Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Apakah dia jodoh untukku?
Jam istirahat, Davin ingin memanfaatkan waktunya untuk menemui Alvian. Namun, baru saja dia beranjak dari kursinya hendak melangkah, Dahlia menghadangnya sambil memasang senyuman semanis mungkin. Membuat pemuda itu mengernyit.
"Dok, bisakah kita makan siang bersama?" tawar gadis itu. "Emmm...maksud saya, biar hubungan sesama rekan kerja bisa semakin akrab. Iya, begitu," lanjutnya gugup.
Davin tersenyum tipis, dia cukup mengerti maksud dan tujuan Dahlia. Namun, sayangnya dia tak tertarik. "Maaf, Bidan Dahlia. Saya sudah ada janji dengan seseorang," tolaknya halus.
"Lagipula nggak ada hubungan akrab antara pria dan wanita, kecuali salah satu dari mereka ada maksud tertentu." Davin kembali berujar dengan tenang, tetapi bernada sindiran.
"Dan saya bukan orang yang mudah akrab dengan seseorang apalagi wanita, kecuali yang benar-benar saya inginkan," lanjut Davin menambahkan, memberi tekanan pada setiap kata-katanya, membuat Dahlia terdiam tak mampu menjawab sepatah katapun.
Davin seakan sengaja berkata demikian, karena dia tidak ingin memberi harapan pada anak gadis orang. Lebih baik pahit diawal daripada nanti dia yang susah sendiri.
"Maaf, saya harus pergi." Davin lalu membawa langkahnya menuju halaman dan mengambil sepedanya, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Kenapa susah banget meluluhkan hatinya, sih!"
Dahlia menatap kepergian Davin dengan perasaan campur aduk antara kecewa dan sedikit tersinggung. Kata-kata dokter tampan itu terasa monohok baginya. Namun, di dalam hati, Dahlia masih menyimpan rasa penasaran dan tertantang untuk menaklukkan Davin.
"Aku nggak akan nyerah untuk mendapatkannya. Aku nggak peduli, meskipun harus dengan cara yang ekstrim sekalipun!" ujarnya penuh tekad kuat.
.
Davin tersenyum ketika sampai di depan rumah mungil, tempat tinggal Melodi dan Alvian. Dua orang yang tak ada hubungan kerabat atau keluarga, tetapi telah berhasil menyita seluruh perhatiannya.
Dia turun dari sepeda, mengambil plastik kresek transparan berisi dua bungkus nasi lengkap dengan lauk pauk, buah pisang, serta cemilan untuk Alvian.
"Assalamualaikum, Vian," panggilnya.
"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka muncul sosok penuh Alvian yang tersenyum menyambut Davin.
,
"Pak Dokter...?" ucapnya, matanya berbinar melihat kedatangan Davin.
"Hai, Jagoan. Sudah makan belum?" Davin bertanya lantas masuk ke dalam rumah.
Alvian menggeleng. "Belum, Pak Dokter."
"Ya sudah, ayo, kita makan!" Dia menaruh plastik tersebut di atas meja, lalu ke dapur mengambil piring dan sendok. Selanjutnya dengan telaten melayani Alvian membuka satu bungkus dan memberikannya pada bocah itu
"Ini buat, Vian."
"Terima kasih, Pak Dokter." Alvian menerimanya dengan senang hati.
Kemudian membuka satu bungkus untuk dirinya sendiri. Mereka pun makan bersama dengan lahap. Sesekali Davin menyuapi Alvian atau sebaliknya.
"Mulai sekarang, jika nggak ada orang lain, panggil Kak Davin saja, jangan Pak Dokter, oke!" pintanya pada Alvian.
Bocah tujuh tahun itu, menatap Davin sesaat, lalu mengangguk mantap. "Baik, Kak."
"Anak pintar." Davin tersenyum seraya mengusap kepala Alvian dengan sayang.
"Vian mau kan, kalau Kak Davin jadi kakak ipar, Vian?" Davin menatap Alvian dengan tatapan penuh harap.
