Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Terbelokkan
Hari pertama di SMK seharusnya menjadi awal yang tenang bagi semua orang, tapi tidak bagi Vilov. Sebagai anak kelas sepuluh yang terkenal berisik dan tidak bisa diam, radar Vilov sudah menyisir seluruh sudut sekolah. Awalnya, targetnya hanya satu: Ekskul Karate. Gadis itu sudah membayangkan betapa kerennya dia dengan seragam putih dan sabuk di pinggang.
Namun, rencana itu buyar saat Tije, teman sekelasnya, datang membawa tawaran lain.
"Ikut Hockey sama gue aja, yuk!" ajak Tije antusias.
Vilov, bersama Sari, Ayu, dan Tika, saling pandang. "Hockey? Olahraga yang pakai tongkat itu? Emang ada di sini?" tanya Vilov dengan nada ragu yang ketara.
Tije hanya nyengir misterius. "Udah,ikut aja dulu. Pulang sekolah ini kita kumpul di lapangan, ya!"
Meski hatinya masih setengah di Karate dan setengah di ragu-ragu, Vilov akhirnya luluh. Saat bel pulang berbunyi, mereka berganti pakaian dan berjalan menuju tengah lapangan yang masih kosong. Vilov berdiri di sana, sesekali merapikan rambutnya sambil bergumam, "Awas aja ya kalau ini nggak seru."
Beberapa menit kemudian, suara riuh datang dari arah gerbang. Rombongan anak-anak dari beberapa sekolah lain mulai berdatangan membawa tas stik yang panjang. Vilov yang tadinya malas-malasan, tiba-tiba berdiri tegak. Matanya menyipit, memperhatikan cara mereka menggiring bola dengan stik.
Keren juga ya, batinnya mulai goyah.
Apalagi saat pandangannya jatuh pada seorang laki-laki di tengah lapangan. Laki-laki itu bergerak lincah, keringatnya bercucuran, dan tampak sangat dominan di antara yang lain. Sontak, senyum Vilov merekah tanpa bisa ditahan.
"Tije, Tije!" Vilov menyenggol lengan temannya itu dengan semangat. "Cowok yang pakai jersey merah itu siapa?"
Tije melirik ke arah yang ditunjuk Vilov. "Oh, itu Putra. Kenapa?"
"Cakep! HAHAHA!" tawa Vilov pecah seketika.
Tije ikut tertawa melihat tingkah Vilov yang mendadak jadi fan-girl. "Jijik banget lu, sumpah! Hahaha," balas Tije sambil balik menyenggol lengan Vilov. Mereka berdua terus tertawa sambil memperhatikan Putra yang masih asyik dengan permainannya, tanpa tahu bahwa hari itu adalah awal dari petualangan rasa yang panjang.
Keesokan harinya, energi Vilov masih terasa penuh. Begitu sampai di kelas, dia tidak menuju bangkunya sendiri, melainkan berlari ke arah meja Tije.
BRAKK!
Vilov menghentak meja Tije dengan kedua tangannya. "WOYYY, TIJEEE!"
Tije yang sedang melamun hampir saja melompat dari kursinya. "Ihh, lu ya! Bikin kaget aja!" serunya sambil melirik tajam ke arah Vilov.
Vilov hanya tertawa puas melihat ekspresi kaget temannya itu. Dia langsung menarik kursi dan duduk di sebelah Tije dengan wajah yang berubah serius—serius karena penasaran.
"Ti, cowok jersey merah kemarin itu. sekolah di mana? Kelas berapa? Terus... udah punya cewek belum?" Pertanyaan itu keluar seperti rentetan peluru, tanpa jeda napas.
Tije menghela napas panjang, menatap Vilov dengan tatapan heran. "Buset, panjang banget itu pertanyaan! Mana gue tahu, Vil!" jawab Tije yang langsung disambut wajah cemberut Vilov.
Mendengar jawaban Tije yang cuek, Vilov langsung menekuk wajahnya. Bibirnya mengerucut sebal. "Yah, payah banget lu, Ti! Masa temen sendiri nggak tahu profil lengkap cowok secakep itu,huh" gerutunya.
