Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Baru
Seorang wanita tua dengan gamis putih bersih dan kerudung besar yang anggun melangkah masuk ke tengah lingkaran massa. Ia adalah Bu Haji Karim, tokoh agama yang paling dihormati di desa itu, pemilik pesantren yang menjadi pilar moral warga. Langkahnya tenang, namun setiap hentakan sandalnya di semen balai desa seolah memberikan tekanan yang membungkam teriakan warga.
Massa perlahan mundur, memberi jalan. Bu Haji Karim berdiri di antara Ale dan kerumunan warga yang beringas. Ia menatap Nirmala yang tergolek lemah, lalu beralih menatap Bu Endang yang wajahnya mendadak kaku.
"Barang siapa yang melontarkan tuduhan zina tanpa membawa empat saksi yang melihat dengan mata kepala sendiri, maka ia adalah pendusta di mata Allah!" suara Bu Haji Karim bergema, mengutip hukum yang sakral. "Apakah kalian sudah melihatnya sendiri? Ataukah kalian hanya membiarkan telinga kalian dicemari oleh racun fitnah?"
Bu Haji Karim beralih menatap massa yang mulai tertunduk. "Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan! Kalian sedang berusaha menghancurkan kehormatan seorang yatim piatu yang malang dan seorang pemuda yang sedang berjuang menuntut ilmu. Jika tuduhan ini salah, demi Allah, kalian semua akan memikul dosa besar ini sampai ke liang lahat!"
Suasana yang tadinya bising mendadak senyap. Obor-obor yang dibawa warga tampak meredup di bawah tatapan teduh namun tajam milik Bu Haji Karim. Satu per satu warga mulai melepaskan cengkeraman mereka, langkah kaki mereka mundur perlahan seiring dengan rasa malu yang mulai merayap di dada masing-masing.
****
Namun, ketenangan itu adalah penghinaan bagi Bu Endang. Wajahnya yang merah padam kini tampak semakin mengerikan di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. Baginya, tausiah dadakan Bu Haji Karim adalah tamparan telak yang menghancurkan skenario "pahlawan moral" yang ia bangun.
"Halah! Jangan pakai dalil-dalil untuk membela pelacur ini, Bu Haji!" teriak Bu Endang, suaranya yang cempreng pecah oleh kemarahan yang tidak terkendali. "Semua orang tahu mereka satu rumah! Bu Haji jangan mau dibohongi oleh muka melas perempuan kota ini!"
Bu Haji Karim menoleh perlahan, menatap Bu Endang dengan iba. "Endang, lidahmu adalah api. Jika kau tidak berhenti meniupnya, kau sendiri yang akan hangus terbakar. Pulanglah, bersihkan hatimu dari kedengkian."
"Pulang?! Tidak bisa!" Bu Endang meronta, kakinya menghentak-hentak tanah. Ia melihat warga mulai melunak, beberapa bahkan mulai membantu Ibu Nurdin untuk mendekati Nirmala. "Kalian semua penakut! Kalian semua dibodohi!"
Bu Endang berteriak hingga urat lehernya menonjol, namun ia kini berdiri sendirian. Warga desa yang kolot sekalipun masih memiliki rasa hormat yang mendalam pada Bu Haji Karim. Satu per satu massa membubarkan diri, meninggalkan Bu Endang yang berdiri di tengah balai desa sambil menyumpah-nyumpah dengan kata-kata kotor yang justru membuat warga semakin muak.
Ale segera mendekap Nirmala, membantunya berdiri. "Terima kasih, Bu Haji..." bisik Ale dengan suara parau.
"Bawa dia masuk, Ale. Rawat lukanya. Biarlah fitnah ini menjadi ujian bagi kesabaranmu," jawab Bu Haji Karim lembut.
****
Sementara itu, di sebuah hotel mewah di pusat Jakarta, Januar Suteja duduk di dalam kegelapan kamarnya. Cahaya lampu kota yang masuk lewat jendela hanya menyinari separuh wajahnya, menonjolkan garis-garis kemarahan yang sudah mengakar. Di tangannya, ia menggenggam sebuah belati antik dengan gagang perak—sebuah benda koleksi yang kini ia timbang-timbang dengan niat membunuh yang nyata.
