Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Aluna
"Pagi nona Yumna..." sapa Niko saat Yumna baru saja tiba di kediaman Bu Kartika.
"Lho, kok pak Niko di sini lagi?" tanya Yumna.
Menurut Yumna, saat jam kerja harusnya Niko mendampingi Elbara di kantor. Bukan menikmati secangkir kopi hangat di rumah mewah itu.
"Saya kerjanya tergantung bos saja, nona. Mau seharian atau semingguan di rumah, ya kerja dari rumah. Seharian..., semingguan..., di kantor. Ya oke saja..." balasnya.
"Bisa sefleksibel itu ya...?" sahut Yumna yang baru tahu ada sistem kerja seperti itu.
"Em." Niko mengangguk mantap.
"Bahkan, kadang tiba-tiba dapat libur dua minggu full." bisik Niko.
"Seriusan??!! Kok bisa...?!!" sahut Yumna yang semakin terkejut.
"Bu Yumna...!!" seru Aluna.
"Hai, cantik...!!" balas Yumna.
Yumna menyambut Aluna dengan merentangkan tangannya. Lalu Aluna memeluknya dengan erat. Hal itu berawal dari kejadian beberapa hari sebelumnya. Saat Yumna datang Aluna tiba-tiba berlari dan langsung memeluk pinggangnya.
"Aku dapat buku baru dari Oma. Boleh kita mewarnai saja hari ini?" tanya Aluna yang sangat antusias.
"Em..., boleh!" jawab Yumna.
"Hore...!! Asyik...!!" serunya kegirangan.
"Bagaimana kalau kita mewarnai di luar saja?" kata Yumna kemudian.
"Di..., luar...?" kali ini jawaban Aluna terkesan aneh di telinga Yumna.
Yumna menatap Vivi, lalu beralih pada Niko. Niko dan Vivi saling pandang. Kemudian Yumna kembali fokus pada Aluna. Raut wajahnya tiba-tiba tak seceria beberapa detik yang lalu.
"Secepat ini berubah. Kenapa...?" batin Yumna.
"Aluna kenapa?" tanya Yumna sambil mengusap punggung tangan mungil milik Aluna.
"Nggak usah mewarnai saja!" sahutnya.
Aluna kemudian berlari menjauhi Yumna. Perubahan yang tiba-tiba itu membuat Yumna bingung.
"Nona, tunggu...!!" seru Vivi.
"Aku harus bertanya pada Bu Kartika atau pak Bara." batin Yumna.
___
Bersama Niko, Yumna menemui dua orang paling berpengaruh di rumah itu. Yaitu Bu Kartika dan Elbara.
"Mungkin Aluna pikir, kamu akan membawanya keluar dari rumah." kata Elbara.
"Aluna tidak pernah mau pergi keluar dari rumah ini. Itu juga yang menjadi alasan kenapa kami mencari guru privat untuknya. Dan tidak menyekolahkannya di sekolahan pada umumnya." tutur Elbara menjelaskan.
"Dia sering cerita soal mimpinya. Katanya di luar sangat berbahaya, ada banyak darah, dan suara yang menakutkan." sahut Bu Kartika menambahkan.
"Aluna trauma dengan insiden waktu itu sepertinya." begitulah pikir Yumna.
"Maaf, mengenai kondisi Aluna. Apa sudah ada penangan dari dokter?" tanya Yumna berhati-hati.
"Sudah. Tapi tidak hasil yang baik." Bu Kartika terlihat sangat kecewa dan..., pasrah.
"Maaf karena sebelumnya saya tidak tahu. Dan niat saya tadi, hanya ingin mengajak Aluna belajar di taman. Agar dia tidak bosan. Bukan keluar dari lingkungan rumah ini." ujar Yumna.
"Tidak perlu minta maaf." balas Bu Kartika. "Saya yang salah, karena tidak menjelaskan kondisi Aluna yang sebenarnya sejak awal."
"Kalau begitu, saya permisi mau menemui Aluna." kata Yumna setelahnya.
Bu Kartika dan Elbara saling pandang. Tatapan mereka sangat sulit diterjemahkan oleh Yumna. Tapi kemudian Bu Kartika mempersilahkan Yumna.
"Padahal mama sudah senang. Karena Aluna semakin akrab dengan Yumna." ujar Bu Kartika.
"Setelah ini, apa dia masih mau diajar oleh Yumna?" Bu Kartika menatap putranya.
"Kita lihat saja nanti, ma..." balas Elbara.
___
Saat ini Yumna sudah berada di dalam kamar Aluna. Seperti yang dia duga, Aluna pasti tidak ingin berbicara padanya. Tapi Yumna tidak mau menyerah begitu saja.
"Aluna..., coba lihat!"
