Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Ciuman yang Salah dan Pecahnya Rahasia
Alisha turun dari mobil dengan langkah terburu-buru, jemarinya meremas tas merah jambu pemberian Gathan seolah benda itu adalah satu-satunya pegangannya pada kenyataan.
"Pak Maman, tunggu di mobil saja. Perut saya benar-benar sakit, mungkin saya akan agak lama di dalam. Kalau dalam setengah jam saya belum kembali, Bapak boleh menyusul," ucapnya dengan nada serak yang terdengar meyakinkan sebagai orang sakit.
Pak Maman mengangguk patuh, membiarkan "Nona Aruna" melangkah cepat menuju bangunan toilet umum di tepi taman.
Begitu pintu bilik terkunci, Alisha menyandarkan punggungnya pada pintu plastik yang dingin. Ia menggenggam flashdisk berisi rahasia Elena itu dengan tangan gemetar. Ia segera mengirim pesan pada Aruna: "Aku sudah di dalam bilik ujung. Cepat! Pak Maman mengawasi dari parkiran!" Namun, pesan itu hanya menyisakan centang satu yang membisu.
Di sisi lain taman, di bawah naungan pohon kenari yang dahannya menjuntai rendah, Rendy telah menciptakan sebuah dunia kecil. Sebuah kain kotak-kotak tergelar dengan rapi, dihiasi buket bunga lili yang aromanya bercampur dengan wangi tanah basah.
"Ren, ini..." Aruna terpaku melihat persiapan itu.
"Maaf kalau aku terlalu memaksa hari ini," ucap Rendy lembut. Tanpa menunggu jawaban, ia meraih ponsel dari tangan Aruna dan memasukkannya ke dalam tas.
"Tapi aku ingin waktu ini benar-benar milik kita. Tanpa layar, tanpa gangguan, hanya aku dan kamu. Boleh, ya?"
Aruna terdiam. Sebagai wanita yang terbiasa mengendalikan segala situasi, kehilangan ponsel berarti kehilangan mata dan telinganya. Namun, ia tak punya pilihan selain mengikuti permainan Rendy. Lima belas menit berlalu dalam obrolan hangat yang terasa asing bagi Aruna. Ia mulai gelisah, matanya terus melirik ke arah bangunan toilet di kejauhan.
"Sha? Kamu seperti tidak di sini," gumam Rendy. Ia berdiri, mengulurkan tangan dengan tatapan yang begitu tulus.
"Dengar musik dari ponselku? Ayo dansa sebentar. Tamannya sedang sepi, tidak akan ada yang melihat."
Aruna ingin menolak, namun Rendy sudah menariknya ke dalam pelukan. Di bawah rimbunnya dedaunan, Rendy melingkarkan tangannya di pinggang Aruna, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Alunan musik slow yang mendayu seolah mengunci waktu.
"Aku mencintaimu, Sha. Sangat mencintaimu," bisik Rendy tepat di telinga Aruna. "Maaf kalau perjalananku mewujudkan pernikahan kita terasa lambat. Tapi aku janji, aku akan bekerja dua kali lebih keras demi masa depan kita."
Aruna bisa merasakan detak jantung Rendy yang jujur menembus kemejanya. Untuk sekejap, dinding pertahanan Aruna yang dingin sedikit retak. Ia menatap mata Rendy, dan di sana ia melihat bayangan Alisha yang begitu dicintai. Rendy menangkup wajah Aruna dengan lembut, mengikis jarak yang tersisa. Dalam keheningan yang intim itu, Rendy memberikan sebuah kecupan yang sangat dalam dan tulus di bibir Aruna, sebuah tanda kepemilikan yang selama ini ia tahan dan pertama kalinya ia berikan pada kekasihnya.
Sementara itu, Alisha yang sudah tidak sabar menunggu di toilet memutuskan untuk menyelinap keluar. Dari balik rimbunnya semak-semak, ia menyaksikan segalanya.
