NovelToon NovelToon
JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Sinopsis:

Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.

Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN YANG TERLALU SEPI

Langkah Liang Chen tetap teratur ketika jalan tanah itu membentang tanpa ujung di hadapannya. Matahari baru naik setinggi tombak, cahaya paginya pucat, belum cukup hangat untuk mengusir dingin yang menempel di udara.

Ia tidak menoleh ke belakang.

Bukan karena tidak ingin, tetapi karena tahu tidak ada yang perlu dilihat. Di persimpangan tadi, ia sudah mengambil arah barat. Mei Lin dan bibinya berjalan ke timur. Garis itu sudah ditarik, dan tidak ada gunanya menoleh ke arah yang tidak akan ia tempuh.

Suara langkahnya sendiri terdengar lebih jelas dari biasanya. Tanah kering berderak pelan setiap kali telapak kakinya menekan permukaan jalan.

Sepi.

Itu yang paling terasa.

Beberapa hari terakhir, bahkan dalam perjalanan yang paling sunyi, selalu ada suara lain. Suara batuk bibi tua. Langkah kecil Mei Lin di belakangnya. Napas orang lain yang menandakan bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian.

Sekarang tidak ada apa-apa.

Hanya angin.

Hanya rumput liar yang bergesekan.

Dan suara langkahnya sendiri.

Liang Chen tidak mempercepat langkah. Ia juga tidak berhenti. Ia berjalan seperti biasa, seperti pengembara yang tidak punya tujuan pasti. Tetapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Bukan takut.

Bukan juga gelisah.

Lebih seperti beban yang baru disadari keberadaannya.

Tangannya menyentuh bagian dalam jubah, memastikan bungkusan tipis itu masih ada. Kitab kecil yang ia temukan beberapa hari lalu masih terselip rapi, tersembunyi di balik lipatan kain.

Benda itu tidak berat. Bahkan terlalu ringan untuk sesuatu yang bisa membuat orang mati demi mendapatkannya.

Namun sejak kitab itu berada di tangannya, jalan yang ia tempuh tidak pernah benar-benar lurus lagi.

Ia berhenti di tepi jalan ketika melihat aliran sungai kecil. Airnya jernih, mengalir tenang di antara batu-batu bulat yang tertanam di dasar. Permukaannya memantulkan langit pucat seperti cermin kusam.

Liang Chen berlutut.

Ia mencelupkan tangan ke dalam air, lalu membasuh wajahnya. Dingin air itu membuat kulitnya menegang, tetapi pikirannya sedikit lebih terang.

Ia menatap bayangannya sendiri di permukaan air.

Wajah itu sama seperti beberapa hari lalu. Tidak ada luka baru. Tidak ada perubahan besar. Hanya mata yang terlihat sedikit lebih dalam.

“Barat,” gumamnya pelan.

Arah itu tidak berarti apa-apa. Tidak ada tujuan yang menunggunya di sana. Tidak ada orang yang harus ia temui.

Ia hanya memilih arah yang berlawanan dari Mei Lin dan bibinya.

Itu saja.

Ia berdiri kembali, mengibaskan sisa air dari tangan, lalu melanjutkan langkah.

Jalan itu perlahan berubah. Tanahnya semakin padat. Jejak roda kereta terlihat jelas, menandakan jalan ini sering dilalui orang. Beberapa petani tampak di kejauhan, membungkuk di ladang, mencabuti rumput liar atau menata pematang.

Tidak ada yang memperhatikannya.

Dan itu bagus.

Orang seperti dirinya seharusnya tidak menarik perhatian.

Namun, pengalaman beberapa hari terakhir membuatnya sadar akan satu hal: kadang-kadang, perhatian datang bukan karena kesalahan kita, tapi karena apa yang kita bawa.

Dan sekarang, ia membawa sesuatu yang tidak seharusnya ia miliki.

Ia melewati seorang lelaki tua yang memanggul kayu bakar. Keduanya saling melirik sebentar, lalu berjalan melewati satu sama lain tanpa kata-kata.

Liang Chen menarik napas panjang.

Udara pagi berbau tanah basah dan jerami. Bau yang biasa. Bau yang seharusnya menenangkan.

Namun pikirannya tetap berjalan ke tempat lain.

Orang-orang yang menyerang malam itu tidak akan berhenti. Mereka bukan jenis orang yang mudah menyerah hanya karena targetnya lolos sekali.

Mereka akan mencari.

