Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Ketidakpercayaan
"Kalian kenapa? ini sudah malam waktunya orang tidur" Kata ayah nindi.
"Kamu pulang!" Usir nindi.
"Aku belum selesai" Tolak David.
"Aku bilang pulang!" Usir nindi lagi.
"Nindi? jangan teriak teriak, gak enak di denger orang"
"Suruh dia pulang ayah" Nindi mulai terisak.
Ayah nindi menyadari bahwa hubungan kedua anaknya sedang tidak baik baik saja.
"David kamu pulang ya nak, besok lagi kamu dateng, ini sudah malam gak enak sama tetangga" Kata ayah.
David ingin menolaknya keras, tapi bagaimanapun ia marah ia masih tetap bisa sadar dan menghargai ucapan laki laki tua di depannya ini.
"Aku pengen kamu dateng ke kantor besok" Kata David.
Nindi tak menjawab hingga ayahnya kembali bersuara. "Besok ayah bilangin ke nindi, kamu pulang dulu ya?" Pintanya.
David mengangguk setuju dan pulang setelah berpamitan, ia tak mungkin mendebat keinginan ayah nindi lagi.
"Nin? ada apa?" Tanya sang ayah khawatir.
Tangis nindi pecah saat ayahnya bertanya, sulit menjelaskan bagaimana perasaannya kali ini, jika ayahnya tau bagaimana David menuduhnya mungkin ia akan marah pada David, dalam hati kecil nindi ia tak ingin semua itu terjadi.
"Udah jangan nangis kalo gak mau cerita sekarang gak apa apa, ayo kita istirahat!" Ajaknya.
Nindi mengangguk setuju dengan ayahnya, mungkin besok pagi ia akan mencari alasan lain untuk bercerita pada ayahnya, untuk kali ini nindi ingin beristirahat sebentar dari hari yang sangat melelahkan.
...****************...
Keesokan paginya....
"Nindi?" Panggil sang ayah lembut, nindi menghentikan pergerakan tangan nya yang sedang mengoles selembar roti tawar dengan selai kacang nya.
"Kenapa ayah?"
"Sebenernya kamu ada masalah apa sama David, kenapa kalian bertengkar?" Tanyanya.
"Nindi juga gak tau darimana mulai ceritanya" Balasnya.
Pria tua itu menepuk kursi sebelahnya untuk mengisyaratkan nindi duduk, rupanya ayah nindi menagih janji putrinya untuk bercerita.
"Cerita sama ayah, mungkin ayah bisa bantu" Katanya.
"Nindi udah bilang ayah, nindi udah bilang kalau nindi cinta sama David, tapi dia tetep marah dan gak percaya, seolah semua ucapan nindi adalah bohong" Ujarnya dengan suara bergetar
Nindi mengedipkan matanya berkali kali saat di rasa ia akan segera menangis, ia tak ingin membuat ayahnya merasa khawatir.
"Ayah udah pernah sampaikan ini sama kamu, ayah itu tau sikap kamu, dan ayah juga tau kalau David itu yang pertama buat kamu, ayah mengerti kamu akan kesulitan sama hubungan kamu ini nindi"
"Apa kurang cukup nindi bilang? kenapa dia masih gak percaya? bahkan nindi berusaha jadi pacar yang baik walaupun terlambat" cicitnya pelan.
"Hubungan kalian ini kan baru, kalian sama sama gak pernah menjalin cinta sebelumnya, mungkin David berekspetasi lebih tentang hubungan ini, mungkin sebelumnya dia mikir kalau kamu akan sesuai dengan apa yang dia mau, akhirnya ketika dia tidak mendapatkan itu semua egonya tersakiti dan dia marah, itu wajar nindi"
"Ayah gak tau aja dia itu jahat ayah!" Nindi mulai menangis.
"Jahat kenapa? dia ngomong apa?" Tanyanya.
"Aku gak mungkin ngomong tentang ini ke ayah, gimana kalau ayah marah banget nanti" Batin nindi.
"Ya ada, jelek banget marahnya" Ujar nindi pelan.