"Rini... kau sudah merampas segalanya dariku," desis Januar. Suaranya dingin, sepi dari emosi manusiawi. "Kau mengambil sahamku, kau menginjak harga diriku, dan kau mempermainkan keluargaku."
Ia teringat wajah Rini yang tertawa di balik selendang sutranya saat ia menandatangani dokumen pinjaman berdarah itu. Dendam itu kini telah bermutasi menjadi obsesi gelap. Januar menyadari bahwa hukum tidak akan bisa menyentuh Rini karena kekuasaan dan koneksi gelap kartel yang melindunginya.
"Satu-satunya cara untuk menghentikan iblis adalah dengan menjadi iblis yang lebih kejam," Januar berdiri, menancapkan belati itu ke atas meja kayu mahoni hingga bergetar. "Tapi aku butuh Nirmala. Tanpa suaranya, aku tidak bisa membatalkan akuisisi ini secara legal. Aku akan memancing Rini keluar dengan Nirmala, lalu aku akan memastikan wanita gila itu tidak akan pernah tertawa lagi."
Januar tahu, ia harus bergerak lebih cepat dari orang-orang Rini. Ia harus menemukan Nirmala, bukan lagi untuk menikahinya karena cinta atau bisnis, melainkan untuk menggunakannya sebagai umpan dalam tarian kematian yang ia siapkan untuk Rini.
****
Di gedung Suteja Group, suasana tidak ubahnya seperti sebuah pembersihan etnis di dunia korporasi. Rini Susilowati berdiri di kepala meja rapat direksi yang kini hanya menyisakan kursi-kursi kosong atau diisi oleh orang-orang baru yang wajahnya tampak pucat karena takut.
Satu per satu, susunan direksi lama yang setia pada klan Suteja didepak tanpa pesangon yang layak. Rini hanya perlu menjentikkan jarinya, dan Liana akan menyodorkan surat pemecatan atas dasar "inefisiensi kinerja" yang sudah direkayasa.
"Tuan Pramono, Anda dipecat. Nona Sarah, posisi Anda sebagai manajer operasional digantikan oleh sepupu saya," ucap Rini dengan nada datar yang mengerikan.
Elias Dizan, suaminya, duduk di sampingnya sambil memegang kepala. Ia tampak mulai tertekan dengan kegilaan istrinya, namun ia tidak punya keberanian untuk bersuara.
Begitu ruangan itu hanya menyisakan orang-orang pilihannya, Rini menarik selendang sutra hitamnya. Ia menutup mulutnya, namun bahunya mulai berguncang hebat.
"Mmph... Hahahaha! Lihat mereka, Elias! Mereka keluar seperti tikus yang ketakutan!" Rini tertawa hingga air matanya membasahi kain sutra itu. Ia tidak lagi peduli pada tisu; ia menyeka ingusnya dengan ujung selendang mahal itu, sebuah gestur yang menjijikkan namun menunjukkan betapa ia telah melepaskan segala topeng kemanusiaan.
"Gedung ini milikku... Nama Suteja kini hanya tinggal sampah di bawah sepatuku!" Rini berteriak di sela tawanya yang histeris. Ia merasa tak terkalahkan. Dengan dana talangan yang ia jeratkan pada Januar, dan susunan direksi yang kini tunduk padanya, ia merasa telah membangun benteng yang mustahil ditembus.
"Tapi Nyonya," Liana menyela dengan suara rendah. "Januar menghilang dari pantauan kita sejak sore tadi. Dan kabarnya, massa di desa Sukamaju gagal mengusir Nirmala karena campur tangan tokoh agama di sana."
Tawa Rini berhenti seketika. Matanya berkilat marah, namun kemudian ia kembali tersenyum sinis. "Biarkan saja. Biarkan Januar merayap dalam kegelapan. Dan biarkan Nirmala merasa aman untuk sementara. Semakin tinggi mereka merasa terbang, semakin nikmat saat aku mematahkan sayap mereka nanti."
Rini kembali tertawa, sebuah suara melengking yang menggema di koridor gedung pencakar langit itu, sementara jauh di Sukabumi, Ale sedang mengompres luka di kaki Nirmala, menyadari bahwa ketenangan yang dibawa Bu Haji Karim hanyalah gencatan senjata singkat sebelum badai yang sesungguhnya datang menerjang.