NovelToon NovelToon
Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.

Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.

Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan

Udara sore yang masuk melalui jendela berukir yang sebenarnya sejuk, namun bagi sang Permaisuri merasa ruangan itu sesak. Ia menutup buku catatan hukuman istana yang tinggal beberapa lembar lagi, buku yang beberapa tahun terakhir menjadi teman paling sering ia buka karena satu orang: Long Ruoling.

“Aku sudah melakukan semua yang ada di buku…” gumam Permaisuri, suara lelahnya keluar dalam bisikan getir. “Dari hukuman ringan untuk anak-anak istana sampai hukuman yang bahkan tidak pernah kuberikan pada siapa pun sebelumnya. Tapi dia tetap sama."

Permaisuri masih bergumam sementara beberapa orang setia di belakang hanya diam sambil menunduk. Mereka adalah saksi hidup bagaimana Permaisuri mencoba menasihati Ruoling, memberi batasan, memberi peluang, memberi kesempatan kedua, ketiga sampai ke sekian kalinya yang tidak bisa di hitung lagi.

Namun, alih-alih menjadi lebih baik lagi, putri muda itu tidak berubah, anak itu justru semakin keras kepala, semakin tertutup dan semakin meledak-ledak dengan amarahnya pada orang yang menurutnya menganggu.

Setelah kejadian Ruoling menampar pelayan di koridor, istana menjadi seperti sarang bisikan yang tidak pernah berhenti. Di tambah lagi dengan dirinya yang tidak menghukum anak itu seperti biasanya.

Hal itu karna Permaisuri merasa lelah, sedih, marah, pusing dan kecewa. Tapi ia juga tahu, Ruoling tidak bisa dibiarkan melakukan hal itu selamanya.

Lin, Permaisuri, sebenarnya sudah lama memikirkan satu cara, tapi selalu ragu-ragu serta takut di salah pahami jika menyampaikannya pada suaminya, Kaisar Long Moxuan.

"Anda ingin ke mana, Yang Mulia?" Tanya seorang pelayan setianya pada Permaisuri yang tiba-tiba saja bangkit dari duduknya.

"Kalian ikut aku, kita akan menemui, Yang Mulia." Ungkap Permaisuri lalu melangkah meninggalkan kediamannya menuju kediaman Kaisar bersama para pelayan.

Permaisuri mengenakan jubah merah anggun dengan bordiran emas, seolah ingin menunjukkan bahwa ia datang bukan sebagai seorang wanita yang lelah, tetapi sebagai penguasa, istri Kaisar, dan pemegang kekuasaan tertinggi setelah Kaisar sendiri.

Di dalam, Kaisar sedang membaca laporan keamanan kerajaan. Wajahnya tampak semakin tua, garis-garis di dahi semakin jelas. Sejak tragedi keracunan besar, banyak hal berubah dalam dirinya, termasuk bagaimana ia memandang Ruoling.

Saat Permaisuri masuk, Kaisar mengangkat kepala sekilas.

“Permaisuri.” Suara itu terdengar datar, bukan sinis tapi juga bukan hangat. Pada kenyataannya mereka menikah demi kedudukan serta bertahan sampai detik ini karna status bukan cinta.

Permaisuri memberi salam. “Hamba datang membawa kabar yang perlu dibahas mengenai Putri Ruoling, Yang Mulia.”

Kaisar menutup berkas dan mencondongkan tubuh. “Apa lagi yang dia lakukan kali ini?”

Nada itu, bukan nada seorang ayah berbicara tentang anaknya. Lebih mirip nada seorang penguasa yang sedang menilai masalah yang mengganggu stabilitas istana.

Sudah lama Long Moxuan kehilangan rasa percaya pada anak itu di tambah lagi setiap harinya selalu membuat masalah. Tapi walau begitu bukan berarti ia abai karna bagaimana Ruoling adalah putrinya dari selir yang semasa hidupnya sudah membantunya mempertahankan posisi.

Permaisuri menarik napas panjang dalam-dalam, sebelum berkata pelan tapi jelas, “hamba sudah menghabiskan semua metode dalam buku hukuman. Dari teguran, pembatasan, pekerjaan pelayan, hukuman menulis ulang catatan etiket, isolasi, latihan sopan santun… hamba rasa sudah melakukan semuanya. Tidak ada satu pun yang berhasil.”

Kaisar menggosok pelipisnya. “Ruoling memang keras kepala sejak kecil, tapi aku tak pernah menyangka sampai dewasa dia semakin parah."

“Bukan sekadar keras kepala, Yang Mulia." Katanya tegas tapi lembut. "Anak itu juga menyimpan terlalu banyak luka, terlalu banyak kemarahan… dan ia tidak percaya pada siapa pun kecuali Putra Mahkota. Selain itu, ia seperti menolak semua bentuk kedisiplinan.”