"Ya kalau kamu gak mau cerita gak masalah, jangan kalian bertengkar ya? maafin dia, semalam dia ngomong ke ayah dan nyuruh kamu dateng ke kantor, datang ya?" Pinta sang ayah.
Anggap saja nindi egois, namun perkataan David selalu terngiang dan tak bisa berhenti membuatnya merasa kecewa.
"Nindi gak mau, nindi mau nenangin diri dulu" Tolaknya.
"Ya udah ayah ngerti"
Tok tok tok...
Nindi melihat jam dinding, pukul 9 pagi, siapa yang datang? apakah David?
"Ayah buka pintunya kamu makan dulu" Kata ayah nindi sambil berdiri.
"Ayah! aku aja" Nindi menghentikan pergerakan ayahnya.
Pria tua itu mengangguk dan kembali mendudukkan dirinya di meja makan, nindi berjalan ke depan dan membuka pintu nya.
Sudah ia duga, David yang datang.
"Kamu ngapain ke sini?" Tanya nindi.
"Aku udah bilang ke kamu buat dateng ke kantor kan? ini udah jam 9 kenapa kamu gak dateng?" Tanyanya.
Nindi menutup pintu rumahnya dan menarik David menjauhi rumahnya, ia berjalan di tepi jalan dan berhenti di sana.
"Aku gak mau kerja lagi!" Tolaknya.
"Kenapa? karna kamu tau aku udah pecat raka?" Tanyanya.
"Kamu pecat raka?!" Tanya nindi kaget.
"Ya, aku suruh dia beresin barang barangnya hari ini" Balas David.
"Jahat kamu! dia salah apa?!" Nindi membentak.
"Kamu yang salah, ini semua gara gara kamu, karena dia kamu gak pernah cinta sama aku" Katanya.
"Dave aku tau kamu cemburu! tapi aku sama sekali gak suka sama raka!"
"Dan kamu juga sama sekali gak pernah suka sama aku, kenapa nin?"
"Stop!" Nindi mendorong dada David.
Ia ingin sekali kembali melayangkan tamparan nya pada pria didepan nya ini.
"Kenapa kamu gak pernah cinta sama aku nindi? setelah bertahun tahun aku nunggu kamu kenapa kamu gak pernah suka sama aku nindi?" David tersulut emosi, pria itu berbicara dengan nada bergetar, rahangnya menegas dengan urat urat yang menyembul di balik wajah nya yang tampan.
"Aku cinta sama kamu Dave! dari dulu!" Teriak nindi, ia menyerah, kenapa pria ini begitu keras tak mempercayainya.
"Dulu? maksudnya dulu saat kamu nolak aku? itu cinta?" Tanyanya.
"Ya karena... "
"Dan sekarang kamu bisa seenaknya deket sama orang lain saat kamu punya hubungan sama aku, itu cinta?"
"Kamu salah paham!"
"Kenapa aku gak pernah ngeliat senyum kamu saat sama raka, kamu gak pernah senyum ke aku kaya gitu, itu cinta? atau ya seperti yang aku bilang bahwa selama ini kamu nerima aku cuma buat manfaatin aku doang, iya kan?"
"Kita putus!" Sahut nindi.
"Berarti bener?"
"Aku bakalan biarin kamu hancur sama pikiran kamu sendiri, semoga kamu nyesel! jangan pernah temui aku lagi!" Nindi meninggalkan David di tepi jalan setelah nya.
"Nindi?" Panggil David lirih.
"Nindi aku bisa gila nindi!" Teriaknya.
...****************...
Tok tok tok....
Ivan sudah beberapa kali mengetuk pintu ruangan David namun laki laki itu tak membukanya dari dalam.
Ia tak punya pilihan lain selain masuk tanpa izin, ivan pun membuka ruangan david.
"Loh? kok gak ada?" Tanyanya heran.
Ia memang tak tahu pasti apakah David sudah datang atau belum hari ini, Ia datang hanya untuk memastikan keadaan sang sahabat setelah mendengar kabar tentang pertengkaran David dan nindi.
Saat ivan akan pergi matanya tak sengaja menangkap paper bag coklat di bawah meja, pria itu merasa penasaran dan mengambilnya.
"Apa ini?"