NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Pukul 07.00 malam, sesosok pria dengan kaos hitam santai yang membentuk tubuh berototnya tampak tersenyum menyambut Garra dan Joo Heon. Rahangnya yang tegas membuat sosoknya terlihat sombong ketika senyum itu pudar.

“Pyeonjiga?(Suratnya?)”

Segera dia menyerahkan sebuah amplop cokelat besar dan langsung Garra menyambut serta mengecek selembar kertas yang sejenak membuatnya tersenyum puas sebelum kemudian memasukkannya lagi.

“Yeon Jun?” tanya Garra.

“Geu Hong Chani buleuo. Geuronikka, ohue baro samusil doraga (Hong Chan memanggilnya. Makanya dia langsung balik ke kantor sore tadi).”

“Geudeul ajik ana?(Mereka belum datang?)” tanya Garra lagi sambil memperhatikan sekeliling.

“Nugu?(Siapa?)”

Han Min Gyu, pria yang memiliki tinggi serta bentuk badan yang sama dengan Garra itu tampak mengerutkan kening, sementara Joo Heon sudah berkeliling cukup jauh ke belakang gedung yang sudah memiliki sekat-sekat itu.

“Geu saramdeul mideo. Geugeo hoksi, nado mideojana(Orang yang dia percaya. Dan mungkin, juga bisa aku yakini),” ujar Garra dengan senyum singkat.

“Haaa…Echa?”

“Aniya. Geu chingu. Echaneun geudeul chinguragu buleujyo(Bukan. Temennya. Echa bilang, mereka temen).”

Dan saat mereka berbalik tiba-tiba seberkas cahaya lampu mobil masuk menyinari gedung yang cukup terang malam itu.

“Takut, eh.”

Garra tampak tersenyum sinis saat salah satu dari empat wanita yang baru turun dari mobil putih itu berucap lirih tentang ketakutannya. Dan bergegas Garra membuka pintu masuk gedung yang sudah hampir selesai itu.

“Saya, Sagarra,” ujar Garra yang langsung mengulurkan tangan menyambut mereka.

Tidak nyaman namun, pria satu-satunya diantara mereka pun menyambut dengan senang hati menggantikan empat wanita yang berjejer di sisinya.

“Irfan. Ini Istri saya, Dokter Saputri. Ini Bidan di klinik kami sekarang, Firdha. Lalu di sebelahnya, Apoteker Dewinta. Dan bagian administrasi kami, Jeni.”

“Silahkan masuk dan liat dulu.”

Untuk beberapa lama, Joo Heon dibantu Garra menjelaskan secara detail rincian gedung yang mereka perkenalkan malam itu.

“Sebenarnya kalo diliat begini termasuk gedung mewah, sih, Pak,” ujar Saputri yang terdengar lebih riang dari beberapa saat mereka bertemu.

“Rumah Sakit tipe C masuk gak, sih, ini? Iya, kan?” tanya Firdha yang ikut bersemangat.

“Ehehe, iya, Pak. Rumah Sakit tipe C masuk, sih, ini. Karena kelewatan lengkapnya.”

Sejenak Garra tertawa renyah.

“Saya cuma mau klinik 24 jam dengan standar Internasional. Karena saya tau sistem penyediaan serta pelayanan juga standarnya udah cukup menyulitkan ngedapetin pengakuan sertifikasi akreditas. Kebetulan selain jaminan kesehatan Indonesia, saya juga mau nerapin jaminan kesehatan Internasional milik perusahaan kami sendiri. Jadi, kasarnya saya main secara halus untuk menguasai pasar bidang kesehatan di sini. Jaminan kesehatan dari negara kami juga bisa mempermudah WNI yang mau netap di Korea saat mengalami keadaan yang memerlukan perawatan kesehatan. Jadi, cukup menguntungkan kedua pihak, kan?”

Mendengar penjelasan Garra, kelimanya tampak berpikir namun, di satu sisi mereka terlihat menampakkan gelagat menyetujui penuturannya. Sementara, Min Gyu dan Joo Heon yang berdiri di sisi kiri serta kanan Garra terlihat saling melirik kearahnya yang masih tetap tersenyum pada orang-orang di depannya.

“Jadi, bisa, kan? Karena tawaran Dokter Saputri sebelumnya, saya gak tertarik untuk mengakuisisi klinik yang sekarang menjadi rumah untuk Nona dan Tuan sekalian. Terlebih saya dengar terlalu banyak cacat di gedungnya. Itu ngebuat saya semakin gak tertarik. Apalagi pemilik gedungnya pun gak terlalu peduli dengan keadaan karyawan serta kliniknya. Saya udah terlalu dalam mencari tau. Jadi, saya benar-benar gak mau membuang waktu,” jelas Garra dengan senyum tipis diakhir kalimatnya.

“Mmm…boleh kita diskusi dulu gak, Pak?” tanya Irfan.

“Boleh. Kalo gak ada halangan kita ketemu di kafe sebelah aja besok lusa. Silahkan di bawa beberapa kontrak karyawan yang mungkin bisa dijadikan patokan untuk berpikir serta berdiskusi.”

Segera, Irfan menerima amplop cokelat yang cukup tebal dari Garra sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan gedung tersebut.

“Jeni…yeppeo(Jeni...cantik),” bisik Min Gyu dengan wajah datar.

“Echaneun bonjeokinayo?(Kamu udah liat Echa?)” bisik Joo Heon.

“Ajik. Geunyang sajineu bwa. Wae? Yeppeo?(Belum. Cuma di foto. Kenapa? Cantik?)” sahut Min Gyu seraya melihat serius Joo Heon.

“Yeppeo? Dangyeonhaji. Geunde, geu segsiye Jeni boda(Cantik? Pastinya. Tapi, dia lebih seksi dari Jeni). Akh!”

Pukulan cukup keras di puncak kepala Joo Heon sontak mengejutkan mereka.

“Jukgolle?(Mau mati?)” ujar Garra dingin.

Mereka pun meneguk ludah kuat dan terbirit masuk ke mobil diikuti Garra yang hanya bisa menghela napas keras.

Karena sedikitpun aku sudah tidak rela melepaskanmu. Baik kau, maupun anakmu sekarang milikku…

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!