Xuan Hao adalah putra Pangeran yang keberadaannya tidak diakui.
Wajahnya memang tampan, tapi dia pemalas dan suka minum, ditambah dia tidak tau apa-apa tentang beladiri, sastra, maupun strategi perang.
Benar-benar pemuda tidak berguna, tapi setelah tanpa sengaja tersambar petir dan mendapatkan berkah langit berupa Sistem, segalanya berubah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diberi Lebih Banyak Dari Yang Diminta
“Berapa banyak prajurit yang kamu inginkan?” tanya, Pangeran Xuan Lie pada Xuan Hao, dimana pagi ini putranya itu datang menuntut haknya yang belum diberikan.
“Seribu atau dua ribu prajurit sudah cukup,” jawab Xuan Hao tak menuntut lebih.
“Itu terlalu sedikit. Ayahmu ini memiliki lebih dari seratus ribu prajurit tangguh, dan puluhan ribu prajurit muda. Sepuluh ribu prajurit, itu yang akan aku berikan padamu, dan mereka akan ditempatkan di Paviliun Qingwu yang berada di hutan sisi utara ibukota, dimana mereka akan tiba di tempat itu setelah berakhirnya acara berburu!” ucap Pangeran Xuan Lie.
“Bukannya itu terlalu banyak?” ujar Xuan Hao.
“Itu masih terlalu sedikit. Sebenarnya aku ingin memberimu dua puluh ribu prajurit, tapi itu nanti setelah kita memenangkan perang dengan Kekaisaran Beiming,” ungkap Pangeran Xuan Lie.
Benar-benar jumlah yang jauh dari bayangannya, bahkan Xuan Hao tak pernah mendengar Pangeran Xuan Lie berniat memberikan prajurit sebanyak itu pada kedua kakaknya.
Tetapi karena mendengar sendiri semua itu dari mulut Pangeran Xuan Lie. Xuan Hao mau tak mau harus mempercayainya, dan karena sudah berada di Paviliun Zhenlong, ia pun akhirnya ikut sarapan di tempat itu, meski ia tidak bisa menikmati makanannya sebab terus saja ditatap tajam oleh Shen Ruyue dan kedua putranya.
Begitu selesai sarapan bersama, Xuan Hao undur diri karena harus mempersiapkan diri mengikuti acara berburu.
Xuan Mingyu dan Xuan Zifeng juga undur diri tak lama setelah kepergian Xuan Hao. Keduanya bertekad memenangkan acara berburu, dan segala upaya akan mereka lakukan untuk meraih kemenangan.
Sementara itu Xuan Hao yang telah tiba di Paviliun Qingfeng. Ia sudah disambut oleh sebuah kereta kuda yang masih baru, dan ada juga dua puluh prajurit, dimana sepuluh lainnya akan ditinggal di tempat perkemahan untuk melindungi para pelayan yang akan ikut ke tempat berburu.
Mereka hanya ikut sebagai pendamping, bukan sebagai anggota yang akan pergi berburu bersama Xuan Hao.
Tiba waktunya berangkat, rombongan besar keluar dari Paviliun Qingfeng, mengejutkan orang-orang yang baru pertama kalinya melihat siapa saja yang selama ini tinggal bersama Xuan Hao.
Melihat banyaknya orang yang pergi meninggalkan Paviliun Qingfeng, banyak yang berpikir tempat itu sekarang dalam keadaan kosong, tapi nyatanya Xuan Hao menempatkan Mo Zen dan sepuluh orang lainnya untuk menjaga tempat tinggalnya selama ia berada di luar.
Dengan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki Mo Zen dan yang lainnya. Bahkan jika ada orang sekuat Pangeran Xuan Lie mencoba menerobos masuk Paviliun Qingfeng, orang itu tak akan berhasil melakukan.
Tak lama rombongan yang berasal dari Paviliun Qingfeng tiba di tempat rombongan utama, yaitu rombongan yang berasal dari Istana Pangeran Xuan Lie.
Sang Pangeran yang melihat kedatangan putranya, ia tersenyum puas, dan dalam hati ia bicara, ‘Sejak kapan dia dikelilingi oleh orang-orang kuat? Aku bahkan ragu bisa mengalahkan dua orang yang berada di barisan terdepan!’
Cukup sekali melihat, Pangeran Xuan Lie sudah bisa menilai kekuatan orang-orang yang mengikuti Xuan Hao, berbeda dengan Xuan Mingyu dan Xuan Zifeng yang menganggap remeh para pengikut Xuan Hao hanya karena orang-orang itu masih tampak terlalu muda.
“Sudah waktunya berangkat!” ucap Pangeran Xuan Lie, tapi sebelum rombongan benar-benar berangkat, putri kecilnya yang kebetulan berada di kereta kuda miliknya, ia bersikeras ingin ikut dengan Xuan Hao.
“Pergilah dan jangan merepotkan Kakakmu!” ucap Pangeran Xuan Lie.
“Terimakasih Ayahanda!” ucap Xuan Xiaoyu yang setelahnya cepat berlari ke kereta kuda Xuan Hao.
Dalam perjalanan menuju tempat perkemahan, Xuan Hao sengaja duduk tenang di dalam kereta kuda, dan senyum kecil seketika menghiasi wajah tampannya begitu melihat sosok Xuan Xiaoyu.
