NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Melangkah dari Luka Menuju Cinta Sejati”

Fase pemulihan pasca-operasi menjadi tantangan baru yang menguras fisik dan emosi bagi Anindya. Setiap pagi, matahari Surabaya yang hangat menyelinap masuk melalui jendela ruang fisioterapi di Rumah Sakit Sehati, menjadi saksi bisu perjuangan luar biasa seorang wanita yang ingin kembali berdiri demi pria yang dicintainya.

Yoga benar-benar membuktikan janjinya. Sebagai dokter spesialis, ia memiliki jadwal yang sangat padat, namun ia selalu mengatur agar jadwal fisioterapi Anindya jatuh di jam istirahatnya atau di akhir jam praktiknya.

"Ayo, Anin. Satu langkah kecil lagi. Fokus pada ujung jari kakimu," ucap Yoga dengan suara baritonnya yang menenangkan.

Setiap kali Anindya harus berpindah dari ranjang pasien ke alat parallel bars (palang sejajar), Yoga tidak pernah membiarkan perawat lain melakukannya. Dengan penuh kasih sayang, Yoga membungkuk, menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Anindya, lalu menggendongnya dengan sangat ringan seolah Anindya adalah harta yang paling berharga.

"Mas, aku berat... biar pakai kursi roda saja," protes Anindya setiap kali merasa tidak enak hati.

Yoga hanya terkekeh sambil mengecup keningnya sekilas. "Berat? Ini latihan otot lengan untukku supaya nanti kuat menggendongmu saat naik ke pelaminan. Jangan protes, pasien harus nurut sama dokternya."

Proses itu tidak mudah. Saraf yang selama ini "tertidur" mulai terbangun dengan rasa kesemutan dan nyeri yang hebat. Suatu sore, Anindya sempat terjatuh karena kakinya masih terlalu lemas untuk menopang berat tubuhnya. Ia menangis tersedu-sedu di lantai, merasa putus asa.

"Aku nggak bisa, Mas... Kakiku rasanya seperti ditusuk ribuan jarum. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk tetap di kursi roda," isak Anindya sambil memukul kakinya sendiri.

Yoga segera berlutut di depannya, menangkap tangan Anindya agar berhenti menyakiti diri sendiri. Ia memeluk Anindya dengan sangat erat di lantai ruang terapi itu.

"Menangis boleh, Anin. Tapi menyerah tidak boleh. Rasa sakit itu tandanya sarafmu sudah hidup kembali. Itu tanda kemenangan, bukan kekalahan," bisik Yoga tepat di telinganya.

Yoga kemudian kembali menggendong Anindya, membawanya ke bangku panjang, dan dengan telaten memijat kaki Anindya untuk meredakan kramnya. Ia melakukan itu setiap hari, tanpa rasa lelah, tanpa keluhan.

Berkat semangat Anindya yang membara dan dukungan penuh dari Yoga yang selalu menggendong serta menyemangatinya, keajaiban itu mulai muncul di minggu keenam.

Sore itu, di rumah baru mereka, Yoga sedang membantu Anindya berlatih di ruang fisioterapi pribadi. Saat Yoga merentangkan tangannya beberapa langkah di depan Anindya, ia berkata, "Kemarilah, Anin. Berjalanlah ke pelukanku."

Dengan gemetar, Anindya melepaskan pegangannya pada palang besi. Ia mengambil satu langkah... lalu dua langkah kecil. Meskipun goyah, ia tidak jatuh.

Yoga tidak langsung menangkapnya. Ia ingin Anindya merasakan kekuatan kakinya sendiri. Begitu Anindya sampai di depan dada Yoga, Yoga langsung menyambutnya dengan dekapan paling hangat.

"Aku bisa, Mas... aku melangkah!" teriak Anindya kegirangan sambil menangis di dada Yoga.

"Kamu hebat, Sayang. Kamu benar-benar pejuang," puji Yoga dengan mata yang ikut berkaca-kaca.