Saat Vilov masih sibuk dengan rasa kecewanya, Tika—teman sebangku Tije yang juga ikut ke lapangan kemarin—datang dan meletakkan tasnya. Ia menatap heran ke arah Vilov yang tampak lesu di pagi buta seperti ini.
"Vilov, lu kenapa? Masih pagi udah cemberut aja," tanya Tika sambil menyampirkan rambut ke belakang telinga.
Vilov mendongak, matanya kembali berbinar seolah menemukan harapan baru. "Tik! Gua tuh lagi kepikiran sama cowok yang kemarin, itu loh yang pake jersey merah. Tapi si Tije pelit info, katanya nggak tahu!"
Mendengar itu, tawa Tika langsung pecah. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib sahabat barunya itu. "Oalah, si Putra? HAHAHA! Lu beneran naksir sama Putra?"
Vilov terlonjak dari duduknya, hampir saja menyenggol botol minum di meja Tije. "Lah? Lu tahu, Tik?!"
"Ya tahulah! Putra itu temen SMP gue dulu. Dia, gue, sama Tije itu satu sekolah, Vil," jawab Tika santai, masih dengan sisa tawa di wajahnya.
Sontak, Vilov langsung menyambar tangan Tika dan menggenggamnya erat-erat, seolah takut Tika akan lari membawa informasi berharga itu. Matanya memelas, mencoba mengeluarkan jurus paling ampuh untuk memohon. "Tik, please banget... kenalin gue sama dia!"
Tika yang merasa tangannya tiba-tiba ditarik pun merasa risih sekaligus geli. Ia segera melepaskan genggaman Vilov sambil tertawa renyah. "Iya, iya, tenang! Tapi nggak usah pake pegang-pegang tangan juga kali, Vil. Risih tau, gue masih normal! Hahaha."
Vilov nyengir kuda, tidak peduli meski baru saja dibilang aneh. Di kepalanya sekarang sudah penuh dengan bayangan bagaimana cara ia menyapa Putra nanti. Namun, baru saja ia hendak membuka mulut untuk menanyakan nomor telepon Putra, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap.
Ketukan sepatu pantofel di lantai koridor terdengar mendekat. Sosok guru dengan buku absen tebal muncul di ambang pintu, menatap tajam ke seisi kelas.
"Guru, guru! Woy, balik!" seru salah satu teman sekelas mereka.
Seketika, kelas yang tadinya kacau berubah menjadi arena balap lari. Murid-murid berhamburan kembali ke bangku masing-masing, termasuk Vilov yang terpaksa lari terbirit-birit menuju kursinya sendiri di barisan belakang.
Selama pelajaran berlangsung, pikiran Vilov tetap tertinggal di lapangan hockey. Ia mulai menyusun rencana untuk mendekati Putra, tapi sisi gengsinya menahan diri. "Masa gue si yang deketin pertama, Gengsi dong. umm Gimana ya caranya biar dia duluan yang deketin gue?" pikirnya sambil mencoret-coret buku tanpa sadar.
Saking asyiknya melamun, tanpa sadar mata Vilov mulai berat. Kepalanya masih tegak, tapi matanya sudah terpejam rapat. Ia tertidur di tengah - tengah pelajaran! Teman-temannya yang menyadari hal itu hanya bisa menahan tawa melihat tingkahnya, bahkan ada yang diam-diam memotret wajah "tidur tegak" Vilov sebagai bahan lelucon.
KRINGGG!……KRINGGG!……KRINGGG!……
Bel istirahat berbunyi sangat keras. Teman sebangku Vilov pun mulai menggoyangkan lengannya. "Vilov, Vilov woy bangun. Udah bunyi bel istirahat nih!"
Vilov yang tertidur pulas dengan posisi tegap pun tersentak bangun dengan wajah linglung, disambut oleh tawa riuh dari teman-sekelas yang masih tertinggal di sana. Di tengah rasa malunya, hanya satu nama yang masih tersisa di benaknya: Putra. Dengan pikiran yang masih tertuju ke Putra dan wajah nya yang masih linglung, Vilov pun berdiri dari bangku nya dan pergi ke kantin bersama teman - temannya