Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1
"Resa, berhenti nak. Ayo makan dulu."
Revania Agatha, biasa di sapa Vania. Kini dirinya disibukkan dengan menjadi seorang Ibu muda yang memiliki seorang putra.
Usia putranya sudah menginjak 5 tahun, dan dia sedang dalam masa pertumbuhan yang begitu aktif. Vania sendiri cukup kewalahan dengan setiap tingkah anaknya itu.
Namun, rasa sayangnya jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa lelah yang selalu datang mendera. Vania sanggup melakukan apapun asalkan putranya itu selalu merasakan kebahagiaan meski jarang untuk berinteraksi dengan ayah kandungnya.
Bukan karena sang ayah tiada, tapi karena suami Vania begitu sibuk bekerja di kantor. Apalagi bulan ini, suaminya akan mendapatkan promosi untuk bekerja di perusahaan pusat di Luar Negeri.
Vania bersyukur saat karir suaminya bisa meningkat seperti saat ini. Tapi ada saat dimana Vania selalu merasa sendiri menjalani rumah tangga yang sudah berjalan 7 tahun ini.
Satria Wirawan, suami Vania cukup sibuk bekerja di kantor sampai jarang sekali ada waktu untuk Vania juga putra semata wayang mereka Resa.
Vania tahu jika Satria bekerja keras untuk memberi kehidupan yang layak untuknya dan Resa. Namun Vania juga ingin sekali Satria bisa memiliki waktu sedikit saja untuk keluarga kecil mereka.
Tidak harus setiap hari, Vania hanya ingin saat Satria libur bekerja, mereka bisa menikmati waktu untuk sekedar jalan-jalan atau mungkin menghabiskan waktu bersama dirumah saja Vania tidak keberatan.
Tapi sepertinya Satria memang tidak bisa mengabaikan pekerjaannya dan tetap memilih bekerja di ruang kerjanya saat hari libur tiba.
Karena terlalu larut melamun, Vania tersadar saat mendengar suara tangis Resa yang memanggilnya.
"Huaaa, Bundaaaa." teriak Resa.
Vania segera menyimpan piring yang ada ditangannya dan menghampiri Resa yang sudah duduk terjatuh di halaman rumah.
"Ya ampun sayang." Vania segera menggendong Resa dan membawanya masuk ke dalam untuk mengobati luka yang ada di lutut kiri Resa.
Dengan sabar, Vania terus membersihkan dan mengobati luka Resa meskipun anaknya sedikit berontak karena merasakan perih saat Vania membersihkan lukanya.
"Bunda, sakit." keluh Resa dengan isak tangis yang masih terdengar.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi selesai." bujuk Vania dengan lembut.
Begitu selesai, Resa mengangkat kedua tangannya dan meminta untuk Vania menggendongnya. Meskipun Resa sudah cukup berat untuk di gendong, Vania tetap melakukannya dan memeluk erat Resa.
"Bunda, kenapa ayah gak pernah main sama Resa?" tanya Resa.
Vania diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh putranya ini.
"Resa kan tahu ayah bekerja untuk kita, jadi Resa harus mengerti ya." jawab Vania pelan agar Resa mengerti.
"Tapi setiap ayah dirumah pun, Resa tidak bisa bermain dengan ayah." keluh Resa lagi.
Vania tahu, Resa sekarang sudah mulai mengerti karena usianya sudah cukup paham dengan apa saja yang terlihat oleh matanya.
"Sabar ya Resa, nanti Bunda akan bilang sama Ayah kalau Resa ingin bermain ditemani Ayah." bujuk Vania agar Resa tidak selalu mengeluhkan ketidak hadiran sosok Ayahnya.
Resa menganggukan kepalanya dan semakin mendekap Vania dengan erat.
.
.
Malam hari, setelah menidurkan Resa di kamarnya, Vania ke dapur karena ingin membuatkan teh hangat untuk suaminya.
Satria sudah pulang dari kantor dua jam yang lalu. Tapi bukannya menyapa putranya, Satria justru langsung masuk ke ruang kerjanya setelah selesai membersihkan diri di kamar.
"Aku harap Mas Satria mau di ajak bermain di Minggu ini." ucap Vania dalam harapannya.
Setelah teh hangat siap, Vania segera membawa nampan berisi camilan juga untuk dibawanya ke ruang kerja Satria.
Tok.tok.tok
Setelah mengetuk, Vania membuka sedikit pintu dan menengok ke dalam ruang kerja suaminya. Tatapan Vania bertemu dengan Satria yang juga melihat kedatangannya.
Namun alih-alih menyambut, Satria justru terlihat sibuk berbicara di telepon dengan seseorang sambil sesekali membulak-balikan kertas yang ada di atas meja kerjanya.
Vania tidak menganggu, dia masuk dan menyimpan nampan itu di meja yang ada di dekat sofa. Vania juga duduk dan menunggu Satrian hingga selesai berbicara di telepon.
"Mas, minun dulu teh nya. Aku juga buat kue bronis tadi siang." ucap Vania saat Satria beranjak untuk menghampirinya.
"Ada apa Vania?" tanya Satria tanpa meminum atau mencicipi kue yang sudah dibawakan Vania.
Vania tahu jika suaminya adalah tipikal orang yang tidak suka berbasa basi. Satria juga pasti sudah tahu ada hala yang di inginkan Vania jika sudah datang menghampirinya ke ruang kerja.
"Mas, minggu ini bisa luangkan waktu buat Resa kan? Dia pengen banget main sama kamu Mas." tutur Vania pelan.
Satria tampak diam, Vania juga dengan sabar menunggu jawaban dari suaminya. Dia berharap jawaban yang akan diberikan Satria tidak mengecewakannya.
"Vania, kamu tahu kan minggu ini kita akan sibuk mempersiapkan kepindahan kita." ucap Satria.
Vania mengangguk, dia tidak lupa dengan itu. Namun Vania berfikir mereka bisa sekalian menghabiskan waktu bersama sambil mengurus kepindahan mereka.
"Kita bisa bermain setelah mengurus semua itu kan Mas." ungkap Vania.
"Aku mohon, Resa sudah kangen sekali sama kamu." pinta Vania lagi dengan wajah memelas.
Satria menghela nafas sejenak kemudian dia menganggukan kepalanya tanda setuju dengan permintaan istrinya itu.
Vania langsung sumringah dan segera memeluk suaminya itu. Sebahagia itu saat Satria mau meluangkan waktu untuknya juga Resa.
"Yasudah, kamu kembali saja ke kamar. Aku masih ada sedikit pekerjaan." titah Satria setelah melepaskan pelukan Vania.
Tidak ingin berdebat Vania langsung nurut dengan perintah Satria. Dia juga tidak lupa mengingatkan Satria untuk meminum teh dan memakan kue buatannya.
Setelah Vania keluar dari ruangannya, Satria mengusap wajahnya dengan kasar. Seolah ada banyak sekali beban di fikirannya saat ini.
......................