Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Setelah tangis dan teriakan itu perlahan mereda, keheningan kembali mengisi ruangan besar yang terasa terlalu luas untuk seorang diri. Nadia masih meringkuk di atas ranjang, selimut menutupi tubuhnya hingga ke leher. Napasnya belum sepenuhnya stabil, tetapi detak jantungnya tidak lagi berpacu seliar sebelumnya. Tubuhnya masih gemetar, namun kali ini bukan karena kepanikan yang meledak-ledak, melainkan kelelahan yang mendalam, kelelahan fisik dan mental yang menekan hingga ke dasar kesadarannya.
Melia berdiri tidak jauh dari ranjang, menjaga jarak seperti yang ia janjikan. Sikapnya tenang, bahunya tegak, wajahnya lembut tanpa sedikit pun menunjukkan paksaan. Ia menunggu, memberi ruang, membiarkan Nadia mengatur napas dan pikirannya sendiri.
Beberapa menit berlalu sebelum Melia akhirnya berbicara.
“Nona Nadia,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan berhati-hati, seolah takut memecah keseimbangan rapuh yang baru saja tercipta. “Bolehkah saya mendekat sedikit?”
Nadia tidak langsung menjawab. Ia menatap ujung selimut, jari-jarinya mencengkeram kain itu erat. Ada rasa curiga yang masih tertinggal, wajar dan tidak bisa dipersalahkan. Namun di sisi lain, ada pula rasa lelah yang membuatnya ingin berhenti melawan segala sesuatu.
“Kenapa?” tanya Nadia akhirnya, suaranya parau.
“Saya ingin meminta izin,” jawab Melia jujur. “Punggung Anda terlihat memar. Saya membawa gel yang bisa membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Rio sudah menyiapkannya sebelumnya.”
Nama itu membuat Nadia mengernyit. Rio. Sosok yang selama ini ia lihat berdiri di sisi Arya, setia dan patuh. Mendengar bahwa sesuatu telah disiapkan untuknya jauh sebelum ia sadar sepenuhnya menimbulkan perasaan campur aduk di dadanya antara kesal, bingung, dan sedikit rasa aman yang enggan ia akui.
Nadia terdiam cukup lama. Ia menimbang-nimbang. Tubuhnya memang terasa sakit, setiap gerakan kecil memicu rasa perih yang menyebar hingga ke tulang punggung. Namun gagasan disentuh kembali oleh siapa pun membuat bahunya menegang.
“Aku…” Nadia menarik napas dalam-dalam. “Aku ingin membersihkan diri dulu.”
Kalimat itu keluar dengan suara lemah, hampir seperti permintaan maaf.
Melia mengangguk tanpa ragu. “Tentu. Saya akan menyiapkan air hangat untuk Anda berendam.”
“Tidak,” potong Nadia cepat, sedikit panik. Ia menggeleng. “Aku bisa melakukannya sendiri.”
Nada suaranya bukan marah, melainkan defensif seolah ia sedang melindungi sisa kendali yang masih ia miliki. Nadia tidak terbiasa dilayani. Sejak kecil, ia terbiasa mengurus dirinya sendiri. Hidup sederhana mengajarkannya bahwa meminta bantuan sering kali berarti menjadi beban bagi orang lain. Dilayani oleh orang asing di rumah yang bukan miliknya membuat dadanya terasa sempit.
Melia tidak membantah. Ia hanya mengangguk sekali lagi, menerima batas yang Nadia pasang.
“Baik,” katanya lembut. “Kalau begitu, izinkan saya membantu Anda berdiri.”
Nadia hendak menolak, namun begitu ia mencoba menggeser tubuhnya, rasa nyeri yang tajam menjalar dari punggung ke pinggangnya. Ia terisak kecil tanpa sadar, lututnya melemas sebelum sempat benar-benar turun dari ranjang.
Melia bergerak cepat namun tetap terkendali. Ia tidak menyentuh Nadia secara tiba-tiba ia menunggu, mengulurkan tangan dengan jarak yang sopan.
“Pegang lengan saya,” ujarnya. “Pelan-pelan saja.”
Dengan ragu, Nadia menerima bantuan itu. Berat badannya bertumpu sebagian pada Melia saat ia berdiri. Setiap langkah terasa seperti ujian kesabaran. Dari cara Nadia menahan napas, dari kaku tubuhnya, Melia tahu dan ia tidak perlu bertanya betapa berat malam yang telah dilewati gadis ini.
Dalam hati, Melia bergidik.
