NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kedok di Balik Pintu Kamar

Langkah kaki Caspian yang terbalut sepatu kulit mahal terdengar berat dan berwibawa di atas lantai semen kamar Colette yang sederhana. Ia tidak terburu-buru. Dengan tangan yang sesekali dimasukkan ke saku jas, ia mengitari ruangan sempit itu, meneliti setiap sudut—mulai dari tumpukan dokumen label makanan di meja kerja hingga gantungan baju di balik pintu.

Colette berdiri mematung di ambang pintu, meremas ujung bajunya. Ia merasa dunianya yang selama ini ia sembunyikan kini sedang dipreteli oleh tatapan tajam pria itu.

Caspian berhenti tepat di depan tempat tidur Colette. Ia menyentuh pinggiran sprei yang sudah memudar warnanya, lalu perlahan berbalik menghadap Colette. Sesaat, wajah serius sang "dukun" itu memudar, digantikan oleh gurat senyum nakal yang belum pernah Colette lihat sebelumnya.

Sebenarnya, Caspian tahu persis bahwa tidak ada hantu atau energi hitam yang bersarang di kamar ini. Colette tidak sakit karena kutukan; gadis itu hanya kehilangan kepercayaan dirinya akibat pasca insiden pelecehan. Trauma itu nyata, tapi obatnya bukanlah kemenyan atau mantra kuno.

Namun, Caspian tidak akan mengatakannya. Baginya, janji pada Sinta untuk "menyembuhkan" Colette adalah tiket emas agar ia bisa masuk ke ruang paling pribadi gadis ini. Ini adalah caranya untuk berada sedekat mungkin dengan Colette tanpa membuat gadis itu melarikan diri karena takut.

"Kamar ini... sangat tenang," gumam Caspian, suaranya merendah dan serak, menciptakan getaran aneh di udara. "Tapi aromanya masih penuh dengan kegelisahanmu, Colette."

Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Colette terpaksa mundur sedikit sampai punggungnya menyentuh daun pintu yang tertutup.

"Kau tahu? Terkadang, kegelapan tidak butuh doa untuk pergi. Ia hanya butuh seseorang yang lebih kuat untuk mengusirnya," bisik Caspian. Ia membungkuk sedikit, menatap tepat ke arah mata Colette yang tersembunyi di balik rambut. "Dan malam ini, aku adalah orang itu."

Caspian mengulurkan tangan, kali ini bukan untuk memeriksa "energi", melainkan untuk menyentuh dagu Colette, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya langsung.

"Katakan padaku, Colette. Apa kau merasa lebih aman saat aku berada di sini, atau kau justru lebih takut padaku.

Colette tersentak, refleks menepis tangan Caspian yang baru saja menyentuh dagunya. Sentuhan pria itu terasa panas, seperti sengatan listrik yang menjalar hingga ke tengkuknya. Ia segera memalingkan wajah, membiarkan rambutnya kembali jatuh menutupi matanya sebagai benteng pertahanan.

Untuk menutupi rasa canggung yang mendadak mencekik udara di kamar sempit itu, Colette berdeham kecil. Suaranya terdengar sedikit bergetar saat ia melontarkan pertanyaan ketus.

"Kapan... kapan semua ini selesai?" tanya Colette tanpa berani menatap Caspian.

Sinta dan Aris tersentak kecil melihat reaksi Colette. Sinta tampak sedikit terkejut, matanya mengerjap bingung melihat interaksi yang terasa sangat personal itu.

Caspian terdiam sejenak, lalu tangan kanannya masuk ke dalam saku jas charcoal miliknya yang tampak sangat mahal. Ia mengeluarkan sebuah benda yang berkilauan indah saat terkena cahaya lampu kamar yang temaram.

Sebuah kalung perak dengan liontin berlian mungil yang membiaskan cahaya pelangi di setiap sudutnya. Benda itu jelas bukan barang murah, apalagi barang yang biasa ditemukan di toko jimat pinggir jalan.

"Ini adalah pelindungmu, Colette," ucap Caspian dengan suara bariton yang lembut namun penuh wibawa. Senyum manis—yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun—tersungging di bibirnya.

"Ini bukan sekadar perhiasan," bohong Caspian dengan nada serius yang meyakinkan, menatap Colette yang masih tampak sangsi. "Berlian ini telah kuberi doa-doa khusus di bawah sinar rembulan hutan jati. Selama kau memakainya, energi negatif dari orang-orang yang membencimu tidak akan bisa menyentuhmu."

Sebenarnya, itu adalah strategi licik Caspian. Ia tahu jika ia mengatakannya sebagai hadiah perkenalan atau perhiasan mahal, Colette pasti akan menolak mentah-mentah. Tapi dengan label 'jimat', ia yakin gadis itu akan menerimanya demi ketenangan keluarganya.

Caspian meletakkan kalung itu di telapak tangan Colette yang dingin. "Pakai ini, jangan pernah dilepas. Bahkan saat kau tidur sekalipun."

Setelah memberikan benda itu, Caspian merapikan jasnya. Ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi profesional dan terburu-buru. Ia melirik jam tangan perak di pergelangan tangannya.

"Tugas saya di sini selesai untuk malam ini, Sinta. Saya harus pamit sekarang, ada urusan mendesak yang harus saya selesaikan di pusat kota," ucap Caspian dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Ia memberikan anggukan hormat pada Sinta dan Aris, lalu tatapannya kembali jatuh pada Colette selama satu detik yang terasa sangat lama. "Sampai jumpa di saat yang tidak terduga, Colette."

Tanpa menunggu balasan, Caspian melangkah keluar dari kamar. Diikuti dengan sinta yang mengantar hingga pintu depan. Suara langkah sepatunya yang tegas menggema di ruang tamu sebelum akhirnya suara deru mesin mobil mewah terdengar menjauh dari depan rumah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!