Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Penyatuan di Bawah Langit Malam
Cahaya putih dari Api Pertama menari-nari di dinding monolit hitam, menciptakan bayangan yang bergerak lembut, seolah-olah roh-roh leluhur sedang menjadi saksi bisu di sekeliling mereka. Namun, bagi Valerius, satu-satunya cahaya yang berarti adalah wanita yang berdiri di hadapannya.
Di puncak dunia ini, di mana udara begitu tipis dan bintang-bintang begitu dekat hingga rasanya bisa dipetik, Valerius merasa dirinya telanjang. Bukan secara fisik—belum—tetapi secara jiwa. Selama seratus tahun, ia telah membangun benteng di sekeliling hatinya, lapisan demi lapisan es dan batu untuk menahan kutukan bayangannya. Namun, Aethela telah melelehkan semuanya hanya dengan tatapan mata ungunya yang penuh penerimaan.
Ia merasakan kerentanan yang suci. Ia melepaskan sabuk pedangnya, membiarkan senjata yang telah menemaninya seumur hidup jatuh berdenting ke lantai kaca. Suara itu bergema, menandakan pelepasan identitasnya sebagai "Pangeran Perang". Malam ini, ia hanyalah seorang pria.
Ia melangkah mendekat, tangannya terangkat untuk membuka kancing jubah bulu tebal yang membungkus Aethela. Jemarinya, yang biasanya cekatan memegang belati, kini sedikit gemetar.
"Apakah kau yakin, Aethela?" tanyanya, suaranya serak dan rendah, nyaris seperti geraman lembut. "Setelah ini, tidak ada jalan kembali. Jiwamu akan terikat dengan naga selamanya. Kau tidak akan pernah bisa benar-benar menjadi manusia biasa lagi."
Aethela tidak mundur. Sebaliknya, wanita itu menangkup wajah Valerius dengan kedua tangannya yang hangat.
"Aku tidak pernah ingin menjadi biasa, Valerius," jawabnya. "Aku ingin menjadi milikmu."
Kata-kata itu menghancurkan pertahanan terakhir Valerius.
Perspektif: Aethela Vespera
Jubah bulu itu jatuh ke lantai, disusul oleh gaun sutra yang sudah koyak dan kotor oleh debu perjalanan. Udara Puncak Void yang dingin seharusnya membekukan kulitnya, namun kehadiran Api Pertama dan kedekatan tubuh Valerius menciptakan kepompong kehangatan yang sempurna.
Aethela membiarkan Valerius melihatnya—bukan sebagai putri dengan gaun pengantin yang megah, tetapi sebagai wanita dengan memar di kaki, goresan di lengan, dan jiwa yang terbuka lebar.
Ia merasa cantik dan diinginkan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Di mata Valerius, ia tidak melihat penilaian politik atau nafsu yang dangkal. Ia melihat pemujaan. Pria itu menatapnya seolah-olah dia adalah galaksi itu sendiri.
Valerius menanggalkan tuniknya, memperlihatkan tubuh yang dipahat oleh perang dan latihan keras. Aethela menelusuri garis-garis bekas luka di dada bidang itu—jejak cakar naga liar, bekas sabetan pedang, dan pola sisik hitam yang kini permanen di sekitar jantung dan bahunya akibat fusi mereka.
"Kau indah," bisik Aethela, menyentuh sisik hitam di bahu Valerius. Teksturnya keras dan dingin, kontras dengan kulit manusianya yang panas.
"Aku monster, Aethel," koreksi Valerius, menunduk untuk menyatukan kening mereka.
"Kau adalah nagaku," balas Aethela.
Valerius mengangkatnya dengan mudah, membawanya berbaring di atas hamparan jubah bulu tebal di dekat cawan Api Pertama. Langit di atas mereka adalah kanvas ungu pekat tanpa batas, tetapi Aethela hanya bisa melihat emas di mata Valerius.
Saat Valerius menyentuhnya, kulit demi kulit, sebuah sensasi listrik magis menjalar ke seluruh saraf Aethela. Itu bukan sekadar sentuhan fisik; itu adalah percakapan sihir. Di mana jari Valerius menyapu kulitnya, jejak cahaya perak tertinggal. Di mana Aethela mencengkeram bahu Valerius, bayangan hitam berputar lembut, membelai tangannya.
"Lihat aku," perintah Valerius lembut saat ia menyatukan tubuh mereka.
Aethela menatapnya, dan dunia meledak.
Rasanya seperti terjun ke dalam inti matahari, namun tidak terbakar. Aethela merasakan dinding pemisah antara pikiran mereka runtuh sepenuhnya. Ia bisa merasakan kenikmatan Valerius, rasa syukurnya yang mendalam, dan cintanya yang begitu besar hingga terasa menyakitkan.
Valerius bukan lagi entitas terpisah. Dia adalah napas Aethela. Dia adalah detak jantungnya.
Di dalam benaknya, Aethela melihat visi seekor naga hitam yang terbang melintasi langit malam, mengejar sebuah bintang jatuh. Dan saat naga itu menangkap bintang tersebut, mereka tidak bertabrakan, melainkan melebur menjadi supernova.
Bagi Valerius, momen ini adalah penebusan.
Setiap gerakan, setiap sentuhan, adalah upaya untuk menghapus jejak kesepian yang telah mereka derita selama bertahun-tahun. Ia mencium Aethela dengan rasa lapar yang tertahan, ingin menyerap setiap desah napas wanita itu ke dalam paru-parunya.