Ia sudah lama bekerja di lingkungan yang keras. Ia tahu sisi gelap dunia orang-orang berkuasa. Namun melihat langsung dampaknya pada seseorang yang begitu rapuh membuat perutnya terasa melilit. Ia tidak bisa membayangkan seberapa buas tuannya semalam. Pikiran itu membuat rahangnya mengeras, meski wajahnya tetap tenang.
Saat mereka sampai di depan pintu kamar mandi, Nadia perlahan melepaskan pegangan Melia. Ia berdiri sendiri, meski tubuhnya masih sedikit goyah.
“Sampai di sini saja,” ucap Nadia lirih.
Melia mengangguk. “Saya akan menunggu di luar. Jika Anda membutuhkan bantuan, cukup panggil saya. Saya tidak akan masuk tanpa izin.”
Nadia mengangguk kecil sebagai jawaban, lalu melangkah masuk.
Pintu kamar mandi menutup pelan di belakangnya.
Begitu berada di dalam, Nadia tertegun.
Kamar mandi itu begitu luas bahkan lebih besar dari kamar kosnya. Lantai marmer mengilap, dinding berlapis batu alam, bak mandi besar terletak di tengah ruangan, dilengkapi keran modern yang berkilau. Di sudut lain, terdapat shower terpisah dengan dinding kaca bening. Rak-rak tertata rapi, berisi handuk tebal dan perlengkapan mandi dengan aroma lembut.
Nadia menghela napas panjang.
“Orang kaya memang selalu boros,” gumamnya pahit.
Ada rasa asing berdiri di ruang semewah ini seolah ia adalah penyusup di dunia yang bukan miliknya. Dunia yang dibangun dengan uang, kekuasaan, dan keputusan sepihak.
Ia berjalan tertatih menuju wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya masih pucat, matanya sembab, namun ada sesuatu yang berbeda di sana tatapan yang mulai kembali fokus, meski luka di dalamnya masih menganga.
Nadia menyalakan keran, membasuh wajahnya perlahan. Air dingin menyentuh kulitnya, sedikit menyadarkannya dari kabut pikiran. Ia melepaskan kimono handuk dengan gerakan hati-hati, lalu masuk ke dalam bak mandi yang telah terisi air hangat. Tubuhnya tenggelam perlahan, dan untuk sesaat, ia menutup mata.
Air hangat meredakan nyeri, meski tidak sepenuhnya menghapusnya. Nadia menggosok kulitnya perlahan, seolah ingin menghilangkan bukan hanya keringat, tetapi juga sisa-sisa rasa asing yang menempel. Ia bernapas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya.
Di luar kamar mandi, Melia bergerak cepat. Begitu memastikan Nadia aman dan tertutup pintu, ia mulai mengganti alas tidur. Sprei lama digulung dan dimasukkan ke kantong besar. Ia tidak perlu bertanya bagaimana keadaan kamar ini semalam jejaknya terlalu jelas. Bantal berserakan, sprei kusut, dan suasana ruangan seolah masih menyimpan gema dari kejadian yang telah berlalu.
Melia bekerja dengan cekatan, profesional, tanpa komentar. Namun hatinya tidak setenang gerakannya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Nadia keluar dengan langkah pelan, tubuhnya terbungkus handuk kimono bersih. Rambutnya masih basah, meneteskan air ke lantai. Wajahnya terlihat lebih segar, meski kelelahan masih jelas tergambar di sana.
Melia menoleh dan tersenyum kecil. Senyum itu tulus, tidak berlebihan.
“Bagaimana perasaan Anda?” tanyanya.
“Sedikit lebih baik,” jawab Nadia jujur.
Melia lalu mengambil sebuah kotak besar yang terletak di atas meja. Kotak itu dibuka, memperlihatkan sebuah gaun yang terlipat rapi di dalamnya kainnya halus, warnanya lembut, jelas mahal.
Melihat benda itu, tubuh Nadia menegang seketika.
Ia mundur satu langkah, jantungnya kembali berdegup cepat. Ingatan tentang percakapan yang sempat ia dengar tentang permintaan Arya muncul kembali dengan jelas. Tentang gaun. Tentang keinginan yang tidak pernah ia setujui.
“Aku tidak bisa memakai itu,” ucap Nadia tegas, suaranya bergetar namun penuh penolakan. “Aku ingin memakai pakaianku sendiri.”
Melia menatapnya beberapa detik, lalu menunduk sedikit. “Tuan Arya meminta agar Anda memakai gaun ini.”
