Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Rania memeluk sang ibu di teras---Lena Wiratama wanita berwajah Papua Monokwari itu memeluk erat putrinya.
Lena hari ini mengenakan gaun warna Navy sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya.
"Ibu...," suara Rania memanggil sang ibu dengan lirih.
Lena menoleh ke belakang dan melihat putrinya bersama sang suami, "Rania..," ucap sang ibu.
Ibu dan anak itu berpelukan sejenak, lalu Arga menyalami sang mertua.
Di belakang mereka, Arga berdiri dengan kedua tangan di saku celana sambil tersenyum.
Arga merasa ada sesuatu yang mengalir hangat di dadanya melihat bagaimana Rania merasa bahagia bisa bertemu sang ibu.
"Arga parkirkan saja mobilmu di garasi," ujar Lena.
"Iya Bu siap," jawab Arga.
"Rania ayo masuk ke dapur bantuin ibu masak," ajak ibunya.
"Sekalian ibu mau ngomong sesuatu sama kamu."
Lena menarik tangan putrinya masuk rumah, berjalan menuju dapur.
Setelah Arga memarkirkan mobilnya, dirinya mengunci mobilnya dengan remot.
Lalu masuk, dan melihat istrinya tengah berbicara di ruang tamu bersama mertuanya.
"Arga, ayah mau ngomong sama kamu," kata Lena menatap menantunya.
"Dimana ayah?" tanya Arga.
"Mau ngomong apa?" lanjutnya sambil mengerutkan keningnya, karena rasa heran.
"Mau ngomong apaan sih, Bu? mau punya cucu?" tanya Rania yang memutar bola matanya dengan jengah.
"Yah kamu temui aja, dia mau bicara serius sama kamu Arga," kata Lena.
Arga mengangguk dan menemui ayah mertuanya di taman belakang, sementara Rania menatap sang ibu dengan heran.
"Tumben Bu, biasanya ayah pergi mancing! Kalo nggak mancing ngurusin bisnis Jastipnya," kata Rania dengan heran.
Karena Rania biasa melihat aktivitas sang ayah setelah memutuskan resign dari perusahan dengan membuka bisnis sendiri.
Jika tak berkebun, biasanya ayahnya akan mengurus bisnis jastipnya.
Dari perkebunan kecil menanam cabai, tomat, dan sayur-----dari sanalah usaha kecilnya berkembang hingga membuka usaha jastip, dengan mengirimkan hasil kebun ke ibu rumah tangga sekitar komplek dengan harga yang lebih murah dari pasar.
Bahkan, karyawan Karto Wiratama sekarang, rutin mengantar pesanan ke apartemen-apartemen sekitar sini.
Karto awalnya bekerja di supply chain management sebagai pemasok barang distribusi produk kecantikan, dan sangat berbeda jauh dengan usaha yang sekarang.
Awalnya Karto hanya coba-coba memanfaatkan lahan kosong miliknya, dan ternyata usaha perkebunannya membuahkan hasil.
"Ayah Ko memang tak bisa diam Rania," ujar Lena.
Rania duduk sejenak menatap sang ibu, "sudahlah kita bicara sambil masak saja yuk," ajak Lena dan malah diikuti oleh Rania.
Arga berjalan menuju taman belakang, disana matanya melihat ayah mertuanya duduk sambil memegang tab memeriksa hasil usaha jastipnya.
Bahkan lewat website yang di buat Rania, tengah berjalan.
"Ayah...," panggil sang menantu mendekat.
"Eh Arga sini, kita ngopi duduk."
Arga menyalami ayah mertuanya menatap sejenak melihat di belakang taman ini, ada banyak bunga yang tertata rapih selayaknya di film kartun.
Ada gazebo dengan hiasan bunga juga.
"Bagus banget ini ayah," puji Arga memperhatikan tangan berdiri dengan tangan terlipat.
"Kamu itu loh duduk dulu, nggak pegel kaki berdiri mulu." Karto nampak menegur menantunya itu.
