NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Arwah Baru dan Desa Terlupakan

Beberapa hari setelah Rina menenangkan arwah paling gelap, hujan kembali turun—lembut tapi konsisten. Tanah basah masih berdenyut samar, seolah memberi peringatan bahwa energi hujan abadi belum sepenuhnya stabil.

Rina berjalan di tepi desa, membawa gulungan arsip kuno dan buku catatan. Setiap langkahnya membuat tanah basah beriak, seolah mengikuti ritme simbol. Ia merasakan gelombang energi baru arwah yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Dari kabut di ujung desa, muncul bayangan samar. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa wajah mereka asing, beberapa terlihat sedih, beberapa marah. “Siapa… kalian?” tanya Rina lirih.

Salah satu arwah, seorang wanita tua, melangkah maju. “Kami… dari desa yang dilupakan… desa yang terikat hujan abadi ribuan tahun lalu… tidak ada yang mengingat kami… tidak ada yang menulis nama kami… tapi hujan… selalu memanggil…”

Rina menelan ludah. Ia tahu masalah baru ini lebih besar dari yang ia bayangkan. Jika arwah desa lain bangkit tanpa penulis simbol, hujan abadi bisa menjadi bencana lebih luas, merusak desa-desa di sekitarnya.

Ia membuka gulungan arsip, meneliti diagram simbol raksasa. Garis-garis bercabang ke beberapa desa yang ia kenali, termasuk yang terlupakan. Ia menyadari satu hal simbol yang ia pelajari sebelumnya hanya mengikat energi di desanya sendiri. Untuk menenangkan arwah desa lain, ia harus memperluas simbol dan menulis nama-nama yang terlupakan.

Arwah tua itu menatapnya dengan tatapan menekan. “Jika kau menunda… kami akan bangkit… dan hujan akan menjadi kutukan… bukan hanya di sini… tapi di semua desa yang terikat…”

Rina menarik napas dalam. Tugasnya baru saja bertambah bukan hanya menenangkan arwah desa sendiri, tapi juga mereka yang terlupakan oleh waktu.

Ia mulai menulis garis-garis simbol tambahan di tanah basah, mengikuti pola yang lebih besar, lebih rumit. Energi arwah dari desa yang terlupakan mulai berdesir, menekan sekitarnya, tapi perlahan menyatu dengan simbol yang ia tulis.

Kilatan petir menyambar, menerangi desa yang berkabut. Arwah kecil mulai menghilang, cahaya samar mereka menyatu dengan simbol. Tapi beberapa arwah tua tetap menunggu, menatapnya dengan mata kosong, penuh harap dan kemarahan.

Rina merasakan tangan dan tubuhnya mulai panas, energi mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia tahu risiko ini lebih besar dari sebelumnya—satu kesalahan bisa membuat arwah liar bebas, hujan menjadi bencana, dan jiwanya terikat selamanya dengan simbol.

Namun ia tidak mundur. Ia menulis satu demi satu nama, mengikuti ritme simbol kuno yang menghubungkan desa-desa, sungai, dan ladang-ladang yang terlupakan. Setiap nama yang selesai, satu arwah menghilang, energi mereka menyatu dengan tanah basah, dan hujan perlahan mereda di wilayah itu.

Saat malam semakin larut, Rina menatap tanah basah yang kini dipenuhi simbol besar dan rumit. Ia tahu satu hal: meski berhasil menenangkan sebagian arwah desa yang terlupakan, hujan abadi tetap menunggu arwah lain, lebih kuat, dan lebih gelap.

Dan dari kejauhan, suara angin dan hujan yang jatuh di atap terdengar seperti bisikan.

"Penulis… ini baru permulaan… arwah yang lebih tua, lebih gelap, dan desa yang lebih terlupakan menunggu… dan hujan tidak akan berhenti… sampai semuanya tenang… atau kau… terikat selamanya…"

***

Hujan turun deras lagi, tanah basah beriak liar, dan kabut menutupi desa seperti tirai abu-abu pekat. Rina berdiri di tepi ladang yang dulu dikenal sebagai desa tua, kini terlupakan. Energi di sekitarnya berbeda—lebih gelap, lebih berat, dan menekan seluruh tubuhnya.