"Mau, mau, mau, Kak," jawab Alvian, wajahnya tampak sumringah seraya mengangguk-angguk cepat.
Tanpa keduanya ketahui, Melodi melihatnya di balik pintu depan rumah. Ia menghela napas dalam dan panjang. Tadinya ketika sampai di rumah, ia mau langsung masuk ke dalam, tetapi urung saat melihat keberadaan Davin.
"Ya Allah, apa dia benar-benar tulus menyayangi kami?" batin Melodi, ia merasa tersentuh melihat bagaimana Davin memperlakukan adiknya.
"Apa dia jodoh yang Engkau pilihkan untukku, ya Allah." Melodi memejamkan matanya, tubuhnya bersandar pada tembok.
Beberapa malam ini setelah sholat istikharah, Davin selalu hadir dalam mimpinya. Bayangannya itu selalu menghantui pikirannya.
"Loh, Mbak Mel ngapain, di sini? Kenapa nggak masuk?" tanya Davin, membuat Melodi tersentak dan malu.
Setelah selesai makan dia berniat hendak kembali ke Puskesmas. Eh, malah melihat Melodi memejamkan mata sambil menempel di tembok. Dia tersenyum jahil.
"Kalau ngantuk, tidur di dalam ya, jangan sambil berdiri di sini. Nanti kalau ada yang bawa lari Mbak Mel, saya harus cari ke mana?" imbuhnya berkelakar dengan gombalan receh.
Bagaimana reaksi Melodi? Gadis itu tersipu-sipu, wajahnya memerah. Ia tertunduk malu lalu masuk ke dalam rumah tanpa kata.
Davin tertawa lebar seraya menggelengkan kepala pelan. Hatinya menghangat, tekadnya semakin kuat untuk melindungi dan membahagiakan mereka.
.
Sore itu, halaman sekolah SD Satu Sukun sangat ramai. Hari itu digelar pertandingan final turnamen bola voli antara Desa Sukun dan Desa Nangka.
Suasana sangat ramai, warga desa tumpah ruah di sana untuk menyaksikan sekaligus mendukung tim kesayangan mereka.
Tim bola voli putri telah masuk ke lapangan menempati posisi masing-masing hingga wasit meniup peluit tanda pertandingan di mulai.
Davin bersama Alvian berada di antara kerumunan warga. Dia berdecak kagum, menyaksikan aksi Melodi di lapangan.
"Vian, dari mana Kak Mel belajar main voli?" tanyanya penasaran.
Sebenarnya waktu itu, di pertandingan pertama, Davin pengin tanya sama Melodi, tetapi jika sedang bersama, dia selalu lupa bertanya.
"Dari Ibu, Kak," sahut Alvian.
"Ibu juga pintar main voli, mungkin bakat Kak Mel nurun dari ibu," lanjutnya, tanpa mengalihkan perhatiannya pada sang kakak.
"Pantas, bakatnya lahir turun temurun rupanya," gumam Davin.
Pemuda itu kembali fokus menonton aksi Melodi yang berhasil mencetak poin demi poin, membuat timnya melesat jauh dari poin lawan. Melodi tampak bersemangat seakan tidak punya rasa lelah. Hal itu menular kepada anggota tim yang lain. Sehingga hanya perlu tiga set pertandingan, mereka langsung bisa menekuk lawan dengan skor tiga kosong, untuk kemenangan tim Desa Sukun.
"Kak Mel, hebat!" seru Alvian sambil bertepuk tangan gembira, ketika pertandingan berakhir.
Melodi menghampiri Alvian lalu menciumi seluruh wajah adiknya dengan gemas.
"Selamat ya, Mbak Mel." Davin mengulurkan tangannya.
Dengan malu-malu, Melodi menyambutnya. "Terima kasih."
"Cie... cie...cie..." ledek Alvian menggoda kakaknya.
Tak jauh dari sana Dahlia menatapnya dengan jengah, iri dengki menggerogoti batinnya.
"Awas saja kalian, tak akan aku biarkan kalian merasa senang!"