Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 - Lean on Me
Hari ini seharusnya menjadi hari penting—hari kunjungan ke pabrik Natura Foods. Semua tim divisi marketing sudah bersiap sejak pagi, membawa dokumen dan catatan untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Tapi sialnya, begitu aku bangun dari tidur, tamu bulananku datang. Aku sempat berharap kali ini aku akan baik-baik saja, tidak kram haid seperti biasanya. Namun rasa nyeri yang samar sudah mulai menjalari perut sejak aku berdiri dari tempat tidur.
Dengan langkah pelan aku sampai di kantor, mencoba menyembunyikan rasa tidak nyaman di balik blazer rapi yang kupakai. Fera dan Riki sudah menunggu di dekat lift, lengkap dengan map dan tablet mereka. Pak Arman pun datang beberapa menit kemudian, mengingatkan lagi detail kunjungan hari ini.
Aku kira kami semua akan naik mobil kantor seperti biasa. Tapi begitu sampai di basement, suara Henry memecah harapanku.
“Lili, kamu ikut mobil saya.” ucapnya tenang, tapi tegas.
Aku spontan menoleh, kaget. “Hah? Saya, Pak?”
Fera, Riki, dan bahkan Pak Arman ikut terperangah mendengarnya.
“Iya. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu.” lanjut Henry. “Ayo.”
Dengan terpaksa aku melangkah mengikuti Henry menuju mobilnya. Sebenarnya, jika harus memilih, aku jauh lebih nyaman naik mobil kantor bersama tim daripada hanya berdua dengan Henry. Rasanya terlalu mencolok… terlalu berisiko. Kalau Mama dan Papa tahu aku pergi bersama calon suami kakakku, mereka pasti akan marah besar.
Mobil Henry melaju lebih dulu, meninggalkan mobil kantor yang mengikuti di belakang. Suasana di dalam mobil terasa hening. Aku menatap keluar jendela, melihat jalanan ibu kota yang padat, berusaha mengabaikan degup jantung yang semakin keras.
“Bapak mau bicara apa dengan saya?” tanyaku akhirnya, mencoba memecah sepi.
Henry tidak langsung menjawab. Matanya lurus ke depan, fokus pada jalan, sebelum ia berkata pelan, “Kita hanya berdua, Lili.”
Aku menghela napas, berusaha tenang. “Kakak kamu ngomong apa sama aku?”
“Nggak ada.” jawabnya singkat.
“Terus kenapa aku disuruh ikut kamu?” suaraku terdengar lebih lembut dari yang kukira, tapi penuh tanda tanya.
Henry menoleh sekilas, lalu tersenyum samar. “Aku cuma nggak mau sendirian di mobil.”
Aku mengernyit, bingung dengan jawabannya. “Hah? Kan setiap hari Kakak juga naik mobil sendiri.”
“Sekarang aku nggak mau sendiri.” ucap Henry, nada suaranya dalam, sulit ditebak maksudnya.
Aku tercekat, tak tahu harus menanggapi apa. Kata-katanya sederhana, tapi meninggalkan sesuatu yang menggantung di pikiranku. Aku memilih diam, membiarkan hening kembali memenuhi ruang sempit di antara kami.
Aku menatap jalanan yang berliku di luar kaca, mencoba menenangkan hati yang tiba-tiba terasa semakin berat. Entah karena nyeri di perutku… atau karena kata-kata Henry barusan yang terdengar lebih jujur dari biasanya.
Sesampainya di pabrik, Henry langsung memarkir mobilnya. Mobil kantor berhenti tak jauh di belakang. Kami turun hampir bersamaan dan segera disambut oleh Pak Surya, manajer pabrik.
“Selamat datang di Pabrik Natura Foods.” ucapnya ramah sambil menjabat tangan Henry dan Pak Arman.
Pak Arman memperkenalkan rombongan: aku, Fera, Riki, dan tentu saja Henry sebagai direktur. Setelah itu, kami berganti pakaian standar kunjungan—rompi, masker, penutup kepala, hingga sepatu khusus—sebelum masuk ke area produksi.