Ia melihat punggung Rendy yang kokoh melindungi sosok yang memakai wajahnya. Ia melihat bagaimana tangan Rendy membelai rambut Aruna dengan penuh kasih. Dan ketika ia melihat keintiman yang begitu dalam terjadi di depan matanya, Alisha merasa seolah napasnya ditarik paksa dari dadanya.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada ancaman Julian atau kedinginan Elena. Itu adalah kekasihnya, memberikan ciuman paling tulusnya kepada orang asing. Bahkan dirinya saja belum pernah mendapatkannya.
Air mata Alisha mengalir deras, membasahi wajahnya yang kuyu. Rasa cemburu yang membakar mengalahkan segala logika misinya.
Dengan langkah goyah, Alisha keluar dari persembunyian. Ia melangkah mendekat, tangisnya tak lagi bisa dibendung. Sebelum Rendy sempat menjauhkan wajahnya, Alisha sudah menyambar lengan pria itu dengan sentakan kasar.
"Lepaskan!" isak Alisha dengan suara yang pecah.
Rendy tersentak, memutar tubuhnya dengan cepat. Matanya membelalak sempurna, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap gadis yang sedang menangis hancur di depannya, lalu menoleh pada gadis yang baru saja ia dekap.
"Al... Alisha?" suara Rendy bergetar hebat. Ia mundur beberapa langkah, memandang keduanya dengan wajah pucat pasi.
"Kenapa... kenapa ada dua?"
Aruna tersentak dari lamunannya. Ia melihat Alisha yang sudah hancur total, memandang Rendy dengan tatapan terluka yang tak bisa dijelaskan. Aruna mendesah pelan, ia tahu Alisha telah membiarkan hatinya ikut terseret dalam permainan ini.
Dengan gerakan cepat namun tenang, Aruna mengambil flashdisk dari tangan Alisha yang lemas. Ia mendekat ke telinga Alisha, berbisik dengan nada dingin yang mencoba menyadarkan.
"Kamu pakai hati pada misi ini, Alisha. Selesaikan urusanmu dengannya sekarang. Ceritakan saja apa yang terjadi, dia sudah terlanjur melihat kita. Aku akan mengurus Pak Maman agar dia tidak datang ke sini."
Setelah itu, Aruna segera berbalik dan pergi, menghilang di balik pepohonan dengan langkah tegas, meninggalkan Alisha dalam tangisnya yang pecah dan Rendy dalam kebingungan yang mematikan.
***
Keheningan yang mencekam menyelimuti area di bawah pohon kenari itu setelah Aruna melangkah pergi. Alisha berdiri mematung, bahunya berguncang hebat karena isakan yang berusaha ia redam. Rendy perlahan mendekat, tangannya yang gemetar terulur ragu untuk meraih bahu Alisha.
"Sha... Alisha?" bisik Rendy, suaranya pecah oleh ketidakpercayaan.
Begitu sentuhan Rendy mendarat di bahunya, pertahanan Alisha runtuh total. Ia menghambur ke pelukan Rendy, menumpahkan segala rasa sakit, cemburu, dan beban yang selama ini ia pikul sendirian di rumah Ardiansyah. Ia menangis sejadi-jadinya di dada pria itu.
Hatinya hancur berkeping-keping karena menyadari bahwa ciuman pertama yang seharusnya menjadi tonggak suci hubungan mereka, justru diberikan Rendy pada raga yang salah.
Setelah beberapa saat, Alisha menarik diri. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu dengan suara parau, ia menceritakan semuanya. Tentang kontrak gila itu, tentang pertukaran identitas, dan alasan mengapa ia harus berpura-pura menjadi Aruna.
Rendy terduduk lemas di atas kain piknik. Kepalanya tertunduk, tangannya meremas rumput di bawahnya. Dunia yang ia bangun dengan penuh cinta terasa runtuh seketika.
"Jadi... selama ini... yang aku genggam tangannya bukan kamu? Yang aku peluk dan aku bagi tawanya bukan kamu?" Rendy menatap tangannya sendiri dengan tatapan nanar.