Permaisuri berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih rendah. “Dia sudah melewati batas... belum lama saya menghukumnya, tapi dia sudah membuat masalah baru. Lalu saat saya baru saja memenangkan hukuman dia kembali membuat masalah, sampai akhirnya kemarin... dia memukul pelayan di depan umum.”

Kaisar menghela nafas kasar sebenarnya semua masalah yang di buat putri pertamanya selalu sampai ke telinganya, tapi seperti yang sudah-sudah ia tidak berwewenang menghukumnya secara langsung.

Kecuali jika Permaisuri yang melaporkannya langsung maka dirinya sebagai ayah baru bisa mengambil tindakan.

“Kaisar…” Permaisuri akhirnya berkata, suaranya bergetar, “Hamba tidak tahu lagi bagaimana… mengatur Ruoling.”

“Apakah tidak ada lagi cara lain?"

Permaisuri mengetap bibir, ingin mengatakan sesuatu tapi regu, akhirnya menggeleng pelan.

Kaisar terdiam.

Permaisuri lalu berkata kalimat yang telah ia pikirkan ratusan kali. “Yang Mulia… mungkin sudah waktunya Ruoling… menikah.”

Kaisar menatap Permaisuri lama, seakan mencoba membaca pikiran wanita itu. Ia tahu Permaisuri bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan jelas. Jika perempuan itu sampai mengajukan ide sebesar ini berarti situasi sudah benar-benar tak terkendali.

“Menikah?” ulang Kaisar perlahan. “Dengan siapa?”

“Seseorang pria dari keluarga pejabat tinggi,” jawab Permaisuri cepat. “Seseorang itu harus dari keluarga yang kuat, keluarga yang tidak hanya mampu ‘mengendalikan’ putri Ruoling, tapi juga harus melindungi nama baik istana.”

Kaisar terdiam, tampak memikirkan usul istrinya, membuat Permaisuri melanjutkan dengan hati-hati: “Usia Putri Ruoling sudah cukup untuk memiliki keluarga. Kita bahkan di jodohkan di usia lebih muda dari Putri Ruoling."

“Jika kita melakukan itu... bukanlah akan terkesan seperti ingin membuangnya ke keluarga lain," pendapat Kaisar bukan ingin menolak usul istrinya, tapi kesan yang di timbulkannya terlihat seperti itu.

“Anda benar maka dari itu butuh ratusan kali saya memikirkannya sebelum membicarakannya dengan, Yang Mulia."

Mereka diam dengan pemikiran masing-masing. Keputusan itu terasa paling benar dan paling salah di saat seperti ini, karna membuat mereka seolah jadi orang teregois.

"Aku juga berpikir cara itu mungkin saja bisa membuatnya mendapatkan hidup baru yang bahagia... " Permaisuri menjeda. "Sejak ibunya di hukum... aku rasa Ruoling punya dendam pada banyak orang termasuk pada kita, tapi karna selama ini kita tidak memperlakukannya dengan buruk maka dia tidak membenci kita. Tapi berbeda dengan keluarga lain yang menjadi korban racun itu, mereka memperlakukan Ruoling dengan buruk bahkan tidak segan untuk membayar pelayan notabene yang paling sering berinteraksi dengan Ruoling."

"Jadi selama ini kau tahu?"

Permaisuri terdiam dengan kaku lalu dengan perlahan dia mengangguk. "Aku tahu belum lama ini dari salah satu orang suruhanku. Aku sedih ketika tahu semua kebenarannya, tapi tidak bisa melakukan apa-apa."

Kaisar mengembuskan napas panjang setelah diam cukup lama. “Jika menurutmu itu yang terbaik maka lakukanlah."

Permaisuri menunduk hormat. “Hamba berterima kasih atas keputusan Anda.”

Setelahnya mereka menghabiskan waktu untuk membahas daftar pria dari keluarga yang pantas bersama putri Putri Ruoling.

Beberapa nama muncul di mulai dari keluarga jenderal, keluarga pejabat sipil, keluarga bangsawan lama dan keluarga baru yang ingin memperkuat pengaruh.

Namun semuanya kembali pada satu tujuan yang mungkin akan menjadi pertimbangan dengan menikahkan Ruoling berarti memindahkan ‘masalah’ dari istana, sekaligus menjaga nama baik keluarga kekaisaran.

Tapi mengingat Ruoling adalah putri pertama dari kerajaan Long maka mereka yakin tidak akan sulit mencari calonnya.

“Hamba akan memulai pembicaraan dan menyeleksi calon yang tepat. Hanya satu yang hamba mohon, Yang Mulia," kata Permaisuri akhirnya.

“Apa itu?”

“Jangan beri tahu Ruoling dulu sampai semua sudah siap. Hal itu hamba lakukan mengingat anak itu mudah marah sehingga dia tidak akan menerima ini. Tapi hamba... kita semua tidak akan menyerah membuat Ruoling menerimanya karna itu semua demi kebaikannya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!