NovelToon NovelToon
Menantu Pilihan Untuk Sang CEO Duda

Menantu Pilihan Untuk Sang CEO Duda

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Duda / Romansa / Tamat
Popularitas:212.4k
Nilai: 5
Nama Author: ijah hodijah

“Fiona, maaf, tapi pembayaran ujian semester ini belum masuk. Tanpa itu, kamu tidak bisa mengikuti ujian minggu depan.”


“Tapi Pak… saya… saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah saya. Pasti akan segera sampai.”


“Maaf, aturan sudah jelas. Tidak ada toleransi. Kalau belum dibayar, ya tidak bisa ikut ujian. Saya tidak bisa membuat pengecualian.”


‐‐‐---------


Fiona Aldya Vasha, biasa dipanggil Fio, mahasiswa biasa yang sedang berjuang menabung untuk kuliahnya, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena satu kecelakaan—dan satu perjodohan yang tak diinginkan.

Terdesak untuk membayar kuliah, Fio terpaksa menerima tawaran menikah dengan CEO duda yang dingin. Hatinya tak boleh berharap… tapi apakah hati sang CEO juga akan tetap beku?

"Jangan berharap cinta dari saya."


"Maaf, Tuan Duda. Saya tidak mau mengharapkan cinta dari kamu. Masih ada Zhang Ling He yang bersemayam di hati saya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ijah hodijah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Farhan yang memang satu tingkat di atas mereka hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. “Udah biasa, Lin… kalau Fio nggak ngelucu sehari, dunia terasa aneh.”

Kevin, yang berdiri di samping Farhan, mengangkat alis. “Kamu kemana aja, Fio? Semua orang panik, tahu nggak.”

Fio mendengus pelan, lalu menjawab dengan nada santai khasnya. “Biasalah, Babang tampan… gue keserempet mobil. Dan kaki gue, aduh… sakit banget. Bukan lecet lagi keknya. Tapi lebih ke memar yang luar biasa.”

“Lo tuh… nggak hati-hati banget sih!” sahut Kevin sambil melangkah mendekat dan memperhatikan kaki Fio dengan khawatir.

“Udah jalannya, Bang Kev…” jawab Fio santai sambil nyengir. “Jalanan emang lagi jahat sama gue.”

Farhan memutar bola matanya. “Lo tuh… selalu bikin deg-degan. Untung nggak parah, Fio.”

Linda menghela napas panjang, lalu menatap Fio dengan mata berkaca-kaca. “Gue serius, Fio… jangan membuat kita khawatir kayak gini lagi, ya.”

Fio yang tadinya bercanda jadi terdiam sejenak. Ada kehangatan yang menyelinap dalam dadanya. Ia menatap ketiga sahabatnya satu per satu dan tersenyum tulus.

“Iya… Terima kasih ya. Gue bersyukur banget punya kalian.”

Mereka bertiga kini duduk melingkar di lantai kontrakan Fio yang mungil. Tikar tipis digelar, aroma minyak angin samar tercium dari kaki Fio yang masih dibalut perban elastis. Suasana mulai tenang, namun ada kesedihan yang perlahan menyelinap di antara canda mereka tadi.

Linda bersandar di dinding, menatap Fio penuh cemas.

“Jadi… lo serius, Fio? Mau cuti kuliah?”

Fio menarik napas panjang, menatap kosong ke arah lantai. “Mau bagaimana lagi… Gue terpaksa. Gue mau kerja dulu,” ucapnya lirih.

Kata-kata itu mengalir begitu saja, meski hatinya sendiri terasa mencelos. Ia masih sangat ingin lanjut kuliah—itu janji ke mendiang ibunya. Tapi realita menampar terlalu keras.

“Fio, jangan gila!” Linda langsung duduk tegak. “Kalau lo cuti sekarang, lo harus ngulang tahun depan! Lo lupa dosen galak yang nggak pernah kasih dispensasi?”

Farhan ikut bicara, nada suaranya tenang tapi tegas. “Linda benar, Fio. Cuti bukan solusi gampang. Lo udah tinggal sedikit lagi menuju semester akhir. Tiga semester lagi coba. Sayang banget kalau berhenti sekarang.”

“Gue tahu…” Fio memejamkan mata sesaat. “Tapi semua butuh uang, Han. Uang! Gue nggak punya siapa-siapa. Ayah juga—ya lo tahu sendiri, kan?”

Mereka terdiam sejenak. Hanya suara kipas angin kecil yang berderit pelan.

Tiba-tiba Linda berseru, “Bagaimana kalau kita… urunan aja?”

Mata Linda berbinar penuh semangat, seolah ide itu penyelamat.

Farhan dan Kevin saling pandang dengan ekspresi sulit. Farhan menunduk pelan. “Lin… lo tahu sendiri kondisi gue. Kiriman dari orang tua aja pas-pasan. Dan gue nggak boleh bekerja. Gue bisa bantu kalau gue hemat banget, tapi… itu pun nggak cukup buat uang ujian Fio.”

