Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Sisa-sisa Safir dan Fajar Baru
Satu bulan telah berlalu sejak malam berdarah di Menara Dewangga.
Seline dan komplotan Konsorsium kini sedang menjalani proses hukum yang panjang, sementara nama Satria ayah Kiara telah dibersihkan secara resmi oleh negara berkat bukti foto dari Dino.
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela bengkel jam Kiara yang baru direnovasi. Bukan lagi bengkel pengap di gang sempit, melainkan sebuah studio restorasi jam yang elegan di lantai bawah apartemen pribadi Ryuga.
Di dapur penthouse yang terbuka, suasana jauh dari kata elegan.
Ryuga Dewangga, pria yang biasanya memimpin rapat direksi dengan satu jentikan jari, kini berdiri dengan kening berkerut di depan sebuah wajan anti-lengket. Ia mengenakan celemek berwarna merah muda pemberian jahil dari Dino di atas kaos santainya.
"Pak Bos, apakah Anda sedang mencoba membuat omelet atau sedang mencoba membakar gedung saya lagi?" suara Kiara terdengar dari arah pintu, diiringi tawa kecil.
Kiara berjalan mendekat, kini tidak lagi memakai gaun robek, melainkan kemeja flanel kebesaran yang dipinjam dari lemari Ryuga.
"Memasak itu lebih rumit daripada merger perusahaan, Kiara," gerutu Ryuga sambil mencoba membalik telur yang sudah hancur bentuknya. "Kenapa benda ini tidak mau kooperatif?"
Kiara berdiri di sampingnya, mengambil alih sudut dari tangan Ryuga. "Memasak itu seperti merakit jam, Pak. Butuh perasaan, bukan instruksi kaku."
Saat Kiara mulai merapikan omelet yang berantakan itu, Ryuga tidak menjauh. Ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Kiara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.
"Aku lebih suka melihatmu bekerja di bengkel daripada melihatmu di dapur," bisik Ryuga, suaranya berat dan lembut di dekat telinga Kiara.
"Kenapa?" tanya Kiara, mencoba fokus pada telur meskipun jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
"Karena saat kau memegang jam, kau terlihat sangat berkuasa. Dan saat kau di dapur... kau terlihat seperti seseorang yang ingin aku simpan untuk diriku sendiri selamanya." Ryuga mengecup pelipis Kiara, membuat pipi gadis itu merona lebih merah daripada saus tomat di meja.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Dino masuk dengan gaya khasnya, membawa sebuah kotak kayu antik yang dibungkus kain sutra biru warna yang sama dengan Gaun Biru Safir Kiara yang legendaris itu.
"Permisi! Ganggu sebentar pasangan paling lambat sejagat raya!" seru Dino sambil meletakkan kotak itu di meja makan. "Ini kiriman dari Maya. Dia menemukannya di brankas tersembunyi milik Ibu Ryuga yang baru bisa dibuka kemarin."
Pesan di Balik Kristal Jam
Kiara melepaskan diri dari pelukan Ryuga dan mendekati kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan wanita yang sangat indah, dengan kristal safir yang utuh.
"Ini milik Ibu," gumam Ryuga, matanya meredup karena kerinduan.
Kiara mengambil jam itu, instingnya langsung bekerja. Ia melihat ada yang tidak beres dengan posisi jarum detiknya. "Ryuga, ini bukan sekadar perhiasan. Lihat putarannya."
Dengan keahliannya, Kiara membuka bagian belakang jam itu menggunakan pinset kecil yang selalu ada di sakunya. Di balik mesin jam yang sangat rumit, terselip sebuah micro film berbentuk lingkaran kecil dan sebuah pesan tertulis dengan tinta emas:
"Untuk menantu yang akan mengembalikan detak di hati putraku. Di balik waktu, tersimpan cinta yang abadi."
Kiara menaruh film itu di bawah lensa pembesar kameranya. Bukan tentang korupsi atau senjata, film itu menunjukkan sebuah peta lokasi di sebuah desa kecil di Swiss tempat di mana orang tua Ryuga dan orang tua Kiara pertama kali bertemu dan merancang S-1945 bukan sebagai senjata, melainkan sebagai alat medis.
"Sepertinya bulan madu kita sudah ditentukan, Kiara," ucap Ryuga sambil menatap peta tersebut.
"Bulan madu?" Kiara menaikkan alisnya. "Memangnya siapa yang bilang saya mau menikah dengan CEO yang bahkan tidak bisa membalik telur?"
Ryuga tertawa, lalu menarik Kiara kembali ke pelukannya, kali ini lebih erat. "Kau tidak punya pilihan.