Yumna menunjukkan ponselnya. Layar di ponselnya menunjukkan sebuah foto anak-anak yang sedang duduk di atas tikar yang digelar di bawah pohon. Ada yang memegang boneka, ada pula yang terlihat membaca buku, juga ada yang sedang makan snack.
"Ibu sebenarnya mau ajak Aluna mewarnai di taman. Kita gelar tikar di sana. Seperti ini." tutur Yumna.
Aluna melirik ponsel itu sekilas. Dia menyukai foto itu. Dia merasa ingin berada di antara banyak orang seperti yang tergambar dalam foto. Tapi, seperti ada sebuah tembok yang menjulang tinggi dalam dirinya. Yang selalu menjadi penghalang.
"Tidak keluar kan?" tanya Aluna pelan.
"Tidak. Kita hanya ke taman. Tempat Aluna biasa bermain bersama suster Vivi." jawab Yumna.
"Aku mau."
Yumna merasa lega, karena dia bisa membujuk Aluna.
"Kalau begitu sus Vivi akan siapkan semuanya. Aluna bantu Bu Yumna bawa buku dan alat tulis ya." begitu kata Vivi.
"Em." Aluna mengangguk pelan.
"Ibu..., boleh aku membawa ini?" Aluna mengangkat bantalnya yang berbentuk bintang warna biru.
"Tentu..., Aluna boleh membawa semua yang Aluna mau. Sini ibu bantu bawa."
Aluna sangat senang mendengarnya. Dia tak henti-hentinya tersenyum melihat Yumna menyiapkan segala keperluannya.
___
"Vivi..., mau dibawa kemana itu?" tanya Bu Kartika saat melihat Vivi membawa tikar dan melangkah tergesa-gesa.
"Bu Yumna mengajak nona kecil belajar di taman. Dan nona kecil mau. Jadi saya harus segera menyiapkan semuanya. Sebelum nona kecil berubah pikiran. Permisi nyonya..."
Bu Kartika baru akan membuka mulutnya, tapi suster muda itu sudah berlalu dari hadapannya.
"Ada apa, ma?" tanya Elbara yang baru saja datang bersama Niko.
"Hahahaaa..., ibu..., ini banyak sekali...!! Nggak usah dibawa semua deh, nanti ibu kesulitan bawanya..."
Bu Kartika, Elbara, dan Niko, dikejutkan oleh suara tawa renyah milih satu-satunya putri dalam keluarga mereka. Suara itu terdengar sangat riang dan bersemangat. Ketiga orang itu masih menatap ke arah anak tangga, menunggu kejutan apa yang akan ditunjukkan oleh guru dan muridnya.
Tak lama kemudian mulai terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
"Ibu..., apa nanti aku boleh sambil makan es krim?"
Suara itu terdengar sangat menyenangkan. Membuat hati Bu Kartika dan Elbara menghangat.
"Kemarin sudah makan es krim belum?"
"Belum."
"Sungguh...?!!"
"Sungguh, ibu. Aku nggak bohong."
"Kalau begitu hari ini boleh. Tapi tidak boleh banyak-banyak."
"Oke...!!"
"Janji...?!!"
"Em. Aku janji...!!"
Pada akhirnya pemilik suara-suara itu muncul di hadapan mereka. Niko segera berlari mendekat, mengambil alih tas jinjing berisi bantal dan boneka milik Aluna.
"Terimakasih pak Niko." ujar Yumna.
"Papa Bara..., Oma...!!" seru Aluna sambil berlari kecil.
"Hari ini Bu Yumna mengajak aku piknik di taman. Aku boleh makan es krim juga." celotehnya mengadu.
"Kalau begitu, Oma akan bikinkan kue." sahut Omanya.
"Yeeeehhh...!!" Aluna bertepuk tangan.
"Ayo, Bu. Sus Vivi pasti sudah menunggu." Aluna kemudian menarik tangan Yumna.
Niko menyusul keduanya. Elbara pun mengikuti mereka dengan kursi rodanya.
"Aluna..."
Elbara menitihkan air matanya melihat Aluna berlompatan sambil bertepuk tangan di taman. Dan Yumna tidak sengaja melihat Elbara mengusap air matanya.
"Anak ini tidak memiliki orang tua lagi. Tapi dia mendapat begitu banyak kasih sayang."
Yumna tersenyum sambil menatap wajah polos Aluna. Kemudian dia merutuki dirinya sendiri, karena sempat merasa iri dengan kehidupan anak kecil seperti Aluna.
"Ibu..., boleh aku mewarnainya sekarang...?!" seru Aluna.
"Tentu saja." balas Yumna yang masih sibuk mengeluarkan camilan milik Aluna.
......................