Kevin menggaruk tengkuknya, wajahnya sedikit malu. “Gue… lebih nggak bisa lagi, Lin. Setelah kejadian ribut di kampus itu, ortu gue cabut semua fasilitas. Sekarang gue ngontrak bareng Farhan aja udah untung. Gue lagi benerin hidup, Fi. Maaf ya…”

Nada suaranya tulus, tidak bercanda seperti biasanya.

Linda menggigit bibir. “Gue paling cuma bisa bantu… lima ratus ribu, Fi. Tapi itu pun… ya tetep nggak nutup, kan?”

Fio tersenyum tipis, berusaha terlihat kuat padahal hatinya remuk. “Kalian nggak salah apa-apa. Gue malah terharu banget kalian mau mikirin gue sampai segitunya.”

“Tapi—” Linda belum sempat melanjutkan, Fio menggeleng cepat.

“Nggak usah, Lin. Gue nggak mau nyusahin kalian juga. Kontrakan aja udah harus gue bayar dari setengah gaji gue paling tersisa seratus. Sekarang gue juga udah… nggak punya kerjaan lagi.”

Suara Fio bergetar di akhir kalimatnya. Ia menunduk dalam, menahan air mata agar tidak tumpah.

Farhan menghela napas panjang, lalu meraih bahu Fio dengan lembut. “Kita nggak akan tinggal diam, Fio. Kita cari jalan bareng, ya? Jangan nyerah sekarang.”

Fio mengangguk pelan, meski matanya sudah berkaca-kaca. Dalam hati kecilnya, ia bertanya lirih—apa benar masih ada jalan untuk mimpiku?

Ketiga sahabatnya itu bukan tidak mau membantu lebih lagi selain kadang membantu untyk makan, tapi mereka juga banyak kegiatan di kampus. Mereka ikut organisasi.

***

Malam harinya, kontrakan kecil Fio sunyi. Lampu belajar di meja belajarnya satu-satunya sumber cahaya, menyorot tumpukan buku, map kampus, dan segelas air putih yang sudah dingin sejak sore. Di luar, suara jangkrik bersahutan pelan, sesekali diselingi suara kendaraan lewat jauh di jalan besar.

Fio duduk sendirian, mengenakan baju tidur pendek kesayangannya. Rambutnya digerai seadanya, wajahnya terlihat lelah tapi matanya penuh keraguan. Di depannya, layar laptop menyala menampilkan halaman kosong dokumen kampus—surat permohonan cuti kuliah.

Tangannya sempat menggantung di atas keyboard. Ia menarik napas panjang, lalu mulai mengetik perlahan.

 “Kepada Yth. Bapak/Ibu Dekan Fakultas… Dengan hormat, saya Fiona Aldya Vasha, mahasiswa semester lima, bermaksud mengajukan cuti kuliah…”

Kata demi kata muncul di layar, tapi setiap kalimat terasa berat, seperti menuliskan akhir dari mimpi yang sudah ia perjuangkan bertahun-tahun.

Fio berhenti mengetik. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Bu… maaf ya…” bisiknya lirih.

Ia teringat pesan ibunya sebelum meninggal:

"Kalaupun nanti ibu nggak ada, Fio harus tetap lanjutk kuliah ya. Ibu percaya kamu bisa."

Air matanya jatuh begitu saja. Ia buru-buru menyeka, tapi tangisnya tak bisa dibendung.

“Aku sudah berusaha, Bu… Tapi semuanya susah banget sekarang…”

Fio bangkit perlahan dari kursi, berjalan ke arah jendela kecil kontrakan dan menatap langit malam.

“Kalau aku berhenti sekarang… semua perjuangan ini sia-sia.”

Tapi suara realita berbisik pelan di telinganya — "Tapi kamu juga butuh uang, Fio."

Ia kembali duduk. Kursor di layar laptop berkedip-kedip, seolah mengejek kebimbangannya.

Fio menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dalam hati kecilnya, ada jeritan tak terdengar ... Aku tidak mau menyerah... Tapi aku juga tidak tahu harus mulai dari mana lagi."

Setelah lama terdiam, ia akhirnya menyimpan draf surat itu tanpa mengirim.

“Mungkin besok… aku akan pikirkan lagi,” gumamnya lirih.

Malam ini, Fio tertidur dengan kepala bersandar di meja, di samping laptop yang layarnya perlahan meredup. Surat cuti kuliah itu tersimpan… tapi belum tentu dikirim.

***

Sore harinya, Fio baru saja sampai di kontrakan setelah pulang kuliah. Dia tetap pergi kuliah walaupun tidak ada harapan untuk ikut ujian.

Fio baru saja duduk ketika terdengar suara mobil berhenti di depan kontrakannya. Ia berjalan terpincang ke pintu, membuka sedikit tirai, dan terkejut begitu melihat sosok Bu Rania berdiri sambil menenteng tas belanja besar.

“Bu Rania…?” gumam Fio pelan.

“Fio sayang, kebetulan saya lewat sekalian mampir. Kemarin kan saya cuma antar kamu pulang sampai depan aja,” sapa Bu Rania dengan senyum hangat khas ibu-ibu yang pandai mengambil hati.

Fio buru-buru merapikan rambutnya lalu membuka pintu lebar.

