Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Menantu idaman keluarga Bramantyo
Tiga jam berlalu, akhirnya Keanu dan Anindia pun mengakhiri kegiatan belajar mereka. Anindia yang sedari tadi menjelaskan dengan sabar, tapi tidak ada sedikitpun materi yang masuk ke dalam pikiran Keanu. Ia merasa pusing dengan pelajaran matematika yang penuh dengan rumus itu.
"Sumpah Nindi, gue gak ngerti. Pusing banget gue sama matematika," ujar Keanu yang duduk sembari memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Haha, gapapa. Belajar itu gak perlu dipaksa kok, dibawa santai aja." Ujar Anindia dengan seutas senyum.
Melihat senyum Anindia, Keanu merasa teduh. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, ia merasakan nyaman ketika berada di dekat lawan jenis. Ia yang sebelumnya tidak pernah peduli dengan wanita, kini ia merasakan bahwa berada di dekat Anindia bisa membuatnya menjadi lebih terasa.
"Oke, thanks ya. Padahal baru hitungan hari, bahkan kita dekat aja baru hari ini. Tapi lo udah bikin gue bisa memandang dari sudut yang berbeda," ujar Keanu dengan seutas senyum.
"Sama-sama, Keanu. Ya udah, istirahat gih kayaknya udah pusing banget sama rumus-rumus tadi," ledek Anindia sembari tertawa kecil.
Keanu hanya menanggapinya dengan tawa kecil dan gelengan singkat. Ia merasa tersindir dengan perkataan Anindia yang memang sangat nyata adanya. Ia yang tidak pernah belajar serius sebelumnya, wajar saja jika ia merasa sedikit kesulitan dalam memahami materi.
"Ya udah, gue istirahat dulu." Ujar Keanu yang langsung beranjak dari duduknya.
Anindia hanya menanggapinya dengan anggukan singkat. Tanpa kata lagi, Keanu pun langsung membaringkan diri di atas tempat tidur. Sementara Anindia, ia langsung membereskan buku-buku di atas meja yang mereka gunakan untuk belajar tadi.
Setelah membereskan buku-bukunya, Anindia menoleh sekilas ke arah Keanu. Ia bisa melihat bahwa Keanu benar-benar tertidur. Anindia pun berpikir bahwa mungkin Keanu sangat kelelahan ketika belajar tadi. Tanpa ingin mengganggu istirahat Keanu, Anindia pun langsung beranjak keluar meninggalkan kamar.
Anindia keluar dari kamar dan langsung bergegas menuruni anak tangga. Saat itu, terdengar suara sebuah mobil terparkir di depan rumah. Anindia berpikir mungkin suara mobil itu adalah mobil ayah atau ibu mertuanya.
"Eh, Anindia... Mau kemana sayang?"
Saat menuruni anak tangga terakhir, Anindia langsung berpapasan dengan ibu Keanu yang baru saja pulang dari arisannya. Anindia pun langsung menyalami tangan ibu mertuanya, layaknya perlakuannya kepada kedua orang tua kandungnya.
"Mama udah pulang?" Ujar Anindia setelah mencium tangan ibu mertuanya. "Nindi cuma mau bantuin Bi Yeyen aja, Ma. Nindi bosan gak ada kegiatan," lanjutnya.
Ibu mertuanya hanya menanggapinya dengan seutas senyum. Ia merasa sangat bersyukur memiliki menantu seperti Anindia. Baginya, Anindia termasuk menantu idaman. Terlebih ia yang sebelumnya ingin mempunyai anak perempuan, kini sudah merasakannya berkat kehadiran Anindia di dalam keluarga Bramantyo.
"Iya, Mama baru aja pulang. Ngomong-ngomong, Keanu dimana sayang?" Ujar ibu Keanu kemudian.
"Keanu lagi tidur, Ma. Kayaknya kecapean habis belajar tadi," ujar Anindia.
"Kecapean habis belajar atau kecapean habis... Ekhem," ujar ibu Keanu menggoda Anindia.