“Aku ingin satu kereta kuda dengan Kakak!” ucap Xuan Xiaoyu.
“Kalau begitu kemari, duduk tenang di sebelah kakak!” balas Xuan Hao.
“Emm.” Xuan Xiaoyu mengangguk, dan ia duduk tenang di sebelah Xuan Hao, menikmati perjalanan yang menurutnya sangat menyenangkan, meski sang Ibu, Selir Qin Rouyin tidak ikut pergi karena statusnya yang hanya seorang Selir, sementara acara berburu hanya boleh dihadiri istri sah, tetapi putra ataupun putri Selir masih bisa hadir dengan mengikuti ayah mereka.
“Kakak cantik, nanti kalau Kakakku pergi berburu, apa aku boleh ikut kakak cantik?” tanya Xuan Xiaoyu pada Mei Yun.
“Tentu saja Nona boleh ikut dengan hamba,” jawab Mei Yun senang dengan kehadiran Xuan Xiaoyu.
“Senang rasanya aku punya empat Kakak cantik!” ucap Xuan Xiaoyu, dimana penampilan empat pelayan Xuan Hao memang cantik, bahkan lebih cantik dari kedua putri Selir Liu Meihua, Selir pertama Pangeran Xuan Lie.
Itu juga alasan kenapa Xuan Hao sebenarnya enggan mengajak mereka, tapi pada akhirnya empat orang itu tetap ikut dengan syarat dikawal prajurit pribadi milik Tuan mereka.
Tak lama kemudian rombongan yang berasal dari Istana Pangeran Xuan Lie tiba di perkemahan, dan di tempat itu sudah didirikan beberapa tenda untuk digunakan rombongan sang Pangeran.
Xuan Hao, ia memasuki tenda yang dipersiapkan secara khusus untuknya.
Ibu Suri sendiri yang menyiapkan tenda itu, dan orang lain dilarang menggunakannya, bahkan jika itu Pangeran Xuan Lie.
Prajurit khusus milik Ibu Diri menjaga tenda Xuan Hao, membuat siapa saja tak berani mendekati tempat itu, meski pada akhirnya prajurit itu pergi, digantikan prajurit pribadi Xuan Hao.
Siang nanti acara berburu akan dimulai, dan acara itu akan berlangsung sampai besok sore, tepatnya sebelum matahari terbenam.
Ada puluhan kelompok yang mengikuti acara berburu, dan setelah memastikan seluruh perlengkapan telah siap digunakan, Xuan Hao memimpin kelompoknya menuju titik berkumpul, dimana Kaisar Xuan Ruihan sendiri yang akan memimpin pembukaan acara berburu.
Hutan Kekaisaran di dekat ibukota menjadi lokasi berburu, dimana hutan itu sangat luas, dan sangat berbahaya karena terdapat banyak binatang buas juga binatang berbisa di dalamnya.
Setelah sambutan singkat yang tak bertele-tele, Kaisar Xuan Ruihan langsung saja memulai acara berburu, tapi meski acara berburu resmi dimulai, kelompok yang dipimpin Xuan Hao tak buru-buru memasuki hutan, melainkan mereka menjadi kelompok terakhir yang masuk ke dalam hutan.
“Putri Agung, apa tadi Putri melihat keempat wanita yang berjalan di belakang Pangeran Xuan Hao?” tanya Putri Yan Yueling.
“Iya, aku melihatnya, dan mereka benar-benar wanita cantik, tapi dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, sepertinya mereka itu pelayan di sisi adikku,” jawab Putri Agung Xuan Hanyue.
“Mereka itu pelayan?” Putri Yan Yueling tak begitu saja percaya kalau empat wanita cantik yang dilihatnya hanyalah pelayan.
“Em~” Putri Agung mengangguk, “tidak salah lagi mereka itu pasti pelayan!” ucapnya.
“Sungguh pelayan dengan paras yang begitu cantik, sampai aku sempat mengira mereka adalah putri bangsawan!” ungkap Putri Yan Yueling.
“Sepertinya adikku itu memperlakukan orangnya dengan sangat baik! Bukan hanya pelayan wanita, tapi prajurit yang mengikutinya rata-rata memiliki paras yang rupawan, dan selain itu aku bisa merasakan jika kekuatan mereka sama sekali tidak lemah!” ungkap Putri Agung.
Putri Yan Yueling menganggukkan kepalanya, dimana ia juga melihat apa yang dilihat oleh Putri Agung, dan ia setuju dengan pendapat temannya itu.
“Adikku itu sepertinya sudah bosan dipandang remeh oleh orang-orang di sekelilingnya, dan karena itu ia mulai membuka satu per satu keunggulan yang dimilikinya, termasuk keunggulannya dalam mengelola pasukan pribadi!” ucap Putri Agung.
“Dan sepertinya jika hari ini ia berhasil memenangkan acara berburu, akan banyak pejabat juga bangsawan yang menyesal karena pria sesempurna itu telah memiliki jodoh, dan jodohnya adalah kamu!” Putri Agung melihat Putri Yan Yueling sambil tersenyum, membuat temannya itu tersipu malu.