hingga mereka rujuk kembali.

Arka memang sangat berjasa bagi hubungan Bayu dan Vina, dan kini ia tak menyangka justru dialah yang duduk menggantikan posisi Bayu.

Arka menarik Vina ke dalam pelukannya. Ia tahu gadis ini sudah di ambang tangis, dan benar saja, isakan Vina langsung pecah.

“Maafkan aku, Kha... kamu jadi terluka gara-gara aku.”

Arka mengangguk pelan sembari terus mengusap kepala belakang Vina dengan kasih sayang.

“Sudah aku maafkan, Vie. Aku tidak marah, aku hanya mengkhawatirkan kamu.”

Mala mengintip dari ambang dapur dan melihat pemandangan itu. Ia hanya bisa tersenyum tipis, merasa yakin bahwa Arka perlahan-lahan pasti mampu melembutkan hati putrinya.

“Kha?”

“Hem?”

Arka melepaskan pelukan, membantu menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi Vina.

“Kamu jadi besok balik ke Italia?”

Arka terdiam sejenak. Sejak tadi, hal inilah yang membebani pikirannya; bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan istrinya sendirian di sini? Gadis yang baru saja ia nikahi dalam keadaan terluka.

“Ikut sama aku, yuk!”

Vina terpaku menatap wajah Arka yang, sialnya, terlihat begitu tampan. Vina memang mengakui sejak dulu kalau sahabatnya ini sangatlah menawan. Garis darah 'Opa Korea' yang mengalir di tubuh Arka membuatnya semakin terlihat karismatik sekarang.

“Aku?”

“Iya, kamu.” Vina perlahan melepaskan pegangan tangan Arka.

“Memang kamu gak akan pulang lagi ke sini, Kha?”

Arka tersenyum lebar. Ia menyadari sebuah perubahan positif saat ini istrinya sudah bisa diajak bicara dan tak lagi hanya diam merenung.

Arka sangat mensyukuri hal itu.

“Ya balik ke sini dong... kan istri aku ada di sini.”

“Berarti perceraian kita tidak jadi?”

“Tidak!”

Arka langsung memotong kalimat itu dengan tegas. Ia sudah tahu apa yang ingin Vina katakan dan jawabannya adalah tidak. Arka tidak akan pernah mau melakukannya.

“Jangan membuat lelucon, Vie. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu.”

“Lalu?” tanya Vina lagi dengan nada yang mulai bergetar. Gadis itu masih memendam rasa sedih yang dalam.

“Lalu apa? Kita akan tetap menjalani pernikahan ini.” Vina mengembuskan napas panjang. Entahlah, ia sendiri bingung harus mulai dari mana. Rasanya sangat canggung, apalagi saat harus berada di dalam kamar berdua.

Dulu Arka masuk ke kamar Vina mungkin hanya untuk membangunkannya atau numpang istirahat sebentar, tapi kini mereka harus tidur di ranjang yang sama.

Tidak!

Rasanya Vina belum terbiasa dengan semua ini.

“Jangan berpikir aneh-aneh lagi, nanti yang ada kamu melamun lagi di jalan. Jalani saja apa yang ada sekarang, jangan dijadikan beban pikiran.”

“Apa bisa?”

“Bisa! Kita bahkan belum mencobanya, jadi wajar kalau kamu masih belum yakin.”

Mala mengembuskan napas lega dari kejauhan; akhirnya Arka bisa berbincang dengan Vina. Walaupun suasananya masih terasa sedikit dingin, setidaknya putrinya itu sudah mau membuka diri.

“Besok siang aku akan balik ke Italia. Mungkin aku butuh waktu untuk benar-benar bisa menetap di sini. ada beberapa urusan penting yang harus kuselesaikan.”

Arka menatap Vina dalam-dalam sembari memegang kedua pipinya dengan lembut.

“Kha? Sefana bagaimana?”

Arka menghela napas berat. Itu adalah satu persoalan yang belum sanggup ia pikirkan, tapi biarlah itu menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat untuk ia hadapi nanti.

“Biar itu menjadi urusanku.”

Vina meremang. Entah mengapa hatinya tiba-tiba menjadi gelisah sekarang.

“Kamu ikut aku, mau ya?” Vina langsung menggeleng cepat. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

Biarlah ia menunggu kepulangan suaminya; apa pun keputusan dan keadaannya nanti, Vina akan menerimanya.

“Aku tunggu kamu di sini saja.”

“Kamu yakin?” Vina mengangguk mantap. Ia tidak mau menjadi beban saat ikut dengan Arka nanti, karena ia tahu Arka adalah pria yang sangat sibuk jika sudah terjun ke pekerjaannya.

“Kha?”

“Iya?” Si tampan itu menoleh, tadinya ia ingin menghubungi seseorang, namun niat itu ia urungkan.

“Kenapa, Vie?” tanya Arka lagi dengan senyum andalannya yang hangat.