"Mama mah... Udah sama aja kayak Mama Nindi," ujar Anindia yang merasa sedikit malu dengan maksud ibu mertuanya itu.
Melihat wajah Anindia yang memerah, ibu Keanu hanya menanggapinya dengan tawa. Karena tidak ingin membuat menantunya itu lebih malu terlalu dalam, akhirnya ia pun mengalihkan pembicaraan.
"Mama cuma bercanda, sayang. Gimana hari pertama berangkat sekolah bareng Keanu?" Ujar ibu Keanu kemudian.
"Alhamdulillah, Ma. Keanu mulai berubah, di sekolah juga dia udah mulai serius belajar, Ma." Ujar Anindia dengan jujur.
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, ia merasa senang ketika mendengar perkataan Anindia. Ia merasa bahwa Anindia bisa membuat putranya itu menjadi lebih baik lagi nantinya.
"Alhamdulillah, Mama ikut senang dengarnya. Ya udah, Mama ke kamar dulu ya, sayang? Kamu juga jangan capek-capek bantuin Bi Yeyen nya, Mama juga nanti nyusul ke dapur." Ujar ibu Keanu dengan seutas senyum.
"Iya Ma," ujar Anindia dengan anggukan singkat, ia mulai merasa santai berada di dalam lingkungan keluarga Keanu bahkan ia juga bisa merasa bahwa dirinya tidak lagi merasa canggung seperti sebelumnya.
Tanpa kata lagi, ibu mertuanya pun langsung beranjak menuju ke kamarnya. Anindia pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.
Setibanya di dapur, Anindia bisa melihat jelas bahwa seorang asisten bagian dapur sudah sibuk dengan sayur-sayuran serta bahan masakan lainnya. Asisten dapur yang kerap disapa dengan panggilan Bi Yeyen itu, merupakan asisten yang paling lama bekerja di rumah Keanu.
Meskipun keluarga Keanu berasal dari kalangan berada, tapi mereka tidak membedakan siapapun yang bekerja di rumah mereka. Mereka memperlakukan pekerjanya dengan baik, bahkan saling membantu para pekerjanya jika si pemilik rumah mempunyai waktu luang. Tapi itu tidak berlaku bagi Keanu, karena sebelumnya ia tidak pernah berada di rumah dengan alasan belajar di apartemen Ariga.
"Nindi bantuin ya, Bi?" Ujar Anindia ramah ketika berada di sebelah Bi Yeyen.
"Enggak usah non, nanti kotor bajunya. Bibi bisa kerjain sendiri kok," ujar Bi Yeyen menolak dengan lembut.
"Gapapa Bi, Nindi juga bosan gak ada kegiatan. Lagian Bibi juga sendirian karena Mbak Tika lagi sakit, bibi juga pasti capek," ujar Anindia sembari mencuri tangannya di wastafel.
Mendengar perkataan nona muda itu, membuat wanita paruh baya itu merasa segan jika harus menolak. Dengan berat hati, akhirnya ia pun menyetujui, membiarkan Anindia membantu dirinya.
"Ya udah non, terima kasih sebelumnya karena udah bantuin Bibi," ujarnya dengan seutas senyum.
"Sama-sama, Bi. Ini udah dicuci ya Bi?" Ujar Anindia sembari mengambil beberapa ikat sayur bayam di atas wastafel.
"Udah non, tinggal dipotong aja," ujar Bi Yeyen yang kembali melanjutkan kegiatannya yang sedang menggoreng ayam.
Anindia pun hanya tersenyum menanggapinya, ia pun langsung memotong sayur bayam itu. Setelahnya ia pun mencucinya sekali lagi, memastikan tidak ada pasir-pasir kecil yang tersisa di dalam sayurannya.
"Wah, rajinnya mantu Mama."
Tak berapa lama, ibu Keanu pun menghampiri keduanya. Anindia dan Bi Yeyen pun langsung menoleh sejenak ke arah suaranya, mereka pun langsung menyambut hangat ibu Keanu dengan seutas senyum.