"Bahkan ciuman tadi..."
Rendy terdiam, rasa mual akibat rasa bersalah menghantamnya. Selama ini, Rendy sangat menjaga kehormatan Alisha. Ia menahan diri untuk tidak bertindak terlalu jauh karena ia ingin menjaga gadisnya itu sampai hari pernikahan tiba. Dan hari ini, niatnya untuk melamar Alisha berubah menjadi tragedi karena ia justru memberikan segalanya pada wanita lain.
Alisha menatap dalam ke mata Rendy. "Aku tanya sama kamu, Ren," suara Alisha terdengar tenang namun dingin.
"Ketika kamu memeluknya tadi... ketika kamu menciumnya... apakah kamu benar-benar berpikir bahwa itu aku? Atau kamu sempat merasakan sesuatu yang berbeda?"
Rendy terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Ia teringat betapa Aruna terlihat jauh lebih tegas, berani, dan mandiri. Ia akui dalam hati, ia sempat mengagumi sosok "Alisha" yang baru itu tanpa menyadari bahwa itu adalah jiwa orang lain. Kebisuannya menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Alisha.
"Ternyata kamu tidak begitu mengenali aku, Ren," ucap Alisha, suaranya bergetar karena kecewa.
"Cintamu ternyata tidak sekuat yang aku kira jika kamu bahkan tidak bisa membedakan jiwaku dengan jiwanya."
Alisha menghapus sisa air matanya dengan kasar.
"Kita putus."
"Sha! Alisha, tunggu!" Rendy mencoba berdiri, namun kakinya terasa seberat timah. Ia hanya bisa menatap punggung Alisha yang menjauh dengan langkah cepat menuju parkiran.
Alisha sampai di mobil dengan napas tersengal. Ia mendapati Pak Maman terduduk lemas di kursi kemudi dalam kondisi pingsan. Di kursi belakang, Aruna sudah duduk dengan tenang, wajahnya sedingin es seolah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi.
"Hapus air matamu. Jangan buat Pak Maman curiga kalau kamu baru saja menangis," ucap Aruna tanpa menoleh sedikit pun.
Wanita itu tidak menanyakan bagaimana perasaan Alisha. Baginya, ini adalah bisnis, dan ia sudah memperingatkan konsekuensinya sejak awal.
Aruna kemudian menekan titik syaraf di tengkuk Pak Maman dengan teknik acupressure tertentu, sebuah serangan titik lemah yang membuat aliran darah ke otak terhenti sesaat tanpa meninggalkan jejak memar atau luka permanen.
Pak Maman tersentak bangun, mengerjapkan matanya dengan bingung. Namun sesaat sebelum itu Aruna sudah keluar dari mobil.
"Eh... Nona? Saya... saya ketiduran?"
"Saya sudah selesai, Pak," sahut Alisha dari kursi belakang, suaranya terdengar serak namun ia berusaha menutupinya dengan batuk kecil.
"Oh, maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba mengantuk sekali," ujar Pak Maman merasa bersalah.
"Mau ke mana kita sekarang?"
"Kita pulang saja, Pak. Saya mendadak merasa pusing dan ingin istirahat," jawab Alisha lemah.
Pak Maman segera memutar kemudi dan melesat meninggalkan Taman Kota. Di sepanjang jalan, Alisha hanya menatap keluar jendela, membiarkan hatinya yang patah tertinggal di bawah pohon kenari itu.
Setelah mobil itu menjauh, Aruna menghela napas panjang. Ada sedikit denyut rasa bersalah yang asing di hatinya saat teringat tangisan Alisha tadi. Namun, ia segera menepisnya. Ia harus fokus pada flashdisk di tangannya kunci untuk menghancurkan Elena.
Setelah itu Aruna pun melangkah pergi, meninggalkan Rendy yang masih terpaku menatap kehampaan, tanpa menyadari bahwa dalam pelariannya, Aruna baru saja membawa pergi sebagian dari hati pria itu.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