Dari kabut muncul sosok arwah tinggi, besar, dan menakutkan. Aura kemarahannya begitu kuat, hingga tanah di bawah kaki Rina bergetar keras. Arwah itu menatapnya dengan mata merah menyala. Suaranya terdengar di kepala Rina, berat dan bergema.

"Penulis… kau menenangkan desa muda… tapi kami, yang tua… menunggu ribuan tahun… dan kau tidak akan lolos dari ujian kami…"

Rina menelan ludah. Ia tahu ini bukan ancaman kosong. Arwah yang lebih tua berarti energi jauh lebih kuat—salah langkah satu saja bisa membebaskan kutukan ribuan tahun dan membuat hujan abadi menjadi bencana global.

Ia membuka gulungan arsip dan menatap simbol besar di tanah basah. Garis-garisnya bercabang ke desa tua, sungai, dan hutan yang terlupakan. Pola simbol ini jauh lebih rumit dari semua simbol yang pernah ia tulis. Ritmenya berbeda, lebih intens, lebih liar.

Rina menarik napas dalam, menempelkan tangan ke tanah basah, dan mulai menulis. Setiap garis dan huruf memancarkan energi panas ke tubuhnya. Arwah tua itu mendekat, menekan udara di sekitarnya. Tanah beriak liar, air sungai melompat, dan hujan di atas desa terdengar semakin deras, menambah ketegangan.

Kilatan petir menembus kabut, menyorot simbol yang kini bercahaya merah terang. Arwah tua itu mengeluarkan suara panjang, keras, bergema seperti ribuan petir sekaligus.

"Satu kesalahan, penulis… dan kau akan terikat selamanya… serta desa-desa yang terlupakan akan tenggelam dalam hujan abadi…"

Rina menelan ludah, menulis lebih cepat, mengikuti ritme simbol yang ia rasakan dari tanah basah. Tubuhnya panas, tangannya lecet, dan napasnya tersengal. Arwah tua itu terus mendekat, tapi perlahan, satu demi satu, arwah-arwah dari desa yang terlupakan mulai mereda, menyatu dengan simbol yang ia tulis.

Saat menulis garis terakhir, hujan mulai mereda sedikit. Arwah tua itu mengangkat tangan, menatap Rina dalam diam, lalu suara beratnya bergema satu kali terakhir.

"Kau layak… Penulis… kau menenangkan sebagian… tapi arwah yang lebih gelap… dan desa yang lebih tua… masih menunggu… ketika hujan memanggil…"

Rina terduduk lemas, tubuh basah kuyup, napas tersengal. Ia menatap simbol besar di tanah basah—rumit, bercabang ke banyak arah, dan kini menyatu dengan energi desa-desa yang terlupakan.

Ia menyadari satu hal hujan abadi adalah ujian yang tidak akan pernah berakhir. Arwah tua mungkin tenang sementara, tapi arwah lebih gelap, desa yang lebih tua, dan energi yang lebih kuat akan selalu muncul.

Di kejauhan, dari balik kabut dan hujan, terdengar suara samar.

"Penulis… kau baru menyentuh permukaan… yang menunggu di balik hujan jauh lebih gelap… dan waktumu akan datang kembali…"

Rina menutup mata, merasakan tanah basah di bawah kakinya berdenyut pelan. Ia tahu satu hal: tugasnya sebagai penulis penghubung semakin berat, dan rahasia hujan abadi ribuan tahun itu belum sepenuhnya terungkap.

***

Hujan turun tanpa henti sejak sore, lebih dingin dari biasanya. Kabut menggantung rendah, membuat desa seperti terpotong dari dunia lain. Rina berdiri di tengah halaman rumah kosong di pinggir desa tempat yang menurut arsip kuno pernah menjadi pusat pemanggilan hujan pertama.

Tanah di bawah kakinya terasa berbeda. Bukan sekadar basah, tapi berdenyut, seperti jantung yang berdetak pelan namun berat. Setiap detaknya merambat ke tulang, membuat napasnya terasa lebih pendek.