“Iya, Bu… ayo masuk.”

Bu Rania masuk sambil melirik sekeliling kontrakan mungil itu. Ia memang sudah tahu tempat tinggal Fio, hanya saja waktu itu belum sempat mampir karena hari sudah malam.

“Wah, lumayan rapi ya. Saya pikir anak muda seperti kamu bakalan berantakan,” ujar Bu Rania terkekeh kecil.

“Hehe... Tetap aja kalau lagi sibuk berantakan, Bu,” sahut Fio. Dia tidak ingin dilihat terlalu rapi karena takutnya ada saatnya rumahnya sedang berantakan. Tapi sebenarnya dia memang tidak bisa berantakan sedikit, ibunya selalu mengingatkan. Perempuan itu harus rapi. Takutnya nanti kamu kerja di orang gak bisa rapi. Kalau belajar dari sekarang kamu bisa kepake sama orang yang mau menerima pekerjaan kamu.

"Iya sih... Saya juga begitu. Walaupun ada bibi kadang kala ada berantakannya." Jawabnya. "Oh iya. Motor kamu sudah diantar sama bengkel ya?" ia teringat dengan motor Fio yang dibawa orangnya ke bengkel saat kejaduan juga.

"Iya bu. Sudah dari kemarin. Terima kasih banyak..."

"Sudah. Gak usah berterima kasih. Saya yang salah."

Bu Rania kemudian menatap Fio dengan sorot mata seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Fio, besok kamu kosong, gak? Saya mau minta tolong kamu datang ke rumah saya, bantu masak-masak sedikit. Kita makan-makan.”

Fio terdiam sejenak.

“Bantu masak, Bu?” tanyanya memastikan.

Bersambung

1
Ilfa Yarni
aaaaaku nangis bacanya sedih dan terharu jg bahagia tp hbs ceritanya pdhl msh ingin baca kemesraan mereka
Ijah Khadijah: Terima kasih kakak🙏🥰
total 1 replies
@Resh@
jujur tamatnya kurang suka hubungan fio kenapa dengan Darrel jdi dingin2 gitu ya apa prasaanku saja gak ada romantisnya sekrng sejak ada masalah
Ilfa Yarni
aaaa kok aku nangis baca ini apakah ayah fio udah sembuh dan hadir disaat wisuda fii knp fii membeku pas mengangkat kepalanya
Ilfa Yarni
semoga ayah fii cepat sembuh dan berkumpul dgn fio guna menebus kesalahannya btw baby firel msh lama lonchingnya ya
Ilfa Yarni
sepertinya ada orang lain dibelakang lurah dan ibunya tp siapa ya kok aku penasaran apa jgn2 musuhnya darrel
Ilfa Yarni
wow seru banget msh ada ga orang dibelakang ibu tua itu atau mrk cuma bekerja berdua anknya saja semoga fiio ga knp knp ya tegang jg aku bacanya
Ilfa Yarni
gila ternyata situa bangka itu pinter jg bisa meminimalisir keadaan semoga apa yg dia harapkan ga tercapai ayo darrel ringkus para tikus2 kecil ini ke penjara
Ilfa Yarni
jgn sampe ayah fio meninggal dulu thor
@Resh@
si demit jgn sampai dapat2 apa2 thor biar jadi gembelll ingat thor
Alby Raziq
semangat Thor up nya🙏💪
Ijah Khadijah: Terima kasih kakak🙏🥰
total 1 replies
Ilfa Yarni
tuhkan bener kecelakaan itu disengaja dalangnya ya itu istrinya dan ank tirinya dikira itu ayo asisten ayh fio jebloskan mrk kepenjara dan semoga aja ayah fio selamat ya
Alby Raziq
Alhamdulillah..semua buat fio,BKN buat 2 nenek sihir
Ilfa Yarni
alhamdulillah tetap warisan semuanya atas nama fio itu si ibu tiri dan ank tiri kmn jgn2 dia yg menyebabkan ayah fio kecelakaan
@Resh@
warisannya buat fio semua syukurlah, akuyakin tu surat dulu yg nulis bukan bapknya si fio tapi demit sma emaknya😃
Ilfa Yarni
ooo ternyata fio gelisah karna ada firasat buruk ternyata ayahnya fio kecelakaan semoga saja ayah fio tidak mengalami luka parah ya dan bisa cepat sembuh hitung2 buat minta maaf pd fio
Ilfa Yarni
fio ga nyaman tidur di kantor sehingga dia mimpi buruk ya udah pulang aja rel kasian ftonya dan baby
Ilfa Yarni
akhirnya darrel dapat jg yg dimau making love sama istri tp dpt gangguan trus hbs dikantor sih🤗
Ilfa Yarni
seneng deh liat mereka sangat serasi dan darrel sangat sabar menghadapi kehamilan fio ga sabar ya nunggu fio lahiran dan darrel punya baby yg udah lama ditunggu 2
Ilfa Yarni
bahahaha begitulah ibu hamil rel maunya anehh aneh km. harus siap menghadapinya
Putri Anghita Tera Vita
ka kemana aja baru up? are you oke ka
Ijah Khadijah: Huhu... Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!