“Kabari aku jika kamu berubah pikiran, aku bisa menggugatmu dan kita bercerai.”

Ucapan Vina terhenti seketika karena satu telunjuk Arka menahan bibirnya. Apa pun yang terjadi, Arka paling benci kata perceraian, dan itu tidak akan pernah terjadi dalam kamusnya.

“Jangan pernah bicarakan lagi soal perpisahan, bisa kan, Vie? Kamu tahu kan, sejak dulu aku paling tidak suka dengan kata perpisahan.”

Vina mengangguk pelan, kedua matanya kembali berkaca-kaca.

“Tapi kamu dengan Sefana akan berpisah, Kha. Bukankah itu juga sebuah perpisahan?”

Arka menggigit bibir bawahnya. Ia tak mau memikirkan hal lain, fokus utamanya saat ini hanyalah Vina.

Ia berharap saat ia pergi nanti, Vina bisa menjaga diri dengan baik karena ia takut Vina akan ceroboh lagi.

“Kamu bisa janji satu hal padaku?” Kedua alis Vina mengerut bingung; ia bertanya apa, tapi malah dijawab apa. Entahlah, mungkin Arka memang tidak mau membahas Sefana sekarang.

“Apa itu, Kha?”

“Berjanjilah akan selalu baik-baik saja selama aku pergi? Jangan berbuat sesuatu yang akan merugikan dirimu sendiri.”

Vina tersenyum tipis lalu mengangguk, dan Arka yang melihatnya ikut tersenyum lega.

“Ini yang sangat kurindukan...”

“Apa?”

“Senyuman kamu.” Vina tersipu malu. Entah sejak kapan Arka bisa bicara semanis itu bukannya biasanya dia cuek dan terkesan bodo amat?

“Pergilah... aku akan menunggu kamu di sini.”

Arka mengusap lengan Vina dengan napas yang terasa sedikit lebih ringan.

“Aku janji akan segera pulang.”

Krukuk...

Vina menahan senyumnya seketika. Ia baru menyadari betapa laparnya perutnya sekarang karena sejak siang tadi ia belum menyentuh makanan apa pun.

“Kamu lapar?” Dengan malu-malu, Vina menganggukkan kepala.

“Sepertinya Ibu masak, atau kamu ingin makan sesuatu yang lain?”

Vina meletakkan satu telunjuknya di dagu, seolah sedang memikirkan sesuatu yang lezat.

“Aku kepingin makan Pizza deh..” Arka langsung mengangguk mengiyakan keinginan istrinya.

“Ya sudah, kamu ganti baju dulu, setelah itu kita keluar.”

“Gak mau!”

Loh? Arka jadi kebingungan sendiri menghadapi sikap istrinya.

“Maksudnya bagaimana?”

“Aku mau pesan saja, makannya di rumah sambil menonton drakor!”

Baiklah, Arka menurut saja. Ia memberikan ponselnya dengan senyuman yang masih merona di wajah.

“Pesan saja secara online, pakai ponselku.” Dengan bersemangat, Vina mengambil ponsel Arka, namun layarnya terkunci. Vina yang bingung langsung menatap pria di depannya.

“Kata sandinya adalah bulan dan tahun kelahiranku.” Vina langsung mengangguk ia sudah sangat hafal angka itu jadi tidak perlu bertanya lagi. Namun, baru saja ponsel itu terbuka, sebuah notifikasi pesan tampil di layar, pesan yang membuat senyum Vina seketika luruh ke bumi.

“Miss you Honey, kapan kamu pulang?”

Deg!

1
Nurgusnawati Nunung
Hadir..
Siti Patimah
bentar lagi botak itu kepala arka, yg satu istri, yg satu, tunangan, cari satu lg ka swlingkuhan biar pas😄😄😄
Siti Patimah
dag dig duk bacanya, smangat up nya kak💪💪💪
Siti Patimah
cinta yg rumit, tapi aku suka, bacanya kayak ada tantangan, setiap episode sllu di tunggu up ny
Nufie: terimakasih kak😍 jangan lupa follow authornya yaaa🙏
total 1 replies
Sumarni Ris
lanjutkan ceritamu bagus
Nufie: trimakasih kak.. jangan lupa follow authornya yaa😍
total 1 replies
Siti Patimah
sabar ya ka, kamu hanya butuh waktu, smnagt ka, buat isteimu klepek2 ya
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🌻🌻🌻
Muna Junaidi
Nabung dulu ya thor💪💪
Nufie: siap kak.. jangan lupa follow authornya yaa
total 1 replies
Siti Patimah
kalo horang kaya mah bebas yak, dari italia pulang ke tanah air cuma buat ngadirin reunian gak sampe 5 menit🤣🤣🤣
Nufie: hahaha
total 1 replies
Siti Patimah
hay kak aku baru mampir kak tapi aku suka ceritanya,
Nufie: haii kak.. terimakasih sudah mampir
jangan lupa follow autornya yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!