NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapuh

...****************...

Setiap malam tahlil, aku selalu hadir di rumah Hana. Duduk di barisan pelayat, membaca doa yang sama, menunduk dalam hening yang serupa.

Aku datang bukan hanya untuk mendoakan almarhum suaminya entah sejak kapan, langkah kakiku selalu terasa ingin kembali ke sana.

Di hari-hari itu, aku berkenalan dengan anak-anak Hana. Untuk pertama kalinya. Mereka menyapaku dengan sopan, bahkan ramah, padahal aku tahu di usia mereka, kehilangan ini terlalu berat untuk dipikul.

Aneh. Di tengah rumah yang sedang berduka, justru terasa kehangatan. Anak-anak itu kuat.

Mereka tersenyum meski matanya menyimpan kosong. Menyambut tamu dengan sopan, membantu ibunya, seolah kesedihan tak boleh ditunjukkan terlalu lama.

Dan tanpa terasa…

tujuh hari berlalu.

Malam terakhir tahlil datang dengan sunyi yang berbeda. Tak ada lagi jadwal doa.

Tak ada lagi alasan wajar untuk terus datang.

Saat aku melangkah pulang malam itu, dadaku terasa aneh. Ada kehilangan kecil yang tak bisa kujelaskan.

Hmzz…

kenapa rasanya aku ingin terus berada di dekat Hana?

Langkahku melambat.

Pikiranku melayang.

Lalu satu nama menghantam kesadaranku.

Linda.

Aku tersentak.

Aku masih punya pacar.

Sejak malam-malam tahlil itu dimulai, aku memang jarang bersama Linda. Kami hanya bertemu di tempat kerja saat live. Setelahnya, aku mengantarnya pulang. Lalu kembali ke rutinitas masing-masing.

Tak ada lagi malam panjang. Tak ada lagi kebersamaan seperti dulu. Hanya kecupan singkat. Basa-basi yang dipaksakan.

Linda tentu menyadarinya.

“Sayang, nanti malam aku nginap ya… di kosmu?”

ucapnya suatu hari, dengan nada manja yang dulu selalu melemahkanku.

Aku menghela napas pelan.

“Aku mau tahlil, sayang… nggak bisa. Kita libur dulu ya. Ditahan dulu ya.”

Linda terdiam sejenak di ujung sana.

“Oke…”

lalu ia bertanya,

“Berapa lama tahlilnya?”

“Tujuh hari aja kok.”

“Ahh… lama banget,” katanya setengah merajuk.

“Aku udah kangen kamu.”

Aku menutup mata sebentar.

Di satu sisi, ada Linda perempuan yang nyata, yang bersamaku sekarang.

Di sisi lain…ada Hana. Dengan luka, kehilangan, dan keheningan yang entah kenapa terus menarikku mendekat.

Dan di tengah-tengah itu,

aku mulai sadar hatiku tidak lagi berada di satu tempat yang sama.

Aku belum berani memilih. Tapi aku tahu…

aku sedang menjauh dari satu,

dan tanpa sadar, mendekati yang lain.

Dan itu…

bukan pertanda yang baik.

Pesan itu kubaca berulang kali.

Singkat. Sederhana. Tapi entah kenapa, dadaku terasa sedikit mengencang.

“Raka.. aku mau curhat.”

Aku menatap layar ponsel beberapa detik sebelum membalas.

Bukan karena ragu, tapi karena ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam diriku—sesuatu yang dulu pernah ada, lalu kupikir sudah lama menghilang.

“Iya. Ayo, mau cerita apa?”

Tak lama, balasan itu muncul.

“Boleh ketemu nggak ya?”

Aku menarik napas pelan.

Pertanyaan itu terdengar biasa saja.

Terlalu biasa, bahkan.

Tapi aku tahu, bagi Hana, meminta bertemu bukan hal yang mudah.

“Boleh, Han. Mau ngobrol di mana?”

Beberapa detik berlalu.

Tiga titik muncul, menghilang, lalu muncul lagi.

“Di rumahku aja. Aku belum siap pergi jauh-jauh.”

Jawaban itu membuatku terdiam.

Rumah.

Tempat paling personal yang bisa ditawarkan seseorang.

“Oke, baik. Jam berapa, Han?”

“Besok malam.”

Aku meletakkan ponsel di atas meja.

Menatap langit-langit kamar yang terasa lebih sunyi dari biasanya.

Besok malam.

Terlalu cepat untuk dipikirkan, tapi terlalu lambat untuk dihindari.

Aku tahu, ini bukan sekadar curhat biasa.

Nada pesannya berbeda.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Malam itu aku sulit tidur.

Bukan karena gelisah, tapi karena pikiranku terus bertanya-tanya—

tentang Hana, tentang apa yang akan ia ceritakan, dan tentang diriku sendiri.

Aku mencoba bersikap netral.

Mengingatkan diri bahwa kami hanya teman.

Bahwa pertemuan ini tidak lebih dari dua orang dewasa yang saling berbagi cerita.

Tapi hati sering kali tidak patuh pada logika.

Keesokan harinya berjalan lambat.

Setiap jam terasa lebih panjang dari biasanya.

Aku bekerja, menyelesaikan rutinitas, tertawa seperlunya—

namun pikiranku sesekali melayang ke satu waktu: malam nanti.

Saat matahari mulai tenggelam, aku bersiap.

Tidak berlebihan.

Hanya kemeja sederhana dan celana yang rapi.