Bukan dengan berlari mengejar. Tapi dengan cara yang lebih halus.

Menyebarkan kabar.

Menutup jalan.

Menunggu sampai mangsanya tidak punya pilihan selain muncul.

Ia pernah melihat itu terjadi pada seorang pendekar muda di kota pelabuhan beberapa tahun lalu. Orang itu berpikir dirinya cukup kuat untuk melawan siapa pun yang datang. Ia tidak lari. Ia tidak bersembunyi.

Tiga hari kemudian, ia ditemukan tewas di kamar penginapan, tanpa luka besar, tanpa keributan. Hanya segelas arak yang sudah dingin di meja, dan mata yang terbuka lebar.

Liang Chen tidak ingin berakhir seperti itu.

Ia tidak punya nama besar. Tidak punya aliran. Tidak punya saudara seperguruan yang akan membalas dendam jika ia mati.

Jika ia jatuh di suatu tempat, kemungkinan besar hanya akan jadi mayat tanpa nama di pinggir jalan.

Dan itu bukan akhir yang ia inginkan.

Langkahnya tetap stabil.

Beberapa jam kemudian, atap-atap bangunan mulai terlihat di kejauhan. Mula-mula hanya bayangan samar di balik pepohonan. Lalu semakin jelas: deretan rumah kayu, tembok rendah, dan sebuah gerbang kota yang tidak terlalu besar.

Kota kecil.

Bukan tempat penting. Tapi cukup ramai untuk menampung berbagai jenis orang.

Liang Chen memperlambat langkah.

Kota seperti ini punya dua sisi. Di satu sisi, keramaian bisa menyembunyikan orang asing. Di sisi lain, kabar juga menyebar lebih cepat.

Seseorang yang mencari dirinya mungkin akan mulai dari tempat seperti ini.

Tapi ia tidak punya banyak pilihan.

Jalan sepi membuat orang mudah diperhatikan. Kota ramai setidaknya memberi kesempatan untuk menghilang di antara kerumunan.

Saat mendekati gerbang, ia melihat dua penjaga berdiri di sisi jalan. Mereka tidak tampak terlalu waspada. Hanya berdiri, memeriksa kereta dan beberapa pejalan kaki yang masuk.

Seorang pedagang sayur didahulukan. Keretanya diperiksa sekilas, lalu dibiarkan lewat.

Seorang pemuda dengan pedang di pinggang ditahan sedikit lebih lama. Penjaga menanyainya beberapa hal sebelum akhirnya mengangguk dan mempersilakannya masuk.

Liang Chen menurunkan pandangan.

Ia mengatur napas, melonggarkan bahu, dan mengambil sikap seperti pengembara biasa yang sudah berjalan jauh. Tidak terlalu tegap. Tidak terlalu santai.

Langkahnya mendekati gerbang.

Salah satu penjaga meliriknya.

“Dari mana?” tanya pria itu.

“Dari selatan,” jawab Liang Chen singkat.

“Mau ke mana?”

Liang Chen mengangkat bahu kecil. “Cari kerja. Apa saja yang ada.”

Penjaga itu menatapnya beberapa detik. Matanya menyapu pakaian Liang Chen yang sederhana, sepatu yang sedikit berdebu, dan wajah yang tidak mencolok.

Bukan tampang perampok.

Bukan juga pendekar terkenal.

Hanya pengembara biasa.

Penjaga itu mendengus pelan. “Masuk saja. Jangan bikin masalah.”

Liang Chen mengangguk. “Terima kasih.”

Ia melangkah melewati gerbang.

Begitu berada di dalam, suasana langsung berubah.

Suara orang-orang bercampur menjadi dengung yang hidup. Pedagang berteriak menawarkan dagangan. Bau makanan panas dari warung kecil menyebar di udara. Anak-anak berlari di gang sempit, tertawa tanpa beban.

Kota itu tidak besar, tapi cukup ramai.

Beberapa rumah dua lantai berdiri di sepanjang jalan utama. Toko-toko kecil berderet, menjual kain, alat rumah tangga, dan obat-obatan sederhana.

Liang Chen berjalan pelan, matanya menyapu sekitar tanpa terlihat mencurigakan. Ia mencatat posisi penginapan, warung, dan jalan-jalan sempit yang bisa dipakai sebagai jalur keluar jika diperlukan.

Kebiasaan itu sudah melekat dalam dirinya.