Ia membuka gulungan arsip. Di sana, simbol terakhir yang belum pernah ia tulis—tergambar seperti lingkaran besar dengan inti hitam. Catatan di pinggirnya hanya satu kalimat.

“Simbol ini hanya muncul saat penjaga hujan memanggil ujian terakhir.”

Rina menelan ludah. “Jadi… ini tempatnya,” gumamnya.

Angin tiba-tiba berhenti. Hujan masih turun, tapi sunyi tidak ada suara burung, tidak ada serangga, bahkan tidak ada gemerisik daun. Kesunyian itu terasa salah.

Dari kabut, sesuatu bergerak. Bukan seperti arwah yang biasa ia temui. Sosok itu tinggi, lebih tinggi dari manusia, bayangannya seperti ditarik dari kegelapan paling pekat. Matanya tidak merah melainkan hitam kosong, seperti lubang tanpa dasar.

Suara itu tidak terdengar di telinga, tapi langsung di kepala Rina.

"Penulis… akhirnya kau datang ke tempat di mana hujan pertama kali diikat…"

Rina menguatkan genggaman pada gulungan arsip. “Kau… penjaga hujan?”

Sosok itu tidak menjawab langsung. Kabut di sekitarnya berputar, membentuk bayangan-bayangan lain desa tua yang tenggelam, orang-orang yang berlari di tengah hujan, dan simbol pertama yang ditulis dengan darah.

"Aku adalah yang tersisa dari mereka yang memulai semuanya… dan juga yang mengikat semuanya…"

Rina merasakan dadanya sesak. “Jadi… hujan abadi… bukan kutukan sejak awal?”

Sosok itu mendekat satu langkah. Tanah bergetar.

"Bukan. Itu adalah perlindungan. Dunia di luar desa ini pernah mencoba menelan kami. Hujan adalah dinding. Simbol adalah kunci. Arwah-arwah adalah harga yang harus dibayar."

Rina menggeleng pelan. “Tapi sekarang… hujan ini menyiksa. Arwah-arwah terikat. Desa-desa terlupakan. Ini sudah bukan perlindungan lagi.”

Kabut bergetar, seperti tertawa tanpa suara.

"Setiap perlindungan yang bertahan terlalu lama… akan berubah menjadi penjara."

Rina membuka gulungan arsip, menunjukkan simbol terakhir. “Kalau begitu… aku di sini untuk mengakhirinya. Atau setidaknya… memperbaikinya.”

Sosok itu menatap simbol tersebut. Untuk pertama kalinya, Rina merasakan tekanan yang hampir membuatnya berlutut.

"Simbol itu bukan untuk mengakhiri hujan, Penulis. Itu adalah simbol pilihan. Jika kau menulisnya… satu jalan akan membebaskan arwah… tapi hujan tidak akan pernah kembali. Jalan lain akan mempertahankan hujan… tapi kau akan menjadi pengikat yang baru."

Jantung Rina berdegup kencang. “Maksudmu… aku harus menggantikanmu?”

"Setiap penjaga hujan pernah menjadi manusia."

Hujan tiba-tiba turun lebih deras, seperti dinding air. Bayangan desa-desa yang tenggelam kembali muncul di sekeliling mereka. Rina melihat wajah-wajah yang pernah ia tenangkan… dan wajah-wajah yang belum sempat ia tulis namanya.

Sosok itu mengangkat tangan, dan tanah di hadapan Rina membentuk lingkaran simbol kosong menunggu untuk ditulis.

"Tulis. Dan terimalah konsekuensinya."

Tangan Rina gemetar saat ia mengeluarkan pena. Ia tahu, apa pun yang ia tulis di sini akan mengubah takdir hujan abadi, arwah-arwah, dan dirinya sendiri.

Ia berbisik pelan, hampir seperti doa, “Kalau ini memang ujian terakhir… maka aku tidak akan menulis demi diriku sendiri.”

Ujung pena menyentuh tanah basah. Simbol mulai terbentuk… dan udara di sekitarnya terasa seperti menahan napas.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!