“Tidak,” jawab Nadia tanpa ragu. Ia menggeleng kuat. “Aku tidak mau.”
Ia memundurkan langkahnya lagi, sikapnya defensif. Ini mungkin tampak sepele sekadar pakaian namun bagi Nadia, ini tentang batas. Tentang memilih. Tentang tidak lagi selalu menurut.
Melia menghela napas pelan. Ada konflik di matanya, namun akhirnya ia mengangguk.
“Baik,” katanya. “Saya akan mengambilkan pakaian lain.”
Melia berbalik dan pergi. Langkahnya cepat namun tidak tergesa.
Sendirian lagi, Nadia menatap sekeliling ruangan. Ruang istirahat ini ternyata cukup sederhana dibandingkan kamar tidur utama. Ada sepasang sofa berwarna netral, sebuah meja kecil, dan lemari dengan beberapa hiasan minimalis. Suasananya hangat, tidak berlebihan, hampir terasa nyaman.
Nadia melangkah pelan, menyusuri ruangan. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan di dinding.
Seorang wanita cantik tergambar di sana. Tatapannya lembut namun tajam, senyumnya tipis. Ada sesuatu yang familiar. Nadia memiringkan kepala, menatap lebih lama.
“Dia mirip laki-laki itu,” gumamnya.
Bentuk mata. Garis rahang. Bahkan sorot dingin yang samar.
Siapa dia?
Pertanyaan itu menggantung di benaknya, menambah daftar panjang hal-hal yang belum ia pahami tentang pria yang kini mengikat hidupnya.
Sore hari datang dengan cepat.
Langit di luar jendela mulai berubah warna ketika pintu utama rumah itu terbuka. Arya melangkah masuk, jasnya masih rapi meski wajahnya menunjukkan kelelahan. Rio segera menyambutnya, berdiri tegak seperti biasa.
Arya mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Rio tidak terlalu formal. Pandangannya berkeliling sekilas sebelum akhirnya bertanya, “Di mana Nadia?”
“Nonanya berada di ruang istirahat,” jawab Rio.
Arya mengangguk. “Kamu menghubungiku tadi. Apa yang terjadi?”
Rio menarik napas sejenak sebelum menjawab. “Nona Nadia sempat mengalami kepanikan. Beliau berteriak cukup lama. Namun Melia berhasil menenangkannya.”
Senyum kecil terukir di wajah Arya. “Bagus,” katanya ringan. “Berikan Melia bonus.”
Rio mengangguk, meski ada sesuatu di matanya yang meredup.
“Apa yang dilakukan istriku sekarang?” tanya Arya lagi.
“Nona baru saja selesai membersihkan diri.”
Jawaban itu membuat sudut bibir Arya terangkat sedikit lebih tinggi. Sebuah bayangan melintas di benaknya, membuat matanya menggelap sejenak. Tubuh Nadia yang kini telah menjadi candu baginya muncul dalam pikirannya tanpa diundang.
“Gaun yang kuminta?” Arya melanjutkan.
Rio terdiam.
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, nyaris tak terlihat. Ia mengangkat wajahnya, menatap tuannya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Nona Nadia menolak memakainya,” jawabnya akhirnya.
Arya berhenti melangkah.
Keheningan singkat tercipta di antara mereka.
Dalam hati, Rio menghela napas. Ia tidak menyukai arah pikiran tuannya. Sejak awal, ada sesuatu yang mengganggunya tentang cara Arya memandang pernikahan ini tentang kepemilikan, bukan kebersamaan.
Rio sudah mencari tahu latar belakang Nadia. Ia tahu gadis itu bukan perempuan murahan. Ia adalah gadis baik-baik, hidup sederhana, bekerja keras, sebelum semuanya direnggut paksa.
Dan entah mengapa, mengetahui hal itu membuat Rio semakin tidak tenang.
Namun ia tetap berdiri di tempatnya, setia pada perannya, meski di dalam dadanya konflik semakin membesar konflik antara loyalitas dan nurani.
Sementara itu, jauh di dalam rumah besar itu, Nadia berdiri di ruang istirahat, tidak menyadari bahwa sore ini akan kembali menguji batas kekuatannya.
Namun satu hal sudah jelas baginya sekarang
Ia mungkin terperangkap.
Tapi ia belum menyerah.
Dan selama ia masih bisa berkata “tidak”, selama ia masih bisa memilih meski untuk hal kecil seperti pakaian ia akan terus melawan, dengan caranya sendiri.