“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Seorang laki-laki muda tergeletak di lantai ruang tamu. Darah mengalir dari kepala dan lehernya. Pecahan beling berserakan di sekitar. Hanan segera mendekat dengan hati-hati. Ia memastikan laki-laki itu masih bernapas.
Tangan Hanan memeriksa nadi di leher.
“Masih hidup…” gumamnya pelan.
Fatim menutup mulutnya, air mata mengalir deras. “Ini… ini siapa, Mas?”
Hanan menggeleng pelan. “Mas juga gak tahu.”
Tatapannya menyapu ruangan. Sofa bergeser. Karpet kusut. Ada bekas sobekan kain di lantai. Hatinya mendadak tidak enak.
“Kayla…” gumamnya hampir tak terdengar. Matanya bergerak cepat menyusuri ruang tamu. Tidak ada tanda-tanda Kayla di sana.
“Mas… Mbak Kayla dimana?” suara Fatim bergetar.
Hanan berdiri. Wajahnya berubah serius. “Kamu di sini. Jangan kemana-mana.”
“Mas mau kemana?”
“Cari Kayla.” Hanan melangkah cepat menyusuri rumah. Ia memanggil dengan suara lebih tegas.
“Kayla!”
Tak ada jawaban. Ia membuka kamar tamu. Seorang remaja laki-laki tertidur pulas, tak bergerak sedikit pun meski dipanggil keras.
Hanan mengernyit. Ini bukan tidur biasa.
Ia kembali ke ruang tamu. Fatim masih terduduk lemas, menangis pelan.
“Mas… kita panggil polisi aja…”
Hanan terdiam sejenak. Di lantai ada darah. Ada bekas perkelahian. Ada laki-laki terluka. Dan Kayla… hilang.
“Ya udah, kamu telfon polisi dek,” suara Hanan terdengar tegas, meski hatinya sedang tidak tenang.
“Iya Mas. Fatim ke mobil dulu, HP Fatim di mobil!”
Fatimah segera berlari keluar rumah. Langkahnya tergesa, sandalnya bahkan hampir terlepas saat menuruni anak tangga teras. Tangannya gemetar, napasnya tersengal. Pemandangan di ruang tamu barusan masih terbayang jelas di kepalanya.
Sementara itu, Hanan berdiri sendirian di ruang tamu yang porak-poranda. Matanya kembali menyapu ruangan. Ada bekas sobekan kain. Pecahan beling. Noda darah.
Dan Kayla… belum terlihat. Hanan melangkah perlahan menyusuri lorong rumah. Dadanya terasa sesak oleh firasat buruk.
“Kayla…” panggilnya lebih pelan, namun penuh tekanan.
Tak ada jawaban. Baru saja ia hendak berbalik—
“Hiks… hiks… hiks…”
Suara isak tangis tertahan. Hanan langsung mengerutkan dahi. Suara itu pelan, hampir tak terdengar. Namun di tengah sunyinya rumah, suara itu begitu jelas.
Ia memejamkan mata sejenak, memastikan arah suara.
Dapur.
Kakinya bergerak mengikuti sumber suara. Langkahnya cepat tapi hati-hati.
“Kayla… apa itu kamu?” suaranya kini lebih lembut, mencoba tidak mengejutkan.
Isak tangis itu mendadak berhenti.
Sunyi.
Namun Hanan tidak berhenti. Ia terus melangkah hingga mencapai dapur. Lampu dapur menyala redup. Kursi bar bergeser. Beberapa peralatan jatuh berserakan.
Dan di balik meja bar, tubuh seorang gadis meringkuk kecil, seperti anak yang ketakutan.
“Astaghfirullah al ‘adzim…”
Hanan tercekat. Kayla duduk memeluk lututnya, tubuhnya gemetar hebat. Rambut ombre ungunya berantakan menutupi sebagian wajahnya. Bajunya telah robek, tak lagi menutup tubuhnya dengan layak.
Tanpa berpikir panjang, Hanan segera melepas baju koko yang ia kenakan. Tangannya bergerak cepat namun tetap menjaga pandangan. Ia membungkuk, menyelimuti tubuh Kayla dengan kokonya, menutup rapat bagian depan gadis itu agar tak lagi terbuka.
“Kayla…” panggilnya pelan, mencoba setenang mungkin.
Tak ada respon.
Pandangannya kosong. Tatapannya menembus entah kemana. Bibirnya bergetar. Tubuhnya terus menggigil.
Tangannya saling menggenggam kuat. Hanan memperhatikan sesuatu. Ia perlahan membuka genggaman tangan Kayla.
“Ya Allah…” Di telapak tangannya ada pecahan beling yang ia genggam terlalu kuat. Kulitnya tergores, darah mengalir dari sela jari.
“Kayla, sadar! Kayla… dengar aku. Kayla!” Suara Hanan mulai bergetar.
“Hiks… hiks…” hanya isak tertahan yang keluar, seperti suara yang tercekik.
Hanan menahan diri. Ia tahu batas. Ia tahu mereka bukan mahram. Tapi saat ini yang ada di hadapannya bukan sekadar seorang perempuan, melainkan korban yang hancur dan ketakutan.
Ia menangkup wajah Kayla dengan hati-hati, mengangkatnya perlahan agar gadis itu menatapnya. “Kayla, lihat aku… astaghfirullahal’adzim…”
Deg.
Tatapan Kayla akhirnya fokus. Mata mereka bertemu. Dan seketika itu, bendungan air mata Kayla pecah. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ditahan. Bibirnya bergetar hebat. Tanpa peringatan, Kayla langsung memeluk Hanan.
“A–aku takut…” gumamnya terisak, suaranya pecah, napasnya tersengal.
Tubuh Hanan mematung. Pelukan itu tiba-tiba. Hangat. Penuh ketakutan. Jantungnya berdetak kencang.
Ia tahu batas-batasnya. Ia sadar sepenuhnya. Tapi tangan Kayla mencengkeram bajunya seolah itu satu-satunya pegangan hidup yang tersisa.
Dan untuk pertama kalinya, Hanan melihat Kayla bukan sebagai gadis yang “kurang bahan” atau liar di matanya.
Melainkan seorang perempuan yang baru saja melewati mimpi buruk. Hanan menahan napas. Tangannya terangkat perlahan, ragu sesaat… lalu ia hanya menepuk pelan punggung Kayla dengan penuh kehati-hatian.
“Sudah… sudah aman,” ucapnya pelan namun tegas. “Tidak ada yang akan menyentuh kamu lagi.”
Kayla semakin terisak. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya bersandar di dada Hanan.
‘Ya Allah, maafkan Hamba.’ Gumam Hanan dalam hati, lalu membalas pelukan Kayla.
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj