NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21.RUNTUHNYA LANGIT AKADEMI

Matahari baru saja naik sepenggalah di atas langit Ovelia, namun atmosfer di halaman belakang mansion sudah terasa mencekam. Valen dan Seraphina berdiri dengan zirah latihan yang masih mengkilap, memegang senjata kayu dengan postur yang sangat formal—buah dari bertahun-tahun didikan kaku Akademi Kerajaan. Di depan mereka, Jiro berdiri dengan pose malas, pedang kayu tumpulnya disandarkan di bahu.

Arka duduk di kursi malas di balkon lantai dua, matanya yang setengah tertutup menatap ke bawah. Di sampingnya, sepiring camilan yang disiapkan Lyra masih belum disentuh.

"Kalian berdua," suara Arka terdengar serak karena baru bangun tidur. "Gunakan semua teknik akademi yang kalian banggakan itu. Serang Jiro secara bersamaan. Jangan ragu, karena jika kalian ragu, kalian tidak akan pernah menyentuh ujung rambutnya."

Valen mengerutkan kening, egonya terusik. "Tuan Arka, kami adalah peringkat sepuluh besar di akademi. Menyerang Jiro senior dua lawan satu... bukankah itu sedikit tidak adil bagi dia?"

Arka tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap Jiro. "Jiro, tugasmu sederhana. Jangan menyerang balik. Kau hanya boleh menghindar dan menangkis. Dan satu lagi... jika seujung kuku saja bajumu sobek, atau ada noda tanah yang mengotori seragammu, latihanmu besok akan kutambah dua kali lipat."

Jiro tersentak, wajahnya pucat pasi. "Dua kali lipat?! Guru, itu namanya pembunuhan berencana!"

"Karena kau berisik," Arka memotong dengan nada datar, "Hukumannya menjadi tiga kali lipat."

Jiro seketika menutup mulutnya rapat-rapat. Ekspresinya yang biasanya jenaka berubah drastis menjadi sangat serius. Aura di sekitarnya menajam; ia tidak lagi menatap Valen dan Seraphina sebagai rekan, melainkan sebagai bencana berjalan yang harus ia hindari dengan segala cara.

...

"Mulai," ucap Arka pendek.

Valen melesat lebih dulu. Langkah kakinya mengikuti pola serangan yang sempurna. Pedang kayunya membelah udara dengan suara siulan yang tajam. Di saat yang sama, Seraphina bergerak ke sisi kiri Jiro, memutar tombak kayunya dalam teknik Circular sweep untuk mengunci ruang gerak kaki Jiro.

Koordinasi mereka luar biasa—untuk standar akademi.

Namun, bagi Jiro yang setiap hari dihajar oleh para Shadow Servants, gerakan ini terasa seperti menonton pertunjukan dalam gerak lambat. Jiro tidak melompat mundur. Ia justru maju satu langkah, masuk ke dalam area buta di antara pedang Valen dan tombak Seraphina. Dengan gerakan bahu yang minimalis, ia membiarkan ujung pedang Valen lewat hanya beberapa milimeter dari kain bajunya.

Tak!

Jiro menangkis ujung tombak Seraphina dengan pangkal pedang kayunya, mengarahkan kekuatan gadis itu ke tanah tanpa membuang energi.

"Kenapa kalian diam?" Jiro bergumam pelan, matanya fokus pada setiap getaran otot lawan. "Ayo, gerakkan tangan kalian! Aku tidak mau mati karena latihan tiga kali lipat besok!"

Valen yang merasa dipermainkan mulai melepaskan mana murninya. "Jangan sombong, Senior! Sonic Thrust!"

Pedang kayu Valen berubah menjadi kilatan cahaya biru. Serangan bertubi-tubi diluncurkan dalam satu garis lurus. Seraphina tidak mau kalah, ia merapal mantra singkat yang meningkatkan kecepatan geraknya. Mereka berdua menyerbu Jiro seperti badai.

Udara di halaman belakang bergetar hebat. Dentingan kayu beradu terdengar seperti suara mesin yang bekerja cepat. Valen dan Seraphina mengerahkan seluruh teknik elit mereka, serangan silang, tipuan, hingga serangan kombinasi atas-bawah. Namun, Jiro bergerak seperti asap. Ia berputar, membungkuk, dan meluncur di atas rumput dengan efisiensi yang mengerikan.

Ego Valen mulai retak. Ia sadar, meski mereka berdua menyerang dengan sekuat tenaga, Jiro bahkan tidak menggunakan tangan kirinya. Tangan kiri Jiro tetap berada di dalam saku celananya, menjaga keseimbangan dengan cara yang sangat santai sekaligus menghina.

"Kenapa... kenapa kami tidak bisa mengenainya?!" Seraphina berteriak frustrasi. Tombaknya hampir mengenai lengan Jiro, namun Jiro hanya memutar pergelangan tangannya sedikit, membuat tombak itu terpental jauh.

"Gerakan kalian terlalu berisik," ucap Arka dari balkon, suaranya menembus hiruk pikuk pertarungan. "Kalian berteriak saat menyerang, mana kalian bergejolak sebelum otot bergerak. Kalian seperti pengumuman berjalan bagi Jiro. Di mata dia, kalian adalah buku terbuka yang sangat membosankan."

...