"Bi, tadi ada beli udang gak?" Ujar ibu Keanu kepada asistennya itu.
"Sudah Bu, semua bahan yang kurang sudah saya beli tadi pagi." Ujar Bi Yeyen.
Ibu Keanu langsung menganggukkan kepalanya, ia pun langsung membantu mereka dengan apa yang bisa ia kerjakan. Di dapur itu, mereka berbincang santai, membuat suasana menjadi lebih hangat.
Cahaya matahari sore menyelinap masuk melalui jendela, membuat ruangan dapur terlihat lebih terang. Aroma masakan yang mereka masak juga terasa menghiasi ruangan, membuat perut terasa lapar ketika menghirupnya.
Beberapa jam berlalu, langit pun berubah menjadi gelap, mereka pun akhirnya selesai dengan kegiatan memasaknya. Ibu Keanu pun langsung membawa makanan itu ke arah meja makan. Anindia yang merasa pusing ketika melihat ruangan dapur yang berantakan, akhirnya langsung mengambil sapu dan membersihkannya.
"Aduh non... Gak usah disapu, biar Bibi aja. Ini kan udah tugas Bibi, non Nindi duduk aja di depan sama ibu, biar Bibi yang beresin dapurnya," ujar Bi Yeyen yang merasa tidak enak.
"Gapapa kok, Bi. Bibi bantuin Mama aja, ntar kelamaan Bibi makan malamnya," ujar Anindia yang masih melanjutkan kegiatannya.
"Aduh, Bibi jadi gak enak non," lanjut Bi Yeyen.
"Jangan gak enak gitu atuh Bi, anggap aja Nindi seperti anak sendiri," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Melihat kebaikan hati Anindia, Bi Yeyen merasa haru sekaligus tertegun dengan kata-kata yang diucapkan oleh istri tuan mudanya itu. Ia pun akhirnya mengangguk sopan sebelum akhirnya menuruti perkataan Anindia untuk membantu Ibu Keanu saja.
"Baik non, sekali lagi terima kasih karena udah bantuin Bibi. Betapa beruntungnya den Keanu punya istri kaya non Nindi," ujar Bi Yeyen kemudian.
Mendengar hal itu, Anindia menghentikan sejenak kegiatannya. Ia merasa malu, bahkan pipinya kembali bersemu merah. Anindia tidak yakin apakah Keanu merasa beruntung memiliki dirinya di dalam hidupnya, tapi yang jelas Anindia merasa senang dengan penuturan wanita paruh baya itu.
"Kalo gitu Bibi tinggal sebentar ya, non," ujar Bi Yeyen sebelum akhirnya berbalik pergi.
"Iya bi," jawab Anindia singkat dengan seutas senyum yang terukir di wajahnya.
Anindia pun kembali menyelesaikan kegiatannya. Ia menyapu seluruh ruangan dapur dan memastikan bahwa semuanya benar-benar bersih. Setelah selesai dengan kegiatannya dan mencuci tangannya, Anindia pun akhirnya melangkahkan kakinya menghampiri ibu mertuanya.
Saat melewati ruang makan, Anindia bisa melihat jelas bahwa ibu Keanu sedang berbicara dengan ayah Keanu, bahkan Keanu pun sudah duduk di sana yang kini tersenyum ke arahnya. Anindia pun tidak tahu pasti kapan ayah mertuanya itu pulang dari kantornya, karena sedari tadi ia berada di ruang dapur. Sementara Bi Yeyen, langsung kembali melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Anindia, sini duduk nak, kita makan malam bareng," ujar ayah Keanu yang menyadari kehadiran Anindia.
"Iya Pa," ujar Anindia dan berjalan menuju ke arah kursi.
Baru saja hendak menarik kursi, tiba-tiba saja tangan Keanu yang lebih dulu menarik kursi untuknya. Anindia sedikit terkejut dengan tindakan Keanu, sementara suaminya itu hanya menyunggingkan senyuman tampannya.
Karena tidak ingin membuat keluarga Keanu menunggu, akhirnya Anindia pun langsung duduk di kursi yang ditarik oleh Keanu tadi.