Bukan karena ia seorang pembunuh atau buronan. Hanya karena hidup sebagai pengembara membuatnya sadar, jalan keluar sering kali lebih penting daripada tempat tujuan.

Ia berhenti di depan sebuah warung mie kecil. Asap tipis mengepul dari panci besar. Seorang pria setengah baya sibuk mengaduk kuah, sementara seorang anak perempuan membantu menyusun mangkuk.

Perut Liang Chen terasa kosong.

Ia duduk di bangku kayu.

“Satu mangkuk,” katanya.

Pria itu mengangguk tanpa banyak bicara.

Beberapa menit kemudian, semangkuk mie panas disodorkan ke hadapannya. Kuahnya bening, dengan potongan sayur dan beberapa irisan daging tipis.

Sederhana.

Tapi cukup.

Liang Chen makan perlahan. Tidak terburu-buru. Ia menikmati panas kuah yang mengalir ke perutnya.

Di meja sebelah, dua orang lelaki berbicara pelan.

“Kau dengar kabar dari selatan?” kata salah satunya.

“Yang soal penyergapan itu?” jawab yang lain.

Liang Chen tidak mengangkat kepala, tapi pendengarannya menangkap setiap kata.

Katanya ada kelompok bersenjata yang mencari sesuatu. Banyak orang mati.”

“Barang berharga?”

“Entahlah. Katanya bukan emas. Bukan juga perak. Sesuatu yang lebih penting.”

Liang Chen mengunyah perlahan.

Pembicaraan itu berhenti ketika mangkuk mereka kosong. Mereka membayar, lalu pergi tanpa melanjutkan topik.

Namun kata-kata mereka sudah cukup.

Kabar itu sudah sampai ke kota ini.

Berarti orang-orang yang mencarinya juga tidak jauh.

Liang Chen menyelesaikan makanannya, lalu meletakkan beberapa koin di meja. Ia berdiri, menatap keramaian jalan sebentar.

Di kota seperti ini, seseorang bisa hidup tanpa dikenal.

Tapi seseorang juga bisa ditemukan lebih cepat dari yang ia kira.

Ia menarik napas dalam.

Untuk pertama kalinya sejak menemukan kitab itu, ia tidak hanya berpikir tentang bagaimana cara melarikan diri.

Ia mulai berpikir tentang siapa yang sebenarnya sedang bermain dalam cerita ini.

Dan jika ia tidak memahami permainan itu, berlari sejauh apa pun tidak akan ada gunanya.

Liang Chen melangkah masuk lebih jauh ke dalam kota, menelan dirinya sendiri di antara arus manusia yang tidak peduli siapa dirinya.

Namun di dalam hatinya, satu hal mulai jelas.

Ia tidak lagi berjalan di jalan kosong.

Cerita sudah mulai mengejarnya.

1
Restu Agung Nirwana
Cocok untuk yang suka adegan pertarungan berdarah-darah 🔥🔥
Happy Alone
Kapan Liang Chen baku hantam? Terima Kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Bab 20+, mulai lebih bnyk adegan pertarungan 🤭
total 2 replies
Happy Alone
Tuh orang gak kedinginan kali ya tidur dibawah pohon begitu. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: hehehe... namanya jg pengembara kak, bisa tdr dmn saja 😄
total 1 replies
Happy Alone
udah aku diduga, hidupnya bakal dipenuhi kemalangan. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Nasib pengembara bebas (Liang Chen) yg gak pny tujuan dan ambisi, cuma mau hidup bebas. Tp tanpa sengaja malah terseret ke dalam konflik dunia persilatan gara-gara di kasih kitab yg blm di ketahui asal-usulnya oleh orang sekarat (Xu Fan). Ya beginilah jdnya 😄
total 1 replies
Happy Alone
Umpan untuk seseorang yang pantas mempelajari kitab. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: smoga suka ya... 🙂
total 3 replies
Happy Alone
Sebenernya awal awal baca agak bingung. Maksudnya, si Liang Chen siapa? Xu Fan siapa? mereka ada dimana? terus tuh buku apaan? tapi udahlah. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Trims apresiasinya kak, mohon dukungannya biar gak kendor 😄
total 6 replies
Happy Alone
Liang Chen, dia pria baik yang akan selalu dapat kemalangan. Namanya ada kata Liang, artinya baik hati. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Wow, sampai arti namanya pun di nilai. Terimakasih, semoga suka sama ceritanya 😍
total 1 replies
Happy Alone
Semangat, Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Iya, terimakasih mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!