Aku tidak ingin terlihat seperti seseorang yang terlalu menunggu.

Perjalanan menuju rumah Hana kulalui dalam diam.

Lampu jalan menyala satu per satu.

Udara malam terasa lembap, dan pikiranku semakin penuh.

Aku berhenti sejenak di depan rumahnya.

Menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

Tok. Tok.

Beberapa detik berlalu sebelum pintu terbuka.

Hana berdiri di sana.

Wajahnya tampak lelah, tapi rapi.

Senyumnya tipis—lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia.

“Masuk,” katanya pelan.

Aku melangkah masuk.

Rumah itu tenang.

Terlalu tenang, seolah menyimpan banyak hal yang belum sempat diucapkan.

Kami duduk berhadapan.

Tak langsung bicara.

Hanya saling diam, memberi ruang pada perasaan masing-masing.

“Aku… makasih ya udah mau datang,” ucapnya akhirnya.

“Iya, Han,” jawabku. “Aku di sini.”

Dan di titik itu, aku sadar—

malam ini bukan tentang masa lalu,

bukan tentang perasaan yang pernah ada,

melainkan tentang seseorang yang sedang butuh didengar.

Dan aku…

memilih untuk tinggal.

Hana menunduk beberapa saat sebelum akhirnya mulai bercerita.

Tentang sepinya rumah setelah semua tamu takziah pulang. Tentang anak-anak yang pura-pura kuat di siang hari, tapi diam-diam menangis sebelum tidur. Tentang dirinya yang belum benar-benar percaya bahwa semua ini nyata.

Aku tidak banyak bicara. Hanya mendengar.

Sesekali ia terdiam cukup lama, dan aku membiarkannya.

Malam terasa lambat. Jam di dinding berdetak pelan, seolah ikut menjaga rahasia percakapan kami.

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana lagi, Ka,” katanya lirih.

“Rasanya hidupku berhenti… tapi dunia tetap jalan.”

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Hana bukan sebagai perempuan yang dulu pernah kukagumi melainkan sebagai seseorang yang benar-benar rapuh.

Ponsel di sakuku tiba-tiba bergetar.

Sekali.

Lalu sekali lagi.

Aku sempat mengabaikannya.

Tapi getaran ketiga membuatku refleks meraih ponsel.

Satu pesan masuk.

Dari Linda.

“Sayang.. mau ke rumah jam berapa?”

Aku terdiam.

Dadaku seperti ditarik ke dua arah berbeda.

Aku memang sudah berjanji.

Berjanji untuk datang malam ini.

Dan anehnya, aku lupa.

Lupa karena sibuk memikirkan Hana.

Tanganku menggantung di atas layar, belum membalas apa-apa.

Di hadapanku, Hana masih berbicara pelan, menceritakan kekosongan yang baru saja menjadi bagian hidupnya.

Di tanganku, ada pesan dari seseorang yang masih menyebutku sayang.

Dua dunia.

Dua perempuan.

Dua arah yang berbeda.

Aku menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya, aku sadar aku tidak hanya sedang terjebak di antara dua hati.

Aku sedang mulai menjadi seseorang yang tidak jujur pada salah satunya.

Aku terdiam lama setelah kalimat itu keluar dari mulut Hana. Tidak ada tangis histeris.

Tidak ada suara pecah. Justru ketenangan itulah yang membuat dadaku terasa sesak.

Ia menatap lantai, jarinya saling menggenggam erat. Seolah kalau dilepas, semuanya akan runtuh.

“Ka… suamiku orang baik dan tanggung jawab,” katanya lagi, suaranya lebih pelan.

“Aku nggak nyangka secepat ini…”

Ia berhenti sebentar, menelan ludah.

“Aku nggak tahu aku bisa hadapi hidupku selanjutnya atau nggak. Selama ini aku bergantung sama dia, Ka.”

Aku menghela napas, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Tidak menyentuhnya. Aku tahu, jarak sekecil itu masih perlu dijaga.

“Kamu nggak sendiri, Han,” kataku akhirnya.

Suaraku terdengar lebih tenang dari perasaanku sendiri.

“Sekarang memang rasanya gelap. Wajar. Kehilangan itu nggak pernah datang dengan aba-aba.”

Hana mengangkat wajahnya.

Matanya berkaca-kaca, tapi ia berusaha tersenyum.

“Aku takut, Ka,” katanya jujur.

“Takut nggak kuat. Takut salah ngambil langkah. Takut anak-anakku lihat aku lemah.”

Aku menggeleng pelan.

“Lemah itu bukan gagal, Han. Lemah itu manusia.”

Aku berhenti sebentar, memilih kata.

“Dan kamu… kelihatan kuat justru karena kamu berani bilang kamu takut.”

Ia terdiam.

Air matanya akhirnya jatuh, satu.

Lalu dua. Dan akhirnya deras tanpa henti.

Aku tetap di tempatku.

Menjadi pendengar.

Menjadi saksi.

Dan di dalam diriku, ada perasaan aneh yang tumbuh diam-diam bukan keinginan,

bukan harapan, melainkan dorongan untuk melindungi.

Aku tahu, perasaan itu berbahaya.

Tapi malam itu, aku belum sanggup menamainya.

Yang kutahu hanya satu, Hana sedang runtuh.

Dan aku ada di sana saat itu.

Dan kadang, kehadiran saja…

sudah cukup untuk mengubah segalanya.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!