Suasana di dalam pabrik penuh dengan suara mesin berputar, aroma bahan makanan yang samar tercium, dan aktivitas pekerja yang sibuk. Kami berjalan beriringan. Pak Surya menjelaskan dengan rinci soal kapasitas mesin, standar kebersihan, hingga alur produksi. Pak Arman aktif bertanya, mencatat setiap detail penting.
Aku sibuk menulis di buku catatan, fokus pada hal-hal teknis seperti sertifikasi bahan dan cara pengemasan. Fera terlihat sangat perhatian pada kualitas bahan baku, sementara Riki tak henti-hentinya bertanya tentang distribusi dan biaya produksi.
Henry jarang bicara. Namun setiap kali ia melontarkan satu pertanyaan, suasana langsung hening. Semua kepala menoleh untuk mendengarkan.
“Berapa kapasitas maksimal mesin ini dalam sehari? Dan bagaimana kontrol kualitas tiap batch?” tanyanya dengan suara tenang, tapi tegas.
Pertanyaan sederhana, tapi dampaknya membuat manajer pabrik langsung menegakkan tubuh, memberi jawaban sejelas mungkin.
Sekitar dua jam kemudian, kami diajak ke ruang uji coba rasa. Staf pabrik menyajikan beberapa sampel produk baru: tteokbokki instan dengan berbagai tingkat kepedasan, serta jajangmyeon instan. Kami duduk melingkar, mencicipi, lalu memberi masukan. Fera lebih banyak menyoroti tekstur, Riki membahas harga dan daya saing, sedangkan aku fokus ke keseimbangan rasa.
“Kalau mau bersaing, pastikan rasanya autentik tapi tetap cocok di lidah lokal.” suara Henry terdengar dalam, membuatku tanpa sadar menoleh ke arahnya. Tatapannya singkat, tapi cukup untuk membuatku salah tingkah.
Tiba-tiba perutku mulai melilit. Harapan yang tadi kubawa sejak pagi—bahwa hari ini akan baik-baik saja—ternyata sia-sia. Kram haid mulai menyerang, membuatku sulit berkonsentrasi. Aku berusaha menahan ekspresi, pura-pura tetap normal di depan yang lain.
Menjelang siang, kunjungan berakhir. Kami kembali ke ruang tamu untuk melepas perlengkapan pabrik, menerima dokumen tambahan, lalu berjalan menuju parkiran.
“Ah!” seruku tanpa sadar. Rasa sakit yang sejak tadi kutahan akhirnya memuncak. Aku berjongkok, memegangi perut.
“Lili, kamu kenapa?” Henry segera menghampiriku, wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran.
Aku mencoba tersenyum samar meski wajahku pucat. “Saya… kram.”
“Kram haid?” tebak Fera cepat.
Aku hanya mengangguk pelan.
“Pak, sebaiknya Lia disuruh pulang saja.” kata Fera.
Henry tidak menunggu lama. “Baiklah. Ayo, saya antar.” Ia menunduk, membantu menarikku perlahan berdiri. Tangannya menopang lenganku, seolah takut aku jatuh.
Aku bisa merasakan tatapan terkejut dari Fera, Riki, bahkan Pak Arman. Tapi saat itu aku tak sanggup memikirkan apa pun selain rasa sakit di perutku.
Begitu mobil melaju keluar dari kawasan pabrik, Henry menoleh. “Kita ke rumah sakit, ya.”
“Jangan!” seruku buru-buru, membuatnya melirik tajam.
“Kenapa? Kamu kesakitan begini, Lili.”
“Aku nggak mau Mama dan Papa tahu. Kalau aku ke rumah sakit, nanti cepat atau lambat mereka tahu.”
“Kan bukan rumah sakit keluargamu. Kita bisa pilih rumah sakit lain.”
Aku menggeleng keras. “Tetap aja, aku nggak suka rumah sakit. Baunya bikin aku tambah pusing.”
Henry mendesah, jelas tak puas dengan jawabanku. “Ya udah, kalau begitu aku antar pulang.”