Kontrakmu sebagai asisten pribadiku sudah diubah menjadi kontrak seumur hidup pagi ini."
Aroma omelet yang sedikit hangus di dapur penthouse perlahan terkalahkan oleh aroma kayu tua dan logam dari kotak antik yang dibawa Dino. Ryuga, yang tadinya masih mengenakan celemek merah muda, kini melepaskannya dan berdiri di sisi Kiara, menatap benda yang baru saja dibongkar oleh jemari lentur wanita itu.
Kiara masih memegang pinsetnya, namun tangannya sedikit gemetar setelah membaca pesan dari Ibu Ryuga. Kata "menantu" terasa seperti ledakan kecil yang mengguncang dunianya lebih hebat daripada sabotase Seline.
"Menantu?" Kiara bergumam, suaranya hampir hilang. ia melirik Ryuga melalui sudut matanya. "Sepertinya Ibu Anda terlalu percaya diri dengan masa depan kita, Pak Bos."
Ryuga tidak tertawa. Ia justru mengambil jam tangan safir itu dari tangan Kiara, lalu meraih tangan kanan Kiara. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh penekanan, Ryuga melingkarkan jam tangan itu di pergelangan tangan Kiara.
"Ibuku adalah wanita yang paling cerdas yang pernah aku kenal," bisik Ryuga. Ia tidak melepaskan tangan Kiara, melainkan membawa jemari itu ke bibirnya dan mengecupnya lama. "Dia tahu bahwa pria sepertiku hanya akan luluh oleh wanita yang mampu memperbaiki apa yang sudah rusak. Dan kau melakukannya, Kiara. Kau memperbaiki jamnya, kau memperbaiki namaku, dan kau memperbaiki hatiku."
Kiara terdiam, merasakan gelombang hangat yang menjalar dari tangan hingga ke wajahnya. Di dapur yang berantakan itu, di bawah cahaya matahari pagi, suasana terasa begitu sakral.
"Ehem! Maaf ya, aku masih di sini. Oksigen di ruangan ini mendadak terasa semakin tipis karena terlalu banyak cinta," Dino memotong suasana sambil berpura-pura sibuk memotret remah-remah telur di piring.
"Dino," Ryuga menoleh dengan tatapan tajam namun tidak marah.
"Apa kau sudah melacak koordinat di peta microfilm itu?"
"Sudah, Bos," Dino langsung berubah serius. Ia memutar tabletnya. "Koordinat itu menunjukkan sebuah vila tua di pinggiran Lauterbrunnen, Swiss.
Masalahnya, ada aktivitas sinyal komunikasi yang mencurigakan di area itu dalam 24 jam terakhir.
Seseorang baru saja membeli tiket kesana menggunakan identitas palsu yang terkait dengan jaringan Konsorsium."
"Seline," desis Kiara. "Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang ia anggap miliknya."
Kiara melepaskan diri dari Ryuga dan berjalan menuju tas peralatannya. Hobinya bukan lagi sekadar pemulihan jam; kini ia harus mempersiapkan diri untuk tantangan mekanik yang lebih besar di Swiss.
"Jika peta ini asli, berarti di villa itu terdapat 'mesin induk' dari S-1945 yang sebenarnya. Sesuatu yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit genetik, bukan senjata," Kiara mulai menyortir alat-alat presisinya ke dalam tas kulit kecil.
"Saya butuh alat yang lebih kuat. Ryuga, saya ingin akses ke laboratorium pengembangan Dewangga siang ini."
Ryuga tersenyum bangga. "Semua yang aku miliki adalah milikmu, Kiara. Termasuk laboratorium itu."
Tiba-tiba, suara alarm asap berbunyi lirih. Omelet yang tadi ditinggalkan Kiara benar-benar sudah hangus total.
"Oh, hebat," Kiara menepuk dahinya. "Sarapan romantis kita resmi menjadi karbon."
Ryuga tertawa lepas suara yang jarang didengar dunia luar. Ia menarik Kiara mendekat, memeluknya dari belakang sambil menatap wajan yang berasap. "Tidak apa-apa. Kita bisa sarapan di pesawat pribadi menuju Swiss. Aku sudah memesan koki sungguhan untuk memasak di atas sana."
"Sombong," cibir Kiara, namun ia menyandarkan kepalanya di dada Ryuga dengan nyaman.
"Bukan sombong, Kiara. Itu namanya manajemen risiko," sahut Ryuga sambil mengecup puncak kepala Kiara. "Ayo, asisten kesayanganku.
Kita punya dunia untuk diselamatkan... dan satu dansa di salju yang harus segera dihentikan."
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?