Ibu Sekar dan Nenek Lastri yang mengintip dari balik pintu pun tak kuasa menahan tangis haru melihat kemajuan Anindya. Mereka tahu, sebentar lagi tidak akan ada lagi kursi roda, yang ada hanyalah sepasang pengantin yang akan melangkah menuju kehidupan baru.

****

Hari pernikahan yang dinanti akhirnya tiba. Kediaman Yoga di Surabaya yang asri telah disulap menjadi tempat resepsi yang elegan namun tetap bersahaja. Dekorasi didominasi bunga lili putih dan melati yang wanginya memenuhi seluruh ruangan, menciptakan suasana sakral yang menyejukkan hati.

Cakra, asisten paling setia Yoga, menjadi orang yang paling sibuk hari itu. Ia memastikan setiap detail sempurna, mulai dari katering hingga alur masuk tamu, demi kelancaran hari bahagia bos sekaligus sahabatnya tersebut.

Saat prosesi akad nikah akan dimulai, suasana mendadak hening. Pintu terbuka, dan Anindya muncul dengan kebaya putih bersih yang menjuntai indah. Tidak ada lagi kursi roda. Anindya melangkah dengan perlahan namun pasti, didampingi oleh Nenek Lastri. Setiap langkahnya adalah saksi bisu perjuangan air mata dan dukungan tanpa henti dari Yoga.

Yoga yang sudah menunggu di depan penghulu tak mampu menahan getaran di dadanya. Matanya berkaca-kaca melihat wanita yang dulu ia temukan dalam keterpurukan, kini berjalan tegak menuju ke arahnya.

Yoga mengucapkan akad nikah dengan suara lantang dan..

"Sah!" seru para saksi dan tamu undangan.

Ibu Sekar dan Nenek Lastri terisak haru di kursi barisan depan. Bagi mereka, ini bukan sekadar pernikahan, tapi sebuah kemenangan atas takdir yang sempat dirasa pahit.

Acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang hangat. Teman-teman sejawat dari Rumah Sakit Sehati hadir memberikan selamat. Dokter Yudha datang dengan senyum lebar, menjabat tangan Yoga dengan erat.

"Selamat, Yo! Kamu benar-benar pria sejati. Surabaya bangga punya dokter seperti kamu yang berani mengejar kebahagiaan sejati," puji Yudha tulus.

Beberapa karyawan loyal dari Aditama Yoga Medika juga hadir. Mereka merasa bangga bisa bekerja di bawah pimpinan seorang dokter yang begitu manusiawi. Anindya, yang kini resmi menjadi istri pemilik perusahaan tempatnya bekerja, menyambut mereka dengan senyum manis dan keramahan yang luar biasa.

Di tengah kebahagiaan itu, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Keluarlah Dokter Firdaus. Ia datang mewakili Dokter Reza yang masih dalam masa pemulihan di Jakarta.

Dokter Firdaus mendekati pelaminan dan menyalami Yoga serta Anindya. "Yoga, saya datang atas perintah Kak Reza. Beliau mengirimkan doa terbaik untuk kalian. Kak Reza titip pesan... dia sangat menyesali semua perlakuan keluarganya dulu dan bersyukur kamu menemukan kebahagiaanmu di sini."

Yoga mengangguk dengan tulus. "Sampaikan salam saya pada Papa Reza, Om. Terima kasih sudah datang."

Malam itu, di bawah kerlap-kerlip lampu taman, musik lembut mengalun. Yoga mengulurkan tangannya, mengajak Anindya untuk berdansa.

Yoga merangkul pinggang Anindya dengan posesif namun lembut, sementara Anindya melingkarkan tangannya di leher Yoga. Mereka bergerak perlahan, mengikuti irama musik.

"Terima kasih sudah tidak menyerah padaku, Mas," bisik Anindya tepat di telinga Yoga.

Yoga mengecup kening istrinya lama sekali.

"Terima kasih sudah mau melangkah bersamaku, Anin. Sekarang dan selamanya, tidak akan ada lagi beban yang harus kamu tanggung sendiri."