“Jangan juga!”
Alisnya berkerut. “Kenapa lagi?”
“Di rumah ada Mbak Ningsih. Nanti dia bilang ke Mama kalau kamu yang nganter aku pulang.”
Henry menghela napas, suaranya terdengar dalam. “Terus kamu maunya ke mana?”
Aku menggigit bibir, menahan rasa sakit sekaligus kebingungan. “Aku ke kantor aja. Istirahat di pantry sebentar nggak apa-apa kok.”
“Jangan konyol.” nada suaranya meninggi. “Kamu kira pantas istirahat di pantry dengan kondisi begini?”
Aku terdiam.
Henry menatap lurus ke depan, lalu bicara pelan tapi mantap. “Kalau begitu, ke apartemenku aja. Istirahat di sana sampai kamu baikan, baru aku anter pulang.”
Aku terperanjat. “Hah? Ke apartemen kamu? Aku nggak mau!”
“Kenapa?” tanyanya tenang. “Nggak ada tempat lain. Kamu nggak mau ke rumah sakit, nggak mau ke rumahmu, dan aku nggak izinin kamu ke kantor dalam keadaan begini. Jadi pilihannya cuma satu.”
Aku menatapnya, ragu. Rasanya aneh kalau aku harus ke apartemennya. Bukankah itu terlalu… dekat? Terlalu berisiko?
“Tapi—”
“Udah.” potong Henry. “Jangan protes lagi. Kamu butuh istirahat, bukan banyak alasan.”
Aku ingin membantah, tapi rasa sakit yang semakin menusuk membuatku tak punya tenaga. Aku hanya bisa bersandar di kursi, menyerah pada keputusan Henry.
Setelah lama di perjalanan, akhirnya kami sampai di apartemen Henry. Dari parkiran basement sampai masuk ke unitnya, Henry setia menuntunku berjalan.
“Kamu istirahat di kamarku aja.” ucapnya begitu pintu apartemen tertutup.
Aku cepat-cepat menggeleng. “Nggak usah, Kak. Aku di sofa aja nggak apa-apa kok.”
Henry menatapku singkat, lalu menghela napas. “Aku bilang di kamarku. Ayo.”
Nada suaranya tenang tapi tak bisa dibantah.
Ia menuntunku menuju kamarnya, lalu dengan hati-hati membaringkanku di tempat tidurnya. Aku merasa canggung, tapi tubuhku terlalu lemah untuk menolak.
“Sekarang kamu butuh apa? Obat pereda sakit?” tanyanya.
Aku menggeleng cepat. “Nggak mau. Aku kan nggak suka obat.”
Henry mengangkat alis, seolah tak percaya. “Ya ampun, Lili… kamu udah umur berapa sih? Masih aja nggak suka obat.”
Aku tersenyum lemah. “Nggak enak, Kak.”
Ia menarik napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang. “Terus gimana caranya biar sakit perutmu reda?”
“Cukup dikompres air hangat, terus tidur. Nanti sembuh kok.” jawabku lirih.
Henry berdiri. “Oke. Tunggu sebentar.”
Aku hanya bisa terdiam, memperhatikan punggungnya yang menjauh. Rasanya aneh diperhatikan seperti ini oleh Henry. Sejak kecil aku terbiasa dengan sikapnya yang protektif, tapi kini… saat aku sudah dewasa, perhatian itu membuatku berharap lebih. Sayangnya aku tahu, aku tak boleh berharap. Baginya, aku mungkin hanya Lilia kecil yang selalu dianggap perlu dijaga.
Tak lama kemudian, Henry kembali dengan botol berisi air.
“Ini.” ucapnya sambil menyerahkan botol itu padaku.
Aku menerimanya dengan hati berdebar. Botol itu hangat, dan perlahan kutempelkan ke perutku. Rasa sakit sedikit berkurang.
“Udah gitu aja nanti sembuh?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan. “Iya.”
Hening sejenak. Hanya suara detak jam di kamar yang terdengar.
“Kamu mending balik ke kantor lagi, Kak.” ucapku akhirnya, berusaha terdengar tenang.