Ia merasakan sihir bulan Aethela mengalir masuk ke dalam dirinya, menenangkan api liar naganya, membelai bagian-bagian jiwanya yang rusak dan bergerigi. Dan sebagai gantinya, ia memberikan kekuatannya, perlindungannya, esensi keabadiannya kepada Aethela.
"Milikku," geram Valerius di leher Aethela saat puncak penyatuan itu datang. Itu bukan klaim kepemilikan budak, tapi klaim kepemilikan belahan jiwa. "Kau milikku, Aethela. Di kehidupan ini dan di setiap kehidupan setelahnya."
"Dan kau milikku, Valerius," balas Aethela, suaranya pecah oleh intensitas emosi.
Api Pertama di dalam cawan melonjak tinggi, lidah apinya berubah warna menjadi perak keemasan yang menyilaukan, merespons penyatuan dua garis keturunan kuno yang akhirnya bertemu kembali. Cahaya itu menyelimuti mereka, mengikat simpul tak kasat mata di dalam darah mereka—simpul yang tidak akan bisa diputus oleh pedang atau sihir mana pun di dunia ini.
Mereka terbaring di sana lama setelah badai sensasi itu mereda, terengah-engah dalam pelukan satu sama lain, anggota tubuh mereka saling membelit seolah takut terpisah.
Keheningan kembali menyelimuti Puncak Void, namun kali ini bukan keheningan yang kosong. Itu adalah keheningan yang penuh kepuasan. Aethela menyandarkan kepalanya di dada Valerius, mendengarkan irama jantung pria itu yang kini berdetak dengan tempo yang aneh—lambat, kuat, dan bergema, persis seperti jantung gunung yang ia rasakan di bawah tanah.
Ia mengangkat tangannya ke udara, menatap jari-jarinya.
"Valerius, lihat."
Di jari manis tangan kirinya, sebuah cincin cahaya telah terbentuk. Itu bukan logam. Itu adalah tanda sihir—sebuah garis tipis berwarna hitam obsidian yang dikelilingi oleh pendaran perak.
Valerius mengangkat tangannya sendiri. Di jari manisnya, terdapat tanda yang sama, namun warnanya terbalik: garis perak dengan pendaran hitam.
"Tanda Pasangan," kata Valerius, mencium tanda di jari Aethela. "Hukum Naga Kuno. Sekarang, bahkan jika Alaric membawa seribu pasukan, dia tidak bisa mengklaimmu. Secara hukum alam semesta, kau adalah Ratu Obsidiana."
Rasa aman yang mutlak menyelimutinya. Namun, rasa aman itu segera diikuti oleh resolusi yang dingin. Ia menatap langit malam.
"Kita tidak bisa tinggal di sini selamanya, kan?" tanya Aethela pelan.
"Tidak," jawab Valerius. Nada suaranya berubah, ketajaman seorang jenderal mulai kembali, namun kali ini dilapisi dengan ketenangan baru. "Krow dan Alaric ada di bawah sana, menduduki rumah kita. Mereka pikir kita mati di badai. Mereka pikir mereka sudah menang."
Aethela bangkit duduk, menarik jubah bulu untuk menutupi tubuhnya. Ia menatap ke arah cawan Api Pertama yang kini menyala stabil. "Api ini... bisakah kita membawanya?"
"Kita tidak perlu membawanya dalam cawan," Valerius ikut bangkit, matanya bersinar dengan kilat emas yang berbahaya. Ia menyentuh dada Aethela, tepat di atas jantungnya. "Api itu sekarang hidup di dalam sini. Dan di sini," ia menyentuh dadanya sendiri.
"Kita adalah wadahnya sekarang."
Valerius berdiri, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Aethela berdiri. Saat mereka mengenakan kembali pakaian mereka yang koyak, mereka bukan lagi buronan yang ketakutan seperti saat mereka mendaki.
Valerius mengenakan zirahnya. Rasanya berbeda sekarang. Lebih ringan. Ia tidak lagi bertarung untuk membuktikan diri pada ayahnya. Ia bertarung untuk melindungi wanitanya dan masa depan yang baru saja mereka ciptakan di atas batu ini.
"Besok pagi kita turun," kata Valerius. Ia berjalan ke tepi plaza kuil, menatap lautan awan di bawah yang menyembunyikan kerajaan yang sedang bergolak.
"Kita tidak akan turun lewat jalur rahasia lagi," kata Aethela, berdiri di sampingnya. Angin menerbangkan rambut peraknya yang kini tampak bersinar dengan intensitas magis. "Kita akan turun langsung ke gerbang depan."
Valerius menoleh, alisnya terangkat. "Itu bunuh diri taktis, Ratuku."
Aethela tersenyum—senyum yang menakutkan dan indah, senyum seorang dewi perang yang baru lahir. "Tidak jika kita membawa badai bersama kita. Kita punya Api Pertama, Valerius. Dan aku punya firasat, naga-naga liar di Forbidden Wilds akan lebih mendengarkan kita sekarang daripada mendengarkan pengkhianat di istana."
Valerius merasakan gelombang kebanggaan yang membakar dadanya. Ia menarik Aethela ke dalam pelukan satu tangan, mencium pelipisnya.
"Kau benar-benar berbahaya, Aethela Vespera."
"Nightshade," koreksi Aethela lembut. "Aethela Nightshade."
Nama baru itu menggantung di udara, seringan bulu namun seberat gunung.
Di bawah bintang-bintang Puncak Void, pasangan itu berdiri berdampingan. Malam ini adalah malam cinta dan penyatuan. Tapi besok... besok adalah hari pembalasan. Sang Naga dan Bintangnya akan kembali, dan Obsidiana akan gemetar di bawah langkah kaki mereka.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...