"Ayo Anindia, kita makan malam bersama. Mama gak sabar deh pengen cobain masakan kamu," ujar ibu Keanu kemudian.
"Jadi Nindi yang masak, Ma?" Ujar Keanu memastikan.
Ibunya hanya mengangguk singkat, sementara Anindia hanya tersenyum malu-malu, meskipun tidak semua masakan itu adalah masakan dirinya.
"Wah, menantu idaman sekali Anindia ini. Keanu, kamu kapan berubahnya?" Ujar ayah Keanu kemudian.
Keanu yang sebelumnya memfokuskan pandangannya ke arah Anindia, kini menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan sedikit tersinggung. Ia mulai belajar berubah, tapi perkataan ayahnya seakan meragukan dirinya.
"Aku sedang berusaha merubah diri, Pa. Semuanya butuh proses gak bisa secara instan," ujar Keanu kemudian.
Ayahnya hanya menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan putranya itu. Sementara ibunya terlihat tersenyum, karena ia mengingat perkataan Anindia bahwa Keanu mulai belajar untuk berubah.
"Iya Pa, Keanu mulai berubah kok, di sekolah Keanu juga udah mulai serius belajar, Pa." Ujar Anindia menimpali.
"Wah, serius? Alhamdulillah, Papa senang mendengarnya," ujar ayah Keanu kemudian.
Ayah dan ibu Keanu merasa senang dengan perkembangan Keanu, meskipun tidak secara signifikan tetapi setidaknya Keanu mulai belajar untuk berubah. Kedua orang tua Keanu menyuruh mereka untuk makan, dan makan malam bersama pun dimulai.
Selama tiga hari ini di rumah Keanu, Anindia bisa merasa bahwa ia benar-benar di anggap di dalam rumah itu. Mereka pun menikmati makan malam diiringi dengan perbincangan santai.
Pernikahan yang tidak pernah Anindia inginkan sebelumnya, kini justru mengantarkannya pada keluarga baru yang terasa seperti keluarganya sendiri. Di sela-sela makan malam itu, Keanu terus saja melirik Anindia dengan tatapan yang ia sendiri yang tahu artinya.
Anindia yang tidak menyadari tatapan itu terus menikmati makanannya dengan anggun, sesekali menjawab pertanyaan ayah dan ibu mertuanya yang ditujukan untuk dirinya.
Setelah makan malam berakhir, Anindia langsung membawa piring-piring kotor itu ke dapur. Ayah dan ibu Keanu benar-benar tertegun dengan kesopanan dan sifat rajin Anindia. Menurut mereka, pernikahan terpaksa putranya ini bukanlah suatu permasalahan besar, tapi justru kebalikannya.
Keanu pun mengikuti Anindia ke dapur dan membawa beberapa piring kotor juga. Padahal Keanu tahu bahwa urusan seperti ini adalah urusan asisten rumah tangganya, tapi Keanu mulai berpikir setidaknya bisa mengurangi pekerjaan asistennya itu.
"Udah, gak usah capek-capek, besok sekolah," ujar Keanu ketika berada di sebelah Anindia.
"Gapapa kok, Keanu. Setidaknya kita bisa ngurangin pekerjaan Bi Yeyen. Kasihan Bi Yeyen sendirian hari ini," ujar Anindia sembari mencuci piringnya.
"Ya udah gue bantu. Setelah ini langsung istirahat, kalo lo sakit entar gue yang ribet," ujar Keanu dengan nada blak-blakan nya, tapi terdengar lebih perhatian daripada sebelumnya.
"Oke," ujar Anindia singkat dengan seutas senyum.
Mereka berdua pun akhirnya bekerja sama, Anindia yang mencuci piringnya sementara Keanu yang membilasnya. Anindia bisa merasa bahwa Keanu mulai menunjukkan sisi romantisnya untuk dirinya, meskipun terbilang sangat cepat tapi Anindia bisa merasa bahwa Keanu jujur akan perasaannya.
^^^Bersambung...^^^