Pertarungan berlanjut selama tiga puluh menit. Valen dan Seraphina sudah bermandikan keringat, napas mereka terputus-putus. Sementara itu, Jiro mulai terlihat lelah secara mental karena harus terus-menerus memprediksi gerakan "berisik" kedua juniornya agar bajunya tidak kotor.

"Cukup," Arka mengangkat tangannya.

Valen dan Seraphina jatuh terduduk, senjata mereka terlepas dari tangan yang gemetar. Mereka menatap Jiro dengan pandangan tidak percaya. Senior mereka itu masih berdiri tegak, dan yang paling menyakitkan: bajunya benar-benar bersih. Tidak ada satu pun serat kain yang sobek.

Jiro menghela napas lega yang sangat panjang. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan bajunya. "Hampir saja... aku benar-benar melihat pintu surga terbuka tadi."

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Kael dan Elara, yang sejak tadi menonton dari pinggir lapangan dengan bosan, saling pandang. Sebuah ide jahil muncul di kepala mereka.

"Hei, Jiro," panggil Kael dengan seringai lebar. "Kau terlihat terlalu bersih untuk seseorang yang baru saja bertarung."

"Iya, sangat menyebalkan dilihat," tambah Elara.

Sebelum Jiro sempat bereaksi, Kael meraup segenggam tanah basah dari pot bunga besar di dekatnya, sementara Elara menggunakan sihir angin kecil untuk menerbangkan debu dan lumpur dari sudut lapangan.

"Woi! Apa-apaan kalian?!" Jiro berteriak histeris.

Kael melemparkan gumpalan tanah itu seperti peluru. Jiro dengan refleks dewa melompat ke samping. "Sialan! Berhenti! Guru sedang melihat!"

"Justru karena Guru melihat, kami membantumu mendapatkan latihan tambahan!" seru Elara sambil mengarahkan tornado debu kecil ke arah kaki Jiro.

"Jangan! Bajuku! Flowing Void!" Jiro berteriak panik, menggunakan teknik penghindaran tingkat tinggi yang bahkan tidak ia keluarkan saat melawan Valen tadi. Ia menangkis lemparan tanah Kael dengan pedang kayunya, memukulnya balik ke arah Kael, sambil melompat mundur untuk menghindari debu Elara.

"Kael, Elara! Aku akan membalas kalian nanti!" Jiro terus melompat-lompat seperti kelinci yang ketakutan, tangannya bergerak liar menangkis serangan lumpur dari kedua rekannya.

Halaman belakang yang tadinya serius kini berubah menjadi ajang lempar lumpur yang kacau. Arka hanya memperhatikan dengan satu alis terangkat, sementara Lyra yang berdiri di belakangnya mencoba menahan tawa dengan menutup mulutnya menggunakan sapu tangan.

...

"Sudah, hentikan," Arka bersuara, dan seketika Kael serta Elara berhenti sambil tertawa terbahak-bahak. Jiro memeriksa setiap inci bajunya dengan panik, memastikan tidak ada noda.

Arka berdiri dari kursinya dan berjalan turun ke lapangan. Ia melewati Jiro yang masih sibuk membersihkan debu imajiner di bahunya, lalu berdiri di depan Valen dan Seraphina yang masih berusaha mengatur napas.

"Kalian lihat itu?" Arka menunjuk ke arah kekacauan tadi. "Jiro bisa menghindari serangan acak dan cepat dari Kael dan Elara karena dia tidak lagi bertarung dengan 'pola'. Dia bertarung dengan insting murni."

Arka kemudian memalingkan wajahnya ke arah bayangan pohon di sisi lapangan. "Lyra."

Dalam sekejap, Lyra sudah berada di samping Arka, membungkuk rendah. "Saya di sini, Tuan."

"Dua orang ini... bakat mereka terpendam di bawah tumpukan teori sampah dari akademi," Arka menunjuk Valen dan Seraphina. "Mulai besok, kau yang akan melatih mereka. Ajarkan mereka cara bergerak tanpa suara. Aku ingin gerakan mereka menjadi efisien. Jangan biarkan mereka menghambur-hamburkan mana hanya untuk menciptakan cahaya sihir yang cantik tapi tidak berguna."

Arka menatap Valen dan Seraphina dengan mata dingin. "Jika besok aku masih mendengar suara langkah kaki kalian dari balkon lantai dua, artinya latihan kalian gagal. Lyra, pastikan gerakan mereka tidak berisik. Buat mereka mengerti bahwa dalam pertempuran yang sesungguhnya, suara adalah undangan bagi kematian."

Lyra tersenyum tipis—sebuah senyum profesional yang membuat bulu kuduk Valen dan Seraphina berdiri. "Dengan senang hati, Tuan. Saya akan memastikan mereka menjadi 'tiada' sebelum minggu ini berakhir."

Arka berbalik pergi meninggalkan lapangan. "Jiro, karena kau berhasil menjaga bajumu... besok kau boleh tidur satu jam lebih lama saat istirahat latihan."

"Guru! Kau memang yang terbaik!" Jiro berseru gembira, melupakan amarahnya pada Kael dan Elara.

Namun, bagi Valen dan Seraphina, hari itu adalah akhir dari kehidupan mereka sebagai ksatria elit. Mereka kini menyadari bahwa di bawah atap mansion ini, mereka hanyalah bongkahan batu kasar yang harus dihancurkan dan dibentuk ulang menjadi bayangan yang mematikan.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!