Arga akhirnya duduk di samping ayah mertuanya, lalu keduanya bicara satu sama lain.
"Gimana?" tanya Karto sambil menyeruput kopi.
"Gimana apanya, Yah?" tanya Arga kembali.
Karto menaruh tabletnya, lalu menyeruput kembali kopi---Kopi tanpa gula yang bagus untuk kesehatan jantung.
"Ya pernikahan kamu ama Rania?" tanya Karto.
"Yah, baik-baik aja, kemarin kami juga baru jalan-jalan ke alun-alun kota. Biasa Yah, Malam mingguan," ujar Arga berusaha menutupi jika ada sedikit masalah pada pernikahannya.
"Bener baik-baik saja?" tekan Karto sekali lagi.
"Iya ayah," sahut Arga sekali lagi.
"Terus kenapa saat ibu saya minta sprei malam pengantin belum di kasih," tanya Karto.
"Loh emang Eyang Kartika ama Ibu belum ngasih tahu," kata Arga menatap ayah mertuanya dengan heran.
Karto hanya menjawab dengan gelengan kepala, dan Arga hanya menghela napas lalu mengatakan seperti apa yang terjadi.
"Malam pengantin Rania tak bisa lakukan hubungan, Yah. Karena tubuhnya masih lemah karena baru pingsan," ujar Arga.
"Dan minggu ini---" ucapan Arga di potong oleh Karto.
"Kalo Rania minggu ini menstruasi kenapa waktu di rumah ibumu ke pergok malah ambil wudhu?" tanya Karto penuh selidik.
Mendengar pernyataan itu, Arga langsung menelan salivanya.
Dirinya harus mengatakan apalagi agar ayah mertuanya tak curiga, akhirnya Arga memiliki alibi lain.
"Ya kalo lagi haid wudhu aja nggak masalah ayah, buat kebersihan."
Arga bicara sambil cengir kuda, dan Karto hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayah tahu kamu lagi bohong atau tidak, Nak."
Karto mengatakan hal demikian karena saat bicara Arga tak berani menatap mata lawan bicaranya, dan matanya malah kemana-mana.
"Yah tak masalah kalo kamu ama Rania belum siap," jawab Karto meraih gelas kopi lalu meminumnya.
"Saya juga pernah ngerasain jadi pengantin baru, nggak perlu bohong...," lanjut Karto menatap menantunya.
"Arga minta maaf soal dulu, bully Rania dan tahu anak ayah perlu waktu," sahut Arga meminta maaf.
Karto menghela napas menatap menantunya.
"Yang dulu biarlah dulu, yang sekarang ayah percayakan Rania ama kamu tolong jaga dia."
"Iya Ayah..," suara Arga lirih nyaris tak terdengar.
Karto langsung menyuruh menantunya mendekat, dan untuk itu dirinya akan bicara empat mata mengenai bisnisnya.
"Arga saya mau ngajak kamu kerja selama kamu libur nambang," ujar Ayah mertuanya.
Karto menjelaskan jika Arga menambang dua bulan sekali dan libur sebulan, sekalian bantu jastipnya.
Karena putra Karto yang lain, namanya Riandi Wiratama dia lagi nggak fokus karena dinas di luar Jawa mulu---Adiknya Rania yang menjadi TNI.
Arga langsung mengerutkan keningnya dan bertanya, "pangkatnya apa Yah?" tanya Arga penasaran.
"Letnan dua," jawab Karto.
Tak bisa di bayangkan pria blasteran Jawa-Papua yang menjadi TNI, sementara Karto juga banyak menasihati menantunya mengenai Rania.
"Gimana ya? Ini kalo misalnya seminggu ini aku ama Rania belum menyerahkan sprei malam pertama terpaksa di lakukan di rumah ibu saya," jelas Arga.
Hal ini tak membuat Karto marah, melainkan membuat Karto tertawa.
"Nggak ibumu, nggak ibuku sama persis," kata Karto.
*