Henry menatapku, seolah ragu meninggalkanku sendirian. “Kamu nggak apa-apa ditinggal sendiri?”
“Iya, nggak apa-apa. Aku juga mau tidur kok.”
“Ya udah. Kalau ada apa-apa, kabari aku, ya?” katanya tegas.
Aku hanya mengangguk. Henry pun bangkit, melangkah keluar kamar, lalu menutup pintu dengan hati-hati.
Begitu suara pintu apartemen tertutup, aku langsung memejamkan mata. Bukan hanya karena sakit, tapi juga karena dadaku terasa sesak oleh perasaan yang tak berani kuakui.
Aku membuka mataku dan masih di kamar Henry. Kulihat jam di nakas, sudah jam pulang kantor.
Aku segera bangkit dan keluar kamar. Apartemen itu terasa sepi, sunyi sekali.
“Jadi setiap hari Kak Henry kayak gini ya? Sendirian. Beda banget sama aku di rumah yang selalu ramai. Terus… gimana dia makan tiap hari?” gumamku pelan.
Aku menuju dapur di samping ruang TV. Kubuka kulkas. Ada beberapa bahan mentah: sayuran, telur, daging.
“Apa dia masak sendiri?” tanyaku lirih. Lalu aku menutup kulkas dan kembali duduk di sofa, menyalakan TV untuk mengusir sepi.
Aku berniat pulang begitu Henry datang. Bukan karena ingin diantar, aku hanya merasa perlu berpamitan.
Sambil menunggu, aku menonton film, mencoba mengalihkan pikiran dari rasa aneh yang masih mengendap di dada.
Sekitar setengah jam kemudian, pintu apartemen terbuka.
Aku spontan menoleh. Henry masuk dengan kantong plastik di tangannya.
“Oh? Katanya kamu mau tidur?” tanyanya sambil melepas sepatu.
“Udah. Tiga puluh menit yang lalu aku baru bangun.” jawabku.
“Perutmu gimana?”
“Udah mendingan kok.”
Henry mengangkat plastik yang dibawanya. “Aku beliin bubur buat kamu.”
Aku tertegun. “Eh? Kenapa repot-repot?”
Henry hanya tersenyum kecil, lalu meletakkan bubur itu di meja depan sofa.
“Makan dulu sebelum pulang.”
Ia duduk di lantai, tepat di sampingku.
Aku ragu sejenak, lalu ikut duduk bersamanya. Dengan canggung aku menyendok bubur, mencoba lebih fokus pada layar TV daripada kehadiran Henry yang terlalu dekat.
Tiba-tiba, tangannya bergerak menyentuh wajahku.
Aku menoleh kaget. “Kak…”
“Ada bubur di wajahmu.” ucapnya pelan.
Jantungku berdegup kencang. Aku segera menepis tangannya.
“Seharusnya kamu bilang aja. Kenapa harus nyentuh wajahku segala?”
Henry tampak kikuk. “Maaf...”
Aku menunduk, suaraku bergetar. “Kak… kamu nggak seharusnya kayak gini ke aku. Jangan terlalu perhatian. Aku bukan anak kecil lagi. Dan… kamu kan mau jadi suami kakakku.”
Henry terdiam. Matanya menatapku lama, lalu perlahan ia menggenggam tanganku.
“Lili…” suaranya rendah tapi tegas. “Aku nggak mau jadi suaminya Ana. Aku nggak suka Ana.”
Aku membeku, tidak percaya dengan yang baru kudengar.
“Aku nggak mau kita jadi ipar,” lanjutnya. Henry menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian. “Yang aku mau…”
Aku menunggu, jantungku berdegup semakin keras.
“Kamu mau apa?” tanyaku lirih.
Henry menatapku lekat-lekat. “Aku mau jadi tempatmu bersandar… tempatmu menumpahkan semua rasa, dan rumah untukmu pulang.”
Aku terdiam, mataku membesar. Kata-kata itu menusuk langsung ke dalam hatiku.
Apa… maksudnya?