Malam itu, Surabaya menjadi saksi bahwa luka lama bisa sembuh, utang budi bisa dilunasi dengan martabat, dan cinta sejati akan selalu menemukan jalannya pulang ke hati yang jujur.

Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan nuansa hangat di dalam kamar yang harum akan bunga melati itu. Yoga menatap Anindya dengan tatapan yang seolah memuja setiap inci kecantikan istrinya. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyisipkan jemarinya ke sela rambut Anindya, menarik wajah wanita itu perlahan agar menatap matanya.

"Aku mencintaimu, Anindya. Malam ini, esok, dan selamanya," bisik Yoga tepat di depan bibir Anindya.

Yoga mulai memberikan kecupan-kecupan ringan yang bermigrasi dari kening menuju leher, membuat Anindya memejamkan mata dan meremas bahu kokoh suaminya. Dengan penuh perasaan dan tanpa tergesa-gesa, Yoga perlahan melepaskan helai demi helai pakaian yang menutupi tubuh mereka, hingga tak ada lagi penghalang di antara keduanya.

Saat tubuh mereka bersentuhan di atas sprei sutra yang lembut, Anindya merasa jantungnya berdebar kencang. Ini adalah pengalaman pertamanya, sebuah wilayah baru yang membuatnya merasa rentan sekaligus utuh. Yoga yang menyadari kegugupan istrinya, terus memberikan ciuman penenang di kening dan pelipis Anindya.

Ketika penyatuan itu dimulai, Anindya sedikit meringis dan tubuhnya menegang. Rasa sakit yang tajam sempat menyerang karena ini adalah kali pertamanya.

"Sshhh... Relax, Sayang. Ikuti napasku," bisik Yoga dengan suara serak yang menenangkan. Ia berhenti sejenak, memberikan waktu bagi Anindya untuk beradaptasi, sambil terus mengusap punggung dan pinggangnya dengan lembut.

Yoga menunggu dengan sabar hingga ia merasakan ketegangan di tubuh Anindya perlahan mencair. Perlahan tapi pasti, rasa sakit itu mulai memudar, tergantikan oleh sensasi hangat yang menjalar ke seluruh sarafnya. Anindya mulai merasakan debaran aneh yang menyenangkan, sebuah kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Anindya mulai membalas sentuhan Yoga, tangannya mencengkeram erat punggung suaminya saat ritme permainan mereka semakin dalam dan intens. Desahan-desahan kecil mulai lolos dari bibir Anindya, memicu gairah Yoga yang semakin membara. Bagi keduanya, ini bukan sekadar pelepasan fisik, melainkan komunikasi jiwa yang selama ini terpendam dalam penderitaan masing-masing.

"Mas Yoga..." gumam Anindya lirih di tengah napasnya yang memburu.

Yoga terus memacu detak jantung mereka ke titik tertinggi. Di bawah temaram lampu, mereka saling menatap, berbagi emosi yang begitu murni. Hingga akhirnya, gelombang gairah itu mencapai puncaknya. Anindya mendesah panjang saat merasakan sensasi luar biasa yang meledak di dalam dirinya, dan di saat yang bersamaan, Yoga pun melepaskan seluruh gairahnya, menyatukan puncak kebahagiaan mereka dalam satu waktu yang sinkron.

Suasana kamar kembali tenang, hanya menyisakan suara napas mereka yang masih terengah-engah. Yoga segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, lalu mendekap Anindya sangat erat ke dalam dadanya. Ia mengecup kening istrinya yang masih berkeringat dengan penuh rasa syukur.

"Terima kasih, Anindya. Terima kasih sudah menyerahkan segalanya untukku," bisik Yoga pelan.

Anindya menyandarkan kepalanya di dada bidang Yoga, mendengarkan detak jantung suaminya yang perlahan mulai kembali normal. Ia merasa sangat aman, sangat dicintai, dan benar-benar telah menjadi milik Yoga sepenuhnya. Malam itu menjadi segel abadi bahwa masa lalu telah benar-benar usai, dan masa depan mereka baru saja dimulai dengan sangat indah.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!