Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Kehancuran yang Megah
Ballroom hotel bintang lima di kawasan jantung Jakarta itu disulap menjadi sebuah negeri dongeng. Lampu gantung kristal yang menjuntai dari langit-langit membiaskan cahaya keemasan ke seluruh ruangan.
Bunga-bunga segar impor dari Belanda menghiasi setiap sudut, dan alunan musik orkestra klasik mengalun lembut, menyambut para tamu undangan yang merupakan jajaran elit Jakarta. Ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan kelima Gendis dan Indra.
Indra berdiri di dekat pintu masuk dengan setelan jas tuxedo hitam yang tampak mewah, namun wajahnya pucat pasi. Ia merasa seperti sedang menunggu eksekusi mati. Ia terus-menerus menyapu pandangan ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan Cindy yang untungnya tidak muncul sambil sesekali melirik Gendis yang berdiri di sampingnya.
Gendis tampak seperti seorang ratu. Gaun gown panjang berwarna emerald dengan detail manik-manik yang rumit membuatnya terlihat begitu elegan, begitu dingin, dan begitu tak terjangkau. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menyadari bahwa di balik senyum tipisnya, Gendis sedang memegang detonator untuk menghancurkan hidup pria di sampingnya.
Keluarga besar Indra datang dengan wajah bangga, sementara keluarga Gendis hadir dengan senyum bahagia, sama sekali tidak tahu bahwa mereka sedang menyaksikan drama pengkhianatan yang akan segera mencapai klimaks.
Di barisan depan, duduk para anggota dewan direksi perusahaan tempat Indra dan Gendis bekerja, termasuk atasan tertinggi mereka. Baskara berdiri di dekat panggung, menyesap sampanye dengan tenang, matanya tak pernah lepas dari sosok Gendis.
Tiba saatnya untuk memberikan sambutan. Gendis melangkah ke atas panggung dengan langkah yang stabil. Ia memegang mikrofon dengan tangan yang tidak gemetar sedikit pun.
"Terima kasih atas kehadiran Anda semua di malam yang spesial ini," ujar Gendis, suaranya jernih dan berwibawa.
Gendis terdian cukup lama setelahnya kembali bersuara.
"Lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat. Selama lima tahun ini, banyak hal yang telah terjadi. Banyak kebohongan, banyak pengkhianatan, dan banyak luka yang disembunyikan di balik topeng kebahagiaan."
Ruangan mendadak hening. Indra merasakan jantungnya melompat ke tenggorokan. Ia hendak maju untuk menghentikan Gendis, namun langkah kakinya seolah terpaku di lantai.
Gendis menekan sebuah tombol pada remote di tangannya. Layar raksasa di belakang panggung menyala. Bukan foto kenangan manis pernikahan mereka yang muncul, melainkan data audit internal, bukti transfer uang perusahaan ke rekening pribadi Cindy, serta log percakapan vulgar yang disalin langsung dari ponsel Indra. Tak lupa foto-foto dan beberapa potong video porn0 sangat aktor yang tak lain suaminya sendiri bersama seorang LC bernama Cindy.
"Saya hanya ingin memberikan kejutan pada suami saya, Indra," lanjut Gendis dengan nada yang begitu dingin. "Karena hadiah terbaik untuk pria yang telah menghancurkan harga diri istrinya adalah kejujuran yang telanjang di hadapan publik."
Seketika, ballroom itu meledak dalam bisikan dan kekacauan. Para dewan direksi berdiri, wajah mereka merah padam saat melihat bukti korupsi yang terpampang jelas di layar. Keluarga Indra ternganga, terpaku dalam rasa malu yang mendalam. Mereka mencoba mendekati panggung untuk membela martabat keluarga, namun Gendis sudah menyiapkan segalanya.
Sementara ayah Gendis yang marah karena Indra telah menyakiti puterinya menatap mantap sang putri untuk kembali membongkar kebusukan menantunya. Ibu Gendis sendiri hanya mampu terdiam tapi tak akan menghentikan sepak terjang Gendis malam ini.
"Ini adalah bukti dari perzinaan dan korupsi yang dilakukan Indra," tegas Gendis sambil menatap tajam ke arah mertuanya. "Bapak dan Ibu bertanya mengapa saya tidak memberikan cucu? Bagaimana saya bisa memberikan keturunan dari rahim yang suaminya justru menyia-nyiakan hidupnya untuk perempuan malam?"
"Gendis! Cukup!" teriak Indra, suaranya serak dan gemetar. Ia benar-benar hancur. Dunia yang ia bangun dengan kebohongan kini runtuh dalam hitungan detik.
"Tidak ada yang cukup, Indra," potong Gendis keras seolah mencurahkan kemarahan yang selama ini dia tahan dengan sempurna."Besok pagi, tim hukum akan menyerahkan ini ke kepolisian. Kamu tidak hanya kehilangan pekerjaanmu secara tidak hormat, tapi kamu juga akan kehilangan segalanya sesuai dengan perjanjian pranikah yang kamu tandatangani lima tahun lalu. Ingat klausulnya? Kamu keluar dengan tangan kosong."
Keluarga Indra mulai memaki, namun Gendis tidak membalas. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan yang menyiratkan bahwa setiap kata kasar mereka hanyalah bukti dari kegagalan mereka mendidik anak laki-laki mereka.
Di balik pilar besar dekat pintu keluar, Cindy yang datang diam-diam untuk membuat keributan, gemetar hebat. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Gendis yang ia kira hanyalah wanita lemah ternyata adalah monster yang sangat terencana.
Saat beberapa wartawan yang tidak sengaja berada di sana mulai mengarahkan kamera ke arah panggung, Cindy panik. Jika fotonya tersebar dan keluarganya di kampung tahu bahwa ia adalah wanita di balik skandal ini, hidupnya tamat. Ia berbalik dan berlari keluar ballroom dengan kaki telanjang karena ia terpaksa melepas sepatunya agar bisa lari lebih cepat.
Indra hanya bisa berdiri mematung di atas panggung. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia melihat kariernya, masa depannya, dan istrinya semuanya lenyap dalam satu malam.
Baskara menatap panggung dari kejauhan dengan senyum tipis.
Ia mengagumi keberanian Gendis. Ia tahu bahwa meskipun Gendis telah menang, perjalanan wanita itu masih panjang untuk memulihkan dirinya sendiri. Baskara memutuskan untuk tetap berada di sana, sebagai orang yang siap menopang Gendis kapan pun dia butuh, meski ia tahu bahwa menaklukkan hati Gendis yang kini telah membeku tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.
Acara ulang tahun pernikahan itu berakhir dengan kehancuran yang total. Gendis turun dari panggung, berjalan melewati Indra tanpa menoleh sedikit pun, seolah pria itu hanyalah debu di lantai hotel mewah tersebut. Ia keluar dari ballroom itu dengan kepala tegak, meninggalkan Indra dalam pusaran kehancuran yang tidak akan pernah bisa ia perbaiki.
Malam itu, Gendis bukan lagi istri yang setia atau wanita rumah tangga yang terabaikan. Dia adalah Gendis yang baru wanita yang telah memenangkan perang, namun kini harus menghadapi babak baru dalam hidupnya sebagai seorang wanita yang bebas, namun harus belajar kembali bagaimana cara mempercayai seseorang setelah dikhianati begitu dalam.
Dan untuk Cindy, dia tidak akan membiarkan gundik itu lolos begitu saja. Dia akan membuat perempuan rendah itu menerima sangsi sosial yang berat dan Gendis akan memulai perjalanannya menghancurkan Cindy dengan kabar yang akan dia bawa ke kampung halaman perempuan itu.